Upcoming Events & Activities
Ibadah Rutin PSR
 
Sabtu, 25 Agustus 2018, pukul 16.00 - selesai
1 Samuel 6
"TABUT DIKEMBALIKAN KEPADA ORANG ISRAEL"
Pembicara: Ev. Inawaty Teddy.
Tempat: Ged. MTH Square Lt. 3C. Ruang Melody. Jl. Otista Raya Kav 10. Jaktim.
 
Renungan & Kesaksian
 
PERJALANAN YESUS KE GALILEA
 
Eksposisi Yohanes 4:1-3
_oOo_
 
 
Dari Ibadah PSR 28 Juli 2018
Presenter : Sdr. Mulatua.
 
Air
 
Dari Yohanes pasal 2 sampai pada pasal 4, terdapat suatu rangkaian kisah yang berbicara tentang air. Pada Yoh. 2:6, perkawinan di Kana, Yesus berdialog dengan ibu-Nya tentang pesta yang kehabisan anggur, kemudian Yesus melakukan mujizat di mana air menjadi anggur. Pada Yoh. 3:5, Yesus berdialog dengan Nikodemus, Yesus berkata: “Jika seorang tidak dilahirkan dari air dan roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Dan, Yoh. 3:23, berbicara tentang air baptisan, di mana murid-murid Yohanes Pembaptis dan murid-murid Yesus melakukan pembaptisan dengan air. Akhirnya pada pasal 4, air juga dibicarakan dalam dialog antara Yesus dan perempuan Samaria, mereka menyebutkan air sumur Yakub dan air hidup. Artinya, rasul Yohanes menggunakan simbol-simbol air untuk merangkai hal-hal teologis dari pasal 2 sampai 4 di mana setiap bagiannya memiliki makna teologis tersendiri.
 
Pembatisan Air
 
Yohanes berbicara tentang pelayanan Yohanes Pembaptis di pasal 1 dan pasal 3, lalu Yohanes menyebutkan lagi pelayanan Yohanes Pembaptis di permulaan pasal 4 sebelum masuk kepada dialog Yesus dengan perempuan Samaria tentang air hidup. Artinya, Yohanes menekankan pentingnya pembaptisan air guna seseorang menerima air hidup.
Pentingnya pembatisan air juga ditekankan Yohanes lewat informasi bahwa murid-murid Yesus juga melakukan pelayanan pembaptisan air (Yoh. 3:22). Yohanes sama sekali tidak membuat perbandingan antara pembaptisan air yang dilakukan oleh murid-murid Yohanes Pembaptis dan yang dilakukan oleh murid-murid Yesus. Melainkan, Yohanes menjelaskan bahwa orang Farisi sengaja membuat perbandingan pembaptisan air untuk menciptakan benturan atau pertentangan antara murid-murid Yohanes Pembaptis dan murid-murid Yesus (Yoh 3:25).
Pada Yoh. 3:25, Yohanes menjelaskan bahwa orang Farisi memaknai pembaptisan air terbatas untuk penyucian diri dari dosa-dosa, tetapi bukan untuk pertobatan, sehingga bagi orang Farisi, pembaptisan air perlu dilakukan berulang-ulang. Artinya, orang Farisi menyukai pentahiran tetapi tidak menyukai pertobatan. Padahal, penekanan pelayanan pembaptisan air yang dilakukan oleh Yohanes pembaptis adalah pertobatan dalam dimensi eskatologis yang menuju kepada hak kepemilikan Mesias (Matius 3:11-12). Jadi, ada perbedaan jelas antara konsep pembaptisan orang Farisi dengan konsep pembaptisan Yohanes Pembaptis.
 
Mendengar
 
Pada Yoh. 4:1, ada penekanan pada kata “mendengar.” Penekanan ini untuk membawa kita kepada respon orang-orang Yahudi setelah mendengar bahwa murid-murid Yesus membaptis orang lebih banyak dari pada murid-murid Yohanes Pembaptis. Seharusnya respon orang Farisi itu adalah menyambut Yesus dan percaya, karena mereka adalah kaum ahli kitab yang mengetahui kebenaran. Tetapi, respon orang Farisi itu malahan marah dan hendak mencelakai Yesus. Ini suatu ironi, semakin kebenaran itu tampak jelas di hadapan mereka bukan membuat mereka percaya malahan membuat mereka semakin keras menolak kebenaran itu.
 
Pembaptisan dengan api dan Roh Kudus
 
Pada Yoh. 4:2 kita melihat ada kalimat sisipan yang menegaskan bahwa Yesus tidak melakukan pembaptisan air, melainkan murid-murid Yesus yang melakukan pembaptisan air. Ini menunjuk kepada Matius 3:11, yang menjelaskan kepada kita bahwa Yesus memang tidak melakukan pembaptisan air tetapi jika waktu-Nya tiba maka Yesus akan melakukan pembaptisan dengan api dan dengan Roh Kudus.
 
Pandangan Paulus tentang pembaptisan
 
Dari 1 Korintus 1:14-17, kita belajar dari pandangan Paulus tentang pembaptisan. Paulus bersyukur bahwa dia membaptis hanya sedikit orang saja. Bagi Paulus, lebih baik ia mengutamakan penginjilan dari pada melakukan pembaptisan. Paulus tetap melihat pembaptisan sebagai suatu hal penting (Roma 6:3-4) namun ia menghindari pengkultusan dirinya oleh orang-orang yang ia baptis. Bahkan Paulus berkata bahwa ia lupa atau tidak mengingat-ingat orang-orang yang dibaptisnya (1 Kor. 1:16). Paulus mencela timbulnya penggolongan umat akibat pengkultusan terhadap siapa yang melakukan pembaptisan.
 
Anugerah yang meninggalkan Yudea
 
Yudea adalah daerah yang dikonotasikan lebih religius dari pada daerah Galilea, namun Yoh. 4:3 memperlihatkan hal yang paradoks kepada kita, yaitu Yesus meninggalkan Yudea dan mendatangi Galilea. Seharusnya kota yang lebih religius menjadi kota yang lebih menyambut Mesias, tetapi Yudea lebih memilih menolak Yesus yang adalah Mesias. Yudea menolak anugerah Allah, maka anugerah Allah meninggalkan Yudea. Yesus tahu Ia akan menyerahkan kematianNya kepada orang-orang Yudea, namun waktu-Nya belum tiba. Yesus menghindar dari orang-orang Yudea dan pergi melayani orang-orang Samaria dan Galilea, karena Yesus tahu bahwa waktu-Nya belum tiba untuk menyerahkan nyawa-Nya.
 
Refleksi
 
Banyak orang Kristen berpikir kalau mereka dibaptis oleh pendeta terkenal maka baptisannya “lebih afdol,” itulah kenapa banyak orang Kristen melakukan pembaptisan ulang. Tentu saja, pemikiran seperti ini tentang pembaptisan adalah salah. Perasaan mereka “lebih afdol” dengan pendeta terkenal karena mereka memandang pembaptisan bukan sebagai tanda pertobatan melainkan sebagai cara penyucian diri dari dosa-dosa. Padahal, Injil menegaskan bahwa pembaptisan adalah sebagai tanda pertobatan (Matius 3:11).
Sebenarnya, pembaptisan hanya faktor pendukung atau peneguhan bagi orang-orang yang sudah percaya. Bukan “siapa yang membaptis kita” yang menentukan, melainkan “kepada siapa kita dibaptis” yang menentukan. Artinya, sekalipun hanya seorang pendeta yang tidak dikenal yang membaptis kita, bagaimanapun, baptisannya adalah sah. Kita dibaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus (Matius 28:19), maka “kepada” trinitas kita dibaptis, inilah yang menentukan.
Jangan kita menjadi Yudea, kota religius yang “mendengar” tetapi menolak Tuhan Yesus. Artinya, kita harus mewaspadai dinamika religius diri sendiri, jangan sampai menjadi sombong rohani dan meremehkan firman Tuhan yang diserukan orang-orang sederhana. Tetapi, jadilah Samaria dan Galilea, kota berdosa yang “mendengar” kemudian bertobat, lalu percaya dan menerima Tuhan Yesus. Bagaimanapun, kita harus memelihara kerendahan hati di hadapan Tuhan.
Terpujilah Kristus. Amin.
[ Web-PSR, 30 Juli 2018 ]
 
Artikel Utama
 
The Heavens Are Telling
(Oratorio The Creation Bagian I No.13)
 
 
Artikel ini didedikasikan pada proyek Misi 2018 Persekutuan Studi Reformed, yaitu Calvin for Tawangmangu dengan tema “Globalisme dan Moralitas Teks” yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu 30 Juni 2018 di GKJ Tawangmangu, Jawa Tengah
 
_oOo_
 
Adakah di antara kita yang belum pernah mendengar lagu koor yang indah ini? Lagu ini ditulis oleh komponis Austria bernama Franz Joseph Haydn (1732-1809). The Heavens Are Telling sendiri sesungguhnya merupakan komposisi nomor 13 dari Bagian I oratorio The Creation (disusun pada tahun 1797 hingga 1798). Oratorio merupakan suatu komposisi musik yang besar dengan suatu orkestra, koor dan solois. The Creation terdiri dari tiga bagian. Bagian I berkaitan dengan penciptaan terang, langit dan bumi, matahari dan bulan serta tanah, air, dan tetumbuhan. Bagian II sehubungan dengan penciptaan hewan dan manusia. Bagian III menjelaskan Adam dan Hawa saat mereka masih berbahagia di Taman Eden.
 
Haydn berusia dua puluhan saat gagasan Jean Jacques Russeau akan kebebasan mutlak individu digaungkan secara luas oleh kaum intelektual, mahasiswa, dan seniman abad ke-18 di Eropa. Karyanya sungguh-sungguh mengekspresikan kecintaan-Nya pada Firman Tuhan.
 
 
Banyak dari mereka menerima pemikiran Russeau itu dengan antusias, namun tidak demikian halnya Franz Joseph Haydn. Ia menghargai Allah dan keteraturan dalam ciptaan-Nya. Ia memandang ke depan, melewati kesenangan sementara, yang mengubah secara dahsyat sistem pendidikan, agama, dan politik yang ada tanpa meletakkan dasar yang benar dalam kekosongan yang terjadi - dasar yang hanya dapat ditemukan dalam kekristenan sejati. Mereka yang mengingkari kebenaran Kitab Suci takkan pernah mendapatkan kebebasan. (Jane Stuart Smith & Betty Carlson, “Karunia Musik: Para Komponis Besar dan Pengaruh Mereka,” terjemahan Penerbit Momentum, 2003, hal. 53-54.)
 
 
Oleh karena itu saat kita berbicara mengenai The Creation satu hal yang tidak boleh kita abaikan adalah peperangan rohani yang Haydn hadapi sebagai seorang seniman Kristen saat ia berusia enam puluhan. Oratorio The Creation Bagian I diawali dengan The Representation of Chaos sebagai prelude bernada dasar C minor yang mengekspresikan kegelapan sebelum penciptaan dan diakhiri dengan The Heavens Are Telling pada nada dasar C mayor yang mengambarkan terang, setelah selesainya penciptaan langit dan bumi, matahari dan bulan serta isi bumi. The Heavens Are Telling menghadirkan Mazmur 19 ayat 1 sampai 3:
 
 
“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.”
 
 
Perihal ayat 1 ini Matthew Henry mengatakan bahwa manusia diciptakan sedemikian mulianya sehingga dimungkinkan memiliki kesadaran melihat langit secara seperti ini; sebagaimana roh harus pergi meninggalkan tubuh, manusia selalu menengadah ke langit karena ke situlah roh kita harus kembali. Ciptaan bereksistensi secara bergantung pada Penciptanya. Inilah moralitas ciptaan sebagaimana digambarkan oleh Haydn.
 
The Creation sesungguhnya lahir dari suatu peperangan rohani Haydn dengan semangat jaman dimana ia hidup. Sebagai suatu tekstualitas, karya agung Haydn ini telah merupakan suatu ekspresi seni berdasarkan moralitas Alkitab. Mari kita syukuri warisan agung Kekristenan yang turun kepada kita melalui sejarah musik Eropa ini. Kalau pun suatu saat Kekristenan memudar dan hilang dari kehidupan Eropa, setidaknya tetaplah “langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya,” sesuatu yang abadi, sebagaimana Haydn telah wariskan kepada kita dalam karya agungnya ini. Amin. Segala kemuliaan bagi Allah di tempat yang Maha Tinggi.
 
Jessy Victor Hutagalung
Persekutuan Studi Reformed
09 April 2018.
 

Connect With Us

 
Persekutuan Studi Reformed :
Eva Paula Marpaung
Komplek Buaran Baru
Jl. Kobra V/H19 RT/RW 07/015
Buaran Duren Sawit, Jakarta Timur, 13440.
Telp: 021-86611470
Hub: Deby - 08158020418
 
Ibadah rutin PSR, dewasa & anak.
setiap Sabtu, pukul 16.00 - selesai
Tempat: MTH Square Lt 3C, Ruang Melody,
Jl. MT Haryono No. 1 Jakarta Timur