KESELAMATAN HANYA ADA DI DALAM KRISTUS
Oleh: Gogona Gultom.
_oOo_
 
Apakah Anda benar-benar yakin bahwa keselamatan itu hanya diperoleh melalui iman kepada Yesus Kristus yang mati di Kayu Salib bagi dosa-dosa Anda, tidak ada andil usaha manusia? Selanjutnya, apakah dengan keyakinan ini menjadikan Anda sebagai seorang yang egois, sombong, dan tidak mengasihi orang lain? Atau sebaliknya, membuat Anda sadar bahwa Anda adalah orang berdosa yang harus selalu bergantung/mengandalkan Tuhan, mengasihi orang lain dengan cara mengabarkan injil bahwa “Keselamatan hanya ada di dalam Kristus”?
Dalam Injil Yohanes 14:6, Yesus berkata “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Ayat ini tidak mengatakan bahwa: “Akulah salah satu jalan, tetapi Akulah jalan itu yang dapat mengantarkan Anda dan saya datang kepada Bapa”. Sementara itu dalam Kisah Para Rasul 4:12 dikatakan: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”.
 
Lebih jelas lagi dalam surat Galatia 2:16, 21 berbunyi: “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus ... sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus”.
Diselamatkan oleh iman adalah suatu konsep dalam teologi Kristen yang menyatakan bahwa keselamatan manusia adalah pemberian Allah. Dalam konsep ini, keselamatan manusia tidak ditentukan oleh perbuatan-perbuatan baik yang dilakukannnya. Menurut Agustinus manusia memperolehnya hanya oleh anugerah. Martin Luther menyerukan bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh melalui Alkitab (sola scriptura), anugerah Allah (sola gratia), dan iman (sola fide). Tidak ada usaha manusia sama sekali, karena seluruhnya inisiatif Allah.11.
Edwin H. Palmer, Lima Pokok Calvinisme, terj. Elsye (Surabaya: Momentum, 2013), vii.
 
Sementara itu, ajaran John Calvin tentang keselamatan tidak berbeda jauh dengan Luther, yaitu bahwa dalam Yesus Kristus, Allah yang mulia merendahkan dan menyatakan diri-Nya kepada manusia sebagai Allah yang rahmani yang sudi mengampuni orang berdosa.22.
Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998), 55.
Calvin sangat mementingkan kelahiran baru (regeneratio) atau pengudusan (sanctification) yang harus menyertai pembenaran orang-orang berdosa (justification.) Manusia yang dibenarkan wajib menampakkan imannya dalam perbuatan-perbuatannya yang berkenan kepada Allah.
Oleh karena itu, seseorang diselamatkan apabila ia memiliki iman kepada Yesus Kristus yang mati di kayu salib untuk menebus dosa semua orang yang percaya kepada-Nya. Iman seorang Kristen yang sejati bukanlah iman yang didasarkan pada perbuatan-perbuatan baik; bukan juga iman plus perbuatan-perbuatan baik, tetapi iman Kristen yang sejati adalah iman kepada Yesus Kristus yang menghasilkan perbuatan-perbuatan baik (faith that works).
 
Keyakinan akan Keselamatan Tidak Membuat Seseorang Egois
 
Belakangan ini dari berbagai kalangan agama memperkenalkan hal yang disebut “pluralisme,” disebut juga “teologi abu-abu”. Pluralisme menegaskan bahwa semua agama tidak hanya memiliki kebenaran berbeda tentang objek yang sama, tetapi juga memiliki tujuan yang sama. Pada intinya, semua agama adalah sama, jalan-jalan yang berbeda memimpin pada tujuan yang sama. Pluralisme merasa puas untuk menganggap semua agama secara utuh, sah, dan saling melengkapi.33.
Jonar T.H Situmorang, Soteriologi (Doktrin Keselamatan) (Yogyakarta: Andi, 2015), 51 – 52.

Ajaran Pluralisme ini muncul sebagai reaksi terhadap orang Kristen yang merasa dirinya superior dibanding agama-agama lainnya dengan konsep bahwa Yesus adalah satu-satu jalan ke surga. Bagaimana mungkin mereka (agama-agama lain) yang lebih saleh hidupnya, beramal, setia pada peraturannya bahkan melebihi orang “Kristen” tidak diselamatkan? Mereka berpikir bahwa orang Kristen adalah orang yang sangat egois/mau menang sendiri.
Orang Kristen (sejati) bukanlah orang yang egois, tetapi mereka percaya akan kebenaran yang nyata di ajarkan dalam Kitab Suci. Bayangkan jika Anda mempunyai sebuah rumah dan hanya satu pintu untuk masuk ke rumah itu. Lalu Anda memberi tahu ke teman Anda, kalau mau masuk ke rumah harus melalui pintu satu-satunya itu dan jika masuk melalui jendela/naik tembok belakang/masuk lewat genteng, Anda akan dianggap perampok dan kemungkinan besar akan ditembak. Apakah ini berarti Anda seorang egois/mau menang sendiri? Tentu saja tidak, karena Anda mau menyampaikan kebenaran yang justru akan menyelamatkan teman Anda.
 
Keyakinan akan Keselamatan Di Dalam Kristus Membuat Saudara Semakin Mengandalkan/Bergantung kepada Tuhan
 
Orang di luar Kekristenan sering kali berkata: “Enak sekali menjadi Kristen, berbuat dosa saja sepuasnya, nanti kalau sudah mau mati baru bertobat dan pasti masuk surga”. Bahkan banyak orang Kristen yang sudah terpengaruh dengan pandangan ini, karena mereka pikir bahwa Allah adalah kasih dan karena keselamatan sudah dijamin artinya sampai kapanpun mereka akan selamat. Apakah pandangan ini benar?
Justru sebaliknya keselamatan di dalam Kristus membuat orang-orang percaya (sejati) semakin membuat dirinya bergantung kepada Tuhan. Anda tidak akan pernah bersyukur akan keselamatan itu kalau Anda tidak pernah merasa bahwa Anda adalah orang berdosa, orang yang rapuh, orang yang bejat, rusak dan bagaikan kain lap kotor (Yes. 64:6).
Benar sekali bahwa keselamatan itu adalah anugerah Allah melalui iman kepada Kristus yang mati, disalibkan, bangkit pada hari ketiga, naik ke Surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Tetapi Rasul Paulus berkata bahwa kita sebagai orang yang percaya harus mengerjakan keselamatan itu artinya seseorang yang telah diselamatkan harus nyata dalam perbuatan-perbuatannya dan menghasilkan buah Roh, serta semakin hari harus semakin serupa Kristus.
Jadi, setelah kita diselamatkan bukan berarti kita dapat berbuat dosa semaunya karena Kristus telah mati dan menebus dosa kita kemarin, hari ini, dan selamanya (ajaran Hyper Grace), tetapi justru ketika Anda diselamatkan membuat Anda benci akan dosa dan menghasilkan buah-buah pertobatan (faith that works) dan tentunya dengan semakin mengandalkan/bergantung kepada Roh Kudus.
 
Keyakinan akan Keselamatan Di Dalam Kristus
Membuat Saudara Rindu Mengabarkan Injil
 
Keselamatan di dalam Kristus mengajarkan saudara untuk mengasihi orang lain, dan bagaimana caranya, yaitu dengan mengabarkan injil bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan yang dapat membawa semua orang yang percaya masuk surga (Mat. 28:19-20). Keselamatan yang saudara dan saya terima tidak hanya untuk diri kita sendiri, tetapi kita diingatkan oleh Roh Kudus bahwa masih banyak orang-orang yang tersesat dan mereka sangat membutuhkan Kristus.
Jikalau Yesus tidak dapat menyelamatkan, buat apa Dia memerintahkan kita untuk memberitakan injil kepada semua bangsa. Kita harus mengusahakan, dan yang paling penting bersandar pada Roh Kudus, supaya orang lain bisa mendengar tentang Yesus dan mau percaya kepada-Nya, dengan cara memberitakan injil kepada mereka, berdoa supaya mereka digerakkan oleh Roh Kudus untuk bisa dan mau percaya kepada Kristus.
 
Aplikasi dalam Kehidupan
 
Jelas sekali, keselamatan hanya ada di dalam Kristus, tidak ada jalan lain guna memperoleh hidup kekal. Keyakinan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan banyak sekali mengalami pertentangan di antara agama-agama lainnya, bahkan di dalam tubuh Kekristenan sendiri.
Keyakinan akan keselamatan di dalam Kristus bukanlah suatu keyakinan yang egois karena anggapan bahwa agama-agama lain salah, tetapi ini karena kita percaya pada sang Kebenaran itu sendiri yang diungkapkan dalam Firman Tuhan. Percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan membuat kita bersyukur dan senantiasa mau bergantung/ mengandalkan-Nya, bukan mengandalkan diri sendiri. Terakhir, adalah membuat kita rindu mengabarkan injil kepada semua orang yang belum pernah mendengarkannya sehingga pada akhirnya dengan pertolongan Roh Kudus, mereka dapat percaya kepada Kristus Sang Juruselamat orang berdosa.
 
Apa yang dapat saya aplikasikan, adalah: Pertama, keselamatan adalah anugerah yang Allah berikan melalui iman kepada Kristus yang mati bagi dosa-dosa saya dan dibangkitkan naik ke Surga. Siapakah saya ini, orang yang berdosa yang justru sering mengecewakan-Nya, tidak mau taat akan pimpinan-Nya (memberontak) dan malahan dengan berbagai alasan berusaha membenarkan diri sendiri walaupun tahu itu perbuatan dosa. Saya diperintahkan untuk mengasihi keluarga, teman-teman, kaum marginal, dll, dengan kasih tulus sebagaimana Allah terlebih dahulu mengaasihi saya.
Kedua, saya diajarkan untuk punya kerinduaan untuk mengabarkan injil kepada orang lain yang belum mengenal Kristus. Selama ini saya hanya puas dengan diri sendiri, saya sengaja lupa, bahkan tidak berani untuk mengabarkan injil Kristus. Kiranya Roh Kudus memampukan saya untuk ambil bagian dalam pengabaran injil ini, khususnya untuk orang-orang yang belum mengenal Kristus.
Ketiga, saya diajarkan harus mengarahkan anak-anak saya kepada Kristus sejak kecil. Sebagai orang tua, saya harus menyediakan waktu buat anak-anak untuk menyampaikan Kristus yang adalah satu-satunya jalan keselamatan, yang mati menebus dosa kita dan bangkit atas maut.
Keempat, saya diajarkan agar menyediakan waktu untuk berdoa bagi para misionaris yang ada di seluruh dunia, yang tidak menghiraukan keselamatan dirinya, oleh karena Kristuslah berita utama yang mereka sampaikan. Selama ini, memang saya berdoa, tapi belakangan ini kurang intens. Kiranya Roh Kudus menolong saya.
Kelima, saya diingatkan untuk selalu waspada terhadap berbagai ajaran palsu yang mengesampingkan Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat yang dapat mengantar kita kepada Bapa, tidak ada yang lain. Bahkan dalam aliran agama Kristenpun sudah muncul aliran-aliran yang sepaham dengan kaum pluralis. Kiranya Roh Kudus yang selalu menjaga dan memampukan saya untuk menghadapi semua ajaran tidak benar ini terutama dengan membaca firman Tuhan lebih sungguh sehingga saya mempunyai fondasi Kekeristenan yang solid, dan saya sadar bahwa saya mudah terombang-ambing.
[ Gogona. Jkt. 14-12-2017 ]
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Christian de Jonge, Apa itu Calvinisme, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998.
Edwin H. Palmer, Lima Pokok Calvinisme, terj. Elsye, Surabaya, Momentum, 2013.
Jonar T. H Situmorang, Soteriologi (Doktrin Keselamatan), Yogyakarta, Andi, 2015.