Renungan Harian, Rabu 13 April 2022.
“Kebaikan Ontological”
 
Selamat pagi.
Tentulah Anda mengetahuinya bahwa Alkitab mengungkapkan dua macam kebaikan, yaitu kebaikan ontological dan kebaikan exsistential. Bagaimanakah kebaikan ontological mempengaruhi cara berpikir Anda menghadapi perilaku buruk diri Anda sehari-hari?
 
Paulus menasehati kita, “Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing,” Roma 12:3.
 
Kebaikan ontological semata-mata lahir dari karya Roh Kudus dalam hidup orang percaya, Paulus menyebutnya “buah Roh” (Gal. 5:22). Kebaikan jenis ini semata-mata anugerah Allah, dan Paulus menekankan satu muatan penting di dalam kebaikan ontological, yaitu penguasaan diri. Kebaikan jenis ini adalah kemampuan kita berbuat baik dengan tidak bertumpu pada penilaian manusia, melainkan bertumpu pada “yang sesuai dengan apa yang Allah sediakan” bagi kita.
 
Ketika kita sudah mengerti bahwa kemampuan kita berbuat baik adalah anugerah Allah, atau bersumber dari Roh Kudus (lihat Roma 12:6-21) maka kita selalu mencari firman Tuhan untuk menyatakan kebaikan ontological dalam kehidupan kita. Hebatnya, penguasaan diri membuat kita TIDAK BERLOMBA-LOMBA mengejar kesalehan yang mendatangkan pujian, melainkan kita berbuat baik untuk mempertahankan suasana hati yang merasakan kebersamaan dengan Tuhan. Kita TIDAK MEMIKIRKAN hal-hal yang lebih tinggi dari apa yang patut kita pikirkan, melainkan kita bersandar pada “apa yang Tuhan sediakan bagi kita.”
 
Bagaimana dengan hal-hal buruk yang masih melekat pada perilaku kita? Di sinilah “penguasaan diri menurut ukuran iman” menjadi “thinking, feeling dan action” yang menolong kita agar tidak terjatuh pada kesulitan dan penderitaan oleh dosa. Allah memberikan kebaikan ontological kepada kita pertama-tama agar kita mempraktekkannya menghadapi kelemahan-kelemahan diri kita sendiri, dengan demikian kita akan merasakan bagaimana firman Allah memerdekakan kita dari perhambaan dosa. Sebab, entah kenapa, kita sangat tahu bahwa firman Allah adalah tindakan Allah yang membebaskan kita dari dosa.
 
Kebaikan eksistensial adalah kebaikan yang memang secara natural bakatnya sudah ada pada diri manusia, jadi bukan bersumber dari Roh Kudus. Apakah Anda seorang Kristen yang masih berorientasi pada kebaikan eksistential? Jika “ya” artinya Anda masih tergolong orang yang mengejar “keselamatan oleh perbuatan.” Dan, Paulus menegur Anda dengan kata: “Janganlah kamu...” (Roma 12:3).
 
Terpujilah Kristus. Amin.
[ Gogona Gultom]
Persekutuan Studi Reformed
 
Pin It
 
 

 
Copyright © Persekutuan Studi Reformed
 
 
Persekutuan Studi Reformed
Contact Person: Sdri. Deby – 08158020418
 
About Us  |   Visi  |   Misi  |   Kegiatan