KANDANG HINA, TUNAS MULIA.
_oOo_
 
“Suatu Tunas akan keluar dari tunggul Isai,
dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah”
(Yesaya 11:1)
 
Bagaimana Natal dirayakan di zaman sekarang ini? Mungkin hampir setiap kita akan setuju bila dikatakan natal di berbagai belahan dunia dirayakan dengan penuh sukacita dibalut dengan kegemerlapan kerlap kerlip lampu natal yang menyala terang dengan iringan lagu-lagu natal yang terdengar syahdu. Tak ketinggalan berbagai macam hidangan makanan dan hadiah-hadiah natal tersedia. Kira-kira beginilah kondisi perayaannya. Kita juga mungkin akan setuju ayat di atas cukup terdengar familiar di berbagai ibadah natal, baik dalam bacaan liturgi maupun dalam nats khotbah natal. Namun jika kita telisik lebih jauh Alkitab kita, konteks ayat ini turun justru kontras sekali dengan perayaan natal sebagaimana gambaran di atas. Konteks Yesaya pasal 11 ternyata berbicara tentang betapa kelamnya penderitaan yang harus ditanggung umat Tuhan akibat penghukuman Tuhan yang turun atas ketidaktaatan dan keberdosaan mereka.
Mengenai keadaan ini, Yesaya pasal 1 dengan jelas sudah menyatakan bagaimana umat Tuhan digambarkan suka berbuat jahat, melakukan ibadah palsu, hidup dalam kejahatan terhadap sesama, penuh korupsi, menelantarkan orang lemah, dan dosa-dosa lainnya. Itu sebabnya keadilan Tuhan harus mau tidak mau harus dinyatakan dengan cara menghukum mereka, umat-Nya sendiri, dan secara khusus terhadap raja atau pemimpin mereka.
Melihat hal ini sungguh suatu ironi, karena Yesaya pasal 2 sudah menggambarkan betapa vitalnya peran umat Tuhan di Yerusalem, kota harapan yang menjadi pusat agama dan politik itu, untuk memancarkan terang kemuliaan Tuhan agar semua makhluk boleh melihat dan mengenal siapa Tuhan, Allah yang maha pengasih dan maha adil. Tapi apa yang dilakukan umat Tuhan justru kebalikannya. Mereka gagal memancarkan terang kemuliaan Tuhan itu. Umat Tuhan justru melakukan berbagai bentuk kejahatan hingga penghukuman Tuhan turun atas mereka.

Dari pemahaman konteks di atas, mari kita lihat apa yang Tuhan kerjakan bagi umat-Nya melalui eksposisi Yesaya 11:1 sebagaimana tema dari artikel ini.
 
  1. Penderitaan umat Tuhan terjadi begitu hebatnya yang digambarkan seperti pohon perkasa dari garis keturunan Isai yang ditebang hingga tersisa tunggulnya. Istilah “tunggul” merupakan sisa terkecil dari bagian pohon yang setelah ditebang yang sedang menunggu kematian pohon tersebut. Demikian umat Tuhan digambarkan seperti tunggul ini yang ingin melukiskan betapa keadaan umat Tuhan yang begitu menderita di tengah masa kekelaman itu. Kontras sekali bukan dengan keadaan perayaan Natal di zaman sekarang yang penuh dengan kesenangan dan kenikmatan duniawi? Tetapi Allah yang mengasihi umat-Nya yang selalu mengingat perjanjian-Nya tidak tinggal diam. Meski Tuhan melakukan penghakiman kepada para pemimpin Israel, tapi Ia juga secara aktif menumbuhkan suatu tunas baru dari sebuah tunggul yang sepertinya sudah tidak berpengharapan itu. Tuhan akan membuat tunas ini bertumbuh dan berbuah.
     
  2. “Tunas” itu menunjuk kepada nubuatan akan kelahiran Yesus. Nubuat yang akan terjadi dalam sejarah kira-kira 600-700 tahun kemudian. Kelahiran Yesus digambarkan Alkitab begitu rendah dan hina. Bagaimana mungkin calon raja lahir dari anak tukang kayu yang miskin? Sebagaimana tunggul yang tinggal sisa karena sudah terpotong dan dianggap sudah mati dan tidak ada harapan, demikian halnya dengan kelahiran Yesus. Dia lahir di kandang yang begitu hina dan rendah. Bagaimana mungkin seorang Raja, sang Mesias, lahir dalam keadaan demikian? Tak hanya itu, Yesus juga akan mati di atas kayu salib demi menanggung dosa umat-Nya. Sebuah kematian yang sangat memalukan dan sangat hina. Tetapi lihatlah apa yang dikerjakan Tuhan Allah. Kelahiran yang hina itu telah membuat Raja Herodes begitu marah. Ia memerintahkan untuk membunuh semua bayi yang berumur di bawah 2 tahun.
     
    Pelayanan Yesus di dunia yang hanya sekitar 3 tahun lebih itu telah memimpin umat-Nya kembali kepada Tuhan Allah, khususnya kedua belas murid-Nya yang meneruskan pelayanan-Nya. Setelah kematian Yesus, pada hari yang ketiga Dia bangkit mengalahkan kuasa maut. Kemudian Dia naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Dan Allah mengirimkan Roh Penghibur bagi umat-Nya. Jadi dari tunggul yang tidak ada harapan dan hina itu, Tuhan buat tunas yang tumbuh sehingga taruk/cabang akan keluar dan tumbuh hingga berbuah, menjadi tunas yang mulia.
     
  3. Tunggul Isai. Mengapa di bagian Firman ini menggunakan nama Isai bukan nama Daud. Bukankah nama Raja Daud begitu besar di Israel. Daud adalah Raja yang dipilih Tuhan Allah yang telah mengalahkan musuh-musuh Israel. Nama Isai yang tercatat di Yesaya 11:1 ini bukan sekadar menunjukkan bahwa Isai adalah bapak dari Daud, tapi hal ini ingin mengingatkan umat Tuhan mengenai apa yang Tuhan kerjakan bagi umat-Nya sejak dari permulaannya. Keluarga Isai adalah keluarga petani yang sederhana (1 Sam. 18:18). Keluarga Isai bukanlah keluarga dari keturunan kerajaan atau bangsawan. Namun Tuhan justru memerintahkan Samuel untuk memilih Raja dari keluarga Isai (1 Sam. 16:1-13). Dari ketujuh anak Isai yang menurut pemandangan manusia layak menjadi raja, tak ada satu pun yang Tuhan pilih. Tapi justru si bungsu Daud lah yang mendapat perkenan Tuhan untuk menjadi Raja Israel dan Tuhan berjanji untuk menyertainya, mengalahkan musuh-musuh Israel, dan membuat besar nama Daud (2 Sam. 7:8-10). Dari keluarga Isai, keluarga petani sederhana inilah kelak akan muncul suatu Tunas yang akan menjadi Raja dan Mesias yang mulia itu untuk membebaskan umat-Nya dari belenggu dosa.
 
Penutup.
 
Natal yang kita rayakan setiap tahunnya disepanjang hidup kita, kiranya bukan sekadar perayaan rutinitas belaka yang membuat mata rohani kita tertutup dengan gemerlapnya perayaan Natal yang dunia tawarkan. Fokus kita tidak pada makna Natal yang sesungguhnya sehingga makin lama kita tidak mengetahui lagi apa yang Tuhan maksudkan dan apa yang seharusnya kita kerjakan di dalam hidup kita.

Melalui bagian firman Tuhan ini, kita hendaknya melihat Natal sebagai momen untuk merefleksikan diri kita untuk dengan jernih melihat apa yang sudah Tuhan kerjakan bagi kita, umat-Nya, di tengah sejarah dunia yang masih berjalan ini. Terlebih dengan apa yang sudah Tuhan Yesus kerjakan selama pelayanan di dunia ini terutama ketika Dia menjalankan puncak dari misinya untuk mati di kayu sa,ib demi menanggung dosa kita, umat-Nya, sehingga kita terbebas dari belenggu dan jajahan kerajaan setan. Dosa sudah tidak berkuasa lagi karena kita sekarang milik Tuhan karena Tuhanlah yang mengerjakan itu semuanya. Sudah seharusnyalah kita mengambil bagian di dalam tugas-tugas pekerjaan yang Tuhan percayakan kepada kita selama kita hidup di dunia ini sehingga kita membawa terang dan damai kepada banyak orang dari segala bangsa. Kiranya melalui kita lah banyak orang menjadi mengenal Tuhan dan kembali percaya kepadaNya. Ini lah peranan kita sebagai umat Tuhan yang adalah peran yang sangat penting dan yang pada akhirnya Nama Tuhan lah yang dipermuliakan. Dalam merayakan Natal kita harus merenungkan dan mengikuti dari Teladan yang Yesus telah berikan, yaitu selalu mengerjakan apa yang menjadi kehendak dan rencana Allah Bapa selama Yesus hidup di dunia ini.
 
Selamat hari Natal 2017 dan menyambut Tahun Baru 2018.
[ Ranto ]