Bernazar
 
_oOo_
 
Bernazar, “bukti” kesetiaan kepada Allah? Tidak!
Bernazar, “cara” guna dosa-dosa kita diampuni? Tidak!
 
Mari kita mulai dari kontroversi “nazar Yefta,” yang menjadikan korban: anak perempuannya berselibat, Hakim 11:29-36, apakah oleh karena Roh Tuhan maka Yefta bernazar? Lalu, apakah BENAR oleh akibat nazar itu maka Tuhan “MAU” menyerahkan bani Amon kepada Yefta?
Ketahuilah, “nazar Yefta” tidak berpengaruh apapun bagi KASIH ALLAH. Sebab, yang Allah kehendaki adalah “puji-pujian kepada-Nya,” bukannya “KORBAN NAZAR.” Dan, tentu, Yefta bernazar BUKANLAH oleh dorongan Roh Tuhan, melainkan semata-mata oleh semangat manusiawi Yefta ber-Tuhan.
 
Aslinya, bernazar adalah perilaku pagan untuk memuaskan TUNTUTAN PARA DEWA agar para penyembahnya melakukan “korban” sebagai bentuk “kepatuhan.”
Nah, oleh karena tuntutan para dewa, juga karena iming-iming reward dari para dewa, maka timbul “semangat bernazar” pada manusia. Lalu, semangat ini menjadi “pola kesadaran manusia” tentang BER-tuhan. Maka, jadilah bernazar sebagai “PERILAKU WAJAR dalam kesadaran BER-tuhan” (budaya ber-tuhan).
Lalu, bernazar sebagai “perilaku sadar BER-tuhan,” telah juga merambah Yakub, Kej. 28:20-22, maka jadilah bernazar sebagai bagian dari “perilaku ber-Tuhan” bagi orang-orang Israel. Karena bernazar telah menjadi perilaku ber-Tuhan, inilah alasan maka hukum Musa ikut mengatur perihal yang disebut “korban nazar,” Imamat 7:16.
 
Namun, Yesus Kristus mencela “bernazar” yang dilakukan para pemuka agama Yahudi. Yesus berkata, perbuatan mengasihi orang tua adalah lebih utama dari pada “bernazar,” Mrk. 7:10-12. Bahkan, Yesus berkata, “bernazar” hanyalah bagian dari adat istiadat, Mrk. 7:13. Jadi, tegasnya, Yesus menjelaskan bahwa BERNAZAR BUKANLAH PERINTAH TUHAN. Pun Daud, menekankan bahwa Allah lebih berkenan kepada “puji-pujian kepada-Nya” dari pada “korban nazar,” Maz. 51:17-18.
 
Lihat Paulus, Kis. 18:18, ia mencukur rambutnya setelah bernazar. Sebab, memang demikianlah adat istiadat orang Ibrani, yakni mencukur rambut setelah bernazar. Artinya, ketika bernazar itu Paulus sementara menjalankan adat Ibrani, bukannya menjalankan perintah Tuhan. Selain itu, ya karena Paulus adalah memang seorang Nazir (orang khusus yang melayani Tuhan).
Apakah Paulus memotivasi kita untuk bernazar? Tidak!
Apakah Paulus memotivasi kita untuk melakukan puji-pujian kepada Allah? Ya! (Ef. 5:19, Kol. 3:16).
Terpujilah Kristus. Amin.
[ Gogona , 30 Mei 2019 ]