Rendah hati sebagai self managerial
_oOo_
 
Di dalam kesadaran, rendah hati mampu bertindak sebagai “self managerial.” Yaitu, berlaku sebagai kecerdasan untuk merancang model atau bentuk-bentuk aliran perilaku kasih dan setia. Pada kesadaran tersebut, rendah hati mengambil peran sebagai manager terhadap seluruh kecerdasan yang kita miliki.
Sebagai contoh, Anda mungkin ahli di bidang musik dan Anda memiliki rendah hati, maka pada kesadaran Anda rendah hati berlaku sebagai manager terhadap keahlian Anda itu. Rendah hati merancang dari bagaimana Anda melatih keahlian Anda tersebut sampai bagaimana Anda menampilkan keahlian Anda kepada orang lain. Bahkan, secara sistimatis, rendah hati akan merancang “nilai rasa” bagi Anda tentang bidang musik. Dengan kata lain, kualitas rendah hati Anda cerminan dari kualitas diri Anda pada saat Anda menampilkan keahlian Anda kepada orang lain.
Anda seorang manager pada sebuah bank. Dan, Anda punya rendah hati. Apakah rendah hati itu mengalir atau terasa pada setiap level kepuasan keberhasilan managerial Anda? Jikalau “ya,” artinya pada setiap menit kesibukan Anda, Anda senantiasa bermuatan rasa syukur kepada Allah. Rasa syukur kepada Allah mengalir sebagai “irama” dari setiap pergerakan Anda oleh karena Anda memiliki rendah hati.
Jadi, tentu, oleh karena rendah hati berlaku sebagai “kekuatan managemen perilaku,” maka rendah hati itulah “motivasi” maka seseorang melakukan perilaku kasih dan perilaku setia. Perilaku kasih bersifat “ke luar,” artinya mampu berkorban. Misalnya, memberi nasehat, upaya menolong, menyediakan waktu, dan seterusnya. Perilaku setia bersifat “ke dalam,” artinya mampu menolak dan mengendalikan diri, seperti menolak selingkuh, tahan menderita, menolak ajang mistik, dan lain-lain.
Rendah hati sebagai buah dari pengenalan akan Allah, di dalam kesadaran, juga berlaku sebagai “self managerial” terhadap kualitas iman yang Anda miliki. Iman Anda tidak bertumbuh dan tidak berdaya guna apabila rendah hati tidak berkerja sebagai manager terhadap iman itu. Bapa Di Sorga menjadikan rendah hati sebagai “hal utama yang diperhatikan-Nya,” sebab kerendahan hati memanglah satu-satunya sumber maka kita memperoleh “alasan-alasan tepat” menggunakan kekuatan iman kita.
Terpujilah Kristus. Amin.
[ Gogona, 04 Mei 2018 ]