Renungan Harian, Rabu 04 Mei 2022.
“Kebijaksanaan Allah Yang Mahatahu”
 
Selamat pagi.
Tentang kemaha-tahuan Allah, Omniscience, Alkitab berkata, “tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepadaNya kita harus memberikan pertanggungan jawab,” Ibrani 4:13. Dan, Daud mengakui kemaha-tahuan Allah, “bagiku, betapa sulitnya pikiranMu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!” Mazmur 139:17.
 
Setelah Daud mengakui kemaha-tahuan Allah, ia kemudian menaikkan permohonannya, “lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Maz. 139:24. Artinya, Daud menyandarkan hidupnya kepada kebijaksanaan Allah Yang Mahatahu. Apakah Anda adalah seorang Kristen yang mengakui kebijaksanaan Allah Yang Mahatahu atas situasi kehidupan sulit yang Anda sementara alami, atas derita yang begitu berat yang Anda rasakan?
 
Nabi Yunus pun pernah menolak kebijaksanaan Allah Yang Mahatahu, ia menolak pengampunan Allah atas kota Ninewe, Yunus 4:11. Juga Petrus, pernah menolak kebijaksanaan Allah Yang Mahatahu, “Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: ‘Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau,’” Mat. 16:22. Penolakan Petrus ini terhenti oleh hardikan Yesus kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia,” Mat. 16:23.
 
Kebijaksanaan Allah Yang Mahatahu atas jalan-jalan hidup kita seringkali menjadi pergumulan yang sangat mendalam bagi kita, orang-orang percaya, karena kita masih terikat dengan perasan dan cara berpikir sebagai manusia yang terbatas dan berdosa. Bahkan, kadang kita merasa lebih bijaksana dan lebih tahu daripada Allah, dan ingin menasehati Allah atas situasi hidup yang menimpa kita. Perasaan tidak nyaman menjalani kebijaksanaan Allah atas hidup kita memang sudah tertanam dalam jiwa setiap manusia, baik Kristen maupun non-Kristen.
 
Tetapi, kita adalah anak-anak Allah yang sungguh bersandar kepadaNya. Kita mengakui bahwa Allah kita adalah Allah yang tahu akan kelemahan dan kondisi “sulit bagaikan tanpa harapan” yang sementara kita alami. Kita sangat tahu bahwa Ia tidak membiarkan kita begitu saja, melainkan Ia selalu hadir mendampingi kita dalam menjalani seluruh kehidupan ini. Karena Ia mahatahu maka tidak ada keluhan dan doa kita yang terabaikanNya.
 
Kemaha-tahuan Allah adalah sumber suka-cita bagi orang-orang percaya, sebab karena kebijaksanaan kemaha-tahuanNya maka Ia telah mengutus AnakNya yang tunggal bagi keselamatan kita dan memberikan Roh Kudus bagi kita untuk menyempurnakan anugerah keselamatan itu.
 
Terpujilah Kristus. Amin.
[ Gogona Gultom]
Persekutuan Studi Reformed
 
Pin It
 
 

 
Copyright © Persekutuan Studi Reformed
 
 
Persekutuan Studi Reformed
Contact Person: Sdri. Deby – 08158020418
 
About Us  |   Visi  |   Misi  |   Kegiatan