Pelayanan Kasih
 
_oOo_
 
Banyak orang Kristen melakukan perbuatan baik semata-mata oleh dorongan rasa kemanusiaannya. Mereka mendengar berita-berita di televisi tentang suatu bencana, lalu mereka termotivasi mendonasikan dana untuk meringankan beban orang-orang yang terkena bencana itu. Orang Kristen ini tidak mau tahu siapa orang-orang yang mereka tolong, mereka pun tidak mau dikenal oleh orang-orang yang mereka tolong. Mereka tidak mau repot mencermati tahapan pergerakan dana itu agar benar-benar tepat sasaran. Rasa kemanusiaan mereka BENAR-BENAR TERPUASKAN ketika mereka selesai melakukan transfer dana itu. Terpuaskannya rasa kemanusiaan ini menjadi klimaks dari perilaku memberi yang mereka lakukan. Apakah “kepuasan” ini yang dikehendaki Alkitab? Jawabannya: tidak!
Perbuatan baik yang berlandaskan kasih Kristiani bukanlah tentang “kepuasan rasa kemanusiaan seseorang,” melainkan itu sebagai cara seorang percaya mempersembahkan dirinya kepada Allah karena ia telah mengenal kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, bahwa Ia rela menjadi miskin supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya, 2 Korintus 8-9.
 
Paulus menegaskan bahwa pelayanan kasih harus disertai dengan kecermatan untuk mengetahui siapa yang menerima bantuan, siapa yang mengelola, dan bagaimana pergerakan bantuan tersebut agar tepat sasaran. Ketika seorang Kristen melakukan pelayanan kasih, ia bukan sekedar sedang membuktikan kepeduliannya terhadap kekurangan orang lain, tetapi yang paling penting bahwa ia sedang membuktikan kasih karunia Allah yang membuatnya senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu.
Ketika Anda menolong orang lain di dalam kelebihan yang Anda miliki, apakah Anda sadar bahwa Anda memiliki kekurangan? Dan, apakah Anda sadar bahwa orang yang Anda bantu adalah orang yang juga memiliki suatu kelebihan? Pelayanan kasih adalah perbuatan baik yang bukan bertumpu pada prinsip sedekahan, melainkan bertumpu pada PRINSIP KESEIMBANGAN: kelebihan masing-masing untuk saling mencukupkan kekurangan masing-masing. Untuk perwujudan keseimbangan ini, kita meletakkannya pada pekerjaan kuasa Allah.
 
Bagaimanapun, kesadaran kita pada saat kita melakukan perbuatan baik, haruslah bukan hasrat diri untuk unjuk kehebatan rasa kemanusiaan kita, melainkan hasrat diri untuk mempersembahkan diri dan hidup kita bagi Allah.
 
Terpujilah Kristus. Amin.
Gogona
 
Persekutuan Studi Reformed
31 Maret 2020
 
Pin It
Copyright © 2021 Persekutuan Studi Reformed
 
Persekutuan Studi Reformed
Contact Person: Sdri. Deby – 08158020418
 
About Us  |   Visi  |   Misi  |   Kegiatan