Reality: “story” or Metanarrative?
 
Siapakah di antara kita tidak akan mengakui bahwa lagu “Nyali Terakhir” karya Glenn Fredly merupakan lagu yang indah? Lagu itu telah diangkat sebagai salah satu original soundtrack film Surat Dari Praha, arahan sutradara muda Angga Dwimas Sasongko, yang dilansir oleh sinema Indonesia pada tanggal 28 Januari 2016 lalu.

Film Surat Dari Praha mengisahkan tentang seorang gadis Indonesia bernama Larasati (diperankan oleh Julie Estelle) yang datang ke Praha, Ceko untuk menemui seorang pria tua bernama Jaya (diperankan oleh Tio Pakusadewo) yang adalah mantan kekasih ibunya (Sulastri, diperankan oleh Widyawati) pada masa lalu. Pada era pemerintahan presiden Soekarno Jaya mengikuti program mahasiswa ikatan dinas (Mahid) untuk mempelajari ilmu teknik nuklir di Praha dan meninggalkan Sulastri di Indonesia. Namun, sejalan dengan bergantinya iklim pemerintahan di Indonesia pada kurun waktu 1965-1966 itu Jaya, yang tetap mencintai Sulastri hingga sekarang, memutuskan untuk menolak pemerintahan Orde Baru dengan konsekuensi kehilangan kewarganegaraannya sebagai Warga Negara Indonesia dan bersama dengan sejumlah teman seangkatannya menetap di negara di Eropa Timur itu. Sejak saat itu selama puluhan tahun hingga pertemuannya dengan Larasati Jaya, mantan mahasiswa teknik nuklir, bekerja sebagai janitor sebuah gedung opera di Praha. Pertemuan dan dialog yang terjadi antara Jaya dan Larasati itulah yang kemudian menceritakan kepada penonton kepedihan panjang perjalanan hidup seorang Jaya di Ceko dan Sulastri di Indonesia. Betapa kecilnya kisah-kisah (stories) manusia secara orang per orang di dalam suatu proses Sejarah yang besar (metanarrative). Jaya yang sebelum berangkat ke Ceko berjanji akan kembali ke Indonesia oleh karena obligasinya kepada sang “Asing,” sesuatu yang sama sekali lain dari segala sesuatu yang dapat dijelaskan, menempatkannya pada konsekwensi dihapuskanmya kewarganegaraannya (stateless), dikenai status tahanan politik kelas C dan semua orang dekatnya dapat di-screening dan dikenai status “tidak bersih lingkurangan” – hal yang ia tidak ingin Sulastri alami. Meminjam kalimat John Caputo saat menafsirkan pemikiran Derrida, obligasi kepada sang Prinsip seakan telah menempatkan Jaya untuk menentukan “kalkulasi”: menolak Orde Baru demi prinsipnya lalu kehilangan orang-orang terdekatnya di Indonesia, atau menerima Orde Baru lalu dapat hidup sukses pada era pemerintahan Soeharto: “... this moment of “calculation” ..., represents a moment of sacrifice or loss of the unique demands of singularity, ...” (John D. Caputo, “Instants, Secrets, and Singularities: Dealing Death in Kierkegaard and Derrida.” – Martin J. Matuštik; Merold Westphal (eds). “Kierkegaard in Post/Modernity.” Indiana University Press, 1995, p. 220). Jaya telah menentukan kalkulasi tersulit baginya, hal yang tidak ia sesali di dalam hidupnya kemudian.
 
Inilah “kisah” (story) tentang Jaya sebagai salah satu dari banyak kisah lainnya yang tidak terceritakan. Kisah-kisah seperti ini secara tidak disadari sesungguhnya mempertanyakan validitas Sejarah sebagai “cerita besar”. Apa hak seseorang untuk meniadakan orang lain? Akan tetapi film ini memang tidak bertujuan untuk menyelesaikan masalah. “Tujuan saya dalam film ini hanya satu: bercerita. Itulah esensi dari film menurut saya”, jelas Angga pada jumpa pers (25/01) di Epicentrum, Jakarta Selatan (https://acara.co.id/film-surat-dari-praha-siap-tayang-di-bioskop-28-januari-2016-film). Keterasingan dan kepedihan telah terjadi dan akan terus dijalani. Kisah-kisah lain yang masih ada akan terus mengalir dan akan terceritakan. Satu hal yang tampak di sini: “kisah” seorang Jaya dan banyak lagi kisah lainnya telah “hadir” sebagai foot note penting pemerintahan Orde Baru yang telah “meniadakan” (absence) mereka sedemikian lama.
 
Inilah penceritaan “kisah” secara postmodernistic: perjalanan panjang kepedihan dan kehilangan yang besar oleh karena obligasi kepada sang “Asing” dengan segala risikonya dan keterhilangannya, tanpa imbalan dan bukan suatu exchange. Renungkan, apabila banyak orang Kristen mengikut Tuhan demi berkat, rejeki dan kelancaran tanpa perlu memegang prinsip dan iman yang teguh, bagaikan relasi exchange dengan Tuhan. Bayangkan, tanpa berkata-kata tentang Tuhan manusia dapat menanggung keterbuangan dan kehilangan selama puluhan tahun seperti itu. Hendaklah kita menyadari panggilan hidup kita saat ini. Persekutuan Studi Reformed menyadari bahwa terlalu kecil bagi kita untuk dapat menyelesaikan berbagai kepedihan dan penderitaan yang ada di sekitar kita sekalipun. Akan tetapi, setidaknya, teks Alkitab dengan pemahaman sebagaimana diajarkan dan diturunkan oleh orang-orang kudusnya sepanjang Sejarah akan terus disuarakan dan dengan demikain akan terus ada pengharapan. “Kisah” kita seharusnya adalah foot note dari “cerita besar” yang ditulis Kristus. Amin.
 
[ Jessy, 06-02-2016. ]
Advisor Persekutuan Studi Reformed.