Eksistensi bodoh di dalam jiwa
_oOo_
 
 
Tentulah Petrus MENYELIDIKI sebab musabab kenapa ia mampu menyangkal Yesus, Matius 26:75. Dan, Petrus menemukan jawaban, yakni EKSISTENSI BODOH DI DALAM JIWA. Itulah, maka Petrus menasehati kita untuk terus mewaspadai “eksistensi bodoh” tersebut. Ia menulis, “hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu KEBODOHANMU,” 1 Petrus 1:14. Kesadaran Petrus sementara menulis ini, tentu menerawang ke SAAT-SAAT BODOH-nya ketika ia mampu menyangkal Yesus.
 
Sebagai seorang Kristen, tentulah struktur kesadaran Anda TELAH TERMUATI oleh berbagai pengertian firman Tuhan. Lalu, di saat Anda HARUS MEMILIH sebuah aksi sadar, apakah Anda TIDAK PERNAH menyangkal firman Tuhan itu? Boleh saja Anda menjawab “tidak pernah,” itu hak Anda. Namun, saya memilih menjawab: “seringkali.”
 
Tersirat pada berbagai tulisan Salomo, perihal yang disebutnya “BODOH,” ialah sesuatu yang eksis di dalam jiwa. Salomo menyebutkannya dengan ISTILAH “kebodohan dan kebebalan,” artinya “BODOH” yang ini bukanlah termasuk tingkat kecerdasan biologis. Paulus juga menangkap eksistensi "bodoh” ini. Sebagaimana Salomo, Rasul Paulus pun berpendapat, bahwa “bodoh” ini BUKAN tingkat kecerdasan biologis. “Bodoh” ini oleh Rasul Paulus disebutnya dengan ungkapan, “KEANGKUHAN MANUSIA UNTUK MENENTANG PENGENALAN AKAN ALLAH,” 2 Korintus 10:5.
 
Memang, “bodoh” yang dimiliki setiap jiwa bukan ditimbulkan oleh kecerdasan biologis. Melainkan, itu timbul akibat kesadaran yang tidak mampu FOKUS (secara tepat) pada perintah Allah (pribadi Yesus Kristus). Akibatnya, YANG BENAR dari perintah Allah menjadi sangat sulit atau tidak pernah menerima ALIRAN KONSISTENSI. Sungguh, hal ini mampu diperbaiki oleh Roh Kudus.
 
Kesadaran adalah bagian utama dari jiwa kita. Bagaimanapun, tidak terelakkan, bahwa “bodoh” ini menjadi FAKTOR LEMAH jiwa manusia. Memang benar, “bodoh” ini bersifat MENENTANG pengenalan akan Allah. Oleh “bodoh” ini maka kita seringkali MEMILIH TIDAK TAAT atau menyangkal firman Allah. Petrus, karena ia belajar dari pengalaman pribadinya, yakni “menyangkal Yesus,” maka Petrus sungguh-sungguh menasehati kita agar mewaspadai eksistensi “bodoh” di dalam jiwa kita.
 
Terpujilah Kristus. Amin.
[ Gogona , 20 Februari 2019 ]