Kekristenan adalah Kristus
_oOo_
 
Kalimat di atas, “Kekristenan adalah Kristus,” menunjuk kepada: “tanpa peran Kristus dari waktu ke waktu, kekristenan PASTI sudah lama runtuh.” Sesungguhnya, yang disebut “kekristenan” bukanlah tentang rangkaian perbuatan-perbuatan baik manusia sebagai bentuk “mencari Allah.” Melainkan, yang disebut “kekristenan” adalah tentang rangkaian “perbuatan-perbuatan Kristus” yang nyata dalam gerak hidup orang-orang percaya.
Kekristenan berseru bahwa yang dibutuhkan manusia tidak cukup berupa petunjuk, ajaran, peringatan, perintah dan larangan melainkan juga Juruselamat itu sendiri, yakni Kristus. Itulah mengapa Firman Allah perlu menjadi Manusia.
 
Kekristenan dimulai dari saat di mana orang-orang merasakan “sangat terharu” setelah mendengar khotbah Petrus, Kisah 2:37-38. Lalu, Petrus menjawab keterharuan mereka itu dengan tiga pokok kekristenan, yakni: bertobat, dibaptis, dan menerima karunia berupa Roh Kudus. Bagi Rasul Petrus, fokus kekristenan bukan terbatas pada soal “keselamatan” yang sekarang ini telah kita terima, melainkan lebih pada Kristus yang adalah Roh, yang terus menerus didengar dan diselidiki oleh nabi-nabi, 1 Petrus 1:10-11. Petrus menunjuk bahwa kekristenan berhubungan langsung dengan karya Kristus di era Perjanjian Lama.
 
Paulus menggambarkan kekristenan dalam konteks “orang-orang yang mengenakan Kristus,” Galatia 3:27. Maka, sudah seharusnya, kekristenan adalah gambaran Kristus itu sendiri. Paulus menekankan perihal memiliki “pikiran Kristus,” 1 Kor 2:16. Dengan memiliki pikiran Kristus, maka kekristenan menjadi “tubuh yang hidup dan bergerak” karena memahami berbagai-bagai karunia Allah. Ya, Paulus menyebut kekristenan SEHARUSNYA berperilaku sebagai Tubuh Kristus, 1 Korintus 12:27-28.
 
Apa jadinya, bila saya menjadi Kristen namun tidak berhasrat membangun hubungan pribadi dengan Kristus? Injil berkata, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus,” Yoh 17:3.
Paulus menjelaskan tentang “hidup” yang dimiliki kekristenan: “Kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh,” Roma 8:9.
 
Kekristenan bukan perihal “aturan-aturan” mencari Allah, melainkan perihal “sukacita menyambut Allah.” Kekristenan menjadi cara hidup yang menampilkan hubungan manusia secara unik dan pribadi dengan Allah.
Terpujilah Kristus. Amin.
[ Gogona, 6 Juli 2018 ]