HIDUP KUDUS
_oOo_
 
Adakah Anda meragukannya bahwa tokoh-tokoh Alkitab seperti Daud, Paulus, Yohanes, Abraham, dst, adalah tergolong orang-orang kudus? Menurut Anda, apa kriteria-nya seseorang BOLEH tergolong “orang kudus?”
Anda mungkin terkejut, nyatanya Alkitab menyebut seseorang tergolong “orang kudus” bukanlah oleh karena banyaknya “amal perbuatan baik” orang itu, melainkan oleh karena ANUGERAH ALLAH di dalam Yesus Kristus.
 
Paulus berkata bahwa seseorang ditetapkan sebagai “orang kudus” adalah oleh Allah sendiri, oleh kehendak Allah, ref. Roma 1:7, 1 Korintus 1:2. Paulus menyebut kita dengan sebutan “orang-orang kudus,” ref. Roma 15:31, Roma 16:15, Filipi 1:1.
Paulus berkata, “Jikalau roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan juga kudus, dan jikalau akar adalah kudus, maka cabang-cabang juga kudus,” ref. Roma 11:16.
Paulus tegas berkata, kita tergolong “orang kudus” oleh karena kita adalah bagian dari Tubuh Kristus yang adalah kudus.
 
Jadi, bagaimanapun, sesuai dengan Alkitab, bagi setiap orang kristen, “kekudusan hidup” adalah BUKAN sebuah PILIHAN, melainkan “kekudusan hidup” adalah KEHARUSAN untuk dikerjakan. Oleh karena “diri” Anda telah ditetapkan-Nya sebagai YANG BOLEH “dipersembahkan” bagi Allah, maka “kekudusan” adalah perihal yang harus Anda kerjakan.
Penulis Ibrani menegaskan, “kekudusan” adalah sesuatu yang kita kerjakan dalam maksud agar kita dapat “melihat” atau merasakan Allah, ref. Ibrani 12:14.
Paulus tegas berkata, “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan APA YANG KUDUS,” ref. 1 Tesalonika 4:7.
 
“Mengerjakan kekudusan” adalah proses terus menerus yang harus kita lakukan sebagai “bentuk” bahwa kita mempersembahkan diri kita bagi Allah. Ya, ketika Anda sebagai suami menolak melakukan selingkuh sebagai bentuk dari “mengerjakan kekudusan” maka nyatanya Anda telah mempersembahkan diri Anda bagi Allah.
 
Orang-orang kudus di dalam Alkitab, seperti Daud, Paulus, dan Yohanes, tidak pernah ragu-ragu menyatakan bahwa mereka sadar adanya kelemahan dan dosa di dalam diri mereka. Mereka sangat sadar bahwa “kekudusan” bukanlah SESUATU YANG OTOMATIS MELEKAT PADA JABATAN-JABATAN TERTENTU. Bahkanpun, pada jabatan “rasul.”
Melainkan, “kekudusan” adalah sesuatu yang harus dikerjakan terus menerus, dalam proses dan usaha yang tidak berhenti. Di dalam “mengerjakan kekudusan” inilah, maka kita sementara mempersembahkan diri kita kepada Allah.
 
Ketika kita terus menerus “mengerjakan kekudusan,” mengalir sebagai gerak hidup kita, maka kita memiliki apa yang disebut “hidup kudus.”
Terpujilah Kristus. Amin.
[ Gogona, 07-08-2015 ]