KRISTUS DI SUMUR YAKUB
 
Eksposisi Yohanes 4:4-9
_oOo_
 
 
Dari Ibadah PSR 11 Agustus 2018
Presenter : Sdr. Nikson.
 
Yesus HARUS melintasi daerah Samaria
 
Yesus hendak pergi ke Galilea dari Yudea. Dengan mengamati peta, kita dapat lihat bahwa perjalanan dari Yudea menuju Galilea dapat dicapai dengan dua rute, yaitu rute pertama melewati daerah Samaria, dan rute kedua melewati daerah sungai Yordan, namun kebiasaan orang Yahudi untuk pergi ke Galilea adalah tidak melewati Samaria melainkan mereka akan melewati daerah sungai Yordan.
Lama perjalanan dari Yudea ke Galilea melewati Samaria adalah tiga hari, sedangkan bila melewati sungai Yordan akan lebih lama, kira-kira dua kali-nya. Sesuatu yang menarik, kenapa Yesus memilih rute Samaria? bahkan Rasul Yohanes menulis: “Ia harus.” Dapat disimpulkan, ada tujuan penting sehingga Yesus HARUS memilih jalur Samaria. Jadi, ayat 4 memberikan persoalan kepada kita, yakni, kenapa Yesus “harus” mengambil rute seperti itu?
 
Satu sisi kemanusiaan Yesus, “rasa letih”
 
Ayat 5. Nama kota “Sikhar,” banyak para ahli menyebutkan nama ini sama dengan “Sikhem”. Jadi, ayat 5 menyatakan nilai historis, yakni karya Yakub sebagai tokoh besar Israel. Kota ini diberikan Yakub bagi keturunan Yusuf anaknya.
Ayat 6, menggambarkan Yesus sangat letih karena perjalanan-Nya dan berhenti di sumur Yakub. Hari kira-kira pukul 12. Jadi, Alkitab memberikan satu sisi kemanusiaan Yesus, yaitu “rasa letih”. Yesus juga dapat mengalami keletihan fisik. Tujuan perjalanan Yesus bukan ke kota Sikhar, tetapi karena masalah keterbatasan fisik manusiawi-Nya, maka Yesus sampai ke Sikhar.
 
Perbandingan dengan Nikodemus
 
Pada ayat 7, Yesus bertemu dengan sosok perempuan Samaria yang hendak mengambil air dari sumur Yakub. Bagaimanakah kita dapat membandingkan perempuan Samaria ini dengan Nikodemus?
Perempuan itu orang Samaria, tergolong bangsa kafir dan dianggap tidak bermoral karena memiliki banyak suami. Nikodemus, seorang pria dan Yahudi tulen. Nikodemus adalah seorang pemimpin agama dan termasuk golongan ahli Taurat, jadi tentunya sangat disegani. Namun, dalam percakapan Yesus dengan dua orang ini, terdapat persamaan penting, yaitu pada keduanya terdapat “kehausan akan kehidupan kekal”. Dalam percakapan dengan Nikodemus, Yesus berkata kepada Nikodemus bahwa untuk ia mendapatkan hidup yang kekal maka ia harus dilahirkan kembali.
 
Percakapan dengan perempuan Samaria
 
Dalam percakapan Yesus dengan perempuan Samaria tersebut, Yesus membongkar keadaan perempuan itu bahwa ia tergolong wanita yang dipandang hina oleh masyarakat karena aktifitas seksual-nya. Kenapa perempuan Samaria ini pergi ke sumur itu pada jam 12 siang, padahal kebiasaan orang-orang pergi ke sumur adalah pagi atau sore? Jawabannya adalah, karena perempuan Samaria ini menghindar dari orang-orang yang membenci dirinya, ia sementara berada dalam situasi terasimilasi dari masyarakat.
Percakapan awal antara Yesus dengan perempuan Samaria itu, adalah tentang budaya Yahudi yang tidak memperbolehkan “banyak berbicara” dengan perempuan yang dianggap hina atau najis sejak lahir. Orang Yahudi memandang perempuan-perempuan Samaria sebagai najis sejak lahir, dan ini diajarkan turun temurun secara resmi dalam tradisi Yahudi. Seorang pria Yahudi yang meminta minum kepada seorang wanita najis adalah hal yang sangat merusak reputasi pria Yahudi tersebut.
Yang menarik, Yesus malahan datang kepada perempuan Samaria itu. Ini satu hal yang tidak lazim, bahkan tidak masuk akal. Di sinilah tersirat makna kata “harus” pada ayat 4, yakni “keharusan ilahi” (divine necessity). Ada satu tujuan yang penting di sini, yang mana Yesus mempertaruhkan reputasi statusnya sebagai “rabbi” orang Yahudi. Pada saat itu Yesus telah sangat terkenal sebagai pengajar Taurat di kalangan orang Yahudi.
Yesus melakukan gerakan pendobrak (breakthrough), Ia datang dan mendobrak tradisi-tradisi diskriminatif yang dianut orang Yahudi, tetapi tentu ada tujuan yang lebih tinggi dari pada sekedar meruntuhkan tradisi buruk orang Yahudi yang sudah mendarah daging. Kata Yesus kepada perempuan Samaria itu: “berilah Aku minum.” Tentu Yesus sangat tahu konsekwensi dari permintaanNya ini bila didengar oleh orang Yahudi.
Ayat 8, juga menggambarkan kebencian orang Yahudi terhadap orang Samaria. Di sini, murid-murid Yesus tidak mau membeli makanan dari orang-orang Samaria, melainkan mereka pergi jauh untuk membeli makanan dari orang-orang Yahudi. Karena, aggapan orang Yahudi bahwa makanan yang dijual orang Samaria adalah haram atau “unclean”. Tetapi, pertanyaannya adalah, kenapa harus semua murid pergi bersama-sama? Jelas di sini, Alkitab hendak berkata bahwa para murid ini dapat menjadi “penghalang” bagi pekerjaan Yesus di sumur Yakub.
 
Jurang agama yang dalam
 
Ayat 9. Perempuan Samaria itu berkata kepada Yesus: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)
Di sini Yohanes menyisipkan suatu hal yang penting, karena pembacanya bukan hanya orang Yahudi. Bahwa, orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria. Artinya, ada akar kebencian yang sangat dalam antara orang Yahudi dan Samaria beratus-ratus tahun lamanya. Di dalam sejarah, kurang lebih tahun 722 sM, pada saat itu Salomo mati, lalu kerajaan itu terbelah dua, terkoyak, Kerajaan Utara yang disebut Israel dan Kerajaan Selatan yang disebut Yehuda. Kemudian Kerajaan Utara dihancurkan oleh Kerajaan Asyur. Lalu, oleh Asyur, para pria orang Israel diambil dan ditempatkan diberbagai tempat di luar wilayah Kerajaan Utara untuk bekerja sebagai budak bagi Kerajaan Asyur. Sementara para wanita Israel dibiarkan tetap tinggal di Samaria.
 
Dalam 2 Raja-Raja 17:24, dikatakan, “Raja Asyur mengangkut orang dari Babel, dari Kuta, dari Awa, dari Hamat dan Sefarwaim, lalu menyuruh mereka diam di kota-kota Samaria menggantikan orang Israel; maka orang-orang itupun menduduki Samaria dan diam di kota-kotanya”.
Jadi, Asyur membawa masuk para pria dari luar Samaria ke dalam Samaria. Maka, terjadilah perkawinan campur antara pria-pria asing dengan wanita-wanita Israel. Pria-pria bangsa-bangsa kafir mengawini wanita-wanita Samaria. Bukan itu saja, pria-pria kafir itu membawa masuk dewa-dewa mereka ke wilayah Israel. Lewat perkawinan campur, orang-orang Samaria menjadi sinkretisme, atau menyembah banyak Tuhan. Sinkretisme inilah yang menjadi alasan utama orang Yahudi membenci orang Samaria. Ini menjadi jurang agama yang tak terseberangi.
 
2 Raja-Raja 17:29, dikatakan, “Tetapi setiap bangsa itu telah membuat allahnya sendiri dan menempatkannya di kuil di atas bukit-bukit pengorbanan, yang dibuat oleh orang-orang Samaria.”
Alasan kedua timbulnya kebencian itu adalah, sekitar tahun 400 sM, setelah kembali dari pembuangan Babel. Orang Yahudi yang dipimpin oleh Ezra dan Nehemia, melakukan reformasi, dengan membangun kembali Bait Allah yang sebelumnya telah dihancurkan oleh Babel. Karena orang-orang Samaria merasa mempunyai hubungan darah dengan orang-orang Yahudi maka mereka datang ke Yerusalem untuk membantu pembangunan Bait Allah. Ini tentu suatu maksud baik dari orang Samaria. Tetapi orang Yahudi menolak bantuan orang-orang Samaria karena mereka menganggap orang Samaria adalah “unclean” atau najis.
Karena penolakan tersebut, tentu orang-orang Samaria tersinggung dan marah, karena mereka merasa bahwa mereka juga punya hak untuk beribadah di Bait Allah di Yerusalem. Dalam kemarahan ini, orang-orang Samaria kemudian membuat Bait Allah tandingan dengan alasan bahwa bagaimanapun mereka butuh tempat untuk beribadah kepada Yahwe. Mereka membuat Bait Allah tandingan di gunung Gerizim, maka di tempat inilah orang-orang Samaria beribadah dan mempersembahkan korban bagi Yahwe. Mereka bahkan meyakini bahwa gunung Gerizim ini adalah gunung Moria di mana Abraham mempersembahkan Ishak (Kej. 22:2). Orang-orang Samaria menolak tempat ibadah di Yerusalem, mereka menganggap tempat ibadah di Yerusalem tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, tempat ibadah yang benar untuk menegakkan nama-Nya (Ul. 12:5) adalah di gunung Gerizim. Sebaliknya orang Yahudi menolak tempat ibadah di Gerizim. Jadi, ini menjadi jurang agama yang dalam.
 
Bukit Gerizim
 
Refleksi
 
Dalam pelayanan kita memberitakan Injil, bagaimanapun, kita harus menyadari bahwa pastilah ada saja penghalang-penghalang yang mengelilingi kita. Namun, kita harus tetap fokus pada misi pelayanan itu. Kita harus melihat setiap penghalang yang kita hadapi dengan kata “harus” (keharusan ilahi), artinya terdapat suatu tujuan penting dari Allah maka kita diperhadapkan dengan penghalang itu.
Seperti Nikodemus dan perempuan Samaria itu, kita semua adalah orang-orang yang haus akan kehidupan kekal, tetapi kita terkekang oleh keadaan rohani kita yang sangat buruk dan oleh dosa kebodohan yang membuat kita tidak tahu bagaimana memiliki hidup kekal itu. Yang terpenting di sini “anugerah iman” yang membuat kita memberikan diri sebesar-besarnya diubahkan oleh Roh Kudus lewat firman-Nya.
Terpujilah Kristus. Amin.
[ Web-PSR, 21 Agustus 2018 ]