_oOo_
 
Handel dan keagungan karya musiknya
 
George Frederic Handel dilahirkan di Halle, Jerman. Bakat musiknya mulai terlihat kira-kira di usia 8 atau 9 tahun pada waktu ia memainkan musik penutup (postlude) dalam sebuah kebaktian gereja.
 
Masa depannya sebagai seorang komponis musik tidak terlepas dari dukungan seorang Duke (gelar bangsawan) dari Weissenfels, waktu ia mendengar permainan musik Handel yang kemudian meminta ayah Handel untuk mendukung sepenuhnya talenta yang dimiliki anaknya itu. Meski pada awalnya ayahnya menginginkan Handel menjadi seorang ahli hukum, namun pada akhirnya dengan berat hati ia mendukung Handel untuk belajar musik.
 
Setelah kepergian guru musiknya, Friedrich Wilhelm Zachow, yang adalah seorang musisi paling imajinatif dan berpengalaman pada masa itu, Handel memutuskan untuk pergi ke kota Hamburg. Di kota Hamburg inilah Handel menuangkan ide-ide musiknya dalam sebuah karya musik. Dan karya musik pertama yang dibuatnya adalah sebuah Opera Almira. Setelah itu Handel kemudian pergi ke Italia dan di sana ia menulis sebuah karya Oratorio yang diberi judul The Resurrection. Ini merupakan karya religius pertama yang Handel hasilkan.
 
Semasa hidupnya Handel telah menghasilkan 26 oratorio, seperti Agrippina, Esther, Saul, Israel in Egypt dan oratorio lainnya. Ini menunjukkan betapa Handel memiliki nilai ketidakterbatasan dalam setiap karya musik yang ia hasilkan. Setiap nada yang ia tuangkan dalam karyanya begitu mengagumkan. Dan Oratorio Messiah, salah satu oratorio teragung di sepanjang zaman, menjadi karya oratorio terakhir yang ia buat semasa hidupnya.
 
Oratorio Messiah
 
Oratorio adalah musikalisasi cerita-cerita yang pada umumnya mengambil tema dari Alkitab yang meliputi orkestra, solois dan paduan suara. Oratorio Messiah sering dijadikan sebagai tradisi Natal yang selalu di pentaskan setiap tahun. Sejak pertama kali dipentaskan di New Music Hall, Fishamble Street, Dublin pada tahun 1742, Oratorio Messiah sampai dengan hari ini masih dianggap sebagai karya agung yang pernah Handel ciptakan. Messiah adalah sebuah oratorio yang berbeda dengan oratorio ataupun opera lainnya. Jikalau oratorio lainnya menghadirkan cerita-cerita tokoh yang memiliki batasan ruang dan waktu, akan tetapi oratorio Messiah menghadirkan sebuah drama kosmik yang melampaui ruang dan waktu, karena yang dihadirkan adalah Kristus Tuhan yang hadir di dalam sejarah. Ia adalah Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan (King of kings dan Lord of lords).
 
Keagungan oratorio Messiah tidak hanya tercermin dari sebuah maha karya musikal yang begitu indah dari setiap nada musik dan syair pujian yang dinyanyikan, akan tetapi juga menceritakan tentang karya keselamatan Allah yang membebaskan manusia dari kuasa setan, dosa dan maut melalui kedatangan seorang Mesias yang telah lama dijanjikan itu. Oratorio Messiah terdiri dari 3 bagian, yakni:
 
Bagian pertama menceritakan peristiwa kelahiran dan kedatangan Mesias di dalam kegenapan janji Allah terutama di dalam kitab Yesaya. Dia datang untuk menyatakan kegenapan janji Allah dan memberikan damai kepada umat-Nya. Beberapa bagian seperti “For unto us a Child is born,” “There were shepherds abiding” dan “Glory to God in the highest” menjadi tiga bagian utama di dalam peristiwa Natal.
 
Bagian kedua merupakan sebuah perenungan tentang penderitaan dan kematian Kristus dan kebutuhan manusia akan penebusan. Diawali dengan paduan suara menyanyikan “Behold the Lamb of God, who taketh away the sins of the world,” yang menjadi perenungan akan penderitaan Kristus dan diakhiri dengan paduan suara “Hallelujah Chorus.”
 
Bagian ketiga memproklamasikan kemenangan Mesias atas dosa dan maut melalui kebangkitan-Nya yang memberikan pengharapan bagi orang percaya, sekaligus berita kedatangan-Nya yang kedua. Di awali dengan suara Soprano “I know that my Redeemer liveth” yang menyatakan bahwa sungguh Kristus Tuhan yang bangkit adalah Penebus yang hidup dan kemudian diakhiri dengan “Worthy is the Lamb” sebagai pujian penutup oratorio ini.
 
Pengharapan di tengah kegelapan dunia
(Oratorio Messiah No. 10-11)
 
Resital solois Alto dengan iringan organ pipa dan selo (cello) menyanyikan syair pujian yang terambil dari Yesaya 7:14,“ …Behold, a virgin shall conceive, and bear a Son,” kemudian ditutup dengan kalimat “God with us,” menjadi kabar baik bagi umat TUHAN bahwa terang itu akan datang melalui tanda seorang perempuan muda yang akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Berita itu disampaikan dengan sedikit kejutan dari solois Alto dengan iringan organ pipa dan selo, kemudian dilanjutkan kembali dengan solois Alto yang menyanyikan syair pujian dari Yesaya 40:9, “O thou that tellest good tidings to Zion, get thee up into the high mountain; O thou that tellest good tidings to Jerusalem, lift up thy voice with strength; lift it up, and be not afraid; say unto the cities of Judah, Behold your God!” / ”Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: "Lihat, itu Allahmu!"" Secara tiba-tiba sebuah paduan suara dengan suara keras merespon solois Alto dengan kembali menyanyikan syair pujian dari Yesaya 40:9 dan ditutup syair pujian dari Yesaya 60:1, “Arise, shine; for thy light is come, and the glory of the Lord is risen upon thee.” / “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.”
 
Satu gambaran ekspresi sukacita yang begitu besar karena sungguh TUHAN Allah sendiri datang kepada umat-Nya. Akan tetapi setelah solois Alto dan paduan suara (chorus) menyanyikan bagian pertama dari Oratorio Messiah nomor 8 dan 9 yang memberikan pengharapan sukacita karena terang itu akan datang, tiba-tiba Handel berpindah dari terang ke gelap. Dengan iringan biola dan selo seorang solois bass menyanyikan syair pujian dari Yesaya 60:2-3, “For, behold, darkness shall cover the earth, and gross darkness the people; but the Lord shall arise upon thee, and His glory shall be seen upon thee. And the Gentiles shall come to thy light, and kings to the brightness of thy rising.” / “Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu.” Dan Yesaya 9:2, ”The people that walked in darkness have seen a great light: and they that dwell in the land of the shadow of death, upon them hath the light shined”/ “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.”
 
Perpindahan dari terang ke gelap digambarkan dengan adanya perubahan irama (cadence) Oratorio Messiah no. 8 dan 9 dari D mayor ke B minor. Handel memilih nada minor pada Oratorio Messiah no. 10 dan 11 hendak menggambarkan kegelapan yang memenuhi bumi, hampa, kosong, sunyi dan tandus, dimana manusia berdiam di dalamnya. Dengan iringan nada musik yang pelan, dimainkan dalam nada dasar B minor menggambarkan suasana kegelapan. Demikian juga pada Oratorio Messiah no. 11, di nada dasar yang sama B minor, dengan iringan biola dan selo, solois bass menyanyikan syair pujian dari nada yang sama tetapi pada bagian no. 12 sampai 21 seluruh bagian ini hanya dimainkan dalam kunci Mayor. Sebuah gambaran akan berita pengharapan dan kesukaan yang besar.
 
Gelap tidak akan mungkin harmonis dengan terang itu sendiri karena gelap tidak mungkin bersatu dengan terang itu sendiri. Hal itulah yang Handel hadirkan dalam Oratorio Messiah no. 10 dan 11, dimana antara music selo maupun biola yang dimainkan dengan solois bass yang bernyanyi tidak ada keharmonisan. Seorang solois bass bernyanyi dengan suara keras akan tetapi music selo maupun biola dimainkan dengan lebih pelan.
 
Perpindahan dari terang menuju gelap ini, Handel ingin menyampaikan bahwa janji itu belum digenapi secara penuh karena kegelapan masih memenuhi bumi. Akan tetapi terang itu akan datang melalui kelahiran seorang anak laki-laki yang Handel sampaikan pada oratorio Messiah no. 12 “For unto us a Child is born.”
 
Yesus Kristus adalah Terang Dunia
 
“Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.”(Yoh. 1:9). Yohanes di dalam Injilnya memberitakan bahwasanya terang itu sudah datang. Kata “yang sesungguhnya” dalam Injil Yohanes memakai kata Yunani “alethinos” yang berarti sesuatu yang sama di dalam hal sifat dan realitasnya. Dengan kata lain, Kristus adalah satu-satunya terang sejati, nyata dan sempurna. Terang yang sesungguhnya itu adalah Firman yang telah menjadi manusia dan di dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang yang sesungguhnya adalah terang yang sudah ada di dalam permulaan, di dalam kekekalan dan bersama-sama dengan Allah. Terang yang sesungguhnya itu adalah satu-satunya jalan dimana manusia beroleh hidup yang kekal karena Dia adalah terang itu sendiri.
 
Dia datang untuk memberikan terang kepada manusia karena manusia berdosa tidak mungkin dapat melihat dirinya secara benar sebagai orang-orang yang berdosa dan membutuhkan keselamatan dari Tuhan Allah. Oratorio Messiah no. 10 dan 11 menghadirkan suasana dunia yang gelap, tidak berpengharapan, penuh kesedihan dan ada di dalam perseteruan dengan Tuhan Allah sebagai sumber terang. Manusia memerlukan terang itu supaya beroleh hidup di dalam Tuhan. Untuk itulah Yesus Kristus yang adalah Firman yang sudah ada sejak kekekalan datang ke dunia yang gelap ini dengan mengambil rupa manusia untuk menerangi dunia yang gelap dan tidak berpengharapan ini. Kristus Tuhan menjadi satu-satunya sumber pengharapan yang memberikan keselamatan bagi manusia yang berdosa karena hanya Dialah yang dapat mengalahkan kegelapan itu sendiri.
 
Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barang siapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yoh. 8:12). Perkataan Yesus menjadi suatu konfirmasi dari apa yang Yohanes katakan sebelumnya tentang terang yang datang ke dalam dunia. Yesus sendiri mengatakan bahwa Dia adalah terang itu sendiri, yang datang dari Sorga, yang bukan dari terang yang diciptakan (bdk. Kej. 1:3), karena Dia adalah terang Allah yang sejati. Terang Allah dalam Yesus Kristus memberikan terang hidup kepada siapa saja yang percaya dan barangsiapa yang percaya tidak akan berjalan dalam kegelapan. Di luar Kristus Tuhan, manusia akan hanya terus hidup di dalam kegelapan dan tidak beroleh hidup di dalam Allah. Hanya di dalam Dialah yang adalah terang itu sendiri maka manusia berdosa beroleh hidup.
 
Pada akhirnya, Oratorio Messiah ini ditutup dengan pujian “Worthy is the Lamb” dengan nada D Mayor dengan seluruh instrumen dimainkan (selo, biola, terompet, dll) dan paduan suara yang penuh sukacita dan semangat, Handel memberikan hormat dan pujian kepada Dia, Kristus Tuhan, Mesias, Anak Domba Allah, terang Allah yang sejati yang layak menerima kemuliaan sekarang dan sampai selamanya.
 
Biarlah di momen Natal ini, ketika dunia harus menghadapi kegelapan terlebih di dalam masa pandemik Covid-19 yang membawa manusia hidup di dalam kekuatiran tanpa pengharapan ini, kita percaya di dalam Dia, Kristus Tuhan, yang adalah terang sejati itu, maka kita yang percaya akan tetap memiliki hidup di dalam Dia.
 
Selamat Natal 2020 dan Selamat Tahun Baru 2021.
Mulatua Silalahi
 
Pin It
Copyright © 2021 Persekutuan Studi Reformed
 
Persekutuan Studi Reformed
Contact Person: Sdri. Deby – 08158020418
 
About Us  |   Visi  |   Misi  |   Kegiatan