Keseimbangan Kristiani
_oOo_
 
 
Topik keseimbangan kristiani adalah hasil-hasil aksi kepribadian yang berupa cara hidup, bukannya situasi hidup. Keseimbangan kristiani, bukanlah tatanan yang hanya berlaku pada situasi bergelimang harta, tapi juga pada situasi sulit. Keseimbangan kristiani, bukanlah sebagaimana PRINSIP NERACA. Hal ini bukan berkata, “satu perbuatan jahat harus diimbangi dengan satu perbuatan baik.” Tercela bagi seorang Kristen apabila ia berpendapat, “satu pelanggaran terhadap Allah akan terhapus oleh seratus perbuatan baik.” Sebab, bagaimanapun, “pengampunan Allah” adalah ANUGERAH.
 
Keseimbangan kristiani bertumpu pada “hasrat Roh” yang berdiam di dalam diri kita, bukannya bertumpu pada kecerdasan manusiawi kita untuk menilai hal yang baik dan yang jahat. Keseimbangan kristiani bukan aturan untuk menetapkan yang baik dan yang jahat, tetapi keseimbangan itu berarti “MEMILIKI HASRAT MENGASIHI ALLAH YANG BEKERJA NYATA.” Yesus mengungkapkan keseimbangan kristiani lewat contoh yang bagus sekali. “Kalau begitu berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” jawab Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala, Lukas 20:25.
 
Begitu banyak kegiatan yang anda lakukan setiap harinya, itu aktifitas hidup anda. Tentu anda melakukannya dengan hasrat mengasihi Allah di dalam benak anda, inilah “keseimbangan kristiani.” Tanpa hasrat mengasihi Allah, walaupun sementara mengerjakan hal-hal yang sangat berguna, anda tidak berada dalam keseimbangan kristiani.
 
Kita tak mampu menghindar dari rongrongan cetusan jasmaniah yang dipenuhi oleh peran dosa, tapi dengan hasrat mengasihi Allah, kita memiliki KONTROL terhadap cetusan reaksi jasmaniah itu. CARA HIDUP KESEIMBANGAN adalah sebuah cara hidup yang didasari kepada sikap-sikap berserah diri kepada Allah dalam pengakuan bahwa kita seringkali berlaku salah. Cara hidup ini juga berlaku pada situasi sulit.
 
Mampu tekun beribadah dan konsisten mengucap syukur pada situasi sulit menyatakan bahwa kita menerima situasi sulit itu dalam pengakuan bahwa Allah adalah pencipta dan pemelihara, semua yang dari Allah baik adanya, ini menjadi upaya kita bersikap benar terhadap Allah, ini menjadi ketegasan bahwa Allah adalah sandaran hidup kita. Dan, ini menjadi bukti terpeliharanya keseimbangan kristiani sebagai cara hidup kita.
Dalam “cara hidup keseimbangan,” menerima suatu situasi sulit adalah kesempatan membuktikan kesetiaan kepada Allah.
 
Sementara di dalam situasi sulit, menaikkan puji-pujian kepada Allah bukanlah “cara menghindar” dari kenyataan buruk, malahan CARA BERANI untuk menghadapinya. Pada situasi yang buruk, memuji-muji Allah bukanlah suatu cara mempermainkan Allah, melainkan suatu cara hidup yang sungguh bersandar kepada Allah.
 
Terpujilah Kristus. Amin.
[ Gogona , 02 Februari 2019 ]