SAUL DIURAPI MENJADI RAJA
 
Eksposisi 1 Samuel 10
_oOo_
 
 
Dari Ibadah PSR 9 Februari 2019.
Presenter: Ev. Inawaty Teddy.
 
I. PENGURAPAN SECARA PRIBADI
 
Apa yang terjadi jika kita seperti Saul, tiba-tiba ada yang mengurapi kita untuk menjadi raja? Tentu akan sulit bagi kita, juga Saul, untuk percaya. Tetapi, itulah kenapa Tuhan memberikan tanda guna meyakinkan Saul. Ada tiga tanda, dan ketiga-tiganya sangat spesifik. Tentu dengan ketiga tanda tersebut, Saul dapat diyakinkan bahwa Tuhan telah mengangkat dia sebagai raja.
 
Tanda pertama, ayat 2
 
Apabila engkau pada hari ini pergi meninggalkan aku, maka engkau akan bertemu dengan dua orang laki-laki.” Jika hanya bertemu dua laki-laki, tentu belum spesifik, tetapi jika diberitahu tempatnya tentu lebih spesifik. “Di dekat kubur Rahel, di daerah Benyamin, di Zelzah.” Tetapi ini belum terlalu spesifik, yang sangat spesifik adalah mereka akan berkata kepadamu, “Keledai-keledai yang engkau cari itu telah diketemukan; dan ayahmu tidak memikirkan keledai-keledai itu lagi, tetapi ia kuatir mengenai kamu, katanya: Apakah yang akan kuperbuat untuk anakku itu? ” Nah, ini sudah sangat spesifik.
 
Tanda kedua, ayat 3
 
Dari sana engkau akan berjalan terus lagi dan sampai ke pohon tarbantin Tabor.” Jadi diberikan tempatnya. “Maka di sana engkau akan ditemui oleh tiga orang laki-laki yang naik menghadap Allah di Betel.” Tujuannya jelas, tetapi ini masih kurang spesifik. Yang lebih spesifik lagi adalah, “seorang membawa tiga ekor anak kambing, seorang membawa tiga ketul roti dan yang lain lagi sebuyung anggur.” Ini sudah cukup spesifik.
 
Tanda ketiga, ayat 4
 
Mereka akan memberi salam kepadamu dan memberikan kepadamu dua ketul roti yang akan kau terima dari mereka.” Ini sangat spesifik, sebab ini tidak mungkin terjadi secara umum, kenapa juga orang asing tiba-tiba memberikan dua ketul roti tanpa alasan yang jelas.
 
Kita dapat melihat terdapat tiga tanda, di mana satu tanda saja terjadi sudah sangat sulit namun masih diberikan dua tanda lagi yang sangat spesifik. Namun masih ada satu tanda lagi, yaitu ayat 5 dan 6. “Sesudah itu engkau akan sampai ke Gibea Allah, tempat kedudukan pasukan orang Filistin. Dan apabila engkau masuk kota, engkau akan berjumpa di sana dengan serombongan nabi, yang turun dari bukit pengorbanan dengan gambus, rebana, suling dan kecapi di depan mereka; mereka sendiri akan kepenuhan seperti nabi. Maka Roh TUHAN akan berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka dan berubah menjadi manusia lain.”
 
Ini juga tanda yang sangat aneh, sebab Saul belum pernah bertemu dengan rombongan nabi dan kepenuhan seperti nabi, ia berubah menjadi manusia lain. Di dalam pengurapan pribadi ini, Tuhan bertindak supaya bisa meyakinkan Saul, yaitu dengan memberikan tiga tanda secara spesifik.
 
Ayat 7 dan 8
 
Apabila tanda-tanda ini terjadi kepadamu, lakukanlah apa saja yang didapat oleh tanganmu, sebab Allah menyertai engkau. Engkau harus pergi ke Gilgal mendahului aku, dan camkanlah, aku akan datang kepadamu untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan. Engkau harus menunggu tujuh hari lamanya, sampai aku datang kepadamu dan memberitahukan kepadamu apa yang harus kaulakukan.”
 
Selain Tuhan memberikan tanda yang spesifik, ada dua hal lagi. Pada akhir ayat 6, disebutkan, “engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka dan berubah menjadi manusia lain,” hal ini ditegaskan lagi pada ayat 9. “Sedang ia berpaling untuk pergi meninggalkan Samuel, maka Allah mengubah hatinya menjadi lain. Dan segala tanda-tanda yang tersebut itu terjadi pada hari itu juga”.
 
Jadi di dalam Tuhan mengurapi, pertama, Tuhan memberikan cara yang menyakinkan dengan memberikan tanda. Kedua adalah Tuhan mempersiapkan hamba-Nya dengan mengubahnya menjadi manusia lain. Ini akan menjadi jelas kalau kita melihat pada 1 Samuel 11.
 
Di sini, kita dapat melihat, ketika Tuhan mau memakai seseorang, apalagi kita dapat melihat bahwa Saul bukanlah seorang yang berani, Saul termasuk orang yang penakut dan tidak pula punya banyak karakteristik menjadi seorang pemimpin, maka tentu saja Tuhan yang memperlengkapi. Dalam 1 Samuel 11, kita dapat melihat kenapa mampu Saul melakukan sesuatu yang luar biasa.
 
Tuhan memberikan tanda untuk meyakinkan hambaNya, dan Tuhan mempersiapkan hambaNya, namun tentulah saja ada yang Tuhan tuntut, karena itulah ayat 8, Saul harus taat.
 
Jadi kita melihat, ada tiga hal jika Tuhan mau memakai seseorang. Prinsip ini dapat kita lihat pada kehidupan kita sampai sekarang. Pertama, jika Tuhan mau memakai seseorang maka Tuhan akan meyakinkannya. Sebab, seseorang yang Tuhan panggil untuk menjadi hamba Tuhan seringkali menyangkal tanda-tanda yang diberikan Tuhan, malahan kadang sampai bertahun-tahun sampai akhirnya orang itu mau memenuhi atau menggenapi panggilan Tuhan itu.
 
Tuhan akan memberikan tanda-tanda untuk meyakinkan kita akan panggilan-Nya. Memang seringkali panggilan Tuhan itu berat, namun, kedua, adalah penghiburan bagi kita, yaitu Tuhan akan memperlengkapi kita. Tidak ada satupun kita yang sempurna untuk panggilan-Nya itu, tapi Tuhan akan mempersiapkan kita. Ketika Tuhan memanggil kita, walaupun kita tahu kita banyak kelemahan, percaya sajalah akan panggilan Tuhan itu, maka Ia akan mempersiapkan kita. Namun, yang ketiga, ini juga sangat penting, yaitu mentaati apa yang Tuhan mau untuk kita harus lakukan.
 
Pada kisah pengurapan secara pribadi terhadap Saul, tanda pertama dan kedua, tidak didetailkan bagi kita tetapi terjadi. Namun, tanda yang ketiga didetailkan, karena ini tanda yang terpenting. Didetailkan mulai pada ayat 10.
 
Ayat 10 dan 12
 
Ketika mereka sampai di Gibea dari sana, maka bertemulah ia dengan serombongan nabi; Roh Allah berkuasa atasnya dan Saul turut kepenuhan seperti nabi di tengah-tengah mereka. Dan semua orang yang mengenalnya dari dahulu melihat dengan heran, bahwa ia bernubuat bersama-sama dengan nabi-nabi itu; lalu berkatalah orang banyak yang satu kepada yang lain: “Apakah gerangan yang terjadi dengan anak Kish itu? Apa Saul juga termasuk golongan nabi? Lalu seorang dari tempat itu menjawab: "Siapakah bapa mereka?" --Itulah sebabnya menjadi peribahasa: Apa Saul juga termasuk golongan nabi?
 
Ada hal yang menarik di sini. Menunjukkan kepada kita bagaimana sebagaimana biasanya peribahasa terjadi. Suatu peribahasa tercipta karena biasanya ada suatu peristiwa yang terjadi.
 
II. PENGURAPAN DI DEPAN UMUM
 
Dapat kita lihat, terjadi dua kali Saul diangkat atau diurapi menjadi raja. Pertama-tama, secara pribadi dulu, tetapi kalau hanya secara pribadi tentulah rakyat tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, Tuhan juga harus melakukannya di depan umum. Karena itu jangan heran, “Tuhan sudah memilih kok masih dibuang undi lagi.” Nanti di depan rakyat dibuang undi, agar rakyat melihat bahwa Saul dipilih Tuhan.
 
Ayat 17 dan 18
 
Kemudian Samuel mengerahkan bangsa itu ke hadapan TUHAN di Mizpa dan ia berkata kepada orang Israel itu: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Aku telah menuntun orang Israel keluar dari Mesir dan telah melepaskan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan segala kerajaan yang menindas kamu”.
 
Kalau Tuhan mengulangi anugerah yang sudah Dia berikan, biasanya karena Tuhan melihat umat-Nya itu melakukan hal yang tidak menyenangkan hati-Nya. Itu tersirat pada ayat 19.
 
Ayat 19
 
Tetapi sekarang kamu menolak Allahmu yang menyelamatkan kamu dari segala malapetaka dan kesusahanmu, dengan berkata: Tidak, angkatlah seorang raja atas kami. Maka sebab itu, berdirilah kamu di hadapan TUHAN, menurut sukumu dan menurut kaummu.”
 
Kenapa Tuhan murka ketika mereka meminta raja? Jadi, Tuhan tidak senang dengan “mereka meminta seorang raja.” Dalam 1 Samuel 8:7, lebih tegas lagi bahwa Tuhan tidak senang kalau mereka meminta seorang raja.
 
Ada yang berpikir, Tuhan murka karena tidak menginginkan kerajaan. Tapi, saudara-saudara, pikiran ini tidak mungkin benar, karena konsep Kerajaan Allah adalah perihal yang paling penting dengan kedatangan Kristus. Jadi, tidak mungkin Tuhan tidak menghendaki kerajaan. Apa lagi kita dapat melihat, Tuhan sudah menjanjikannya kepada Abraham walaupun tidak secara sangat jelas. Tetapi, tersirat, sehingga kalau kita melihat Kejadian 17:6, “Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja”.
 
Lalu diteruskan kepada Yakub, di dalam Kejadian 35:11, “Lagi firman Allah kepadanya: ‘Akulah Allah Yang Mahakuasa. Beranakcuculah dan bertambah banyak; satu bangsa, bahkan sekumpulan bangsa-bangsa, akan terjadi dari padamu dan raja-raja akan berasal dari padamu.’” Karena itu, sebelum meninggal, ketika Yakub memberkati anak-anaknya, kepada Yehuda, Yakub berkata, “tongkat kerajaan tidak akan beranjak dari padamu”.
 
Jadi jelas Tuhan menghendaki raja. Apa lagi, Musa sudah memberikan hukum tentang raja, Musa sudah memberitahu mereka bagaimana nanti seorang raja seharusnya bertindak. Ulangan 17:14-20, singkatnya, raja harus berasal dari antara mereka, tiga hal yang tidak boleh dilakukan raja: tidak boleh memelihara banyak kuda, tidak boleh memiliki banyak istri, dan tidak boleh mengumpulkan harta yang terlalu banyak. Dan satu hal yang harus dilakukan raja, adalah menyalin Taurat Tuhan, dan memerintah berdasarkan Taurat Tuhan itu.
 
Pertanyaannya, kenapa Tuhan murka? Pada 1 Samuel 8:5, “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.” Inilah masalahnya, yakni: “seperti pada segala bangsa-bangsa lain.” Karena kerajaan yang Allah inginkan adalah tidak sama dengan kerajaan bangsa-bangsa lain. Kerajaan yang Allah inginkan adalah, raja utamanya adalah Allah sendiri, raja manusianya adalah sebagai wakil Allah. Ini berbeda dengan kerajaan bangsa-bangsa lain, bahwa raja manusia-nya adalah raja seutuhnya, raja besarnya, raja utamanya.
 
Karena itu, dalam kerajaan bangsa-bangsa lain, yang mengeluarkan hukum adalah raja manusia itu. Tetapi, bagi Israel, dalam Ulangan 17, raja harus menyalin Taurat Tuhan dan memerintah berdasarkan Taurat Tuhan, karena yang mengeluarkan hukum adalah raja utamanya yaitu Allah. Sedangkan raja manusianya hanya menjadi wakil Tuhan menjadi raja.
 
Oleh karena itu, ketika mereka menginginkan raja seperti bangsa-bangsa lain, maka masuk akal kalau Tuhan murka dengan berkata, “mereka menolak Aku sebagai raja.” Sehingga, kita harus hati-hati, Tuhan bukan menolak kerajaan. Monarki Israel adalah teokrasi. Kerajaan Israel adalah pemerintahan Allah, yaitu Allah memerintah melalui raja manusianya.
 
Ada hal yang aneh pada ayat 19. “Tetapi sekarang kamu menolak Allahmu yang menyelamatkan kamu dari segala malapetaka dan kesusahanmu, dengan berkata: Tidak, angkatlah seorang raja atas kami. Maka sebab itu, berdirilah kamu di hadapan TUHAN, menurut sukumu dan menurut kaummu”.
 
Di sini, Tuhan berkata, “kamu menolak Allahmu,” tetapi Tuhan memilih seorang raja dari pada mereka. Hal ini terasa aneh. Jadi, di dalam murka Tuhan terhadap mereka, Tuhan juga menunjukkan belas kasihan-Nya kepada mereka. Jadi, Samuel menunjukkan, ada campuran antara murka Tuhan dan belas kasihan Tuhan.
 
1 Samuel 9:16 menunjukkan bahwa Tuhan memberikan mereka raja karena belas kasihan, “Besok kira-kira waktu ini Aku akan menyuruh kepadamu seorang laki-laki dari tanah Benyamin; engkau akan mengurapi dia menjadi raja atas umat-Ku Israel dan ia akan menyelamatkan umat-Ku dari tangan orang Filistin. Sebab Aku telah memperhatikan sengsara umat-Ku itu, karena teriakannya telah sampai kepada-Ku.”
 
Kenapa terjadi belas kasihan Tuhan itu? Yaitu, karena zaman Hakim-Hakim, seorang hakim tidak bisa benar-benar memerintah atas seluruh Israel. Seorang hakim hanya ditaati oleh beberapa suku saja. Karena itu kita dapat melihat bahwa satu suku dapat bertempur dengan suku yang lain. Seorang hakim tidak mempunyai jaringan yang mengikat seluruh suku Israel, karena itu Tuhan memilih bagi mereka seorang raja agar mereka dapat bersatu dan raja dapat menyelamatkan mereka dari musuh-musuh mereka.
 
Pada zaman Hakim-Hakim, kelihatannya setiap suku-suku berjuang sendiri-sendiri oleh karena itu dengan mudah musuh-musuh mereka menaklukkan mereka.
 
Jadi, ada nuansa belas kasihan Tuhan. Ini juga terlihat dalam 1 Samuel 10:1, “Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat TUHAN, dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya”.
 
Tuhan memberikan kepada Saul dengan campuran antara murka Allah dan belas kasihan. Ini kita harus hati-hati, jangan kita beranggapan bahwa ini kontradiktif. Sama sekali tidak kontradiktif. Jadi, ada murka Tuhan, dan murka Tuhan ini terlihat dengan “siapa yang Tuhan pilih.” Sebab memang, “orang yang Tuhan pilih” ini bukanlah yang terbaik.
 
Perhatikan 1 Samuel 10:20, yang dipilih adalah dari suku Benyamin, tentu ini menjadi tanda murka Tuhan, karena yang dipilih bukan dari suku Yehuda. Seharusnya yang menjadi raja adalah dari suku Yehuda sesuai dengan berkat Yakub. Dengan dipilihnya raja dari suku Benyamin, seharusnya kita dapat langsung mengerti bahwa kerajaannya tidak akan lama bertahan. Jadi, jelaslah, ada murka Tuhan dalam pemilihan Saul sebagai raja. Saul bukan “benar-benar” orang pilihan Tuhan sebagai raja atas Israel, karena nanti raja pilihan Tuhan adalah Daud.
 
III. REFLEKSI
 
Dari kisah Saul ini, pertama-tama, kita melihat, ketika Tuhan mau memakai seseorang untuk menjadi hamba-Nya, tentu Tuhan akan memperlengkapi dia. Tuhan akan memberikan tanda-tanda untuk meyakinkan hambaNya itu, namun, tentu saja ada yang Tuhan tuntut, yakni ketaatan. Ketika Tuhan memanggil kita, walaupun kita tahu kita banyak kelemahan, percayalah kalau itu panggilan Tuhan, maka Ia juga yang akan mempersiapkan kita. Namun, juga sangat penting, yaitu harus mentaati apa yang Tuhan mau untuk kita harus lakukan.
 
Dari kisah Saul ini, kita juga belajar banyak tentang Tuhan kita. Ketika Tuhan memutuskan perkara, Tuhan melihat dari segala aspek, dan tentu ini juga yang harus kita lakukan ketika kita memutuskan suatu perkara. Kita melihat, ternyata Allah dapat memberikan sesuatu kepada kita dalam murka-Nya. Walaupun ini bukanlah murka Tuhan secara total, namun, bagaimanapun, kita harus berhati-hati di dalam meminta kepada Tuhan, janganlah memaksa Tuhan. Sebagaimana ayat 19, orang-orang Israel meminta raja tetapi dengan memaksa Tuhan.
 
Ketika meminta kepada Tuhan, kita harus konsisten bahwa permintaan itu adalah sesuatu yang sangat penting. Namun, ketika Tuhan tidak memberikan, kita juga harus bisa menerima. Jangan memaksa-maksa Tuhan, apalagi dengan mengancam-ancam Tuhan. Perhatikanlah, bahwa apa yang Tuhan lakukan memang seringkali berbeda dari apa yang kita pikirkan. Tuhan berkata, “rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku,” Yesaya 55:8.
 
[ Ev. Inawaty Teddy , 07 Mei 2019 ]