PEREMPUAN SAMARIA dan PERTOBATANNYA
 
Eksposisi Yohanes 4:27-42
_oOo_
 
 
Dari Ibadah PSR 3 November 2018.
Presenter: Sdr. Ranto M Siburian.
 
Pengantar
 
Pada Yoh. 4:4 kita jumpai perkataan, “Ia harus melintasi daerah Samaria.” Penekanan kata “harus” membawa kita pada dua kemungkinan. Pertama, Yesus menghindari konfrontasi yang lebih awal dengan orang-orang Farisi. Kedua, memang ada rencana Tuhan untuk daerah Samaria itu, dan rencana Tuhan ini tidak terlepas dari sosok utama yang Injil sebut dengan “perempuan Samaria.”
 
Perlu diperhatikan bahwa ada kesamaan reaksi antara si perempuan Samaria dan para murid Yesus, yakni masih terfokus pada hal-hal duniawi. Ketika perempuan Samaria itu mendengar perkataan Yesus tentang “air hidup,” maka reaksinya adalah pertanyaan: “Bagaimana caranya Dia mengambil air dari sumur yang dalam ini?” Memang Sumur Yakub adalah sumur yang dalam, kira-kira 106 ft (10 m lebih). Demikian juga reaksi para murid ketika mendengar perkataan Yesus tentang “makanan yang tidak mereka kenal,” maka reaksinya adalah pertanyaan: “Siapa yang memberi Dia makan?” Jadi, dua reaksi ini mirip, yakni sama-sama menggambarkan ketidaktahuan mereka tentang keilahian Yesus.
 
Perasaan heran dari para murid
 
Pada ayat 27 ditekankan “perasaan heran” yang timbul dari diri para murid ketika melihat Yesus bercakap-cakap dengan si perempuan Samaria, tetapi para murid lebih memilih menahan diri untuk tidak banyak bertanya kepada Yesus. Tentulah para murid yakin bahwa Yesus melakukan percakapan itu karena alasan yang sangat baik. Perasaan heran para murid didorong oleh aturan keras fanatisme Yahudi bahwa seorang pria Yahudi tidak boleh sembarangan berbicara berduaan dengan seorang perempuan di jalan bahkan sekalipun dengan istrinya sendiri (writings of the Rabbis), apalagi ini Yesus bercakap-cakap dengan seorang perempuan Samaria.
 
Untuk memahami perasaan heran ini, kita harus mengerti akar permasalahan permusuhan Yahudi dengan Samaria. Pada abad ke 8 SM, ketika Kerajaan Utara dari bangsa Israel jatuh ke tangan bangsa Asyur, mayoritas penduduk dibawa ke pembuangan. Sebagian penduduk tetap tinggal di wilayah Kerajaan Utara itu, dan Asyur membawa orang-orang dari bangsa lain ke tanah Kerajaan Utara itu, yakni orang-orang dari wilayah kekuasaan Asyur, sehingga terjadi kawin campur dan menghasilkan keturunan campuran yang kemudian dikenal sebagai orang Samaria. Perkawinan campur ini akhirnya memengaruhi cara berpikir dan budaya mereka.
 
Pada abad ke 6 SM, Kerajaan Selatan yakni dari suku Yehuda dan Benyamin, diduduki oleh bangsa Babel. Banyak penduduknya diambil dan dibuang ke negeri Babel. Kemudian Kerajaan Babel jatuh ke tangan bangsa Persia, dan raja Cyrus, raja Persia, mengijinkan orang-orang buangan ini untuk kembali ke Yerusalem dan mereka memulai membangun kembali Bait Allah dan memperbaiki tembok-tembok di Yerusalem. Orang-orang yang kembali dari pembuangan dan membangun kembali ini kemudian disebut Yahudi. Orang Samaria menawarkan diri untuk membantu pembangunan kembali itu, tetapi mereka ditolak karena orang Samaria dianggap sudah tidak murni lagi. Karena penolakan Yahudi tersebut, maka orang Samaria membangun Bait Allah tandingan sesuai kehendak mereka sendiri di gunung Gerizim.
 
Meninggalkan tempayannya
 
Pada ayat 28 ditekankan sikap si perempuan Samaria, “Meninggalkan tempayannya.” Sikap ini menggambarkan seorang pekabar Injil yang meninggalkan pengaruh-pengaruh duniawi atas hidupnya sebelum ia pergi untuk mengabarkan Injil. Seorang pelayan Tuhan sudah seharusnya mengutamakan pelayanannya dari pada kebutuhan-kebutuhan dirinya sendiri.
 
Terdapat beberapa alasan yang mendorong si perempuan Samaria pergi dari hadapan Yesus dan meninggalkan tempayannya. Mungkin saja ia pergi karena menyadari bahwa para murid tidak senang melihat dia duduk bercakap-cakap dengan Yesus. Namun, bisa juga, ia pergi karena menghormati Yesus, yaitu ia tidak mau Yesus menjadi terhina dalam pandangan para murid karena Yesus bercakap-cakap dengan dia.
 
Bagaimanapun juga, kita tidak bisa mengabaikan unsur “urgensi” yang ditunjukkan si perempuan Samaria itu ketika bersikap meninggalkan tempayannya. Ia meninggalkan tempayannya tentu karena ingin segera atau secepat-cepatnya menjumpai orang-orang Samaria di kota itu untuk menceritakan tentang perjumpaannya dengan Yesus yang telah diyakininya adalah Mesias atau Kristus. Selain itu, dengan meninggalkan tempayannya ia berharap Yesus dan para murid dapat segera meminum air dari Sumur Yakub, dan ia dapat segera kembali kepada Yesus dengan membawa orang-orang Samaria di kota itu.
 
Reaksi dari pertobatan dan lahir baru
 
Pada waktu itu, kultur masyarakat adalah bersikap membatasi hak dan kebebasan perempuan. Seorang perempuan dilarang berbicara bebas di hadapan publik, bahkan kesaksiannya di pengadilan tidak diperhitungkan. Namun, oleh dorongan hasrat yang begitu besar untuk bersaksi, maka si perempuan Samaria berseru-seru, “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” (Yoh. 4:29). Dalam hal ini, Tuhan telah memakai si perempuan Samaria, orang yang sama sekali tidak diperhitungkan, menjadi alat-Nya yang luar biasa.
 
Reaksi dari pertobatan dan lahir baru yang dialami si perempuan Samaria adalah penuh hasrat memberitahu orang-orang di kota itu tentang bagaimana pengetahuan supernatural Yesus dan kuasa-Nya sehingga Ia dapat menceritakan semua yang telah dilakukannya. Perempuan Samaria itu mengundang penduduk kota untuk datang melihat Yesus. Ia mencoba menarik perhatian orang-orang dengan menyerukan pertanyaan, “Mungkinkah Dia Kristus itu?” Perempuan itu tidak memaksa dengan “Dialah Mesias itu,” meskipun ia sudah sangat yakin. Dari semua yang dilakukannya, ia berhasil membawa orang-orang datang kepada Yesus.
 
Menurut James Montgomery Boice, si perempuan Samaria itu terbukti menjadi bertobat dan lahir baru oleh karena beberapa hal:
 
  • Ada pengakuan iman (confession), ayat 29.
  • Ada perubahan nilai (changes of values), ayat 28.
  • Ada perduli kepada yang masih terhilang (concern for the lost), ayat 28-29.
  • Ada mengajak yang masih terhilang kepada Yesus (come), ayat 29.
  • Ada hasil-hasil dari pelayanan Perempuan Samaria, ayat 30.
 
Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal
 
Ayat 31 memperlihatkan kepedulian para murid kepada Yesus yang pasti sudah lelah dan lapar sehingga mereka menawarkan Yesus untuk makan, tetapi para murid terkejut oleh jawaban Yesus, “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal,” (ayat 32). Perkataan Yesus, “makanan yang tidak kamu kenal,” artinya Yesus juga memberitakan Injil kepada orang-orang Samaria dan orang-orang non-Yahudi. Hal ini sesuatu yang para murid belum mampu memahaminya dan tidak pernah membayangkannya.
 
Yesus dalam pelayanan-Nya, sangat peduli dengan jiwa-jiwa yang terhilang. Bagi Yesus, pelayanan-Nya adalah makanan dan minuman, artinya harus dikerjakan sampai tuntas. Selain pelayanan-Nya adalah makanan dan minuman, alasan lain terdapat pada ayat 34, yakni karena itu adalah pekerjaan Bapa-Nya. Keselamatan orang berdosa adalah kehendak Allah Bapa, Yesus memberitakan dan mengajarkan keselamatan itu kepada orang-orang berdosa, Yesus menjadikan pelayanan-Nya ini sebagai tugas dan sukacita-Nya.
 
Yesus mendorong para murid untuk giat dalam pelayanan, seperti teladan yang telah Dia berikan. Yesus menggunakan perumpamaan pertanian. Masa menabur ada waktunya, tetapi sangat singkat. Kemudian akan datang masa menuai, yang juga waktunya sangat singkat. Jadi, harus dilakukan saat ini juga, kalau tidak maka momen tersebut akan lewat. Artinya pelayanan pemberitaan Injil adalah pekerjaan yang wajib dilakukan oleh orang-orang percaya, alasannya adalah karena waktunya sudah sangat mendesak dan genting. Penuai dalam pelayanannya tetap memperoleh upahnya. Penabur dan Penuai sama-sama bersukacita inilah penghiburan bagi kita yang bekerja keras di dalam pelayanan. Penabur dan Penuai tidak sama dalam tugas dan tidak sama dalam keberhasilan, tetapi mereka akan sama-sama bersukacita dengan Tuan yang empunya pelayanan itu.
 
Dari ayat 39-42 kita dapat melihat bahwa kesaksian perempuan Samaria itu yang membuat banyak orang Samaria percaya. Banyak orang Samaria percaya sekaligus menunjukkan kesungguhan iman untuk menyambut apa yang justru ditolak oleh orang Yahudi. Allah memakai si perempuan Samaria sebagai alat-Nya yang terlihat tidak diperhitungkan, lemah, dan tidak menjanjikan. Ketika orang-orang Samaria bertemu Yesus mereka semakin percaya, ini dibuktikan dengan meminta Yesus tinggal bersama mereka supaya mereka bisa belajar lebih lanjut dari Yesus, padahal orang Samaria secara adat menghindari percakapan dengan orang Yahudi. Inilah keberhasilan penginjilan.
 
Refleksi
 
Tuhan seringkali memakai orang-orang yang sama sekali tidak diperhitungkan manusia, untuk menjadi alat-Nya dalam melakukan pekerjaan-pekerjaanNya. Si perempuan Samaria adalah sosok yang tidak diperhitungkan sama sekali, orang berdosa, orang kecil. Kita boleh saja mengeyam banyak pendidikan teologi dan berbagai pelatihan pelayanan gerejawi, namun kita seharusnya tidak menjadi sombong setelah melihat dan mempelajari hasil-hasil pelayanan yang luar biasa yang dilakukan oleh si perempuan Samaria.
 
Ketika kita mulai membangun Persekutuan Studi Reformed pada tahun 2006, kita sangat tahu bahwa kita tidak mempunyai dana, tidak punya akses, tidak punya gedung tempat ibadah, dan lain sebagainya, tetapi kita punya kerinduan yang besar agar Tuhan mau pakai kita menjadi alat-Nya seperti yang dialami si perempuan Samaria. Pada saat si perempuan Samaria itu mengetahui bahwa ia bertemu dan berbicara dengan Mesias, ia memiliki kerinduan yang besar untuk mengabarkan Injil sehingga ia dipakai Tuhan menjadi alat-Nya.
 
Demikian pula persekutuan Studi Reformed, kita sungguh merasakan bagaimana kehadiran dan pertolongan Kristus di dalam seluruh perjalanan hidup kita, oleh karena itu kita harus tetap semangat dan penuh hasrat untuk pelayanan pekabaran Injil. Walaupun hasil dari pelayanan kita belum terlihat sekarang, namun jangan pernah patah semangat, melainkan tetaplah penuh semangat dalam melayani Tuhan.
 
Terpujilah Kristus. Amin.
[ Ranto M Siburian , 02 Februari 2019 ]