Metanarasi dan “Kisah” Kita
_oOo_
 
Pengantar
 
Film drama-komedi Hollywood Forrest Gump, yang dibintangi oleh aktor Tom Hanks, ditutup dengan perkataan monolog Forrest: “Hidup ini bagaikan sekotak coklat,” diikuti dengan terhempasnya sehelai bulu dari dekat kaki Forrest menuju entah ke mana. Film arahan sutradara besar Robert Zemeckis ini pada akhirnya mengatakan kepada kita bahwa kehidupan ini tidak bermula dari dan juga tidak berujung pada suatu titik tertentu. Klu pada poster resmi film ini The world will never be the same once you’ve seen it through the eyes of Forrest Gump, membukakan hal itu. Kebesaran Amerika adalah fiksi belaka apabila kita melihat veteran perang Vietnam yang kehilangan kakinya. Lalu, apa hubungan antara peristiwa demi peristiwa dalam hidup Forrest? Adakah suatu “desain besar” di balik segala peristiwa yang mungkin manusia alami ini? Ke manakah segala sesuatunya ini mengarah? Era di mana sejarah dipahami sebagai “cerita besar” (metanarrative) telah berlalu. Selamat datang era posmoderen (postmodern). Kini kita memasuki era di mana kehidupan ini dipahami sebagai kumpulan berbagai “kisah” (story). Sebagaimana Forrest Gump adalah kisah Forrest, demikian pula setiap kita menjalani kisah kita masing-masing.
 
Lalu, bagaimana sebagai orang Kristen kita memandang hidup kita? Kita hidup pada era di mana hidup ini telah sedemikian penatnya. Oleh karena itu mari kita memahami kenyataan hidup ini dengan menjawab pertanyan-pertanyaan mendasar berikut ini: siapakah kita?, di manakah kita sesungguhnya berada?, adakah kita menyadari adanya sesuatu yang tidak beres, seperti dosa, penderitaan, penindasan dan kesesakan di dalam dunia ini? Pada musim Natal tahun 2018 ini penulis mengajak kita merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini berdasarkan catatan Lukas, satu-satunya penulis Injil yang mengaitkan narasi Injil dengan tanggal-tanggal penting dalam sejarah dunia, tentang peristiwa kelahiran Kristus.
 
Pendahuluan
 
Lukas mencatat “Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria” (Lukas 2:1-2). Sering kita melihat bagian ini hanya sebagai latar belakang dan keterangan waktu sehubungan dengan peristiwa kelahiran Kristus. Mari kita lihat apa yang Lukas hendak sampaikan lebih jauh kepada pembacanya.
 
Kelahiran Kristus dan Kaisar Agustus
 
Dalam Lukas pasal 2 ayat 1 Lukas mengaitkan kisah kelahiran Kristus dengan masa keemasan dunia Roma di bawah kuasa Kaisar Gaius Oktavianus. Oleh karena itu ada baiknya kita mengamati sedikit latar belakang Roma dan penguasa dunianya yang luas ini. Tidak ada catatan yang pasti mengenai kapan sesungguhnya kerajaan Roma didirikan sehingga hal yang lazimnya dihitung sebagai awal dari kerajaan Roma adalah tahun didirikannya kota Roma pada tahun 753 SM. Roma berlangsung sebagai kerajaan (kingdom) sampai dengan tahun 509 SM, tahun dalam mana rakyat menyingkirkan rajanya, dan dengan demikian sejak waktu itu bentuk pemerintahan Roma berubah menjadi republik (republic) di mana pemerintahan dikepalai oleh dua konsul, demi memelihara pemisahan kekuasaan serta saling periksa dan menyeimbangkan (checks and balances), yang setiap tahun kandidatnya diadviskan oleh senat dan dipilih oleh warga negara. Pemerintahan Roma sebagai republik masih berlangsung hingga pada tahun 60 SM, saat mana konstitusi Roma mengatur agar kekuasaan atas wilayah negara beserta seluruh tanah jajahannya dibagi pada tiga orang, yang disebut dengan Tiga Serangkai (triumvirate), yaitu Julius Caesar, Pompeius Magnus dan Marcus Licinius Crassus. Setelah kematian Crassus pada tahun 53 SM dan kematian Pompeius pada tahun 48 SM Julius Caesar resmi menjadi diktator tunggal yang memerintah atas republik Roma.
 
Gaius Oktavianus sendiri sesungguhnya adalah cucu dari saudara perempuan Julius Caesar, Julia. Pada tanggal 15 Maret, yang lazim disebut dengan Ides of March, tahun 44 SM stabilitas Roma dikejutkan dengan dibunuhnya Julius Caesar oleh Brutus dan Cassius di gedung senat Roma. Atas wasiat Julius Caesar yang telah disiapkan sebelumnya maka Gaius Oktavianus yang telah diangkat menjadi keponakannya kini menjadi pewaris takhta. Julius Caesar tidak mewariskan takhta Roma kepada Caesarion, anak yang lahir dari perkawinan ilegalnya dengan ratu negeri Mesir yang bernama Cleopatra, yang merupakan bukan orang Roma asli. Ada sumber yang mengatakan bahwa Caesar tidak pernah mengakui Caesarion sebagai anaknya dan Caesar telah mengantisipasi sekiranya ia meninggal kekuasaan pemerintahan Roma tidak boleh dikendalikan oleh seseorang yang bukan merupakan keturunan orang Roma. Akan tetapi pada saat itu konstitusi republik Roma mengharuskan kembali pemerintahan atas wilayah negara dan seluruh tanah jajahannya dijalankan oleh Tiga Serangkai sehingga sebagai pengganti Julius Caesar Oktavianus tidak berkuasa secara tunggal. Maka sejak tahun 44 SM republik Roma dikepalai oleh Gaius Oktavianus yang berkuasa atas bagian Barat, Markus Antonius atas Mesir, Yunani, dan bagian Timur serta Lepidus atas Afrika. Oktavianus tidak menyukai ketamakan dan amoralitas Antonius yang kemudian menjalin cinta dengan Cleopatra, janda dari mendiang paman angkatnya, Julius Caesar. Setelah beberapa tahun bersitegang, pada tahun 31 SM Oktavianus mendeklarasikan perang terhadap Cleopatra dan Antonius. Pada tahun 31 SM itu juga dalam suatu pertempuran laut dengan pasukan Oktavianus di dekat Aktium, di lepas pantai barat Yunani, pasukan Antonius terpukul dan kalah. Antonius lari ke tempat persembunyian Cleopatra. Oleh karena rasa takutnya kepada Oktavianus maka kemudian Antonius dan Cleopatra bunuh diri. Tidak lama setelah itu Lepidus juga mengundurkan diri dari jabatannya dan dengan demikian sejak tahun 31 SM itu Oktavianus memegang kendali kekuasaan republik Roma secara tunggal.
 
Pada tahun 30 SM atas perintah Oktavianus maka Caesarion juga dibunuh. Oktavianus menjadi penguasa tunggal dunia Roma di mana Laut Tengah bagaikan suatu danau saja bagi Roma. Sepanjang masa pemerintahannya (yaitu sampai dengan tahun 14) stabilitas Roma yang diwarisinya dari Julius Caesar dipelihara dan dipertahankan. Ia meningkatkan kemakmuran negara dengan dedikasinya yang tinggi sedemikian rupa sehingga pada tahun 27 SM Senat Roma menobatkannya sebagai Kaisar, lalu memberinya gelar “Agustus” (Latin: Augustus) yang berarti “ditinggikan” (“exalted”), kata yang berasal dari kata Latin augere (yang berarti “ditambahkan”) dan sejak saat itulah bentuk pemerintahan Roma resmi berubah dari republik menjadi kekaisaran (empire). Itu sebab orang Roma sangat mencintai Oktavianus dan kemudian menyatakan kecintaan mereka kepada Gaius Oktavianus Agustus dengan menyebutnya sebagai “manusia ilahi,” pembawa keberuntungan umat manusia. Dalam era kekaisaran inilah Oktavianus mengokohkan perdamaian Roma dengan sebutan Pax Romana (Inggris: Roman Peace), suatu sistem di mana negara Roma dan seluruh tanah jajahannya hidup berdampingan satu sama lain dengan perdamaian yang dipertahankan secara tangan besi.
 
Mengenai kebesaran Kaisar Agustus ini Paul Barnett di dalam bukunya Revelation in its Roman setting mengatakan:
 
 
To celebrate Augustus’ gift of peace to the world after decades of civil war the cities of Asia decided in 9 BC to change the Macedonian calendar so that in Asia New Year’s day henceforth would be observed on 23 September, the birthday of the “saviour and god” Augustus. Myra hailed him “the god Augustus Caesar, son of god, ruler of land and sea, benefactor and saviour of the whole world”. / Untuk merayakan pemberian Agustus akan perdamaian kepada dunia, setelah perang sipil selama beberapa dekade lamanya, pada tahun 9 SM kota-kota Asia memutuskan untuk mengubah kalender Makedonia sedemikian rupa sehingga hari Tahun Baru di Asia dirayakan pada tanggal 23 September, hari ulang tahun Agustus, “juruselamat dan allah”. Mira mengelu-elukannya sebagai “Kaisar Agustus sang dewa, anak allah, penguasa darat dan laut, sang pembawa keberuntungan dan juruselamat dunia”.
(Paul Barnett, Revelation in its Roman setting http://paulbarnett.info/2011/04/revelation-in-its-roman-setting/)
 
 
Perhatikan juga inskripsi mengenai Kaisar Agustus yang ditemukan di Halikarnassus melukiskan betapa mashyurnya kaisar Roma ini.
 
 
The benefactor of the race of men, who has not only fulfilled our greatest hopes, but has even surpassed them, for the land and sea are safe, and cities flourish in peace and concord, and in prosperity. / Sang pembawa keberuntungan umat manusia, yang bukan hanya memenuhi pengharapan-pengharapan terbesar kita, melainkan melampaui itu semua, oleh karena darat dan laut aman adanya, kota-kota hidup berdampingan dalam perdamaian dan keseia-sekataan, dan dalam kemakmuran.
(Paul Barnett, Revelation in its Roman setting http://paulbarnett.info/2011/04/revelation-in-its-roman-setting/)
 
 
Masa pemerintahan Kaisar Agustus benar-benar merupakan zaman keemasan (golden age) bagi warga negara kekaisaran Roma. Ia adalah pembawa kesejahteraan dan kemakmuran, sesuatu yang didambakan umat manusia sepanjang sejarah. Pada masa ini manusia seakan-akan telah mendapatkan segala sesuatunya, yaitu kesejahteraan dan kemakmuran yang berlimpah; di luar itu tidak ada hal lain lagi yang manusia inginkan. Akan tetapi, untuk mempertahankan kemakmuran Roma seperti itu negara harus mempertahankan dan terus menerus meningkatkan pemasukan uang. Hal itu berarti pengenaan pajak atas warga negara dan penduduk tanah jajahan tidak bisa dihindari. Dalam rangka pengenaan pajak itulah pendaftaran penduduk di seluruh wilayah kekuasaan Roma harus dilakukan.
 
Di tengah berlangsungnya metanarasi inilah berita kelahiran Kristus turun; Yusuf, seorang pemuda dari garis keturunan suku Yehuda yang tinggal di Nazaret, harus mendaftarkan diri sebagai penduduk di Betlehem, kampung halamannya. Karena Maria, tunangannya, sedang mengandung anak Allah (Matius 1:20) ia harus membawanya turut serta ke Betlehem.
 
Kelahiran Kristus
dan sensus kekaisaran Roma pertama kali atas tanah Palestina
 
Pada tahun 47 SM oleh diktator Roma, Julius Caesar, di bawah sistem perdamaian Roma, tanah Palestina dikukuhkan sebagai suatu kerajaan mitra (client kingdom) yang pemerintahannya didelegasikan kepada Antipater, seorang keturunan Edom yang memerintah dengan lalim, ayah dari Herodes (yang di kemudian hari disebut Herodes Agung). Beberapa tahun kemudian Antipater mengangkat anaknya, Herodes, menjadi penguasa atas Galilea. Pada tahun 37 SM Herodes menggantikan Antipater sebagai penguasa atas tanah Palestina. Dengan kata lain Herodes adalah pewaris kuasa Antipater sebagai raja boneka kekaisaran Roma atas tanah Palestina; perhatikan bahwa penyebutan Herodes sebagai “raja Yudea” oleh Lukas dalam pasal 1 ayat 5 bertujuan menyingkapkan betapa pada waktu itu Herodes telah bagaikan suatu figur palsu dari mesias dan juga betapa orang Israel telah demikian sesatnya sehingga atensi dan penantian mereka akan mesias yang Tuhan janjikan itu pudar. Dialah penguasa tanah Yehuda pada waktu Tuhan Yesus lahir.
 
Kemudian, sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, seiring dengan berjalannya waktu kekaisaran Roma di bawah pemerintahan Oktavianus Agustus bermaksud meningkatkan pemasukan negara dari sektor pajak dan agar pemungutan pajak itu tertib maka sebelumnya pendaftaran penduduk harus terlebih dahulu diselenggarakan. Akan tetapi kedudukan kerajaan Yudea sebagai kerajaan mitra dalam Perdamaian Roma seperti itu menjadikan upaya pendaftaran penduduk yang tujuan akhirnya adalah penarikan pajak atas orang-orang Yahudi tidak efektif secara administratif. Oleh karena itu pada waktu Kirenius menjabat sebagai wali negeri Siria pada periode jabatannya yang pertama (tahun 6-5/4 SM) Kaisar Agustus menganeksasi kerajaan Yudea menjadi bagian resmi dari propinsi Siria sehingga wilayah kekuasaan wali negeri Roma untuk propinsi Siria diperluas hingga tanah Palestina dan dengan demikian tanah Yudea kini telah menjadi bagian dari padanya. Jadi mengenai Lukas 2:2 penting kita catat bahwa penyebutan “pendaftaran yang pertama kali diadakan” menunjuk pada sensus kekaisaran Roma yang pertama kali atas tanah Yudea, yaitu setelah wilayah Yudea dianeksasi menjadi wilayah dari propinsi Siria sebagai jaminan berhasilnya usaha peningkatan pemasukan pajak melalui pemberlakuan pajak perorangan (tributum capitis) sebagai tambahan atas pajak tanah dan bangunan (tributum soli) yang telah berlangsung sejak era Julius Caesar terhadap orang Yahudi di wilayah itu.
 
Untuk ekskursus, catatan sejarah menunjukkan bahwa Kirenius menjabat wali negeri Roma untuk propinsi Siria selama dua periode, yaitu tahun 64 SM dan tahun 69 M. Pada setiap periode jabatannya itu sensus atas tanah Palestina diselenggarakan. Sensus yang dimaksud dalam Lukas 2:2 menunjuk pada masa jabatan Kirenius yang pertama. Sensus kedua diselenggarakan pada masa jabatannya yang kedua yaitu tahun 6 M, sebagaimana dimaksud dalam Kisah Para Rasul 5:37.
 
Pada titik ini kita melihat bahwa melalui pengkaitan antara perintah sensus Kaisar Agustus dengan aneksasi Kirenius atas tanah Palestina Lukas bermaksud membukakan lebih jauh kepada kita bahwa secara finansial beban pajak ini, khususnya pajak perorangan yang baru saja diterapkan atas tanah Yudea, akan lebih memberatkan orang-orang Yahudi pada masa-masa selanjutnya. Perhatikan apa yang Calvin katakan mengenai bagian ini:
 
 
I consider this first registration to mean, that the Jews, being completely subdued, were then loaded with a new and unwanted yoke. … The meaning is, that the Jews were far more heavily oppressed than they had formerly been. / Saya berpandangan bahwa kata “pendaftaran yang pertama kali” ini bermaksud untuk menegaskan bahwa orang Yahudi, yang telah sepenuhnya ditaklukkan itu, di kemudian hari akan lebih diberatkan lagi dengan satu beban baru dan tak diinginkan. … Maksudnya, pendaftaran penduduk dengan tujuan perpajakan tersebut di kemudian hari akan menindas orang-orang Yahudi jauh lebih berat lagi dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. (John Calvin, “Commentary on A Harmony of the Evangelists: Matthew, Mark and Luke,” Volume 1, The Calvin Translation Society, 1843, p.110)
 
 
Jadi di sini Lukas membukakan kepada kita bahwa Tuhan Yesus lahir di tengah realita kehidupan manusia yang penuh dengan penindasan dan penderitaan. Yusuf dan Maria yang adalah rakyat jelata ini selanjutnya harus turut pula membayar pajak perorangan kepada kekaisaran Roma. O, betapa menderitanya Tuhan kita ketika ia lahir. Jalan sulit seperti itulah yang Tuhan kita harus tempuh demi menjalankan kehendak Allah di dalam dunia berdosa ini. Penebusan dosa harus dikerjakan di dalam bumi yang penuh dengan penindasan dan penderitaan seperti ini.
 
Kelahiran Kristus, sekadar “kisah”?
 
Howard Marshall, dalam tafsirannya atas kitab Lukas, mengatakan:
 
 
The census thus serves an important function in the development of the story, but at the same time it serves to place the birth of Jesus in the context of world history and to show that the fiat of an earthly ruler can be utilised in the will of God to bring his more important purposes to fruition. / Sensus ini kemudian memainkan peranan penting dalam perkembangan narasi ini, tetapi pada saat yang sama ia juga menempatkan kelahiran Yesus dalam konteks sejarah dunia dan menunjukkan bahwa titah seorang penguasa dunia seperti Agustus ini terarahkan sedemikian rupa, dalam kehendak Allah, demi menggenapkan maksud-maksud-Nya yang lebih utama itu. (I. Howard Marshall, “The New International Greek Testament Commentary: The Gospel of Luke,” The Paternoster Press, 1978, p.99.)
 
 
Di bawah gaung kemashyuran global Kaisar Agustus itulah Kristus datang dalam kerendahan bahkan kehinaan. Akan tetapi, dalam terang iman kita melihat hal berikut ini:
 
  1. Lukas menempatkan Kaisar Agustus, sang penguasa bumi, dan Kristus, Tuhan atas semesta alam, berhadap-hadapan. Bahkan lebih dari itu:
     
  2. Kebijakan perpajakan Agustus yang berakibat perlunya aneksasi demi terlaksananya pendaftaran penduduk tanah Yudea itu dengan sendirinya mengarahkan Yusuf dan Maria, tunangannya, pulang ke Betlehem dan dengan demikian menggenapkan nubuat Mikha. “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mikha 5:1).
 
Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa kelahiran Kristus memang merupakan sebuah kisah. Akan tetapi, Dia adalah Anak Allah yang sesungguhnya, bukan hanya penguasa bumi seperti Gaius Oktavianus Agustus; oleh karena itu kedatangan dan kelahiran-Nya di dalam dunia ini menghadirkan bagi kita suatu metanarasi baru yang penuh dengan pengharapan mulia.
 
Pengharapan mulia kita sebagai orang percaya dalam menjalani “kisah”
 
Di dalam kedatangan-Nya yang pertama, melalui kebangkitan-Nya dari kematian, suatu era baru telah diinaugurasi. Pada Wahyu 11:15 dikatakan adanya suara-suara nyaring bala tentara sorga di dalam sorga mengatakan: “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.” Suara-suara nyaring dari bala tentara sorga itu menyerukan telah hadirnya suatu metanarasi yang penuh pengharapan bagi kita di mana kuasa dan pemerintahan atas dunia ini telah diambil alih sepenuhnya oleh Tuhan dan Ia yang diurapi-Nya, yaitu Kristus yang akan memerintah selama-lamanya. Pemerintahan Kristus yang dimaksud itu saat ini sudah ditegakkan pada waktu Ia datang untuk pertama kalinya dan kelak akan disempurnakan saat Ia datang untuk yang kedua kalinya.
 
Para penguasa bumi yang kelihatan itu kini sedang melangsungkan pemerintahan dan penguasaannya atas politik, ekonomi, keuangan, kehidupan sosial, teknologi dan media. Mereka adalah penulis metanarasi era moderen ini; yang pernah, sedang dan juga akan mengarahkan pemerintahan masyarakat manusia. Di dalam metanarasi ini berbagai penindasan dan penderitaan telah berlangsung. Akan tetapi kita tidak boleh lupa bahwa hanya untuk sementara waktu saja Ia membiarkan bangsa-bangsa rusuh, suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia, raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama untuk melawan Tuhan dan yang diurapi-Nya (Mazmur 2:1-2). Jadi metanarasi moderen bukanlah yang terutama dan suatu saat akan berakhir. Sekalipun demikian untuk sementara waktu di dalam metanarasi moderen ini begitu banyak peluang yang dapat kita, selaku orang Kristen, garap menurut bagian kita masing-masing untuk menceritakan metanarasi baru yang dihadirkan Kristus itu selagi menantikan waktu kesempurnaannya tiba.
 
Kesimpulan
 
Oleh karena itu di tengah berlangsungnya kehidupan dengan berbagai persoalan dan pergumulannya, sebagai orang Kristen, kita harus menyadari dan meresponi kenyataan-kenyataan berikut ini:
 
  1. Setiap kita, orang percaya, diberikan kuasa dan pemeliharaan sebagai agen penggenapan desain besar Tuhan atas seluruh ciptaan dan sejarah itu. Memang, apabila kita melihat siapa kita hanya berdasarkan mata badaniah kita akan mendapati diri kita bagaikan sebuah kisah yang tidak berarti di tengah metanarasi moderen yang besar ini. Akan tetapi, oleh iman kita seharusnya melihat bagian kita yang kecil ini di dalam desain besar Tuhan itu.
     
  2. Di dalam desain besarnya itu Allah yang berdaulat mengijinkan dosa masuk ke dalam dunia. Hal itu bertujuan untuk menyatakan kedaulatan-Nya secara penuh atas alam semesta, bumi dan segala isinya. Dosa berkembang terus, kejahatan semakin luas, penderitaan dan kesesakan semakin berat, dan penindasan semakin menjadi-jadi. Akan tetapi kerusakan akibat dosa bukan akhir dari segalanya.
     
  3. Kristus, Anak Allah, telah datang ke dalam dunia untuk menegakkan dan menginaugurasi hadirnya suatu metanarasi baru di dalam dunia ini. Di dalam metanarasi Tuhan itu kisah-kisah orang percaya sepanjang zaman dirangkai bagian demi bagian dan dipadu sedemikian rupa. Tuhan merangkai peristiwa demi peristiwa di dalam kehidupan setiap kita, anak-anak-Nya, saat menjalani kisah kita masing-masing. Setiap kisah yang kita jalani ini dipadukan sedemikian rupa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari metanarasi-Nya. Oleh karena itu hidup ini adalah penuh makna. Ia tidak bagaikan sekotak coklat yang tidak mempunyai makna apa-apa sebagaimana dipesankan oleh Forrest Gump. Ia bermula dari Tuhan dan berujung kembali pada-Nya.
 
Kita tidak mungkin sanggup menjalani kisah kita ini di dalam kehendak Tuhan apabila kita tidak bersama-sama dengan mereka yang juga hidup di dalam metanarasi baru itu. Oleh karena itu kita memerlukan wadah di mana setiap kita dapat saling menguatkan, mendoakan dan menghibur di dalam visi yang sama. Persekutuan Studi Reformed merupakan salah satu wadah itu. Mari kita gunakan waktu kita yang tersisa ini sebaik-baiknya bagi kemuliaan Tuhan.
 
Selamat Natal 2018 dan Selamat Tahun Baru 2019.
[ Jessy Victor ]