SIAPAKAH YANG PETRUS MAKSUD DENGAN
"ROH-ROH YANG DI DALAM PENJARA" DAN "ORANG-ORANG MATI?"
 
(EKSPOSISI I PETRUS 3:19 DAN I PETRUS 4:6)
_oOo_
 
Pendahuluan
 
Apabila kita membaca surat I Petrus maka setidaknya kita akan menemukan dua ayat yang jika kita baca sekilas umumnya menimbulkan pertanyaan. I Petrus 3:19 akan memunculkan pertanyaan “Apakah yang dimaksud dengan pemberitaan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara?” Sedangkan I Petrus 4:6 akan memunculkan pertanyaan “Apakah Alkitab menginstruksikan kita untuk memberitakan Injil kepada orang-orang mati?” Tulisan ini mengajak kita untuk memikirkan kedua pertanyaan tersebut di dalam hubungannya dengan kitab yang ditulis oleh rasul Petrus ini berdasarkan pemikiran bapa gereja kita, John Calvin dan penjelasan Alkitab NIV Spirit of the Reformation Study Bible.
 
Latar belakang kitab I Petrus
 
Kitab I Petrus merupakan surat penggembalaan jemaat yang oleh para sarjana alkitab diyakini ditulis oleh rasul Petrus pada masa antara tahun 60M hingga 68M. Tahun terakhir penulisan surat ini dipastikan 68M oleh karena sang rasul mati secara martir pada masa kaisar Nero berkuasa (54-68M). Kitab I Petrus merupakan surat penggembalaan singkat yang ditujukan kepada orang-orang Kristen yang tersebar di berbagai tempat yang jauh seperti Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia dan Bitinia (I Petrus 1:1). Ia bersentuhan dengan doktrin-doktrin Kristen serta berbicara banyak tentang kehidupan serta tugas-tugas orang Kristen di dalam dunia. Surat ini menguatkan dan menghibur orang-orang Kristen pada masa dunia Roma menganiaya mereka agar mereka tetap berdiri teguh tanpa bergeser sedikitpun dari pengharapan mereka. Dengan demikian bagi para pembaca pertamanya (first readers) surat ini juga merupakan suatu penguatan dan penghiburan agar mereka tetap bertekun di dalam Injil yang sebelumnya telah mereka dengar dari sang rasul.
 
“Roh-roh yang di dalam penjara,” sebagaimana dimaksud I Petrus 3:19.
 
I Petrus 3:19 hadir di dalam pasal 3:13-22 sebagai penguatan kepada orang-orang Kristen yang tersebar di berbagai tempat yang jauh agar mereka bersabar dan berpengharapan di dalam penderitaan dan penindasan yang mereka alami sekalipun itu bukan oleh karena dosa-dosa mereka. “Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar” (ayat 14). Itu sebab rasul mengingatkan mereka agar tetap berdiri teguh. “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah di segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (ayat 15). Tujuannya adalah supaya orang-orang fasik yang memfitnah mereka “menjadi malu oleh karena fitnahan mereka” yang sama sekali tidak berdasar itu (ayat 16). Lebih baik mereka menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat (ayat 17).

Dalam rangka penguatan dan penghiburan itulah Petrus mengingatkan mereka akan Kristus sebagai model yang sempurna pada saat mereka harus mengalami penderitaan walaupun itu sama sekali bukan oleh sebab perbuatan mereka. Petrus menyatakan keteladanan Kristus dalam menanggung penderitaan ini secara demikian: “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi telah dibangkitkan menurut Roh,” (ayat 18). Jadi dua hal di sini yang menguatkan orang-orang percaya yang sedang mengalami penganiayaan itu penting kita catat:
 
  1. Ia, yang benar itu, telah mati untuk segala dosa kita, tujuannya supaya Ia dapat membawa kita kepada Allah. Oleh karena itulah kini kita dipangil untuk mengenakan kematian Kristus agar kehidupan Kristus juga menjadi nyata di dalam tubuh kita (II Korintus 4:10).
     
  2. Ia telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi telah dibangkitkan dalam keadaan zaman yang akan datang oleh kuasa Roh Kudus. Di dalam keadaan ini pula Ia dikatakan telah pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara. “Dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara,” (ayat 19). Dalam konteks inilah kata “roh-roh yang di dalam penjara” ini hadir.
 
Jadi sampai di sini kita melihat bahwa “roh-roh yang di dalam penjara” hadir dalam konteks penguatan dan penghiburan kepada orang-orang percaya yang tertindas dengan memandang kepada Kristus sebagai model yang sempurna.
 
Tiga tafsiran umum atas “roh-roh yang di dalam penjara” menurut NIV Study Bible
 
Alkitab NIV Study Bible menginformasikan mengenai adanya tiga tafsiran umum atas siapa yang dimaksud dengan “roh-roh yang di dalam penjara” ini, yaitu:
 
  1. Roh-roh orang fasik yang hidup sezaman dengan Nuh yang menjadi tujuan pemberitaan Injil pada tahap prainkarnasi (preincarnate state) Kristus ke dalam dunia ini. Pada tahap prainkarnasi itu Kristus datang dan berkhotbah kepada mereka yang hidup pada masa Nuh membangun bahtera. Kelemahan penafsiran ini, sebagaimana diakui oleh NIV Study Bible, adalah tidak mengaitkan pemberitaan Injil pada masa Nuh ini dengan peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus, hal yang seharusnya diperhatikan oleh karena justru itulah tujuan Petrus menulis surat penghiburan ini.
     
  2. Malaikat-malaikat yang telah memberontak kepada Allah dan dikurung oleh Allah di dalam penjara, yang didatangi oleh Kristus pada masa antara kematian dan kebangkitan-Nya. Malaikat-malaikat pemberontak yang sedang dikurung ini dikatakan telah meninggalkan keadaan mereka yang seharusnya dengan cara menikahi manusia-manusia wanita pada zaman Nuh. Kepada malaikat-malaikat dimaksud itulah, dikatakan oleh penafsiran kedua ini, Kristus telah datang berkhotbah kepada mereka. Penafsiran ini mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “anak-anak Allah” pada Kejadian 6 ayat 2 dan 4 adalah malaikat-malaikat yang telah memberontak kepada Allah ini yang telah menikahi manusia-manusia wanita pada zaman Nuh. Jadi menurut penafsiran ini yang dimaksud dengan “roh-roh yang di dalam penjara ini” adalah malaikat-malaikat pemberontak yang dipermalukan oleh berita kemenangan Kristus sebagaimana Kristus proklamasikan sendiri kepada mereka. Kelemahan penafsiran ini, sebagaimana juga diakui oleh NIV Study Bible, adalah mengakui adanya hubungan seksual antara malaikat dan manusia wanita. Hubungan badaniah seperti ini tentu mustahil oleh karena malaikat bersifat roh adanya.
     
  3. Roh-roh orang fasik zaman Nuh yang pada masa antara kematian dan kebangkitan Kristus telah didatangi sendiri oleh Kristus agar mereka mendengar Injil-Nya dan dengan demikian dihakimi. NIV Study Bible juga mengakui adanya kesulitan dalam mendefinisikan “roh-roh” siapakah sesungguhnya yang dimaksud Petrus berada “di dalam penjara” ini.
 
Ketiga tafsiran umum ini tidak memberikan penjelasan yang utuh. Bagaimana jalan keluarnya?
 
Tafsiran Calvin mengenai “roh-roh yang di dalam penjara”
 
Sebelum masuk ke dalam pemikiran Calvin mengenai hal ini ia menjelaskan dua kerangka pikir umum yang keliru atas kata “di dalam Roh” pada ayat 19 itu, yang mengatakan bahwa:
 
  1. Bagian ini berbicara mengenai datangnya jiwa Kristus ke dalam dunia orang mati untuk berkhotbah kepada mereka.
     
    Menurut Calvin hal ini adalah keliru karena bagian ini sama sekali tidak memaksudkan demikian. Bagian ini berbicara tentang Roh Kudus yang oleh kuasanya Kristus telah berkhotbah.
     
  2. Bagian ini memaksudkan bahwa Kristus, melalui pelayanan para rasul, telah menampakkan diri kepada orang-orang mati yang dalam hal ini adalah ‘orang bukan percaya’ (unbelievers).
     
    Menurut Calvin hal ini juga keliru. Alasannya adalah: pertama, di sini Petrus mengatakan bahwa Kristus sendiri, bukan melalui para pengantara dan utusan-Nya, pergi memberitakan Injil-Nya kepada roh-roh orang dimaksud sewaktu mereka masih hidup; kedua, apa yang Petrus maksudkan di dalam pasal keempat mengenai subyek yang sama tidak sejalan dengan kerangka pikir ini.
 
Kedua kerangka pikir umum ini tidak memberikan penjelasan yang utuh. Oleh karena itu, mengenai roh-roh siapakah yang dikatakan berada “di dalam penjara” ini, Calvin mengatakan:
 
 
I therefore have no doubt but Peter speaks generally, that the manifestation of Christ’s grace was made to godly spirits, and that they were thus endued with the vital power of the Spirit. / Oleh karena itu saya tidak ragu lagi selain dari menerima bahwa secara umum di sini Petrus berbicara mengenai wujud nyata anugerah Kristus yang tampak bagi roh-roh orang percaya, dan bahwa mereka kemudian dipenuhi dengan kuasa menghidupkan yang ada pada Roh itu. (John Calvin, “Commentaries on the First Epistle of Peter”, The Calvin Translation Society, p.114)
 
 
Jadi di sini Calvin menegaskan sikapnya bahwa apa yang Petrus maksudkan pada ayat ini dengan “roh-roh yang di dalam penjara” adalah roh-roh orang percaya (the godly) yang pada waktu mereka hidup mereka telah menerima Injil; pada waktu mereka meninggal dan roh-roh mereka meninggalkan tubuh badaniahnya Kristus datang menghibur dengan proklamasi kemenangan-Nya atas maut. Namun kini kita dihadapkan pada pertanyaan yang sulit; apabila kata “roh-roh” tersebut memang menunjuk pada roh-roh orang percaya, mengapa dikatakan oleh Petrus bahwa roh-roh yang telah meninggalkan tubuh orang percaya tersebut berada “di dalam penjara”? Mari kita perhatikan analisa Calvin mengapa “roh-roh orang percaya” tersebut dikatakan berada “di dalam penjara”:
 
 
... for, as while they lived, the Law, according to Paul, (Gal. 3:23), was a sort of prison in which they were kept; so after death they must have felt the same desire for Christ; for the spirit of liberty had not as yet been fully given. Hence this anxiety of expectation was to them a kind of prison. / … karena, ketika mereka masih hidup, Taurat, menurut Paulus, (Gal. 3:23), juga bagaikan suatu penjara yang di dalamnya mereka dijaga; sedemikian rupa hingga setelah mereka mati mereka tetap merasakan hasrat yang sama akan Kristus; sebab roh kemerdekaan itu belum sepenuhnya diberikan kepada mereka. Oleh karena itu penantian seperti ini bagi mereka memang bagaikan suatu penjara. (John Calvin, “Commentaries on the First Epistle of Peter,” The Calvin Translation Society, p.114)
 
 
Calvin menjelaskan lebih jauh, baginya penjara memaksudkan suatu kurungan yang di dalamnya seorang pengawas berdiri di atas suatu menara mengamati segala sesuatu yang terjadi. Bukankah memang jiwa-jiwa orang percaya sedang terus menantikan pengharapan akan keselamatan yang telah dijanjikan kepada mereka sekalipun saat ini mereka hanya melihatnya dari kejauhan saja?

Dengan demikian penting kita simpulkan di sini:
 
  1. Disebutkannya kuasa Roh, oleh Petrus, di sini mengingatkan orang-orang percaya yang masih hidup mengenai kuasa yang telah menghidupkan Kristus dan juga kita, orang-orang percaya.
     
  2. Roh-roh orang percaya setelah meninggalkan tubuh jasmani mereka itu tetap terjaga dan terpelihara sedemikian rupa di dalam penantian mereka akan penebusan akhir yang sempurna kelak.
 
Ayat 20 mendeskripsikan lebih jauh apa yang Petrus maksud dengan “roh-roh yang di dalam penjara” itu, yaitu “roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.” Deskripsi Petrus atas ayat 19 ini memunculkan suatu kesulitan. Apabila “roh-roh yang di dalam penjara” itu menunjuk kepada roh-roh orang percaya yang sedang menantikan datangnya pengharapan akan penebusan yang penuh itu mengapa di sini Petrus hanya menyebutkan ‘roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah’ (the unbelieving)? Calvin menjelaskan bahwa dengan hanya menyebutkan ’roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah’ di sini Petrus memaksudkan bahwa jumlah anak-anak Tuhan yang sejati, yang diwakili oleh Nuh dan anggota keluarganya, adalah demikian sedikit adanya; sehingga pada waktu mereka masih hidup mereka tercampur dengan orang tidak percaya yang jumlahnya sangat besar itu, bahkan hampir tersembunyi dan tidak terlihat oleh karena sedemikian banyaknya jumlah orang tidak percaya itu.

Demikian pula para pendengar berita Injil rasul Petrus yang telah menjadi orang percaya itu; jumlah mereka adalah begitu sedikit adanya sebagaimana halnya jumlah Nuh dan anggota keluarganya dahulu. Mereka melihat bagaimana bumi ini dipenuhi oleh demikian besarnya jumlah orang tidak percaya yang menikmati segala kuasa sehingga kehidupan ini seakan-akan ada di tangan mereka. Penderitaan yang Nuh lalui dahulu pada saat itu secara logis mungkin saja dapat menggoncang imannya. Demikian pula halnya orang-orang Kristen yang kepada mereka rasul Petrus sedang berbicara ini, oleh sebab berbagai-bagai pencobaan, mereka bisa saja bergeser dari pengharapan yang ada pada mereka. Jadi ayat 20 ini merupakan peringatan yang Petrus sampaikan kepada pembaca pertama suratnya ini bahwa situasi yang mereka hadapi pada dasarnya tidak berbeda dengan apa yang para pendahulu mereka, dalam hal ini Nuh dan anggota keluarganya, telah alami dan lalui.

Perhatikan kesimpulan Calvin mengenai ayat 20 ini:
 
 
The sum of what is said is this, that the world has always been full of unbelievers, but that the godly ought not to be terrified by their vast number; for though Noah was surrounded on every side by the ungodly, and had very few as his friends, he was not yet drawn aside from the right course of his faith. / Apa yang mau dikatakan adalah, bahwa bumi akan selalu penuh dengan orang tidak percaya, tetapi orang percaya tetap tidak boleh gentar terhadap jumlah orang fasik yang besar itu; karena sekalipun dahulu Nuh dikelillingi oleh orang-orang tidak percaya, dan hanya sedikit yang bersama-sama dengannya, tidak sedikitpun ia bergeser dari imannya. (John Calvin, “Commentaries on the First Epistle of Peter,” The Calvin Translation Society, p.115)
 
 
Jadi “roh-roh yang di dalam penjara” di sini merupakan roh-roh dari orang percaya yang pada waktu mereka hidup jumlah mereka sedemikian kecil adanya, bagaikan jumlah Nuh dan anggota keluarganya yang pada waktu Nuh membuat bahtera menaruh pengharapan akan keselamatan mereka dari air bah kepada Allah melalui bahtera itu. Calvin mengatakan juga bahwa “orang-orang mati” yang kepada mereka Injil telah diberitakan itu, sebagaimana kita akan lihat pada pasal berikutnya (maksudnya pasal 4 ayat 6), menunjuk kepada orang-orang percaya yang jumlahnya sedikit itu. Demikianlah akan selalu berlangsung di sepanjang sejarah. Jumlah orang tidak percaya adalah selalu sedemikian besarnya, sedangkan jumlah orang percaya adalah selalu sedemikian kecilnya. Tidak heran apabila hal itu akan selalu merupakan penderitaan bagi orang-orang percaya. Kini, pada masa intermediate state, Kristus menghibur mereka dengan proklamasi kemenangan-Nya atas maut.
 
“Orang-orang mati” (sebagaimana dimaksud I Petrus 4:6).
 
I Petrus 4:6 hadir di dalam pasal 4 sebagai penghiburan bagi orang Kristen yang telah menderita bagi Kristus supaya mereka tetap hidup demi kehormatan Allah. “Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah”. Siapakah yang Petrus maksud dengan “orang-orang mati” di sini? Ketika Petrus menulis surat penghiburan ini (60M sampai 68M) sudah banyak dari orang-orang yang dahulu telah mendengar Injil yang ia beritakan itu meninggal. Dengan kata lain sudah banyak orang yang ketika Petrus berkhotbah masih hidup dan telah menjadi orang percaya, akan tetapi pada saat Petrus menuliskan surat penghiburan ini mereka telah meninggal. Mereka itulah yang sesungguhnya rasul Petrus maksudkan dengan “orang-orang mati” yang kepada mereka Injil telah diberitakan. NIV Spirit of the Reformation Study Bible menerangkan demikian:
 
 
The people in question had been members of the Christian communities to which Peter wrote; they had been alive at the time of the preaching but had died by the time Peter wrote this epistle. / Orang-orang mati yang dimaksud di sini merupakan anggota jemaat yang kepada mereka Petrus menuliskan surat ini; mereka hidup pada saat Petrus berkhotbah tetapi telah mati pada saat Petrus menulis surat ini. (NIV, “Spirit of the Reformation Study Bible,” Zondervan, Michigan, 2003, p.2022)
 
 
Calvin mengatakan:
 
 
… that though the condition of the dead in the flesh is worse, according to man, yet it is enough that the Spirit of Christ revives them, and will eventually lead them to the perfection of life. / …. bahwa sekalipun kondisi orang yang mati di dalam jasmani adalah buruk, menurut pandangan manusia, Roh Kristus tetap berkuasa untuk menghidupkan ulang mereka, dan akhirnya membawa mereka kepada kesempurnaan. (John Calvin, “Commentaries on the First Epistle of Peter,” The Calvin Translation Society, p.126)
 
 
Pada ayat ini Petrus mengetengahkan manfaat Injil diberitakan kepada orang-orang percaya pada waktu mereka masih hidup. Penjelasannya adalah demikian: di dalam kematian dan kebangkitan-Nya Kristus memang telah menang atas maut (Roma 6:9), akan tetapi kemenangan itu belum termanifestasi sepenuhnya di dalam kehidupan orang percaya dan oleh karena itu mereka tetap masih harus menghadapi kematian badaniah (physical death). Injil yang telah mereka dengar dan terima itu akan membarui mereka dan kemudian menyatukan mereka dengan Kristus (union with Christ). Jadi apabila kelak mereka meninggal dunia Injil yang telah mereka dengar dan terima itu akan menjadi jaminan keselamatan penuh bagi mereka. Berbahagialah mereka yang telah mati tetapi tetap hidup oleh Injil.
 
Kesimpulan
 
Dari penelaahan di atas disimpulkan sebagai berikut:
 
  1. Kesamaan dari kedua ayat tersebut adalah bahwa kedua ayat tersebut tidak mengajarkan mengenai adanya pekabaran Injil kepada arwah dari orang-orang yang sudah mati. “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,” (Ibrani 9:27). Petrus, baik di dalam bagian ini maupun bagian lainnya, sama sekali tidak memaksudkan adanya kesempatan bagi manusia untuk diinjili dan diselamatkan apabila ia sudah mati.
     
  2. Perbedaan kedua ayat tersebut adalah bahwa: Pemberitaan “Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara” menegaskan apa yang Kristus telah kerjakan yaitu berkhotbah sendiri memproklamasikan kemenangan-Nya atas maut kepada roh-roh orang percaya yang telah mati, dengan kata lain pada masa intermediate state, sebagai penghiburan bagi mereka. Ketika mereka masih hidup jumlah mereka hanya sedikit dibandingkan jumlah orang fasik yang besar itu. Kini sekalipun tubuh jasmaniah mereka telah mati jiwa mereka beroleh jaminan keamanan kekal.
     
    Pemberitaan injil ”kepada orang-orang mati” menegaskan manfaat yang diterima orang percaya apabila pada waktu mereka hidup mereka telah menerima Injil dan hidup yang kekal sehingga kelak, apabila mereka telah mati secara badaniah, mereka tetap memiliki hidup kekal bersama Allah; penderitaan badaniah yang mereka alami akibat penganiayaan luas dunia yang berdosa ini sekali-kali tidak akan menghilangkan keselamatan yang telah mereka terima semasa hidup mereka.
 
Penutup
 
Kita melihat bahwa hari demi hari di dalam dunia yang semakin moderen ini jumlah orang fasik semakin besar. Seiring dengan semakin besarnya jumlah mereka semakin besar pula dampak dosa dan dengan demikian semakin besar pula penderitaan yang harus kita jalani sebagai orang percaya. Akan tetapi kita harus menyadari bahwa pemeliharaan Tuhan atas kita, anak-anak-Nya, pasti cukup. Oleh karena itu bagian kita adalah tetap setia bekerja mengerjakan tugas pelayanan kita masing-masing. Persekutuan Studi Reformed merupakan salah satu wadah di dalam mana sebagai orang percaya kita selalu dikuatkan menghidupi apa yang Kristus telah kerjakan bagi kita yaitu menderita sekalipun itu bukan karena dosa-Nya. Di dalam wadah ini begitu banyak pekerjaan Tuhan yang besar. Mari kita rebut momentum kita masing-masing.
 
Selamat Paskah 2017, Tuhan memberkati.
[ Jessy Victor ]