ZAMAN SEKARANG & ZAMAN YANG AKAN DATANG:
MENURUT RASUL PAULUS
 
_oOo_
 
Pengantar
 
Pada tahun 2012 Persekutuan Studi Reformed menyelenggarakan misi seminar Calvin for Medan 2012: Ciptaan, Kejatuhan dan Realita Baru, di mana salah satu sesinya bertemakan “Zaman Sekarang dan Zaman Yang Akan Datang: menurut Rasul Paulus”. Artikel ini merupakan bentuk usaha penulis sebagai salah satu pembicara di dalamnya untuk mendokumentasikan materi dari sesi yang diisinya. Penulis berharap agar artikel ini dapat menjadi berkat dan memancarkan pengharapan mulia bagi setiap orang yang membacanya di tengah-tengah semakin berat dan sulitnya situasi kehidupan modern kita pada “masa sekarang” ini.
 
Pendahuluan
 
Sepanjang sejarah pergumulan manusia tidak pernah terlepas dari ketegangan yang ia sadari akan “masa sekarang” dengan “masa yang akan datang”. Dalam era teknologi informasi ini, misalnya, kemajuan pengembangan piranti keras (hardware) dan piranti lunak (software) tidak mungkin dilepaskan dari tujuannya untuk memberikan berbagai solusi bisnis pada masa sekarang demi penciptaan dan akumulasi kemakmuran pada masa yang akan datang. Segala sesuatu yang manusia investasikan pada masa sekarang, apakah itu kerja keras maupun bentuk-bentuk pengorbanan lainnya, pasti ditujukan demi penciptaan sumber-sumber penghasilan yang akan mendatangkan kesejahteraan pada masa yang akan datang. Hal itu tidak selalu salah. Sebagai orang Kristen yang hidup di dalam komitmen akan ketuhanan Kristus atas segala sesuatu kitapun tidak lepas dari ketegangan ini; kita harus bekerja menghidupi diri kita, baik sebagai usahawan, karyawan, politisi maupun seniman, pada masa sekarang demi pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang dapat kita lakukan pada masa mendatang. Akan tetapi ketika Alkitab mengontraskan masa “sekarang” dengan masa “yang akan datang” Alkitab mempunyai wawasan pemikiran yang jauh berlimpah berisikan pengharapan-pengharapan sorgawi kita. Dalam artikel ini kita akan membahas kontras antara “masa sekarang” dengan “masa yang akan datang” dengan menggunakan skema yang digambarkan oleh Geerhardus Vos sebagai pedoman memahami bahasan ini berdasarkan teologi rasul Paulus yang dibentuk dengan latar belakang tradisi Yudaisme dan filsafat alamiah Yunani tetapi dibentuk ulang sedemikian rupa oleh penyataan Yesus Kristus.
 
Konsep Perjanjian Lama tentang masa yang akan datang
 
Alkitab Perjanjian Lama bahasa Indonesia menggunakan setidaknya beberapa kata seperti berikut ini: “kemudian hari,” “hari-hari yang terakhir,” “dahulu kala” dan “kekal selama-lamanya” pada beberapa bagian ketika berbicara mengenai masa “yang akan datang”. Perhatikan bagaimana kata-kata tersebut digunakan.
 
  1. Kata “kemudian hari” dalam Bilangan 24:14 dan Ulangan 4:30
     
    Perhatikan Bilangan 24:14. “Dan sekarang, aku ini sudah hendak pergi kepada bangsaku; marilah kuberitahukan kepadamu apa yang akan dilakukan bangsa itu kepada bangsamu di kemudian hari”. Kata “kemudian hari” (Inggris/NIV: days to come) pada ayat ini dalam bahasa Ibraninya adalah acherith hajjamim. Demikian pula Ulangan 4:30. “Apabila engkau dalam keadaan terdesak dan segala hal ini menimpa engkau di kemudian hari, maka engkau akan kembali kepada Tuhan, Allahmu, ...”. Kata “kemudian hari” (Inggris/NIV: later days) pada ayat ini dalam bahasa Ibraninya juga adalah acherith hajjamim. Geerhardus Vos mengatakan bahwa acherith hajjamim adalah kata Ibrani yang penggunaannya melampaui aspek kronologi; ia menunjuk pada suatu era yang terjauh, terujung dan paling akhir pada masa mendatang tetapi nuansa dan atmosfernya telah dimulai secara bertahap mulai pada waktu itu.
     
    Kata “kemudian hari” pada Bilangan 24:14 menunjuk pada era terjauh dan terakhir pada waktu yang akan datang saat kondisi dimaksud, Allah memukul musuh-musuh-Nya demi menyatakan pemerintahan-Nya atas bumi dan pemeliharaan-Nya atas Israel, tergenapi oleh terbitnya sebuah bintang dari Yakub dan timbulnya suatu tongkat kerajaan dari Israel. Dengan kata lain, pada saat Bileam berkata-kata kepada Balak itulah atmosfer dari kondisi “kemudian hari” tersebut dimulai secara bertahap. Demikian pula kata “kemudian hari” pada Ulangan 4:30 menunjuk pada suatu era yang terjauh di mana kondisi dimaksud, Israel kembali kepada Allah setelah seluruh malapetaka sebagaimana dikatakan pada ayat-ayat sebelumnya termasuk halnya pembuangan tiba atas mereka, tergenapi tetapi suasananya telah dimulai pada saat Musa menyampaikan peringatan itu kepada mereka.
     
    Geerhardus Vos mengatakan bahwa kata acherith hajjamim, oleh penulis Perjanjian Lama, selalu digunakan dalam arti eskatologis. Hal-hal yang mereka maksudkan akan terjadi pada “kemudian hari” digenapi secara bertahap melalui berbagai momen sejak para pendengar dan pembaca pertamanya menerima berita yang disampaikan itu hingga kelak mencapai kondisi akhirnya.
     
  2. Kata “hari-hari yang terakhir” dalam Mikha 4:1
     
    Mikha 4:1 mengatakan: “Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: …”. Kata “hari-hari yang terakhir” (Inggris/NIV: the last days) di dalam bahasa Ibraninya adalah olam, sesuatu yang menunjuk pada waktu mana “gunung rumah Tuhan akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; ...” Kata “hari-hari yang terakhir” di sini menunjuk pada suatu era yang jauh tetapi telah dimulai secara bertahap, semakin tampak dan nyata, melalui berbagai momen yang sifatnya historis dan memaju hingga mencapai keadaan akhirnya pada kedatangan Kristus.
     
  3. Kata “dahulu kala” dalam Mikha 5:1
     
    Pada Mikha 5:1 dikatakan mengenai akan datangnya seseorang yang akan memerintah Israel “yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” Pada saat penulis Alkitab berbicara tentang Allah kata “dahulu kala” (Inggris/NIV: ancient times; Ibrani: olam) juga dapat diartikan “kekekalan”. Orang yang dimaksud oleh Mikha “akan memerintah Israel” itu adalah Allah sendiri dan ia tidak lain adalah Yesus Kristus, Anak Allah. Jadi kata “dahulu kala” di sini digunakan dalam arti yang melampaui aspek waktu, dalam hal ini bersifat lampau (past). Kata ini bersifat historis tetapi juga melampaui aspek waktu karena ia menunjuk pada pra-eksistensi kekal Yesus Kristus yang dikatakan “akan memerintah Israel” itu kelak.
     
  4. Kata “kekal selama-lamanya” dalam Keluaran 15:18
     
    Dalam Keluaran 15:18 dikatakan: “Tuhan memerintah kekal selama-lamanya”. Kata “kekal selama-lamanya” (Inggris/NIV: for ever and ever) dalam bahasa Ibraninya juga adalah olam. Kata ini meliputi masa dahulu, masa sekarang dan masa yang paling akhir; melingkupi aspek waktu historis tetapi juga melampauinya.
 
Dari sekurangnya empat contoh sebagaimana disebutkan kita melihat bahwa pada saat teks-teks Alkitab berbicara tentang masa yang akan datang Alkitab tidak memaksudkan hal itu sebagai sesuatu yang mutlak terpisah dan tidak terhubung sama sekali dengan masa kontemporernya, yaitu masa di mana perkataan itu disampaikan kepada pendengar dan pembaca pertamanya. Jadi sekalipun pada saat itu mereka, dalam hal ini pendengar kontemporer dan pembaca pertamanya, belum melihat dengan jelas kondisi-kondisi akhir sebagaimana dikatakan kepada mereka akan terjadi dan tergenapi pada masa mendatang setidaknya mereka telah mulai menganitispasinya dan hidup dalam ketegangan masa antara tersebut mulai pada waktu itu.
 
Konsep Perjanjian Baru mengenai masa yang akan datang
 
Geerhardus Vos mengatakan bahwa antitesis antara masa “sekarang” dengan “yang akan datang,” khususnya dalam Perjanjian Baru menemukan kekentalannya secara menyeluruh pada ide tentang “zaman” atau “dunia”.
 
 
More comprehensively the antithetical structure appears in the distinction between the two ages or worlds. / Secara lebih menyeluruh struktur antitesis keduanya muncul di dalam perbedaan antara dua ‘zaman’ atau ‘dunia’. (Geerhardus Vos, “The Pauline Eschatology,” Phillipsburg: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1994, p.12)
 
 
Secara hurufiah kata “zaman” (Inggris: ages, world) dapat diartikan suatu kurun waktu tertentu yang diarahkan dan didorong oleh suatu semangat tertentu, atau bisa juga diartikan suatu kurun waktu tertentu yang setidaknya meliputi: masa yang mendahului munculnya suatu momen, masa di mana momen tersebut muncul, serta masa sesudahnya di mana momen tersebut memberikan dampak atau akibat. Kata “zaman modern,” misalnya, setidaknya menunjuk pada masa sesudah renaisans (renaissance) dan reformasi protestan yang memicu datangnya era modern; masa di mana mesin uap ditemukan pertama kali dan oleh karenanya terjadi revolusi industri sehingga hidup manusia termodernisasikan sedemikian rupa, serta masa di mana ilmu pengetahuan semakin berkembang tetapi hidup manusia semakin tersekularisasi. Jadi secara umum pengertian “zaman” tunduk kepada aspek waktu dalam sifat sementaranya. Akan tetapi para penulis Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, menggunakan kata “zaman” dalam tulisan-tulisan mereka dengan pengertian yang jauh melampaui pengertian umum seperti ini.
Salah satu bagian Perjanjian Baru di mana kata “zaman akhir” digunakan adalah Ibrani 1:2. “maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. ...”. Kata “zaman akhir ini” (Inggris/NIV: these last days) di sini dalam bahasa Yunaninya adalah eschaton hemeron, suatu kata yang menunjuk pada “kenantian” yang telah turun pada “kekinian” dalam mana sang penulis dan para pembaca pertamanya hidup. Kata Yunani eschaton hemeron merupakan kata yang sejajar dengan kata Ibrani acherith hajjamim dalam Perjanjian Lama. Perhatikan apa yang Geerhardus Vos katakan mengenai eschaton hemeron dalam bagian ini.
 
… which is so far a merely chronological construction of the history of revelation, … that these days are the present days of himself and his readers; … a fixed appurtenance to the present and closely impending future. / … yang jauh lebih dari sekadar suatu bentuk kronologis dari sejarah pewahyuan, … bahwa zaman yang dimaksudkan ini merupakan zaman di mana dirinya sendiri dan para pembacanya hidup; … suatu keadaan di mana masa depan telah masuk pada masa sekarang dan dengan demikian masa sekarang telah mengandung masa depan. (Geerhardus Vos, “The Pauline Eschatology,” Phillipsburg: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1994, p.8)
 
The characteristic feature of these New Testament applications of the phrase consists in the idea accompanying them that the writers and readers are conscious of the last days being upon them, or at least close at hand. / Tampilan karakteristik dari penerapan-penerapan Perjanjian Baru atas frase ‘eschaton hemeron’ ini adalah selalu tercakupnya ide yang menyertainya bahwa para penulis dan pembacanya sadar akan zaman akhir yang sesungguhnya telah mulai berlangsung atas mereka, atau setidaknya telah demikian dekat dengan mereka. (Geerhardus Vos, “The Pauline Eschatology,” Phillipsburg: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1994, p.8)
 
 
Akan tetapi harus kita pahami bahwa antara penulis Alkitab Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru terdapat perbedaan mengenai kesadaran mereka akan zaman sekarang dan zaman yang akan datang, hal mana akan kita lihat kemudian.
 
Kontras antara dua “zaman” dalam Perjanjian Baru
 
Satu-satunya bagian yang ditulis oleh Paulus di mana zaman “sekarang” dengan “yang akan datang” secara jelas dikontraskan adalah Efesus pasal 1 ayat 21, “jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja melainkan juga di dunia yang akan datang”. Di sini kata “dunia ini” (Inggris/NIV: the present age, the present ‘aion’) dan “dunia yang akan datang” (Inggris/NIV: the one to come, the ‘aion’ to come) menunjuk bukan hanya pada bumi ini dalam arti geografis, melainkan pada dua era atau atmosfer di mana Kristus sedang bertakhta jauh lebih tinggi mengatasi segala pemerintah, penguasa, kekuasaan, kerajaan, dan apapun juga yang ada di seluruh alam semesta ini.
Sebagaimana lazim dalam pengajaran rabi-rabi Yahudi, di sini Paulus mengontraskan dua zaman di mana kita hidup, yaitu “sekarang,” di mana kejahatan berlangsung, dan “yang akan datang,” di mana Mesias akan menggenapkan kerajaan-Nya dan menegakkan suatu masyarakat yang hidup dalam kebenaran penuh di atas bumi ini. Akan tetapi dengan kontras ini Paulus tetap tidak memaksudkan adanya keterpisahan yang mutlak dari kedua zaman itu, melainkan menegaskan bahwa oleh kedatangan dan kebangkitan Kristus kondisi-kondisi pada “dunia yang akan datang” itu sesungguhnya secara prinsip telah masuk dan dimulai pada “dunia ini,” yaitu zaman sekarang.
 
Perbedaan wawasan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru mengenai
kontras antara “zaman sekarang” dengan “zaman yang akan datang”
 
Kata “zaman” (ages, world) dalam Perjanjian Baru merupakan terjemahan dari setidaknya dua kata dalam bahasa Yunani di mana bagian-bagian tertentu menggunakan eschaton sedangkan lainnya aion. Keduanya merupakan kata yang umumnya digunakan dalam arti yang melampaui aspek waktu dan ruang. Di sini kita akan melihat terlebih dahulu perbedaan kesadaran penulis Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru akan ketegangan antara “zaman sekarang” dengan “zaman yang akan datang” berdasarkan skema yang digambarkan Geerhardus Vos dalam bukunya The Pauline Eschatology.
 
 
Dari dua skema di atas kita melihat dengan jelas bahwa perbedaan wawasan penulis Alkitab Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru terletak pada apa yang mereka sadari akan kapan sesungguhnya “zaman yang akan datang” itu tiba. Skema I menggambarkan bagaimana penulis Perjanjian Lama menyadari bahwa “zaman yang akan datang” berikut kondisi-kondisi akhirnya itu merupakan sesuatu yang pada “zaman sekarang” ini dinantikan dan diantisipasi sedemikian rupa dalam segala cerah dan suramnya. “Zaman yang akan datang” itu kelak akan dimulai pada saat Mesias datang untuk menggenapkan seluruh rencana Allah atas umat dan ciptaan-Nya; dengan kata lain suatu “kenantian” yang diantisipasi dengan penuh pengharapan pada “kekinian”. Skema II menggambarkan bagaimana penulis Perjanjian Baru melihat bahwa peristiwa kedatangan, kematian dan kebangkitan Kristus telah menginaugurasi masuknya “zaman yang akan datang” itu ke “zaman sekarang”. Dengan masuknya “zaman yang akan datang” itu ke “zaman sekarang” maka kondisi-kondisi “zaman yang akan datang” itu kini mulai terealisasikan sekalipun baru secara prinsip. Hal ini dapat kita katakan secara lain dengan suatu era di mana “kenantian” telah masuk pada “kekinian” sehingga segala cerah dan suram “zaman sekarang” ini dipahami sebagai bagian integral dari segala sesuatu yang akan kita terima pada “zaman yang akan datang”. Pada skema II ini mereka, dan juga kita, melihat bahwa bahwa zaman atau dunia yang akan datang itu secara prinsip telah masuk pada zaman sekarang. Pada waktunya, saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya kelak, zaman yang akan datang ini tiba pada titik di mana kondisi-kondisi akhirnya sepenuhnya terealisasi dalam eksistensi genapnya, hal mana Vos maksudkan dalam The Pauline Eschatology dengan istilah solid existence.
 
Kontras antara dua zaman, menurut rasul Paulus,
berdasarkan Roma pasal 8
 
Berdasarkan skema II sebagaimana digambarkan Geerhardus Vos tersebut mari kita lihat lebih jelas kontras kedua zaman dimaksud, yaitu “sekarang” dan “yang akan datang,” menurut rasul Paulus, dengan melihat secara spesifik Roma pasal 8 ayat 18 sampai 21. “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (ayat 18). “Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan (ayat 19). Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya (ayat 20), tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah” (ayat 21).
 
“Zaman Sekarang” dan keadaannya
 
Berdasarkan bagian Roma pasal 8 tersebut mari kita lihat keadaan “zaman sekarang” sebagaimana dimaksud Paulus.
 
  1. Ditaklukkan kepada “kesia-siaan”
     
    Untuk memahami kesia-siaan yang Paulus maksudkan dalam Roma 8:19 itu ada baiknya apabila kita memahami terlebih dahulu apa yang kitab Pengkhotbah maksudkan dengan kesia-siaan. Kitab Pengkhotbah diawali dengan kalimat “Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem” (Pengkhotbah 1:1). Kata Ibrani yang digunakan sang guru hikmat untuk kata “perkataan” (Inggris: words) pada ayat tersebut adalah dabar, suatu kata yang dalam Alkitab Ibrani sering kali hadir dalam rangka pembukaan dari suatu peringatan serius Allah kepada umat perjanjian-Nya mengenai sesuatu yang akan terjadi pada masa mendatang. Dengan demikian kalimat dalam Pengkhotbah 1:1 bukan sekadar merupakan pembukaan atau pengantar ke dalam kalimat selanjutnya, melainkan suatu arahan sang guru hikmat demi mempersiapkan murid dan pendengarnya, untuk mewaspadai betapa berbahayanya berpikir dan bertindak secara spekulatif menjalani hidup di bawah kolong langit ini. Oleh karena itu dengan menyebut kata “sia-sia” (Inggris: meaningless; Ibrani: hebel) hingga tiga kali dalam Pengkhotbah 1:2 sang guru hikmat bermaksud untuk menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang ada di bawah matahari ini sesungguhnya adalah kosong belaka bagaikan asap oleh karena keadaannya yang telah ditaklukkan pada kuasa maut apabila kita tidak mengindahkan keterlibatan Allah di dalam segala sesuatunya. Kematian mengakhiri segala sesuatunya; hal mana menyebabkan sang guru hikmat beralih dari semula “membenci hidup” (Pengkhotbah 2:17) menuju menikmati kesenangan yang Allah berikan (Pengkhotbah 2:24-26), sesuatu yang dalam sejarah penafsiran disebut sebagai “panggilan untuk merebut hari” (Latin: carpe diem). Carpe diem adalah bagaimana kita seharusnya tetap dapat menikmati kesenangan-kesenangan sementara yang meringankan beban kehidupan di tengah gelapnya kehidupan yang telah kehilangan makna ini, sekalipun itu semua adalah kesia-siaan juga. Oleh karena itu kesia-siaan segala sesuatunya ini hendaklah mengingatkan kita agar merenungkan sungguh-sungguh kepada bijaksana siapakah kita harus menaklukkan hidup ini.
     
    Kata “sia-sia” yang sama ini kemudian digunakan oleh rasul Paulus di dalam Roma 8:19 dengan kata Yunani mataiotes untuk mendeskripsikan kepada keadaan seperti apakah seluruh makhluk sekarang ini telah ditaklukkan. Sekalipun demikian kita bersyukur karena takluknya seluruh makhluk kepada kesia-siaan ini adalah bukan oleh kehendak mereka sendiri, melainkan oleh kehendak Allah sebagai konsekuensi kejatuhan manusia ke dalam dosa, sehingga bagi orang percaya selalu tersedia pengharapan.
     
     
    The words ‘because of him who subjected it’ are best taken to mean ’because of God who subjected it’ (on account of man’s fall). / Kata ‘oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya’ paling baik diartikan ‘oleh karena Allah sendirilah yang telah menaklukkannya’ (sebagai konsekuensi kejatuhan manusia ke dalam dosa). (C. E. B. Cranfield, “Romans: A Shorter Commentary,” Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1985, p.197).
     
     
    Tremper Longman dalam bukunya The Book of Ecclesiastes mengaitkan relasi antara ‘kesia-siaan’ sebagaimana dimaksud Pengkhotbah dengan kematian Kristus.
     
     
    As we turn to the NT, we see that Jesus Christ is the one who redeems us from the vanity; the meaninglessness under which Qohelet suffered. Jesus redeemed us from Qohelet’s meaningless world by subjecting himself to it. Jesus is the son of god, but nonetheless he experienced the vanity of the world so he could free us from it. As he hung on the cross, his own father deserted him (Matt. 27:45-46). At this point, he experienced the frustration of the world under curse in a way that Qohelet could not even imagine. / Sebagaimana kita kembali ke Perjanjian Baru, kita melihat bahwa Yesus Kristuslah yang menebus kita dari kesia-siaan hidup; ketiadaan arti di bawah mana sang Pengkhotbah juga menderita. Yesus menebus kita dari alam kesia-siaan sebagaimana sang Pengkhotbah maksudkan itu dengan cara menaklukkan dirinya sendiri kepadanya. Yesus adalah anak Allah, akan tetapi ia tidak terkecuali dalam mengalami sendiri kesia-siaan dunia ini agar ia dapat membebaskan kita dari padanya. Sebagaimana ia sendiri telah digantung pada salib, bapanya sendiri meninggalkannya (Matius 27:45-46). Pada titik ini, ia sungguh-sungguh mengalami sendiri kesia-siaan dunia yang telah ada di bawah kutuk ini dalam cara yang sang Pengkhotbah sendiri tidak pernah bayangkan. (Tremper Longman, “The New International Commentary on the Old Testament: The Book of Ecclesiastes,” Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1998, p.40).
     
     
    Inilah keadaan zaman sekarang, sebagaimana dimaksud dalam skema II, di mana seluruh makhluk tetap mengalami penderitaan sekalipun kondisi-kondisi akhir zaman yang akan datang itu telah dimulai secara prinsip.
     
  2. Di bawah perbudakan kebinasaan
     
    Oleh dosa manusia seluruh makhluk telah turut serta ditaklukkan kepada kesia-siaan segala sesuatu. Ketertaklukan kepada kesia-siaan ini kemudian oleh Paulus dideskripsikan dengan berada di bawah kuasa perbudakan kebinasaan. Kata yang Paulus gunakan untuk “kebinasaan” (Inggris/NIV: decay) dalam bahasa Yunaninya adalah phthora, suatu kata yang menjelaskan bahwa kematian dan pembusukan merupakan proses alamiah dengan mana segala sesuatunya akan berakhir. Mengenai kata phthora ini John Stott mengatakan:
     
     
    Phthora (decay) seems to denote not only that the universe is running down (as we would say), but the nature is also enslaved, locked into an unending cycle, so that conception, birth and growth are relentlessly following by decline, decay, death and decomposition. / Kata ‘phthora’ (binasa) tampak memaksudkan bahwa alam semesta ini bukan hanya sedang merosot (sebagaimana pasti akan kita katakan), melainkan bahwa naturnya sendiri juga telah diperbudak, terarahkan menuju suatu siklus yang tidak tertahankan di mana setiap proses pembenihan, kelahiran dan pertumbuhan yang ada di dalamnya dengan tanpa belas kasih pasti akan selalu berujung pada kemerosotan, kebinasaan, kematian dan pembusukan. (John Stott, “Romans: God’s Good News for the World,” Downers Grove: InterVarsity Press, 1994, p.239).
     
     
    Perhatikan juga apa yang James M. Boice katakan mengenai kata “kebinasaan” (Inggris/NIV: decay) ini.
     
     
    …, Paul was probably thinking specifically of death, which comes to all living things, rather than the scientific principles I mentioned, ... / …, Paulus bisa saja sedang berpikir secara spesifik mengenai kematian yang pasti dialami oleh semua makhluk hidup, ketimbang sebagaimana dipahami dalam prinsip-prinsip ilmiah yang saya (dalam hal ini J. M. Boice) sebutkan, ...(James Montgomery Boice, “Romans – Volume 2 – The Reign of Grace – Romans 5-8: An Expositional Commentary,” Grand Rapids: Baker Book House, 1992, p.874).
     
     
    Dalam bukunya tersebut Boice membukakan kepada kita perbedaan antara apa yang rasul Paulus maksudkan dengan apa yang dipahami oleh para iman para ilmuwan sekuler. Sesungguhnya para ilmuwan sekuler, paling jauh, hanya sampai pada formulasi ilmiah yang mengakui bahwa segala obyek-obyek alamiah di alam semesta ini paling jauh hanya sampai pada penuaan, kemerosotan dan secara perlahan menjadi tidak berguna. Jadi hal yang rasul Paulus maksudkan dengan “kebinasan” di sini jauh melampaui apa yang para ilmuwan sekuler itu maksudkan. Kematian dan dekomposisi akan mengakhiri segala sesuatunya. Inilah juga keadaan zaman sekarang, sebagaimana dimaksud dalam skema II, di mana seluruh makhluk bahkan obyek alamiah di dalam alam semesta ini pasti akan berakhir mati, terurai dan berlalu bagaikan asap sekalipun kondisi-kondisi akhir zaman yang akan datang itu telah dimulai secara prinsip.
     
  3. Telah mulai mencicipi atmosfer “zaman yang akan datang”
     
    Berikutnya, sekalipun kesia-siaan telah menaklukkan dan kebinasaan telah memperbudak seluruh tatanan ciptaan kita tidak boleh melupakan bahwa pada zaman sekarang ini, sebagaimana juga digambarkan dalam skema II, oleh kedatangan, kematian dan kebangkitan Kristus, kita telah mencicipi “zaman yang akan datang” sekalipun belum mengalami secara penuh kondisi akhirnya. Inilah mengapa sebagai orang percaya kita tetap memiliki pengharapan dan sukacita sekalipun pada zaman sekarang ini kita harus melewati berbagai suka dan duka. Segala penderitaan yang kita alami pada masa sekarang ini tidak lain merupakan bagian dari bagaimana kita mencicipi zaman yang akan datang itu. Penderitaan yang segala makhluk alami sesakit orang yang bersalin pada masa sekarang ini merupakan bagian dari ketegangan oleh karena mulai masuknya atmosfer zaman yang akan datang itu pada masa kini dan oleh karena itu segala makhluk sama-sama mengeluh menantikan saat anak-anak Allah memperoleh penebusan penuhnya (ayat 19). Jadi kerinduan seluruh makhluk menantikan penebusan akhir itu juga merupakan bagian dari mencicipi “zaman yang akan datang” itu pada “zaman sekarang”.
 
“Zaman Yang Akan Datang” dan keadaannya
 
Seperti digambarkan oleh skema II maka demikianlah keadaan “zaman yang akan datang”.
 
  1. Telah mulai masuk ke “zaman sekarang”
     
    Sekalipun masih secara prinsip zaman yang akan datang itu kini telah mulai masuk ke dalam zaman sekarang sehingga ia bukan merupakan era yang sama sekali terpisah dari zaman sekarang. Zaman yang akan datang itu pada zaman sekarang secara prinsip sudah mulai terealisasi dan hal itu dialami oleh orang percaya.
     
  2. Mengalami penebusan penuh pada kondisi akhirnya
     
    Sebagaimana digambarkan Vos dalam skema II pada bagian paling akhir, pada waktunya zaman yang akan datang akan tiba pada kondisi-kondisi akhirnya di mana pemulihan dan pembaruan atas umat manusia, dalam hal ini orang percaya, serta seluruh ciptaan Allah lainnya akan terealisasi dalam eksistensi genapnya. Inilah yang rasul Paulus maksudkan dengan waktu yang seluruh makhluk sedang nantikan yaitu “saat anak-anak Allah dinyatakan” (Roma 8:19).
 
Kesimpulan
 
Kini jelas bagi kita ketegangan seperti apakah yang sesungguhnya kita, orang percaya, sedang jalani pada masa sekarang ini. Hidup kita pada zaman sekarang ini ditentukan oleh zaman yang akan datang. Zaman yang akan datang menentukan bagaimana kita hidup pada masa sekarang ini. Perhatikan perkataan Tuhan Yesus dalam Lukas pasal 18:29-30. “...“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya (ayat 29), akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal”” (ayat 30). Di sini Tuhan Yesus mengaitkan masa kedatangan-Nya yang pertama dengan telah hadirnya Kerajaan Allah di dalam dunia. Mengapa sekarang ini kita meninggalkan segala milik kita demi Kerajaan Allah adalah karena kita akan menikmati kondisi akhir “zaman yang akan datang” (Inggris/NIV: the age to come) itu, yaitu hidup yang kekal; bahkan tidak hanya itu, pada “masa ini” (Inggris/NIV: this age) juga kita akan mengalami kelimpahannya dengan lipat ganda, hal mana Vos katakan sebagai “kondisi akhir zaman yang akan datang telah dialami secara prinsip mulai pada zaman sekarang”. Oleh karena itu demikianlah hendaknya kita menghidupi zaman sekarang ini:
 
  1. Menghidupi realita keselamatan
     
    Karena kita adalah anak-anak Allah maka pada zaman sekarang ini kita harus bertekun dalam pekerjaan-pekerjaan yang Tuhan percayakan dengan penuh pengharapan sebagai ahli waris yang juga akan menerima semua milik Kristus pada waktunya kelak. “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Roma 8:17). Kata “... jika kita menderita bersama-sama dengan Dia” di sini tidak berbicara mengenai “syarat” yang harus kita penuhi agar di kemudian hari kita menerima janji-janji Allah itu melainkan menegaskan “fakta” bagaimana sekarang ini kita hidup. Di tengah penderitaan yang kita alami pada masa sekarang inilah kita telah mewarisi apa yang merupakan milik zaman yang akan datang.
     
  2. Meresponi maksud Tuhan terhadap seluruh ciptaan
     
    Pada zaman sekarang ini kita sekali-kali tidak mungkin dapat menghindarkan dan membebaskan seluruh ciptaan lainnya yang saat ini ada di dalam pengeluhan ini dari hukum kebinasaan. Akan tetapi itu tidak berarti bahwa pada zaman sekarang ini tidak suatu hal pun dapat kita perbuat. Sebagai anak-anak Allah sekarang ini kita diberi kuasa untuk berbagian memulihkan sejauh mungkin keadaan ciptaan sesuai maksud semula ia diciptakan Tuhan. Dosa telah merusak relasi antara manusia dengan Allah, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Penebusan yang telah Kristus kerjakan memulihkan kembali seluruh relasi-relasi yang rusak itu. Peranan kita sebagai anak-anak Allah di sini adalah menghadirkan kepulihan itu di dalam setiap aspek kehidupan kita.
 
Penutup
 
Masa di mana kita hidup saat ini adalah masa di mana hidup manusia telah demikian kompleks. Akan tetapi hal yang membedakan adalah hidup kita pada “zaman sekarang” ini berpatutan dengan dan ditentukan oleh kondisi-kondisi akhir “zaman yang akan datang”. Zaman yang akan datang menentukan bagaimana kita harus hidup pada zaman sekarang; “kenantian” menentukan “kekinian”. Untuk menghidupi zaman sekarang tanpa kehilangan pengharapan akan zaman yang akan datang itu kita memerlukan wadah di mana setiap kita dapat bersekutu, terus bertumbuh dan saling menguatkan hal mana Persekutuan Studi Reformed merupakan salah satunya.
Selamat Paskah 2018.
[ Jessy V. Hutagalung ]