Air Hidup
(Eksposisi Yohanes 4:4-14)
_oOo_
 
Pengantar
 
Narasi ini dimulai tatkala Tuhan Yesus mendapat kabar bahwa di Galilea muncul permusuhan di kalangan orang farisi, permusuhan yang disebabkan jumlah besar orang yang datang kepada-Nya untuk dibaptis dan menjadi murid-murid-Nya lebih banyak dari mereka yang datang kepada Yohanes. Menurut Herman Ridderbos, hal ini tidak berarti ada sebuah keberpihakan orang Farisi kepada Yohanes untuk melawan Yesus, tetapi ternyata ada motif politis di dalamnya. Orang Farisi memandang Yesus lebih berbahaya bagi kekuasaan mereka ketimbang Yohanes. Dalam situasi inilah Yesus memutuskan untuk meninggalkan Yudea dan pulang kembali lagi ke Galilea.
 
Eksposisi
 
 
Ayat 4
Ia harus melintasi daerah Samaria.
 
 
Dari peta kita melihat bahwa perjalanan dari Yudea ke Galilea dapat ditempuh melalui dua rute. Yang pertama rute darat yakni dengan melintasi daerah Samaria. Rute ini dianggap rute dengan jarak terdekat untuk menuju Galilea. Rute kedua ditempuh via Trans Yordan. Rute ini memakan waktu lebih lama dibanding dengan rute via Samaria. Menarik dikatakan bahwa Yesus harus melintasi Samaria. Tentu penggunaan kata “harus” di sini menarik perhatian kita. Artinya, kita melihat sesungguhnya ada suatu urgensi yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Ada sebuah divine necessity yang harus Ia kerjakan. Sebenarnya misi utama Yesus adalah kota Galilea, tetapi Ia melihat ada misi lain yang mesti Ia kerjakan di Samaria. Yesus berusaha tangkap momen itu (catch the moment) karena bagi-Nya, misi Samaria memiliki urgensi yang sama dengan Galilea. Ada misi pelayanan yang mesti Ia kerjakan. Apa dan bagaimana misi itu? Kita akan melihatnya pada bagian selanjutnya.
 
 
Ayat 5
Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anak-Nya, Yusuf.
 
 
Perihal kota Sikhar, tidak banyak literatur yang menceritakan kota ini. Ada yang berpendapat bahwa Sikhar dan Sikhem merupakan kota yang sama. Akan tetapi ada juga yang berpandangan berbeda, yang mengatakan bahwa Sikhar itu sama dengan Askar, letaknya 0.7 km di sebelah utara timur laut dari sumber air Yakub dan sekitar 1 km di sebelah timur laut Sikhem. Di tengah perbedaan ini, yang pasti kita ketahui bahwa kota ini merupakan salah satu kota di Samaria yang mana lokasi sumur Yakub ada di sana. Bagi orang Samaria, kota ini memiliki nilai historis tinggi karena di situ terletak sumber air yang diberikan Yakub dahulu ke anaknya Yusuf. Yakub dan Yusuf tentu merupakan dua tokoh besar dalam sejarah Israel. Dan mereka sangat menghormatinya.
 
 
Ayat 6
Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.
 
 
Diceritakan setelah menempuh perjalanan panjang yang meletihkan, maka sampailah Yesus ke kota Samaria, tepatnya di kota Sikhar. Ia kehausan dan duduk di pinggir sumur Yakub. Hari itu kira-kira pukul 12 siang, waktu terpanas dari sebuah hari. Di sini, penulis Injil Yohanes dengan jujur ingin menampilkan sisi kemanusiaan Tuhan Yesus. Dari sisi kemanusian, tentu perjalanan panjang di tengah terik matahari akan membuat-Nya letih dan haus.
 
 
Ayat 7
Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.”
 
 
Siapakah orang Samaria ini? Kita mengetahui bahwa di dalam budaya Yahudi (Jewish Culture), perempuan memiliki status lebih rendah dibanding pria. Selain itu, perempuan Samaria ini diketahui memiliki banyak suami (bandingkan ayat 18). Artinya, perempuan Samaria dianggap sudah melalukan aktivitas seksual dengan banyak pria. Oleh karenanya di mata masyarakat, secara moral dianggap sudah rusak atau cacat. Dengan profil seperti ini, perempuan Samaria ini pastinya akan teralienasi dari kehidupan bermasyarakat. Tindakannya yang mengambil air di siang hari tentu salah satu bentuk alienasi tersebut dimana ia mencoba menghindari masyarakat sekitar yang biasanya mengambil air di pagi hari atau sore hari. Ia tidak ingin masyarakat melihatnya.
 
Karena kehausan, Yesus berinisiatif meminta minum kepadanya. Permintaan Yesus ini bisa dipermasalahkan pada waktu itu karena dua sebab. Pertama, orang itu adalah perempuan; dan kedua, perempuan itu orang Samaria. Terkait dengan perbedaan jenis kelamin ini, sikap pria Yahudi zaman itu tercermin dalam nasihat para rabi, “Jangan berbicara perempuan di jalan, sekalipun dengan istri Anda sendiri, apalagi dengan istri orang lain, untuk menghindari laki-laki lain memfitnah Anda.” dan “dilarang memberi salam kepada perempuan.” Terkait dengan perempuan itu orang Samaria, ternyata ada relasi yang tidak baik antara orang Yahudi dengan orang Samaria, yang akan dijelaskan di ayat selanjutnya.
 
 
Ayat 8-9
Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. Maka kata perempuan itu Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku seorang Samaria? ” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)
 
 
Pertanyaan perempuan Samaria kepada Yesus tentu mengundang pertanyaan, apa yang terjadi antara orang Yahudi dengan Samaria. Untuk menjawabnya, Yohanes dengan sengaja menyisipkan satu kalimat: “sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria”. Mengapa hal itu terjadi? Dari konteks sejarah kita mengetahui bahwa ada latar belakang permusuhan dan kebencian yang sangat mendalam di antara orang Yahudi dengan Samaria yang sudah berlangsung beratus-ratus tahun lamanya. Berikut ini latar belakang permusuhan itu.
 
Pertama, setelah kematian raja Salomo, Israel terpecah menjadi 2 (dua) kerajaan yaitu kerajaan Utara atau biasa disebut kerajaan Israel dengan Samaria sebagai ibukota dan kerajaan Selatan dengan Yerusalem sebagai ibukotanya. Ketika Israel Utara ditaklukkan Asyur, banyak para laki-laki diangkut ke pembuangan untuk menjadi pekerja, sementara para perempuan di tinggal di kota Samaria. Untuk melegitimasi kekuasaannya atas Israel, Raja Asyur sengaja mengangkut orang-orang dari berbagai bangsa jajahannya, yaitu orang Babel, Kuta, Hamat dan Sefarwaim untuk menempati kota Samaria dan menetap di sana. Akibatnya, banyak terjadi perkawinan campur di antara mereka. (2 Raj. 17:24). Selain itu, terjadi juga sinkretisme di dalam ibadah mereka. Mereka tidak hanya beribadah kepada Yahwe, tetapi juga kepada dewa-dewa bangsa lain. (2 Raj. 17:29-33). Perkawinan campur antara orang Samaria dengan orang dari bangsa lain, bagi orang Yahudi di kerajaan Selatan merupakan suatu tindakan tercela. Tindakan itu telah menodai identitas ke-Yahudi-an mereka. Ditambah lagi dengan ibadah mereka kepada dewa bangsa-bangsa lain, bagi orang Yahudi merupakan tindakan menentang hukum Taurat pertama yang sangat kuat dipegang, yakni tidak ada Allah lain di hadapan-Ku.
 
Kedua, kira-kira pada sekitar tahun 400 SM, setelah kembali dari pembuangan, orang Yahudi di kerajaan Selatan yang dipimpin Ezra dan Nehemia bermaksud membangun bait Allah di Yerusalem (Gunung Moriah) yang sebelumnya dihancurkan oleh raja Nebukadnezar. Atas rencana pembangunan tersebut, orang Samaria yang menganggap dirinya masih memiliki darah Yahudi datang dari kota Samaria ke Yerusalem dengan maksud ingin menawarkan diri untuk membantu pembangunan bait Allah itu. Namun tawaran itu ditolak. Bagi orang Yahudi, orang Samaria dianggap sudah kehilangan identitas ke-Yahudian-nya akibat kawin campur yang mereka lakukan dengan bangsa lain. Orang Samaria dianggap najis (unclean) di mata mereka. Akibat penolakan itu, orang Samaria kembali ke Samaria dengan kemarahan. Itu sebabnya mereka berupaya membangun bait Allah tandingan di Gunung Gerizim sebagai tempat peribadatan mereka. (Ul. 11:29; 27:12). Dengan demikian, bagi orang Samaria bait Allah sesungguhnya adalah bait Allah yang mereka bangun sendiri di Gunung Gerizim, bukan di Yerusalem. Demikian sebaliknya orang Yahudi memandang bait Allah di Yerusalem merupakan bait Allah sesungguhnya
 
Ketiga, pada sekitar tahun 128 SM, orang Yahudi menghancurkan bait allah orang Samaria karena mereka menganggap bait Allah yang sejati, tempat mereka berbakti, hanya ada satu di Yerusalem.
 
Keempat, Orang Samaria hanya mengakui 5 kitab taurat musa (Pentateukh) sebagai Kitab Suci, sedangkan orang Yahudi selain mengakui 5 kitab Musa tsb, juga mengakui Kitab sejarah & Kitab para Nabi sebagai Kitab Suci.
 
Dari keempat latar belakang di atas terlihat ada jurang pemisah yang sangat lebar antara orang Yahudi dan orang Samaria, yakni jurang etnis dan jurang agama. Ini lah yang menjadi titik pangkal permusuhan yang mengakibatkan kebencian diantara mereka. Salah satu contoh kebencian orang Yahudi terhadap orang Samaria secara jelas dapat kita lihat pada perikop tentang orang Samaria yang murah hati yang tercatat di Injil Lukas 10:25-27. Perhatikan secara khusus di ayat 37 & 38, Yesus bertanya: ”Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Perhatikan, orang itu tidak menjawab singkat “orang Samaria !” Mengapa? Oleh karena kebencian yang mendalam, menyebut kata Samaria saja dianggap tidak layak.
 
Dari konteks latar belakang inilah, kita memahami keterkejutan perempuan Samaria ketika Yesus meminta air minum kepadanya. Tentu ia tahu bahwa menggunakan perabot minum dari seorang yang dianggap najis akan membuatnya tercemar. Mengenai bagian ini, Andreas J Kostenberger, berpendapat bahwa percakapan Yesus dengan perempuan Samaria ini merupakan sebuah terobosan (breakthrough) yang dilakukan Yesus untuk menjembatani jurang pemisah yang telah berakar sangat lama dan turun menurun antara Yahudi dan Samaria, yakni jurang etnis, jurang agama, dan jurang moral.
 
 
Ayat 10-12
Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu berilah Aku minum! Niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberi kepadamu air hidup.” Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dam sumur ini sangat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Adakah Engkau lebih besar dari pada Bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri di dalamnya , ia serta anak-anaknya dan ternaknya?”
 
 
Sumur Yakub (Jacob's Well) adalah suatu sumur yang digali dalam batu besar yang dikaitkan dengan tokoh Yakub bin Ishak bin Abraham dalam tradisi agamawi selama lebih dari dua milenium. Terletak tidak jauh dari situs arkeologi Tell Balata, yang dianggap sebagai lokasi kota kuno Sikhem. Berdasarkan pengukuran pada tahun 1935, kedalaman total sumur ini adalah sekitar 41 meter (135 ft)
 
Pertanyaan perempuan Samaria itu menandakan suatu ketidakpahamannya akan apa yang Yesus maksudkan tentang air hidup. Perempuan itu memahaminya dalam pengertian literal sebagaimana yang dipahami oleh Nikodemus tentang kelahiran kembali di pasal sebelumnya. Perempuan itu memahami air hidup sebagai air yang mengalir, semacam sumber mata air yang mengalir memenuhi sumur itu. Atau ia sedanng berpikir bahwa Yesus ingin menunjukkan sumber air lainnya selain daripada sumur Yakub ini. Itu sebabnya perempuan itu mempertanyakan bagaimana mungkin dapat mengambil air dari sumur yang dalam itu tanpa ada alat penimba? Kemudian, perempuan Samaria itu mencoba mengaitkan dirinya dengan Bapa Yakub. Ia ingin menunjukkan bahwa ia dan orang Samaria lainnya masih menjadi keturunan sejati dari Yakub.
 
 
Ayat 13-14
Jawab Yesus kepadanya: “Barang siapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barang siapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus memancar sampai hidup yang kekal.
 
 
Pada bagian ini Yesus dengan sengaja mengontraskan air sumur Yakub dengan air hidup yang Ia tawarkan. Air sumur Yakub bagi perempuan Samaria tentu memiliki arti yang penting. Tidak sekadar menjadi sumber kehidupan untuk kebutuhan sehari-hari, namun lebih dari itu, air itu memiliki nilai historis karena air sumur itu merupakan pemberian Bapa bangsa Israel, Yakub. Namun demikian, Yesus dengan tegas menyebut bahwa air sumur Yakub suatu waktu akan kering dan tidak lagi menghasilkan. Mereka yang meminum darinya suatu waktu akan haus lagi. Tetapi Air Hidup yang ditawarkan oleh Tuhan Yesus akan terus memancar sampai kepada hidup yang kekal. Dengan meminum air hidup itu, mereka tidak akan haus lagi untuk selamanya. Sumur Yakub yang memberikan kehidupan kepada Israel secara fisik yang sifatnya sementara hanyalah suatu bayang-bayang (foreshadow) dari akan mata air kekal (air hidup) yang sesungguhnya akan memberikan kehidupan kekal kepada Israel kelak.
 
Di sini, air hidup yang secara literal mengacu kepada air yang menyegarkan (fresh water) dan air yang mengalir dalam kontras dengan air yang menetap (stagnant water) kini menjadi simbol dari kehidupan yang kekal, yang kemudian diidentikkan dengan Roh Kudus yang tinggal di dalam orang percaya (Yoh. 4:37-39). Sebagaimana air adalah simbol dari kehidupan yang mana tanpanya kita akan mati kehausan, demikian hal nya air hidup yang Yesus tawarkan menjadi simbol kelimpahan dari berkat Ilahi (divine blessing) dan keselamatan. (Yes. 12:3).
 
GK Beale mengatakan: Jesus’ offer of ‘living water’ to the Samaritan woman should be viewed as another reference to him being the beginning form of the true temple from which true life in God’s presence proceeds / Tawaran Tuhan Yesus akan air hidup kepada perempuan Samaria seharusnya dapat pandang sebagai referensi lain kepada diri-Nya sebagai bentuk awal dari Bait Suci sejati yang daripadanya kehidupan sejati di dalam kehadiran Tuhan itu memancar. Eden sebagai prototype Bait Allah memancar mata air yang menjadi sumber aliran sungai yang memberi kehidupan bagi mereka yang hidup di dalamnya. (GK. Beale “The Temple and the Church’s Mission: A Biblical Theology of the Dwelling Place of God,”)
 
Kita juga dapat melihat bahwa pernyataan Tuhan Yesus tentang air hidup ini memiliki latar belakang (background) bagaimana umat Allah meninggalkan sumber air hidup itu, sebagaimana yang dikeluhkan oleh Nabi Yeremia. Di dalam Yeremia 2:13 dikatakan, “Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat :mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.” Dan Yeremia 17:13 dikatakan, “Ya Pengharapan Israel, TUHAN, semua orang yang meninggalkan Engkau akan menjadi malu; orang-orang yang menyimpang dari pada-Mu akan dilenyapkan di negeri, sebab mereka telah meninggalkan sumber air yang hidup, yakni TUHAN”.
 
Namun, di tengah keluh kesah Nabi Yeremia itu, di saat yang sama, Pemazmur memimpikan suatu visi eskatologis akan kelimpahan dalam kehadiran Allah. Dalam Mazmur 36:9-10 dikatakan, “Mereka mengenyangkan dirinya dengan lemak di rumah Mu; Engkau memberi mereka minum dari sungai kesenangan-Mu. Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang”. Demikian pula dengan Nabi Yesaya yang mendapat visi tentang suatu saat semua kehausan umat manusia akan dipuaskan. Dalam Yesaya 55:1 dikatakan, “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!
 
Apa yang ditunjukkan disini sebagai “air hidup” sudah ada di gambaran Perjanjian Lama akan apa yang orang banyak inginkan dari Allah di dalam kesukaran, dan bukan hanya dalam arti fisik orang membaca dalam “haus akan Allah” dan Allah sebagai “sumber kehidupan/sumber air hidup”; keselamatan dari Tuhan diberikan sebagai air bagi mereka yang haus.
 
Penutup
 
Di tengah dunia dengan berbagai glamorisasi agama, kebangunan spiritualitas dengan berbagai bentuknya, namun sesungguhnya banyak jiwa mengalami dahaga yang mendalam akan pengenalan akan Allah. Mereka dahaga akan air hidup yang mampu memuaskan mereka. Dunia ini tidak akan mungkin bisa memberikannya. Hanya Allah saja, di dalam Kristus Tuhan, sang Air Hidup yang mampu memuaskan mereka selama-lamanya. Pada akhirnya seorang Bapa Gereja, St. Agustinus dari Hippo mengucapkan satu doa, “Thou hast made us for thyself, O Lord, and our heart is restless until it finds its rest in thee.”
 
Selamat Natal 2018, dan Selamat Tahun Baru 2019, Tuhan memberkati.
[ Nikson Sinaga ]