LALANG dan GANDUM
 
_oOo_
 
Satu ciri utama Injil Matius, adalah konsep lalang, (Matius 13:24-30; 36-43). Entah kenapa, orang-orang akan cepat sekali berpikir bahwa lalang dipakai Yesus sebagai karakter antagonis terhadap karakter gandum. Mereka cepat sekali membentuk persepsi negatif lewat pemaknaan elemen-elemen biologis yang ada pada tumbuhan lalang.
Apakah karena gandum lebih baik dari pada lalang, maka Anak Manusia berkata: “Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku”? Apakah ini persoalan Anak Manusia, yaitu memilih yang lebih baik terhadap yang lebih buruk? Jawabnya: tidak!
 
Memang, perihal Kerajaan Sorga, banyak dari orang Kristen telah terjebak pada persoalan pemilihan. Lalu, orang-orang mulai berpikir bahwa perihal memasuki Kerajaan Sorga bersandar pada teologi tentang buah dan pertumbuhan.
Yesus tegas berkata, bahwa hal memasuki Kerajaan Sorga adalah tentang “benih,” yakni tentang “dari benih siapa kamu berasal.” Jika benih itu berasal dari Anak Manusia maka kamu adalah GANDUM walau begitu buruk hidup kamu. Dan, jika benih itu berasal dari Iblis maka kamu adalah LALANG walau tampak begitu mulia hidup kamu.
 
Paulus berkata, “Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya,” Roma 8:30.
Juga Petrus: “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal,” 1 Petrus 1:23.
 
Perihal paling mendasar tentang perumpamaan Yesus itu, adalah, “Bagaimanakah orang Kristen dapat memahami, bahwa Allah juga mengasihi lalang, Allah juga yang memberikan mereka makan dan membiarkan mereka bertumbuh bersama-sama dengan gandum?”
Jelaslah, Allah ingin agar kita memiliki kasih terhadap sesama yang tanpa syarat.
Kita menerima firman Tuhan bukan untuk menghakimi bahwa “hidup saya lebih baik dari hidup kamu,” melainkan untuk percaya bahwa “saya adalah milik Tuhan.”
 
Terpujilah Kristus. Amin.
[ Gogona, 08 Desember 2018 ]