Ibadah Yang Tidak Berharga
_oOo_
 
Teknik beribadah umat Tuhan di era nabi Maleakhi jauh berbeda dengan kita pada masa kini. Mereka membangun ibadah dengan menegakkan Hukum Taurat, sedangkan kita membangun ibadah dengan menegakkan Alkitab sebagai firman Tuhan. Tetapi, yang HARUS tetap sama adalah HARUS ada unsur “menghormati Tuhan.
Sebuah ibadah disebut “tidak berharga” jika padanya tipis sekali “rasa hormat” kepada Tuhan. Tanpa “rasa hormat” ini, Tuhan menyebut para penyembahNya itu dengan sebutan “penipu.” Perhatikanlah perkataan Tuhan ini, “Terkutuklah PENIPU, yang mempunyai seekor binatang jantan di antara kawanan ternaknya, yang dinazarkannya, tetapi ia mempersembahkan binatang yang cacat kepada Tuhan,” Maleakhi 1:14.
Bagaimanakah Anda memahami mereka sebagai “penipu,” yaitu orang-orang di dalam gereja yang tak henti-hentinya bermain gadget sementara pendeta berkhotbah di atas mimbar? Atau sepasang muda-mudi yang tidak henti-hentinya bercanda sepanjang ibadah? Atau, ibadah 2 jam yang lebih dipenuhi dengan musik bertalu-talu, sedang khotbah firman Tuhan hanya 10 menit? Bahkan, bukankah sekarang ini banyak dari para pendeta memiliki sendiri beberapa gereja sebagai ladang uang mereka?
Benar sekali, “ibadah yang tidak berharga” seringkali terasa jauh lebih menyenangkan dibandingkan “ibadah yang berharga.” Bagaimanapun, “rasa hormat kepada Tuhan” sulit diwujudkan dengan berfokus kepada kesenangan diri sendiri.
Beribadah, terutama untuk menyenangkan Yang Disembah, bukan untuk kesenangan yang menyembah. Para “penipu” yang dimaksudkan Tuhan, kini bergiat menawarkan gereja-gereja yang terutama untuk menyenangkan hasrat psikologi Anda, mereka penuh hasrat akan uang Anda, dan membuat Anda menjadi miskin akan firman Tuhan, menjadikan Anda “penipu” tanpa Anda menyadarinya.
Biasanya, tanda-tanda hilangnya rasa hormat kepada Tuhan dimulai dari “Tuhan diperlakukan biasa,” kemudian muncul perasaan bahwa beribadah menjadi sesuatu yang membebani, akhirnya tersingkirlah “rasa hormat” itu diganti dengan “kesenangan diri sendiri.”
Pemujaan Tuhan yang tepat secara bersama-sama harus dimulai dari pemujaan yang tepat secara individu. Kita selalu berada pada pilihan, mendengar kata-kata Kitab Suci sebagai kata-kata yang diberitakan kepada kita “hanya sebagai renungan manusia” atau “sebagai pesan dari Tuhan sendiri.” Pernahkah Anda lupa, atau lalai, mempertimbangkan sikap yang pantas, agar ibadah Anda diterima oleh Tuhan?
Terpujilah Kristus. Amin.
[ Gogona, 29 Mei 2018 ]