"TOHU & WA BOHU"
 
(Kejadian 1:1-3 & Yesaya 40:27-28)
_oOo_
 
Kejadian 1:1-3
“ Pada mulanya...” / “In the beginning...”
 
Kata “Pada mulanya” atau “Bere’shith” merupakan kata pertama di dalam Torah (Hukum Musa). Kata ini di dalam Kejadian 1:1 harus dilihat sebagai bagian dari kalimat yang berdiri sendiri (Independent Clause), bukan sebagai kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri (Dependent Clause). Penjelasannya sebagai berikut:

Sebagai Dependent Clause, kata “permulaan” atau “bere’shith” pada Kejadian 1:1 harus dipahami sebagai kata benda “construct” atau sebagai anak kalimat. Dengan demikian, kalimat “Pada mulanya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, bumi belum berbentuk dan kosong” memiliki pengertian bahwa sebelum Allah menciptakan segala sesuatu (pasal 1), sudah ada bentuk ciptaan lain tanpa diketahui penyebabnya (ayat 2), yaitu bumi yang belum berbentuk dan kosong. Sedangkan sebagai Independent Clause, kata “permulaan” atau “bere’shith” pada Kejadian 1:1 dipahami sebagai kata benda dalam bentuk absolut (bandingkan Yesaya 46:10), yang menyatakan “absolute creation of God,” yaitu bahwa asal usul alam semesta dan isinya ini berasal dari Allah. Bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu dan tidak ada satupun di dunia ini yang tidak berasal dari Dia.

Dari kedua perspektif pemahaman ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kata “bere’shith” yang dipakai bukanlah permulaan di dalam kekekalan melainkan permulaan dari penciptaan langit dan bumi. Dengan demikian kata “bere’shith” bukan mengatakan pernah ada sesuatu pada suatu masa di mana Allah belum ciptakan, melainkan untuk menegaskan bahwa inisiatif penciptaan itu berasal dari Allah, bukan dari sesuatu kekuatan lain di luar Allah. Maka disini penulis lebih menyutujui pemahaman Independent Clause karena kita mengerti bahwa langit dan bumi memiliki sebuah permulaan dan permulaan ini terjadi ketika Allah menciptakan langit dan bumi (bandingkan dengan Yesaya 40:21). Keberadaan langit dan bumi bukanlah dari kekekalan melainkan memiliki permulaan yang diciptakan oleh Allah. Tidak ada sesuatupun di dalam susunan alam semesta ini baik di dalam materi maupun bentuk memiliki suatu keberadaan di luar Tuhan sebelum Allah mencipta di dalam permulaan. Hanya Allah sebagai pribadi yang tidak memiliki permulaan dan akhir, karena Ia adalah kekal adanya. (Yesaya 40:28).
 
“Bumi belum berbentuk dan kosong...”
 
Kata “bumi” menjadi atensi dari penulis karena ini berkenaan dengan bumi di mana kita tinggal, bumi di mana Adam dan Hawa serta keturunannya, yaitu kita telah jatuh dalam dosa. Bumi di mana Tuhan Allah menyatakan dan menggenapkan janji-Nya kepada umat-Nya. Pada akhirnya Tuhan Allah menyatakan keselamatan kepada umat-Nya di dalam sejarah dunia ini melalui Kristus Tuhan yang datang ke dalam dunia/bumi yang diciptakan-Nya untuk mati dan bangkit demi keselamatan kita.

Pada ayat 2 dikatakan bumi “belum berbentuk” (formless/ Tohu) dan “kosong” (empty/wa Bohu). Bagi penulis kedua kata ini bukan menuju kepada suatu gambaran dari kekosongan yang kacau balau di mana banyak penafsir memahaminya sebagai chaos, yaitu suatu keadaan kacau, tidak teratur, dan diluar kendali, dan bukan pula akibat judgment atau penghakiman Tuhan atas bumi ini. Bagi penulis pengertian chaos di sini hanya mengindikasikan tahap pertama di dalam pembentukan bumi yang belum dapat didiami. Semua tertata dengan baik dan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki untuk menjadi apa yang diinginkan, namun hanya saja bumi masih belum dapat didiami.

Kata “belum berbentuk” atau “formless” dan “kosong” atau “empty” di dalam Kejadian 1:2 dipakai kata “Tohu” dan “wa Bohu”. Kata “Tohu” dan “wa Bohu” selalu dipakai bersama-sama seperti di dalam Yesaya 34:11 dan Yeremia 4:23, namun “Tohu” sering juga dipakai di dalam Perjanjian Lama tanpa diikuti kata “wa Bohu” (Yesaya 40:17, 23).

Tohu diartikan sebagai formlessness, emptiness, chaos, meaningless, nothing, waste. Berikut beberapa pengertian dari Tohu dan Bohu.
 
  1. Tohu = Formless tidak berarti bahwa bumi tidak ada bentuknya, dalam hal ini bumi tidak memiliki ruang (space);
     
  2. Tohu = Formless tidak berarti bumi dikatakan sebagai “chaos” yaitu keadaan yang kacau, tidak beratur dan di luar kendali;
     
  3. Tohu = Formless tidak berarti bumi yang dahulu diciptakan telah dirusak oleh karena dosa yang diakibatkan oleh malaikat yang jatuh (Iblis);
     
  4. Tohu = Formless/Chaos bukan kondisi bumi yang dihasilkan setelah Allah menghakimi yang mana sebelumnya diciptakan baik;
     
  5. Tohu = Formless berarti bumi belum ada di dalam bentuk finalnya. Di dalam konteks penciptaan penafsiran yang terbaik kata “Tohu” di dalam Kejadian 1:2 ada di dalam Yesaya 45:18. Yesaya 45:18 menyingkapkan bahwa tujuan Allah menciptakan dunia ini bukan menjadi tempat yang tidak dapat didiami “Tohu” melainkan tanah yang dapat dihuni. Allah tidak menciptakan dunia ini menjadi sesuatu yang tidak ada “nothing” melainkan sebagai sebuah tanah yang dapat dihuni dan memberikan kehidupan;
     
  6. Bumi yang dikatakan “Tohu” ini adalah bumi yang belum dapat didiami, sebagaimana bumi belum memiliki kepenuhan di dalam maksud dan tujuan Allah menciptakan bumi ini. Ini adalah bumi yang diciptakan dalam keadaan yang belum dapat dihuni sampai pada hari ke-6 maka bumi dapat didiami oleh manusia dan segala mahluk hidup;
     
  7. Bohu = Emptiness hanya muncul tiga kali di dalam Alkitab, yaitu Kejadian 1:2, Yesaya 34:11 dan Yeremia 4:23. Kemunculannya selalu disertai dengan kata “Tohu”;
     
  8. Yeremia 4:23-26 suatu gambaran penghakiman Tuhan atas Israel melalui pembuangan ke negeri Babel. Ketika Israel tidak taat kepada Tuhan Allah, maka tanah itu menjadi campur baur, tanah yang tandus, tanah yang tidak dapat didiami “Tohu” dan kosong, tidak ada manusia dan bahkan binatangpun (burung-burung di udara sudah pergi) “Bohu”;
     
  9. Maka bumi dikatakan di dalam Kejadian 1:2 “Tohu” dan “Bohu” adalah sesuatu yang belum berbentuk dan tidak dapat dihuni, bukanlah sesuatu keadaan yang chaos atau kacau balau.
 
Meskipun fakta bahwa bumi belum berbentuk dan kosong “Tohu” dan “wa Bohu” (belum dapat didiami) dan kegelapan memenuhi samudera raya sehingga manusia tidak dapat mendiaminya, tetapi semuanya itu tidak akan dihancurkan karena keadaan itu tetap di dalam ketetapan dan kontrol Allah seperti apa yang digambarkan dengan Roh Allah yang melayang-melayang di atas permukaan air (bandingkan dengan Ulangan 32:11).

Maka sekarang bumi yang belum berbentuk “tohu” dan kosong “bohu,” dibentuk dan diisi.
 
 
Tohu is formed
Day
Bohu is filled
Day
 
1.
2.
3.
Light (1:3-5)
Firmament, Sea and Sky (1:6-8)
Dry Land (1:9-10)
4.
5.
6.
Lights (1:14-19)
Inhabitants, Birds and Fish (1:20-23)
Land, animals (1:24-25), Vegetation (1:11-13),
       
Human Beings (1:26-31).
 
Melalui peristiwa penciptaan di dalam Kejadian 1 ini kita melihat bagaimana penciptaan tidak hanya menceritakan kisah Allah dan dunia ini, tetapi juga kisah kita. Kisah kita yang merupakan bagian dari realita ciptaan Allah adalah sesuatu yang pasti, bukan realita yang terjadi secara kebetulan dan acak karena adanya fakta penciptaan, bahwa Allah sendiri pada mulanya menciptakan langit dan bumi.

Allah membentuk (formed) dunia ini dari tidak berbentuk (tohu) dan mengisi (filled) dunia ini dari tidak berisi (bohu) dengan realitas kehidupan. Tidak ada realitas lain yang Allah ciptakan di mana pernah ada kehidupan selain di dalam bumi. Itu sebabnya seluruh realitas hidup yang kita jalani terkait dengan apa yang sudah Allah kerjakan di dalam ciptaan ini. Allah yang mencipta itu di dalam kedaulatan-Nya tetap mengawasi dan mengontrol seluruh realitas di dalam kosmik ini. Dan tidak ada satupun yang terjadi di dalam dunia ini ataupun yang terjadi di dalam hidup kita berada di luar dari apa yang sudah Allah tetapkan dan kerjakan.
 
Hidup yang terus setia dibentuk dan diisi oleh Firman-Nya
(Yesaya 40:25-28)
 
Israel dulu ataupun kita sekarang ini perlu mengakui dan percaya akan adanya fakta penciptaan. Ketika Israel ataupun kita tidak mengakui dan mengingat fakta itu, maka sesungguhnya kita sedang melupakan tangan Tuhan Allah yang sudah membentuk bumi ini dan mengisinya dengan keindahan. Kemudian muncul satu persoalan, yaitu ketika Israel yang ada di dalam pembuangan tidak lagi bisa melihat Tuhan Allah yang mencipta dunia ini, maka mereka sudah gagal untuk memiliki respon yang benar kepada Dia sebagai pencipta. Ketika mereka ada di dalam pembuangan, persoalan yang dihadapi bukan masalah “pluralisme,” bagaimana mereka hidup di tengah bangsa-bangsa lain. Persoalan mereka adalah adanya ilah-ilah lain khususnya dewa Marduk yang ada di tengah kerajaan Babel yang seolah-olah memberikan pengharapan bagi mereka, karena mereka berpikir bahwa pembuangan yang mereka alami merupakan fakta kegagalan Allah Israel menyelamatkan dan membebaskan mereka. Inilah tantangan yang nabi Yesaya hadapi. Maka dengan pertanyaan retorika dia bertanya kepada Israel:

“Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah, dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?” (Yes. 40:18).
 
“Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus” (Yes. 40:25).
 
“Mengapa engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini hai Israel: ‘Hidupku tersembunyi dari TUHAN dan hakku tidak diperhatikan Allahku?’” (Yes. 40:27).

Di dalam konteks penciptaan yang Yesaya sampaikan pada Yesaya 40:12-31, ada sesuatu yang dikontraskan. Jikalau di dalam kisah penciptaan di Kejadian 1:1-31 Allah membentuk dunia ini dari bumi yang tidak berbentuk (formless/Tohu) kepada bumi yang berbentuk (formed) dan dari bumi yang masih kosong (emptiness/Bohu) kepada bumi yang diisi (filled), maka di dalam penciptaan versi Yesaya, Bangsa Israel di dalam pembuangan digambarkan sebagai bangsa dalam keadaan yang tidak berbentuk (formless) dan kosong (emptiness). Jika dahulu bangsa Israel dibentuk (formed) oleh Tuhan Allah (Ul. 32:6-9), yaitu ketika Tuhan Allah menemukan Israel di suatu negeri, di padang belantara (“Tohu wa Bohu”), maka sekarang mereka ada di dalam keadaan yang “formless” dan “emptiness” sebagai umat Allah tatkala diperhadapkan pada krisis identitas sebagai bangsa dan ketiadaan iman sebagai bangsa yang percaya kepada janji Tuhan Allah.

Mungkinkah perjanjian Allah dengan umat-Nya sudah dihancurkan atau digagalkan oleh bangsa lain? Ataukah Tuhan Allah sudah dikalahkan oleh dewa-dewa Babel khususnya Marduk (kepala dewa-dewa Babel) hingga seakan-akan Dia tidak lagi mampu membebaskan umat-Nya? Mereka yang ada di dalam pembuangan tentunya memerlukan kata-kata penguatan dan penghiburan yang mampu memberi pengharapan kepada mereka. Kata-kata yang mengingatkan akan siapa mereka dan berkenaan dengan nasib mereka.

Melalui kisah penciptaan yang Yesaya bukakan (Yesaya 40:17-31) menjadi suatu kabar baik bagi Israel. Kabar baik tentang Tuhan Allah yang mencipta, yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya.

Melalui ciptaan (Yesaya 40:12-31), mereka boleh melihat bahwa realitas hidup yang dihadapi oleh umat Allah memiliki sumber hukum, yakni firman Allah yang melaluinya Allah menetapkan tatanan dan struktur kepada dunia yang diciptakan.

Kisah penciptaan yang Yesaya bukakan menjamin kita atau umat perjanjian-Nya, Israel, akan kesetiaan Allah kepada umat perjanjian-Nya. Hal ini dinyatakan dalam hubungan Allah dengan siang dan malam, langit dan bumi, adalah sebagai sebuah perjanjian. Dan perjanjian ini secara tegas dihubungkan dengan peraturan-peraturan baku yang telah ditetapkan dan ditegakkan oleh Allah atas ciptaan (Yesaya 40:26).
 
Penutup
 
Melihat kepada Tuhan Allah yang mencipta dunia ini maka ini meneguhkan dan menjamin kita bahwa Dia akan memberikan apa yang kita butuhkan. Pertolongan kita adalah di dalam Tuhan yang menciptakan langit dan bumi (Yes. 40:28-31). Untuk itulah kita sebagai umat yang sudah percaya dan ditebus di dalam Kristus Tuhan hendaklah tetap terus setia dibentuk dan diisi oleh firman-Nya, sehingga orang Kristen di tengah dunia ini bukan menjadi umat Tuhan yang “Tohu” atau “formless” dan “wa Bohu” atau “emptiness” melainkan terus berbuah dan bertumbuh sebagai bukti bahwa hidup kita adalah hidup yang sudah diciptakan kembali sebagai ciptaan baru (“formed”) dan firman-Nya Yang Mahakudus diam di dalam kita (“filled”).

Selamat Paskah 2017. Tuhan memberkati.
[ Mulatua ]