IBADAH PASKAH 2017.
 
 
Renungan dan Kesaksian.
 
Membaca alkitab dan mencari Tuhan.
 
Seorang pemuda Kristen bertanya, “apa yang dimaksud ‘mencari Tuhan,’ apakah membaca alkitab termasuk mencari Tuhan?”
PERTAMA, mencari Tuhan, adalah “bertindak sesuatu dengan berharap” akan menemukan Dia, olehkarenanya Dia datang untuk ditemui, hanyalah karena Dia berkenan ditemui.
KEDUA, mencari Tuhan adalah “perilaku kita yang bertujuan mengundang perhatianNya".

Satu ketegasan penting, atau iman, tentang mencari Tuhan, yakni “Allah ada” dan “Ia berkenan ditemui.” Penulis Ibrani 11:6 sungguh-sungguh menekankan “ketegasan penting” tersebut. Yaitu, perilaku mencari Tuhan menjadi wujud ketegasan seseorang bahwa “Allah ada dan ia tidak berpaling dari pada Tuhan”.
Bahkan, tersirat dari Ibrani 11:6 bahwa menemukan Dia atau memperoleh perhatianNya berlaku sebagai “upah dari kita mencari Dia”.

Yakobus juga memberi makna pada ungkapan mencari Tuhan dengan berkata, “mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu,” Yakobus 4:8. Jadi, perilaku mencari Tuhan dapat juga bermakna “mendekatkan diri kepada Allah”.

Musa memberikan saran untuk menemukan Tuhan,
 
Ulangan 4:29
di sana engkau mencari TUHAN, Allahmu, dan menemukan-Nya, asal engkau menanyakan Dia dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.
 

 

Bagaimanapun, membaca alkitab adalah juga satu bentuk dari “mencari Tuhan.” Paulus berkata, “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu. Itulah firman iman, yang kami beritakan,” Roma 10:8.
Membaca alkitab menjadi “cara mudah dan sangat efektif” untuk memelihara dan menggerakkan firman iman.
Menggerakkan firman iman menjadi satu bentuk mencari Tuhan.

Yesus berkata, “perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup,” Yohanes 6:63.
[by Gogona, 03 Februari 2017]
 
 
Permintaan Rasul Paulus kepada Filemon untuk Onesimus
sebagai wujud dari ekspresi iman Kristen
(Filemon 1:8-20)
 
 
Pengantar.
 
Kekristenan selalu berada ditengah-tengah setting sosial yang sangat kompleks. Berbagai konflik dan pertemuan pemikiran selalu terjadi di mana siapapun dapat membenarkan segala sesuatu sesuai dengan preferensinya pribadi (“allah”-nya secara pribadi). Kekristenan tentu saja berhadapan dengan situasi tantangan seperti ini dan iman kepada Kristus dituntut untuk membawa pemikiran baru yang berubah total ketika diperhadapkan pada masalah-masalah sosial yang ada.

Surat Paulus ini merupakan surat yang lebih bersifat pribadi kepada Filemon yang mana Filemon ini telah lahir baru sebagai orang percaya oleh karena pelayanan Paulus. Filemon seorang Kristen yang berjemaat di wilayah Kolose di mana dia juga sebagai orang berada tentulah mempunyai budak. Salah satu budak yang dimiliki Filemon bernama Onesimus, di mana pada faktanya telah melarikan diri dari tuannya, Filemon. Setelah melarikan diri, Onesimus bertemu Paulus, dan menjadi lahir baru oleh pelayanan Paulus. Onesimus yang adalah seorang budak telah bersalah kepada Filemon dan keduanya selain mempunyai strata sosial yang jauh berbeda namun keduanya adalah orang Kristen buah pelayanan dari Paulus dan mereka berdua mempunyai relasi yang sangat dekat dengan Paulus. Di bagian Firman Tuhan ini kita akan melihat bagaimana Paulus mendamaikan kedua anak Tuhan ini ditengah-tengah konteks sosial pada waktu itu yaitu perbudakan.
 
Untuk lebih mengerti Filemon, maka kita perlu sedikit mengetahui keadaan sosial pada waktu itu, yaitu perbudakan. Sistem sosial perbudakan adalah sudah diterima dalam masyarakat pada waktu itu dan sudah berlangsung ribuan tahun. Budak adalah properti tuannya. Budak sama dengan kuda atau sama dengan kereta atau benda lainnya. Yang membedakan hanyalah budak dapat berbicara. Budak tidak mempunya hak apapun mengenai dirinya sendiri. Budak adalah properti/harta milik tuannya. Jika budak melarikan diri dari tuannya, maka hukuman terhadap budak tersebut tergantung pada tuannya dan sifatnya tidak terbatas bahkan sampai membunuh budak tersebut bila perlu. Memang pada waktu itu sudah ada suara-suara yang menentang sistem sosial ini bahkan ada yang memberontak tetapi selalu diatasi oleh pihak yang berwenang dengan cepat dan kejam.
 
Di bagian Firman Tuhan ini jelas terlihat Paulus tidak secara tegas mengatakan perbudakan itu salah atau secara keras menentang adanya perbudakan. Karena kalau ini dilakukan apalagi secara frontal menentang perbudakan, maka akibatnya adalah bencana dari hasil gejolak sosial yang luar biasa. Maka besar kemungkinan Kekristenan hanya sekedar dipandang sebagai penyebab dari pemberotakan sosial yang mana Paulus tidak mau ini terjadi. Paulus tidak terlalu fokus kepada masalah perbudakan tetapi Paulus lebih menitikberatkan pada hal yang lebih besar lagi yaitu masalah relasi antar sesama orang Kristen (Christian Relationship). Paulus lebih memilih apa yang disebut oleh Richard R. Melick, Jr sebagai “theological route,” di mana Paulus lebih memilih kotbahnya yang berbicara. Ketika Firman itu ditaburkan, maka Firman akan bertumbuh menjadi dasar yang kuat bagi seseorang dan itu akan membawa perubahan pemikiran yang total sehingga dapat menembus kepada perubahan sosial. Paulus pernah mengajarkan equality (persamaan) di Galatia 3:28 dan kesatuan di dalam Kristus. Paulus juga pernah mengajarkan bagaimana hubungan tuan dan hamba yang seharusnya di Kolose 3:22 – 4:1, kepada tuan dan hamba keduanya harus mengingat bahwa mereka juga mempunyai Tuan di Surga. Jadi Paulus melalui ajarannya lebih menekankan masalah relasi orang percaya.
 
Filemon 1:8-20
 
 
Ayat 8
karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan.
 
 
Setelah Paulus mengucap syukur oleh hal-hal yang diingatnya dan yang didengarnya (ayat 4 – 7) mengenai kesaksian kasih Filemon, dengan lembut dan berdasarkan kasih Paulus ingin menyampaikan sesuatu kepada Filemon. Dia tidak memakai otoritasnya sebagai Rasul tetapi Paulus bergantung penuh kepada providensia/pemeliharaan Allah terhadap apa yang ingin disampaikannya tanpa intervensi apapun dan berharap agar Filemon berespon sesuai dengan komitmen Kekristenannya dan melakukan apa yang Tuhan harapkan.
 
 
Ayat 9
tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari padamu. Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus,
 
 
Berdasarkan kasih Filemon di ayat 4 – 7, Paulus berharap Filemon menyatakannya lagi di dalam kasus yang Paulus minta. Pendekatan Paulus dengan mengingat Filemon bahwa Paulus yang sudah tua dan dipenjarakan karena Injil. Ini bukan berarti Paulus mengeluh akan keadaanya karena seperti di Filipi 4:10-14 Paulus bangga karena dia telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.
 
 
Ayat 10
mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus,
 
 
Paulus tidak mempunyai motivasi apapun untuk menguntungkan dirinya sendiri, dia mengasihi Onesimus (buah pelayanannya) dengan menyebutnya “anakku”. Paulus berharap kasihlah yang akan mengubah seseorang untuk melakukan hal yang benar karena besar kemungkinannya Filemon baru mendengar kabar tentang Onesimus sejak lama di dalam bagian tulisan Paulus ini, dan inilah harapan Paulus untuk Filemon menerima Onesimus tanpa menghukumnya.
 
 
Ayat 11
dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku.
 
 
Paulus menggambarkan bagaimana Injil itu telah membuat seseorang lahir baru bagi Onesimus, yaitu dulu Onesimus adalah tidak berguna (useless) sekarang Onesimus menjadi berguna (usefull), Paulus mengerti bahwa Onesimus telah lahir baru dari buah pelayanannya sehingga dia ingin menolong Onesimus memperbaiki masa lalunya.
 
 
Ayat 12
Dia kusuruh kembali kepadamu – dia, yaitu buah hatiku.
 
 
Besar kemungkinannya setelah lahir baru, Onesimus ingin memperbaiki masa lalunya dengan tuannya, Filemon. Ditambah oleh Paulus yang telah melihat sendiri perubahan dan pertumbuhan pada diri Onesimus maka Paulus mengirim kembali Onesimus kepada tuannya Filemon. Mengapa? Karena bisa saja dengan mudah Onesimus kabur lagi kalau dia tidak berkeinginan kembali kepada Filemon untuk memperbaiki hubungan mereka. Paulus tidak berhak menahan Filemon untuk melayani pekerjaan Tuhan bersamanya ketika dia di penjara, karena Paulus salah kalau menahan Onesimus, karena Onesimus adalah properti/milik dari pada Filemon. Paulus peka terhadap masalah ini dan tidak melanggarnya sehingga dia mengirimkan Onesimus kembali kepada tuannya Filemon.
 
 
Ayat 13
Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil,
 
 
 
Ayat 14
tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan denga sukarela.
 
 
Di sini sekali lagi adalah kesalahan jika menahan Onesimus walaupun Paulus ingin menahannya. Onesimus harus membayar harga untuk memperbaiki kesalahannya (dia pasti ketakutan sebagai budak yang melarikan diri pada waktu itu) dan Filemon harus bebas dari tekanan apapun untuk memutuskan nasib Onesimus. Di sini juga jemaat Tuhan pada waktu itu ingin melihat bukti dari ekspresi iman Kristen di dalam menghadapi masalah ini. Jadi respon yang spontan tanpa paksaan yang adalah wujud dari iman Kristen yang selalu ingin menjalankan apa yang diharapkan Tuhan.
 
 
Ayat 15
Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya,
 
 
Ayat ini terlihat bagaimana Injil boleh membawa perubahan pada diri Onesimus melalui anugerah Allah dan sekarang anugerah Allah itulah yang akan campur tangan melalui providensia/pemeliharaan Allah baik bagi Onesimus maupun Filemon.
 
 
Ayat 16
bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari pada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan.
 
 
Penerimaan Filemon diharapkan Paulus sangat kontras yaitu bukan sekedar hamba tetapi sebagai saudara seperti yang sudah dilakukan Paulus sendiri terhadap Onesimus. Sekali lagi Paulus sangat bergantung kepada providensia/pemeliharaan Allah sebagai dasar baginya untuk berharap pada respon Filemon.
 
 
Ayat 17
Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.
 
 
Inilah hal yang sederhana sekaligus serius dari harapan Paulus. Jika Filemon telah menganggap Paulus sebagai teman/partner-nya di dalam melakukan pekerjaan Tuhan dan ini adalah hubungan yang sangat serius, maka adalah wajar jika Paulus berharap Filemon menerima Onesimus sama seperti ketika Filemon menerima Paulus, karena Paulus sangat mengasihi Onesimus sehingga dia menyebutnya “anakku” dan “buah hatiku”.
 
 
Ayat 18
Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku,
 
 
 
Ayat 19
aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan membayarnya – agar jangan kukatakan: “tanggungkanlah semuanya itu kepadamu!” – karena engkau berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri.
 
 
Paulus mengantisipasi kemungkinan adanya hambatan atau kegagalan terhadap permintaannya oleh karena hal-hal yang bersifat materi yaitu kerugian yang dialami Filemon oleh karena kaburnya Onesimus. Paulus memperkuat permintaannya ini kepada Filemon dengan bersedia membayar kerugian materi yang dialami Filemon, hal ini Paulus meneladani apa yang telah dilakukan Tuhan kita Yesus Kristus yang bersedia menanggung dan membayar hutang-hutang dosa kita dengan nyawaNya sendiri agar kita bisa diterima oleh Tuhan Allah. Sekaligus juga Paulus mengingatkan akan buah pelayanannya terhadap Filemon sehingga Filemon telah berhutang kepada Paulus, dan hutang ini tentulah lebih besar dari segala hutang materi yang perlu ditanggungkan kepada Paulus.
 
 
Ayat 20
Ya saudaraku, semoga engkau berguna bagiku di dalam Tuhan: Hiburkanlah hatiku di dalam Kristus!
 
 
Paulus meminta Filemon tetap di dalam karakternya yang berdasarkan Iman Kekristenan sehingga Filemon mendapat berkat yang bukan berkat materi tetapi berkat yang dari pada Allah sendiri, dan ini pada gilirannya nanti Filemon akan menjadi berkat bagi Paulus dengan menghibur Paulus.
 
Penutup
 
Melalui bagian Firman Tuhan ini, kita belajar melihat bagaimana pendekatan Paulus sangat menjaga keseimbangan antara: persahabatannya yang kuat dengan Filemon, ketaatannya terhadap hukum (Roman Law) mengenai budak yang melarikan diri dari tuannnya, dan keinginannya untuk menolong Onesimus hasil buah pelayanannya dan juga sangat ia kasihi.

Ketika kita menghadapi berbagai masalah sosial di dalam relasi kita dengan saudara kita seiman, maka kita harus mampu mewujudnyatakan Iman Kristen kita seperti yang telah ditunjukkan oleh Filemon dan Rasul Paulus demikian juga dengan Onesimus. Karena dengan masuknya Surat Paulus kepada Filemon di dalam kanon Kitab Suci kita (Alkitab) maka dapat dipastikan jemaat pada waktu itu melihat kesaksian Iman Kristen Filemon yang menerima Onesimus.
 
Tuhan memberkati kita.
[by Ranto, 09 April 2016]

Connect With Us

 
Persekutuan Studi Reformed :
Eva Paula Marpaung
Komplek Buaran Baru
Jl. Kobra V/H19 RT/RW 07/015
Buaran Duren Sawit, Jakarta Timur, 13440.
Telp: 021-86611470
Hub: Deby - 08158020418
 
  • Ibadah rutin PSR, dewasa & anak.
    setiap Sabtu, pukul 16.00 - selesai
    Tempat: MTH Square Lt 3C, Ruang Melody,
    Jl. MT Haryono No. 1 Jakarta Timur