Renungan & Kesaksian
 
 
Abdul Halim Perdanakusuma adalah nama yang tidak asing lagi bagi kita. Beliau adalah Pahlawan Nasional Indonesia (gambar 1). Sejalan dengan invasi Nazi Jerman atas Belanda pada awal dekade 1940-an, pemerintahan kolonial Belanda membuka kesempatan warga negara jajahannya untuk bermilisi, oleh mana Perdanakusuma mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pendidikan, pelatihan dan pengalaman operations udara di Inggris dan Eropa pada masa Perang Dunia II. Semasa di Inggris pada awal dekade 1940-an, Perdanakusuma mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan operations Sekutu untuk membombardir Jerman dan wilayah-wilayah Eropa lain yang didudukinya (gambar 2). Patut disyukuri, Indonesia memiliki beliau sebagai salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang pada masanya pernah turut ambil bagian pada salah satu operation penting belahan dunia lain itu.
 
Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1945 ilmu dan pengalaman yang ditimbanya di luar negeri itu diabdikannya pada Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Dalam suatu operation pada tanggal 14 Desember 1947 bersama rekannya, Iswahyudi, pesawat militer Avro Anson yang dikemudikannya jatuh di Tanjung Hantu, Malaysia. Halim Perdanakusuma bersama rekannya itu gugur pada usia 25 tahun. Ibu Pertiwi kehilangan dua tunas mudanya dan berduka.
 
Sepenting itu karya para Pahlawan kita perlu dikenang, sepenting itu pulalah Persekutuan Studi Reformed selalu kembali kepada yang classics.
 
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-75.
[ Jessy Victor, 17 Agustus 2020 ]