Renungan & Kesaksian
 
 
_oOo_
 
Siapakah Jonathan Edwards?
 
Jonathan Edwards lahir di East Windsor, Connecticut pada tanggal 5 Oktober 1703. Ia menempuh pendidikan sekaligus menjadi dosen di Yale University. Pada tahun 1758 Edwards ditahbiskan menjadi Presiden di Princeton College. Ia pernah melayani sebagai pendeta dari gereja Conggregational di Northampton. Edwards meninggal pada 22 Maret 1758.
 
Sebagai seorang theolog sekaligus pengajar, Edwards banyak melahirkan karya-karya theologis. Pada tahun 1731, ia menghasilkan sebuah buku berjudul “God Glorified in the Work of Redemption.” Selain itu ia berhasil menerbitkan sebuah karya buku yang diberi judul “A Faithful Narative”. Kira-kira sepuluh tahun kemudian, tepatnya tanggal 8 Juli 1741, Edwards pernah berkhotbah di gereja Enfield, Connecticut, dengan tema “Orang Berdosa di Tangan Allah yang Murka (Sinners in the Hands of an Angry God). Khotbah Edwards tersebut diyakini sebagai khotbah yang paling terkenal dan monumental yang pernah diberikan di sepanjang Amerika. Di khotbahnya itu, Edwards menggambarkan begitu tragisnya keadaan manusia berdosa yang tidak berdaya di tangan Allah yang begitu murka. Jikalau bukan karena belas kasihan Allah yang begitu besar, manusia akan berjalan menuju kebinasaan. Khotbah Edwards membawa banyak pendegarnya meratap, menangis keras seperti bertanya, “Apakah yang harus kulakukan agar bisa diselamatkan?” Kuasa ajaib Allah turun. Banyak pendengar mengakui dosa- dosanya di hadapan Allah dan bertobat, kembali kepada Allah. Kebangunan rohani besar terjadi. Itu sebabnya, Jonathan Edwards disematkan menjadi salah satu tokoh kebangunan rohani terbesar (Great Revivalist) di sepanjang abad.
 
Setelah kebangunan besar itu, Edward membuat sebuah risalah mengenai afeksi kudus yang diberi judul “Treatise Concerning Religious Affection.” Di dalam risalah ini, Edwards membeberkan dengan gamblang bagaimana karakteristik seseorang yang berada dalam realitas hidup baru. Pada bagian selanjutnya kita akan mendedah lebih tajam risalah Edwards ini.
 
Konsep Pertobatan Menurut Pemikiran Jonathan Edwards
 
Sebelum berangkat kepada pemikiran Jonathan Edwards dalam membicarakan bagaimana realita kehidupan baru yang di bedah dalam bukunya “A Treatise Concerning Religious Affection” ini, kita perlu melihat terlebih dulu bagaimana pemikiran Edwards mengenai pertobatan (conversion). Pemikiran Edwards mengenai pertobatan termaktub jelas di dalam pengalaman pertobatannya yang ia tuliskan di bukunya yang berjudul “A Personal Narrative.” Di salah satu kutipannya, Edwards mengatakan, “After (my conversion) my sense of divine things gradually increased, and become more and more lively, and had more of the inward sweatness. God’s excellency, His wisdom, His purity and love, seemed to appear in everything, in the sun, in the moon, and stars. In the clouds and the blue sky; in the grass, flowers, tree, in the water, and all nature, which used greatly to fix my mind. I have loved the doctrines of the gospel ; They have been to my soul like green pastures. The gospel has seemed to me to be the richest treasure, the treasure that I have most desire, and longed that it may dwell richly in me, …
 
Edwards menggambarkan pengalaman personal pertobatannya dengan suatu tanda-tanda perubahan yang terjadi di dalam hidupnya.
 
  1. Ia merasakan suatu kepekaan akan sesuatu yang ilahi terus bertumbuh semakin dalam di dalam dirinya. Kepekaan itu dari hari ke hari semakin hidup dan menjadi suatu yang berharga di dalam dirinya.
     
  2. Ia semakin menyadari akan kesempurnaan Allah di dalam bijaksana-Nya, kekudusan-Nya, dan kasih-Nya. Semuanya itu terpancar dengan jelas di dalam segala sesuatu yang Allah ciptakan.
     
  3. Ia semakin mencintai Injil Kristus. Injil, bagi Edwards, menjadi penangkal dahaga dan memberi kesegaran di dalam jiwanya Injil menjadi harta berharga yang terus menerus menjadi hasrat terdalam di dalam hidupnya. Injil menjadi sesuatu yang ia rindukan untuk mengisi jiwanya.
     
Menurut Edwards, pertobatan adalah karya besar dan mulia dari kuasa Allah yang secara serentak mengubahkan hati dan menyuntikkan kehidupan baru ke dalam jiwa-jiwa yang mati. Allah lah menjadi inisiator dari seseorang bisa berbalik kepada-Nya. Di dalam pertobatan ada pengakuan mendalam akan ketidakberdayaan manusia berdosa di hadapan Allah yang suci. Namun tidak berhenti di situ, di dalam ketidakberdayaannya itu manusia juga harus menyadari akan adanya kasih dan belas kasihan Allah yang besar dan anugerah keselamatan di dalam Kristus yang diberikan. Keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisah di dalam diri manusia ketika ia berbalik kepada Allah. Kedua hal ini menjadi natur dari pertobatan sejati.
 
Karya sejati Allah dalam pertobatan selalu mengasilkan dua elemen penting. Pertama, seseorang yang mengalami pertobatan selalu melibatkan suatu keyakinan tertentu tentang kebenaran Injil. Kedua, pertobatan selalu menghasilkan sebuah realita kehidupan yang diubahkan sebagaimana Allah telah menyuntikkan kehidupan yang baru di dalam diri seseorang. Pertobatan tanpa perubahan hidup adalah pertobatan palsu. Oleh karena itu, ketika seseorang mengalami suatu pertobatan sejati akan muncul kepekaan atau perspektif yang baru di dalam hatinya terhadap sesuatu. Ia mengalami kepekaan (sense) mendalam akan keindahan pribadi Allah (the beauty of God) dan keindahan Firman-Nya (the beauty of His Word).
 
Realita kehidupan baru seseorang dimulai dari satu titik, yaitu karya Allah Tritunggal di dalam pertobatan seseorang dan hal ini terkait erat dengan suatu tanda atau buah pertobatan. Namun pertanyaannya, apakah pertobatan itu adalah pertobatan sejati atau palsu? Untuk menjawabnya, kita akan membedah pemikiran Jonathan Edwards yang tersarikan di dalam karya theologis monumentalnya “A Treatise Concerning Religious Affection”.
 
“A Treatise Concerning Religious Affection”
(Risalah tentang Afeksi Religius)
 
Buku ini ditulis dilatarbelakangi oleh terjadinya kebangunan besar gelombang pertama (first great awakening) yang terjadi di Amerika yang dipelopori oleh George Whitefield (1740-1742). Buku ini merupakan serangkaian khotbah Jonathan Edwards di gereja yang ia layani, Northampton Church, pada tahun 1742-1743, yang kemudian risalah ini baru diterbitkan pada tahun 1746.
 
Secara garis besar, buku ini hendak membahas pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan pengalaman rohani sejati, yang antara lain menjawab pertanyaan, “Bagaimana seseorang mengetahui bahwa karya yang dicurahkan adalah benar karya Roh Kudus?; Apa yang membedakan seseorang beriman yang sejati atau seseorang yang munafik?; Apakah natur dari agama/kerohanian sejati?” Perlu kita pahami terlebih dulu bahwa tujuan Edwards menuliskan risalah ini sama sekali bukan ditujukan sebagai alat untuk menghakimi orang lain, apakah ia sungguh-sungguh sudah mengalami momen lahir baru dan memiliki pertobatan sejati? Namun justru sebaliknya, risalah ini ditujukan sebagai cermin refleksi sekaligus sebagai sinar rontgen bagi kita untuk melihat diri apakah kita sungguh-sungguh memiliki kerohanian sejati di hadapan Allah.
 
Dasar pemikiran Edwards mengenai pokok pikiran ini terambil dari 1 Petrus 1:8, “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan.” Jika kita teliti ayat ini muncul di dalam konteks orang percaya yang harus mengalami penderitaan dan aniaya. “ …, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai pencobaan (1 Pet. 1:6); “…tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah (1 Pet. 2:20)” ; “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah… (1 Pet. 3:17)” dan 1 Petrus 4:12-18 yang berbicara mengenai penderitaan sebagai Kristen. Edwards mendasarkan pemikirannya untuk melihat perbedaan antara iman atau kerohanian yang sejati dan yang palsu ketika seseorang dihadapkan pada konteks penderitaan dan aniaya. Poin utama dari ayat ini hendak menggambarkan di tengah realita penderitaan dan pencobaan seberat apapun, bagaimana iman sejati itu tercermin dalam bagaimana kasih kita kepada Kristus dan bagaimana kita bersukacita di dalam Kristus.
 
Dari sini Edwards menyimpulkan esensi dari iman atau kerohanian sejati terkandung dalam apa yang ia sebut afeksi yang kudus. Afeksi, menurut Edwards, adalah sebuah gerakan yang lebih hidup dan intens dari kecenderungan hati dan kehendak. Atau secara sederhana dapat dikatakan sebagai sebuah kecenderungan (inclination) yang kuat dari jiwa yang termanifestasikan dalam pikiran, perasaan dan tindakan. Yang dimaksud kecenderungan di sini adalah suatu ketertarikan terhadap sebuah objek atau sebaliknya suatu ketidaksukaan yang membuat seseorang menjauhi sebuah objek. Jadi, ada 2 (dua) macam afeksi, yaitu afeksi yang menarik hati jiwa menuju sebuah objek yang disukai atau dicintai, misalnya: kasih, sukacita, rasa syukur, dsb dan afeksi yang menyebabkan jiwa menolak dan menjauhi sebuah objek, misalnya: kebencian, amarah, dukacita, dsb. Dari pengertian ini kita dapat menyimpulkan setidaknya ada 3 (tiga) unsur dari sebuah afeksi, yaitu: gerakan yang hidup dan intens, kecenderungan hati (inclination) dan kehendak (will).
 
Meski demikian, kita juga perlu membedakan dengan jelas antara afeksi dengan emosi. Afeksi bertahan lama, emosi cepat berlalu. Afeksi merupakan perasaan mendalam, sedangkan emosi perasaan dangkal. Afeksi selalu konsisten dengan keyakinan, emosi tidak konsisten (kadang menguasai, kadang tidak). Afeksi selalu menghasilkan tindakan, emosi seringkali gagal menghasilkan tindakan. Afeksi selalu melibatkan pikiran, kehendak, dan perasaaan, sedangkan emosi, perasaan sering terpisah dari pikiran dan kehendak.
 
Di dalam Alkitab, kerohanian sejati biasanya ditempatkan dalam emosi-emosi kita. Contohnya: takut akan Allah, pengharapan kepada Allah (Ibr. 6:19), kasih kepada Allah (Mzm. 97:10), hasrat, kerinduan, dan kehausan akan Allah (Mzm. 63:2; Mat. 5:6), bersukacita di dalam Tuhan (Mzm. 97:12; Fil. 4:4), dukacita rohani atau penyesalan akan dosa dan kehancuran hati (Mzm. 51:9), ucapan syukur kepada Allah, belas kasihan dan kemurahan hati, kerajinan hati, dsb. Peristiwa dan tokoh Alkitab yang begitu jelas menggambarkan hal ini adalah pengalaman pertobatan Paulus yang dahulu begitu semangat mengejar dan menganiaya jemaat Allah, namun setelah hatinya ditangkap oleh Allah dan mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah, terjadi transformasi yang begitu dahsyat di dalam dirinya. Hati Paulus sekarang berkobar bagi Allah dan bagi Injil-Nya.
 
Lalu, bagaimana karakteristik suatu realita hidup baru yang hadir dalam diri seseorang menurut pemikiran Jonathan Edwards? Edwards membaginya menjadi 2 (dua) bagian yaitu: tanda-tanda yang Tidak Selalu membuktikan suatu iman/kerohanian sejati dan tanda-tanda yang membuktikan suatu iman/kerohanian sejati.
 
Tanda-Tanda Yang Tidak Selalu Membuktikan suatu iman/kerohanian sejati
 
  1. Tanda-tanda meragukan yang melibatkan pengalaman religius, contohnya: (Ayat) Alkitab yang secara ajaib muncul dalam pikiran kita atau manifestasi-manifestasi fisik/lahiriah dari afeksi, misalnya: menangis, tubuh gemetar, bersujud, dll. Tanda-tanda ini tidak serta merta dapat membuktikan iman/ kerohanian sejati seseorang.
     
  2. Tanda-tanda meragukan yang melibatkan perilaku religius, contohnya: banyak atau fasih berbicara tentang Allah dan agama, pujian yang sering dan penuh semangat kepada Allah, kegairahan dan kerelaan memberikan banyak waktu bagi kegiatan-kegiatan religius. Tanda-tanda ini tidak serta merta dapat membuktikan iman/ kerohanian sejati seseorang.
     
  3. Tanda-tanda meragukan yang melibatkan kepastian keselamatan, contohnya: keyakinan seseorang akan kepastian keselamatan, keyakinan orang lain bahwa seseorang diselamatkan. Tanda-tanda ini tidak serta merta dapat membuktikan iman/ kerohanian sejati seseorang.
     
Namun jangan salah mengerti. Menurut Edwards, tanda-tanda tersebut di atas bukan tidak bisa terjadi pada seseorang yang memiliki iman/kerohanian sejati, namun dalam hal ini ia ingin mengingatkan bahwa tanda-tanda tersebut tidak serta merta atau tidak selalu membuktikan suatu iman/kerohanian sejati dari seseorang.
 
Tanda-Tanda yang Membuktikan Suatu Iman/Kerohanian Sejati
 
  1. Adanya karya supernatural dari Roh Kudus di dalam diri seseorang. Afeksi yang sungguh-sungguh rohani dan berdasarkan anugerah timbul dari pengaruh dan cara kerja di dalam hati, yang bersifat rohani, supernatural, dan ilahi. Afeksi religius yang sejati hanya berasal dari Roh Kudus, dan hanya Roh Kudus yang memampukan seseorang mengetahui bahwa Injil adalah benar dan sungguh. Afeksi religius yang sejati ini didasarkan atau bersumber pada kelahiran baru dan pembaharuan oleh Roh Kudus. Roh Kudus memberikan kepekaan (sense) atau persepsi yang baru kepada orang Kristen yang membuat seluruh kehidupan dan pengalaman tampak berbeda.
     
  2. Hidup yang digerakkan oleh kasih yang sejati kepada Allah. Kasih merupakan sesuatu yang terutama dari semua afeksi karena kasih adalah sumber utama dari afeksi-afeksi yang lain. Di dalam Matius 22:37-40 dikatakan, “Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allah-mu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Hati merupakan pusat dari pancaran kehidupan kita (Ams. 4:23) yang tidak pernah menghilangkan pikiran (mind). Jiwa menyoroti kehidupan manusia secara utuh. Akal budi menyoroti kapasitas pemikiran (capacity of thinking) atau pengertian (understanding). Kekuatan menyoroti kapasitas dalam bertindak (capacity to act). Dengan demikian, mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Oleh sebab itu, kasih kita kepada Allah adalah kasih yang meliputi segenap aspek kehidupan kita tanpa terkecuali.
     
    Namun demikian, Edwards juga mengingatkan kita akan adanya 2 (dua) jenis kasih, yaitu:
     
    Pertama, kasih yang bersumber dari kepentingan diri atau kecintaan diri (self love). Artinya, mengasihi Allah berdasarkan manfaat apa yang dapat Allah berikan kepada kita apabila kita mengasihi Dia. Kasih ini memperlakukan Allah semata-mata dari sudut pandang kepentingan diri kita sendiri atau kasih yang egoistik. Kasih semacam ini adalah kasih tanpa adanya apresiasi terhadap keindahan dan kemuliaan natur ilahi dan kasih tanpa adanya kesadaran yang serius terhadap dosa. Christian Smith dan Lundquist Denton di dalam bukunya “Soul Searching: The Religious and Spiritual Lives of American Teenager” pernah melakukan riset terhadap kehidupan religius dan spiritualitas remaja Amerika tentang bagaimana mereka menggambarkan Allah yang mereka percayai. Dari riset tersebut, Smith dan Denton menyimpulkan dengan menyebut satu istilah “Moralistic Therapeutic Deism (MTD).” Pemikiran utama dari MTD ini dapat dipetakan menjadi 3 (tiga) konsepsi tentang Allah yang dipercayai, yaitu:
     
    1. Jika kita memiliki kehidupan moralitas yang baik, melakukan segala sesuatu yang baik dan berusaha tidak melakukan sesuatu yang tidak baik, maka kita berhak menerima hadiah (reward). Allah akan mengirim kita ke “tempat yang baik” (better place) ketika kita mati. Pemikiran ini menggambarkan konsepsi tentang Allah dalam bingkai moralistik semata (Moralistic Outlook)
       
    2. Alasan utama Allah ada (eksis) adalah membuat kita senang (happy) dan damai (peaceful). Jadi, Allah dijadikan sebagai sebuah bentuk terapi (form of therapy) bagi kita. Allah ada untuk kita. Pemikiran ini menggambarkan konsepsi tentang Allah dalam bingkai orientasi terapeutik (A Therapeutic Orientation).
       
    3. Sebagaimana seorang Deist berpikir bahwa Allah itu benar ada (eksis), namun Ia berada nun jauh di sana dan Ia tidak terlibat secara langsung apa yang terjadi di dalam dunia ini. Allah sama sekali tidak terlibat atau tidak dapat menginterupsi seluruh rencana-rencana kita. Dia tidak mengatakan apa yang seharusnya kita lakukan. Pemikiran ini menggambarkan konsepsi tentang Allah dalam bingkai cara pandang Deistik (Deistic view).
       
     
    Dari ketiga konsepsi pemikiran Moralistic Therapeutic Deism tersebut di atas, ia hendak menjadikan Allah sebatas “pelayan ilahi” (divine butler) dan seorang terapis kosmik (cosmic therapist). Allah selalu ada menolong setiap masalah kita secara professional, dan menolong kita untuk merasakan lebih baik meski Ia tidak terlibat langsung di dalam prosesnya. Dengan demikian pemikiran MTD ini tepat dijadikan contoh konkrit dari bentuk kasih yang egoistik itu.
     
    Kedua, kasih yang bersumber dari kecintaan yang sungguh kepada Allah (kasih sejati). Kasih ini dilandasi oleh natur Allah sendiri yang mutlak untuk dikasihi. Alasan utama kita mengasihi adalah keagungan, keindahan, dan kemuliaan Allah, bukan karena Allah akan memberikan kebaikan kepada kita. Kasih sejati didasarkan atas pribadi Allah dan mengasihi Allah demi Allah sendiri. Kasih sejati berarti suatu kerelaan untuk menderita demi kemuliaan Allah (1 Pet. 1:8). Sebagaimana dikatakan Edwards, “Efek pertama dari kuasa Allah di dalam hati dalam regenerasi adalah memberikan hati itu sebuah cita rasa atau perasaan Ilahi untuk menyebabkan hati itu memiliki sebuah kenikmatan akan keindahan dan kemanisan dari kemuliaan tertinggi natur ilahi.” Kasih ini menghasilkan ucapan syukur yang sejati, yakni ucapan syukur atas berkat Allah bersumber dari kasih kepada Allah. Ucapan syukur bukan sekadar karena Allah memberkati kita, tapi kebaikan Allah itu merupakan bagian dari kemuliaan dan keindahan natur Allah sendiri.
     
  3. Hidup yang digerakkan untuk mengejar pengertian dan pengetahuan spiritual. Alkitab mengajarkan bahwa hidup orang Kristen adalah hidup yang terus bertumbuh di dalam pengenalan akan Allah, bertumbuh akan pengertian-pengertian rohani, pembaharuan akal budi (Rm. 12:1). Oleh karenanya, kerohanian sejati harus terus dipertumbuhkan melalui perpaduan antara pengetahuan doktrinal dan pengetahuan spiritual. Terus bertumbuhnya pengetahuan doktrinal dan spiritual merupakan bagian yang tidak terpisah dari kasih kita kepada Allah yakni mengasihi dengan segenap akal budi kita yang telah diperbaharui.
     
  4. Hidup yang digerakkan oleh keyakinan rohani terhadap kebenaran Firman Tuhan. Kerohanian sejati selalu melibatkan keyakinan yang kokoh atas kebenaran Injil Kristus. Atau dengan kata lain, kehidupan yang digerakkan oleh Injil (Gospel Driven Life). Keyakinan terhadap apa yang tertulis di dalam Alkitab adalah sebuah kebenaran, tidak hanya berdasar pada kepercayaan nenek moyang secara turun menurun, bukan sekadar evidensi sejarah atau argumen rasional, tapi keyakinan berdasar pada pekerjaan Roh Kudus yang mencelikkan mata rohani kita dan memberikan pengertian-pengertian spiritual sehingga kita bisa mempercayai kebenaran-Nya.
     
  5. Hidup yang digerakkan oleh kerendahan hati ( humility). Kerendahan hati sejati lahir dari kesadaran diri sebagai orang berdosa dan kesadaran akan Allah yang suci (bdk. Luk 18:9-14). Ia bersumber dari kesadaran Kristen yang benar akan keindahan, kemuliaan dan kekudusan Allah dan bersumber dari penyangkalan diri Kristen – penyangkalan akan kecenderungan duniawinya dan meninggalkan kesenangan berdosa. John Calvin pernah berkata, “Man is never sufficiently touched and affected by the awareness of his lowly state until he has compared himself with God’s majesty.”
     
  6. Buah afeksi sejati akan tercermin dari praktik hidup Kristen. Orang Kristen sejati mengarahkan seluruh kehidupannya dan tingkah lakunya kepada ajaran-ajaran Kristen (sesuai dengan kebenaran Alkitab). Ia menjadikan kekudusan sebagai sesuatu yang utama dalam hidupnya. Ia akan bertekun dalam ketaatan yang mutlak kepada Allah di dalam segala keadaaan meski harus mengalami penderitaan, kesusahan, pergumulan.
     
Penutup
 
Sebagaimana risalah ini Edwards tuliskan sebagai alat cermin dan sinar rontgen yang membedah hati kita, sekarang bagaimana kita merefleksikan kerohanian kita saat ini? Apakah kasih kita kepada Allah adalah kasih yang sejati ataukah palsu? Apakah kerohanian kita adalah kerohanian yang sejati di hadapan Allah? Di momen Natal ini, biarlah kita masing-masing berefleksi, berespon dengan menjawabnya dengan kejujuran hati di hadapan Allah.
 
[ Nikson Sinaga ]