Keselamatan dan Sorga
 
_oOo_
 
Bila kesadaran Anda lebih terpusat kepada Sorga dari pada keselamatan, maka Anda kehilangan esensi kekristenan Anda. Esensi kekristenan adalah keselamatan, bukannya Sorga. Paulus berkata, Roma 5:10, “Jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!”
Ketika kesadaran Paulus berbicara tentang keselamatan, apakah arah kesadaran itu mengarah kepada Sorga? Jawabnya: TIDAK. Tapi, ia mengarah kepada “DIPERDAMAIKAN DENGAN ALLAH”.
 
Anda TIDAK DAPAT memutuskan untuk berada di Sorga hari ini juga, tetapi pada hari ini juga, jika mau, Anda DAPAT hidup di dalam suasana “diperdamaian dengan Allah.
Kata “Sorga” menunjuk kepada “NANTI.”
Kata “keselamatan” menunjuk kepada “DIPERDAMAIKAN dengan Allah oleh kematian Anak-Nya.”
 
Allah tidak dapat di pahami oleh manusia, sebab Allah terlalu besar bagi manusia. Lalu, akibat dosa, Allah tidak lagi dapat di dekati oleh manusia. Dosa telah memisahkan manusia dari Allah. Namun, syukur kepada Tuhan Yesus, oleh karena pengorbanan-Nya, karena kematian-Nya, manusia di perdamaikan dengan Allah.
Kalau kita sudah diperdamaikan dengan Allah, maka Allah dekat sekali dengan kita. Ia mengaruniakan pengampunan, kasih, damai, sukacita dan berkat-berkat. Bahkan, kalau kita berdoa kita dapat memanggil Allah dengan sebutan “Bapa,” maka Ia selalu mendengar doa-doa kita. Yohanes menulis, “semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya,” Yohanes 1:12.
 
Lihat “orang-orang itu,” mereka sungguh tidak mengerti akan kasih karunia Allah, maka jadilah mereka menenggelamkan hidup mereka di dalam sungai “by the law.” Pikir mereka “by the law” adalah sungai yang bermuara ke Sorga. Demi mereka yang belum berdamai dengan si pemilik Sorga, dapatkah “the law” menuntut “Sorga” bagi mereka?
 
Relasi dengan Allah adalah penentu segalanya. Jika relasi saya dengan Allah “putus” maka seluruh relasi saya dengan diri sendiri, dengan sesama, pun dengan alam akan hancur. Ketika saya diperdamaikan dengan Allah, itulah waktunya bagi saya dapat berdamai dengan diri sendiri, yakni saya dapat memiliki kembali KEMULIAAN dari Tuhan. Lalu, adakah saya memusuhi sesama? Adakah saya melihat orang lain sebagai ancaman?
 
Terpujilah Kristus. Amin.
[ Gogona, 08 Desember 2018 ]