Renungan Harian, Rabu 27 April 2022.
“Penghayatan mistis yang ansich”
 
Selamat pagi.
Penghayatan mistis pastilah dimiliki oleh setiap orang dalam kehidupan dunia ini. Dan, ketika Anda mempelajari dan mencoba memahami keunikan iman Kristen, maka Anda akan berjumpa dengan banyak orang Kristen yang imannya terkurung dalam penghayatan mistis yang ansich. Apakah Anda menghayati perihal mistis sebagai sesuatu di luar diri Anda (yang hadir), atau sebagai sesuatu pada diri Anda (yang ansich)? Lalu, bagaimana membedakannya?
 
Paulus berkata, “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami,” 2 Korintus 4:7.
 
Kepada jemaat Korintus, Paulus tegas menolak penghayatan mistis yang ansich. Penolakan itu dinyatakannya pada frasa “bukan dari diri kami.” Bahkan Paulus menyamakan dirinya dengan bejana tanah liat, yaitu sesuatu yang lemah dan mudah hancur. Dalam hal ini, Paulus menyatakan bahwa perihal mistis tidak ada dalam bejana tanah liat.
 
Bagi Paulus, “kekuatan yang melimpah-limpah” itu ada di dalam Allah, dan bertumpu semata-mata pada kehendak Allah. Tetapi, banyak orang Kristen imannya terkurung dalam penghayatan mistis yang ansich. Bagi mereka, “kekuatan yang melimpah-limpah itu” bertumpu pada kebutuhan dan kehendak diri mereka sendiri. Bagi mereka, Allah yang berkuasa dan penuh kasih PASTI JUGA adalah Allah yang bersedia dan bisa mengabulkan permintaan mereka. Hal ini nampak dalam cara dan isi doa mereka yang lahir dari keinginan untuk semata-mata mukjizat.
 
Para “penghayat mistis yang ansich” selalu berpikir bahwa mereka perlu melakukan doa puasa yang keras untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari Allah. Mereka berdoa puasa, berlutut menangis sepanjang malam, seolah-olah mereka adalah orang-orang khusus yang mempunyai dispensasi, sehingga doa-doa mereka dapat mudah melunakkan hati Allah. Mereka bertumpu pada diri mereka sendiri, bukan lagi bertumpu pada kehendak Allah. Mereka ini anak-anak kecil yang merengek-rengek pada orangtuanya. Seorang anak kecil memikirkan keinginan diri sendiri saja, tidak mau mengerti akan kehendak, nasehat dan rancangan orangtuanya. Mereka adalah orang Kristen yang belum mampu berpikir abstrak, sehingga pikiran tentang Allah semata-mata antropomorphistik, yaitu refleksi dari pengalaman dan relasi-relasi yang mereka miliki.
 
Kita adalah orang Kristen dewasa, sehingga IMAN KITA dan KEHENDAK ALLAH bertemu dalam rangkaian perbuatan kita. Kita bersandar penuh pada kehendak dan rancangan Allah atas hidup kita, sehingga perbuatan kita pun lahir dari buah-buah Roh Kudus.
 
Terpujilah Kristus. Amin.
[ Gogona Gultom]
Persekutuan Studi Reformed
 
Pin It
 
 

 
Copyright © Persekutuan Studi Reformed
 
 
Persekutuan Studi Reformed
Contact Person: Sdri. Deby – 08158020418
 
About Us  |   Visi  |   Misi  |   Kegiatan