DIVINE JOY
 
_oOo_
 
Bagaimanakah menangkap makna kata “sukacita” dari tulisan Paulus ini: “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan SUKACITA OLEH ROH KUDUS,” Roma 14:17.
 
Sebenarnya terdapat tiga bentuk "sukacita," pertama, adalah Sinful Joy. Yaitu, sukacita yang lahir dari keberdosaan kita. Bukankah Anda akan bersukacita ketika menonton team bulutangkis Indonesia mengalahkan team bulutangkis China? Juga, ketika Anda menjadi juara kelas? Sukacita yang timbul dari kesadaran kita akan persaingan, bagaimanapun, adalah pernyataan keberdosaan kita.
 
Kedua, adalah Natural Joy. Yaitu, sukacita yang lahir dari rasa atau nilai-nilai kemanusiaan kita. Bukankah Anda akan bersukacita ketika bertemu dengan orang-orang yang Anda rindukan? Juga, ketika Anda memperoleh makanan di saat lapar? Sukacita yang timbul dari pemenuhan akan kebutuhan dasar manusiawi kita, bagaimanapun, adalah pernyataan kemanusiawian kita.
 
Ketiga, adalah Divine Joy. Yaitu, sukacita yang lahir dari kerja Roh Kudus di dalam diri orang-orang percaya. Bukankah Paulus bersukacita mendengar kabar tentang Jemaat Kolose walau ia sedang berada di dalam penjara? Juga, ketika Ahok masih mampu bersukacita walaupun ia sedang di-zalimi? Sukacita yang timbul dari kehadiran Roh Kudus di dalam diri kita, bagaimanapun, adalah pernyataan hak kepemilikan Allah Tritunggal atas kita.
 
Ya, bersukacitalah setiap saat, di setiap keadaan, oleh karena Roh Kudus tidak pernah berhenti bekerja di dalam “hidup Anda bagi Kemuliaan Allah.”
 
Terpujilah Kristus. Amin.
[ Gogona, 29 November 2018 ]