_oOo_
 
Pendahuluan
 
Tulisan ini bermaksud untuk mendedah secara singkat doktrin keselamatan (soteriologi) di dalam pemikiran tokoh Reformator Kristen yang bernama John Calvin. 20John Calvin merupakan salah satu tokoh Reformasi Protestan di abad ke-17 bersama dengan Martin Luther. Calvin lahir di Noyon, Perancis pada tahun 1509 dan wafat tahun 1564. Karya terbaik John Calvin adalah buku “The Institutes of the Christian Religion” yang edisi finalnya baru selesai di tahun 1559. Kita tahu bahwa soteriologi yang ada di dalam pikiran Calvin tentunya memiliki pemahaman yang luas dan mendalam. Dan setiap theolog tentunya akan memiliki perspektif yang berbeda-beda bagaimana menerjemahkan soteriologi Calvin ini. Tulisan ini secara khusus akan mendedah soteriologi Calvin ini dengan bantuan pemikiran dari tiga orang theolog Reformed yang cukup dikenal melalui sumber karya tulisannya. Pertama adalah J Todd Billings,21J Todd Billings adalah Gordon H Girod Research Professor of Reformed Theology di Western Theological Seminary in Holland, Michigan. di salah satu tulisannya berjudul “John Calvin” pada buku “Christian Theologies of Salvation: a Comparative Introduction edited by Justin S Holcomb” (Penerbit New York University Press, 2017, yang mana ia menjadi salah satu kontributor di sana. Kedua adalah Richard B. Gaffin Jr22 Richard B Gaffin, Jr adalah professor theologi sistematik di Westminster Theological Seminary, Philadelphia. di salah satu tulisannya berjudul “Pembenaran dan Persatuan dengan Kristus” yang dimuat di dalam buku “Penuntun ke dalam Theologi Institutes Calvin: Esai-esai dan Analisis” diedit oleh David W.Hall dan Peter A. Lillback (terjemahan, Penerbit Momentum, 2009). Dan ketiga adalah Michael Horton23Michael Horton adalah J. Gresham Machen Professor of Systematic Theology and Apologetics di Westminster Theological Seminary California. di dalam buku “Calvin on the Christian Life” (terjemahan, Penerbit Literatur SAAT, 2017).
 
Pengantar
 
Menurut J Todd Billings, doktrin keselamatan (soteriologi) Calvin berinteraksi dengan lokus doktrin-doktrin lainnya, seperti Trinitas (Trinity), penciptaan (creation), pemilihan (election), perjanjian (covenant), hukum (law) dan kehidupan Kristen (Christian Life). Namun demikian, pemikiran utama dari soteriologi Calvin dapat dideskripsikan dengan singkat dengan pernyataan ini: “the sum of the gospel as the newness of life and free reconciliation, which is conferred on us by Christ, and both are attained by us through faith.” Lebih lanjut Billings mengatakan, “…the gospel is the double grace of justification and sanctification accessed through union with Christ by the Spirit, received through the instrument of faith.”
 
Jadi, dapat dikatakan bahwa soteriologi Calvin berpusat pada apa yang diistilahkan dengan “anugerah ganda” (duplicem gratiam / double grace), yaitu: pembenaran (justification) dan pengudusan (sanctification) kepada mereka yang dipersatukan dengan Kristus (union with Christ) melalui sarana atau instrument iman. Tulisan ini akan secara singkat akan berbicara mengenai ketiga topik tersebut di atas.
 
Kesatuan Dengan Kristus (Union With Christ)
 
Di dalam pemikiran Calvin, konsep pembenaran (justification) tidak dapat di lepaskan dengan konsep kesatuan dengan Kristus. Richard B. Gaffin Jr di dalam salah satu tulisannya berjudul Pembenaran dan Persatuan dengan Kristus, mengutip demikian, “Kristus diberikan kepada kita oleh kemurahan Allah, untuk dipegang dan dimiliki oleh kita dalam iman. Dengan mengambil Dia, kita terutama menerima suatu anugerah ganda: yaitu, didamaikan dengan Allah melalui ketidakbercacatan Kristus, kita di sorga memiliki seorang Bapa yang murah hati daripada seorang Hakim: dan kedua, dikuduskan oleh Roh-Nya kita menanamkan hidup yang tidak bercacat dan murni.”24Kutipan tulisan Richard B. Gaffin Jr di dalam buku Penuntun ke dalam Theologi Institutes Calvin, Penerbit Momentum, 2009, hal.280. Dari kutipan di atas kita melihat bagaimana Calvin dengan jelas memfokuskan soteriologinya yang pertama dan utama kepada pribadi Kristus dan karya-Nya. Kedua, dikatakan di sana “Kristus diberikan kepada kita, untuk dipegang dan dimiliki oleh kita dalam iman” yang merupakan penggambaran yang jelas bagaimana kesatuan dengan Kristus (union with Christ) yang kita terima melalui iman, memungkinkan kita boleh menerima anugerah ganda (double grace), yakni pembenaran (justification) dan pengudusan (sanctification).
 
Triangulasi yang terdiri dari tiga unsur - kesatuan dengan Kristus, pembenaran, dan pengudusan - ini yang mana ketiganya saling terkait satu dengan yang lain, Gaffin melihat setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan di sini. Pertama, persatuan dengan Kristus memiliki keutamaan dalam hal bahwa anugerah ganda itu berakar persatuan dan mengalir darinya. Anugerah ganda itu diperoleh dari; yaitu, diterima “dengan ikut berbagian akan Dia.” Kedua, sebagai manfaat dari persatuan, pembenaran dan pengudusan tidaklah terpisahkan. Akan tetapi, sedemikian rupa sehingga keduanya tidak dicampuradukkan tetapi dibedakan.25Richard B. Gaffin Jr, Penuntun ke dalam Theologi Institutes Calvin diedit oleh David W. Hall dan Peter A. Lillback, Jakarta: Penerbit Momentum, 2009, hal.281 Untuk terminologi “dapat dibedakan tanpa dapat dipisahkan” ini akan dibahas lebih lanjut di bagian selanjutnya.
 
“Anugerah Ganda”:
Pembenaran (Justification) dan Pengudusan (Sanctification)
 
Pemikiran Calvin tentang pembenaran oleh iman pertama-tama tidak dapat dilepaskan dari pemikirannya tentang kesatuan dengan Kristus. Pembenaran mendapatkan signifikasinya di dalam kesatuan dengan Kristus. “Calvin spoke of believers being adopted as children of the Father, engrafted into Christ, and experiencing such “participation in him (Christ) that, although we are still foolish in ourselves, he is our wisdom before God; while we are sinners, he is our righteousness; while we are unclean, he is our purity”26J Todd Billings, hal. 210 Adopsi (adoption), dicangkokkan ke dalam Kristus (engrafted into Christ) dan partisipasi di dalam Kristus (participation in Christ) menjadi istilah penting di dalam pemahaman Calvin tentang pembenaran, di mana orang percaya dideklarasikan benar di hadapan Allah berdasarkan kebenaran Kristus (righteousness of Christ).
 
Untuk mendapatkan konteks dari pemikiran Calvin tentang pembenaran ini, kita perlu melihat bagaimana tokoh reformasi sebelum Calvin berinteraksi dengan doktrin ini. Pertama adalah Martin Luther. Doktrin pembenaran Luther pertama-tama merupakan koreksinya atas pemikiran Bapa gereja Agustinus yang menyatakan bahwa pembenaran merujuk kepada suatu proses pembaharuan internal oleh Roh Kudus di dalam diri orang percaya. Berbeda dengan Agustinus, Luther berpendapat di dalam karyanya “The Freedom of the Christian” bahwa righteousness that justifies believers is alien and external – contained in Jesus Christ himself – and thus received by faith as fully sufficient gift. Kedua, menurut Luther, the process of growth and renewal in Christ became notionally distinct from that “justification”27J Todd Billings, hal. 211 Jadi, bagi Luther, pembenaran bukanlah sebuah proses transformasi internal (internal transformation) atau pembaharuan internal (internal renewal) di dalam diri orang percaya, tetapi perubahan status di hadapan Allah karena kebenaran Kristus, sehingga orang percaya di saat bersamaan memiliki status “orang kudus” (holy saints) dan “orang berdosa” (sinners) yang memerlukan penebusan Kristus.
 
Doktrin pembenaran Luther kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh Philip Melanchton. Melanchton menekankan pada aspek legal atau forensik ke dalam doktrin pembenarannya dan menekankan pembedaan secara signifikan antara pembenaran dan pengudusan. Bagi Melanchton, pembenaran mesti dipahami sebagai sebuah “legal declaration of righteousness” di dalam konteks pengadilan (courtroom) dan pengudusan (sanctification) atau regenerasi (regeneration) merupakan pekerjaan Roh Kudus di dalam diri orang percaya. Bagi Melanchton, pembedaan keduanya ini sesuatu yang krusial. Menurutnya, apabila pengudusan menjadi bagian (kecil) yang menjadi dasar pembenaran, maka titik sentral dari doktrin pembenaran Luther yang menekankan bahwa kebenaran yang membenarkan (justifying righteousness) kita, orang percaya, yang hanya terkandung di dalam Kristus saja, bukan di dalam diri kita, menjadi hilang. Lebih lanjut Melanchton menegaskan, pembenaran yang dipahami juga sebagai pengampunan atas dosa-dosa kita melalui pengimputasian kebenaran Kristus ke dalam diri kita harus tetap dibedakan dengan pekerjaan baik (good works) yang dikerjakan Roh Kudus di dalam diri kita. Pekerjaan baik (good works) di sini dipahami sebagai bagian dari “the Spirit’s gradual healing and redeeming work” di dalam diri orang percaya, bukan sebagai dasar dari penghakiman Allah terhadap orang percaya yang telah memiliki status “benar” di mata Allah. Melanchton tidak mengatakan pembenaran meniadakan pekerjaan baik. Pembenaran justru memimpin kepada pekerjaan baik.
 
Bagaimana dengan Calvin? Calvin berargumen, pembenaran tidak merujuk kepada the Spirit’s gradual healing of sinners dan bukan di dasarkan pada pekerjaan baik dari seseorang. Menurut Calvin, pembenaran adalah “simply as the acceptance with which God receives us into his favor as righteousness men. And we may say that it consists in remission of sins and the imputation of Christ’s righteousness”28J Todd Billings, hal. 212 Bagi Calvin, pembenaran adalah penerimaan Allah (God’s acceptance) yang didasarkan pada kebenaran Kristus yang diimputasikan atau diperhitungkan kepada orang percaya sehingga memilki status “benar” di hadapan Allah. Pembenaran meliputi pengampunan atas dosa-dosa kita. “Our sins are credited to Christ and his righteousness is credited to us29Michael Horton, Calvin on the Christian Life, Malang: Literatur SAAT,2017, hal. 96 Pembenaran, penerimaan Allah atas kita, diterima bukan berdasarkan jasa dan pekerjaan baik kita, tetapi hanya karena belas kasihan Allah kepada kita, yang kita terima melalui iman. Jadi, iman bukanlah dasar pembenaran, karena iman juga adalah pemberian Allah (God’s free gift). Iman merupakan sarana atau instrumen kita dibenarkan Allah. Calvin mengatakan, “When, therefore, we are justified, the efficient cause is the mercy of God, Christ is the substance (material) of our justification, and the Word, with faith. Faith is therefore said to justify,because it is the instrument by which we receive Christ, in whom righteousness is communicated to us.”30J Todd Billings, hal. 213
 
Lalu, bagaimana pemikiran Calvin tentang pengudusan (sanctification)? Hal pertama yang perlu ditegaskan bahwa Calvin tidak memisahkan pembenaran dengan pengudusan. Keduanya terjadi secara simultan; ketidakterpisahan mencakup suatu simul, keserentakan.31Richard B. Gaffin Jr, hal. 284 Calvin sendiri tidak mengetahui secara persis apakah pembenaran ditempatkan lebih dahulu dan kemudian diikuti dengan pengudusan. Akan tetapi setelah pembenaran yang tetap dan tidak dapat dibatalkan itu, dari saat itu terjadi, ada suatu kecondongan kepada kesalehan dan hidup kudus, betapapun kecondongan itu lemah dan membawa wabah dosa dan walaupun kemudian dinyatakan tidak sempurna.32Richard B. Gaffin Jr, hal. 284
 
Bagi Calvin, pengudusan merupakan proses yang terus menerus, seumur hidup setelah pembenaran, terjadi “sebelum” pengudusan, dan pekerjaan baik orang percaya dapat dilihat sebagai buah-buah dan tanda-tanda telah dibenarkan.33Richard B. Gaffin Jr, hal. 284 Meski demikian, perlu diingatkan bahwa Calvin tidak pernah mengatakan bahwa pembenaran adalah sumber pengudusan atau pembenaran menyebabkan pengudusan. Sumber itu, penyebab itu adalah Kristus oleh Roh-Nya, Kristus, yang di dalam dia, pada saat mereka disatukan dengan Dia oleh iman, orang-orang berdosa secara serentak menerima anugerah ganda dan memulai suatu yang terus menerus untuk dikuduskan sebagaimana mereka sekarang juga secara pasti dibenarkan.34Richard B. Gaffin Jr, hal. 284
 
Michael Horton di dalam buku Calvin on The Christian Life menyatakan bahwa pembenaran oleh iman bukan musuh, tetapi dasar dari pengudusan. “Forensic justification through faith alone is not the enemy but the basis of sanctification”35Michael Horton, hal. 102 Terminologi ”dapat dibedakan tanpa dapat dipisahkan” (disctinction without separation) yang menjadi terminologi khusus di dalam memahami anugerah ganda - pembenaran dan pengudusan – ini, Horton mengutip perkataan Calvin di karya Institutes, demikian, “Although we may distinguish them, Christ contains both them inseparably in himself. Do you wish, then, to attain righteousness in Christ? You must first possess Christ; but you cannot posses him without being made partaker in his sanctification, because he cannot be divided into pieces (1 Cor. 1:13). Since, therefore, it is solely by expending himself that the Lord gives us these benefits to enjoy, he bestows both of them at the same time, the one never without the other. Thus it is clear how true it is that we are justified not without work yet not through works, since in our sharing in Christ, which justifies us, sanctification is just as much included righteousness.36Michael Horton, hal. 102 “You cannot grasp this (justification) without at the same time grasping sanctification also.”37Michael Horton, hal. 103
 
Calvin melihat pembenaran adalah dasar logis dari pengudusan. Ia berkata, “for since we are clothed with the righteousness of the Son, we are reconciled to God, and renewed by the power of the Spirit to holiness.” Bagi Calvin, pengudusan merupakan suatu pergumulan terus menerus di dalam diri orang percaya untuk mematikan kecenderungan/inklinasi terhadap keinginan daging yang berdiam di dalam diri orang percaya. Roh kudus bekerja secara supernatural dan penuh anugerah di dalam diri orang percaya akan memampukan kita berjuang melawan dosa yang berdiam di dalam diri kita (indwelling sins). Pengudusan di dalam diri orang percaya merupakan sebuah proses yang terjadi secara progresif di sepanjang hidup untuk kita boleh semakin menyerupai Kristus.
 
Penutup
 
Kita tentu mengetahui dan memahami bahwa doktrin keselamatan (soteriologi) yang ada di dalam pemikiran John Calvin begitu luas dan limpah. Artinya, tidak terbatas hanya dari ketiga topik yang dibahas dalam tulisan singkat ini. Untuk memahami secara tuntas doktrin ini, tentu kita perlu mengembangkan studi lanjutan dengan membaca dan menganalisa sumber literatur-literatur lainnya. Namun setidaknya, tulisan ini dapat dijadikan semacam “trigger” untuk melakukan studi lanjutan tersebut.
 
Melalui keterbatasan tulisan ini, sekali lagi kita diingatkan akan betapa besar dan mulianya pekerjaan Allah Tritunggal di dalam diri kita, orang berdosa ini. Kita dipersatukan dengan Kristus, kita dibenarkan berdasarkan kebenaran Kristus yang diimputasikan/diperhitungkan kepada kita, dan kita dikuduskan melalui pekerjaan Roh Kudus yang berdiam di dalam diri kita. Kiranya dengan memahami dan merenungkan ini semua, kita boleh terus mengingat karya Allah dan meresponinya dengan hidup mempermuliakan Dia.
 
Selamat Paskah 2021.
Nikson Sinaga, SE
 
Pin It
 
Sumber Literatur:
 
 
 
Notes
 
 
20
John Calvin merupakan salah satu tokoh Reformasi Protestan di abad ke-17 bersama dengan Martin Luther. Calvin lahir di Noyon, Perancis pada tahun 1509 dan wafat tahun 1564. Karya terbaik John Calvin adalah buku “The Institutes of the Christian Religion” yang edisi finalnya baru selesai di tahun 1559.
 
21
J Todd Billings adalah Gordon H Girod Research Professor of Reformed Theology di Western Theological Seminary in Holland, Michigan.
 
22
Richard B Gaffin, Jr adalah professor theologi sistematik di Westminster Theological Seminary, Philadelphia.
 
23
Michael Horton adalah J. Gresham Machen Professor of Systematic Theology and Apologetics di Westminster Theological Seminary California.
 
24
Kutipan tulisan Richard B. Gaffin Jr di dalam buku Penuntun ke dalam Theologi Institutes Calvin, Penerbit Momentum, 2009, hal. 280.
 
25
Richard B. Gaffin Jr, Penuntun ke dalam Theologi Institutes Calvin diedit oleh David W. Hall dan Peter A. Lillback, Jakarta: Penerbit Momentum, 2009, hal. 281
 
26
J Todd Billings, hal. 210
 
27
J Todd Billings, hal. 211
 
28
J Todd Billings, hal. 212
 
29
Michael Horton, Calvin on the Christian Life, Malang: Literatur SAAT, 2017, hal. 96
 
30
J Todd Billings, hal. 213
 
31
Richard B. Gaffin Jr, hal. 284
 
32
Richard B. Gaffin Jr, hal. 284
 
33
Richard B. Gaffin Jr, hal. 284
 
34
Richard B. Gaffin Jr. hal. 284
 
35
Michael Horton, hal. 102
 
36
Michael Horton, hal. 103
 
37
Michael Horton, hal. 103
 
 
 
Copyright © 2021 Persekutuan Studi Reformed
 
Persekutuan Studi Reformed
Contact Person: Sdri. Deby – 08158020418
 
About Us  |   Visi  |   Misi  |   Kegiatan