HIDUP OLEH IMAN
 
(Galatia 2:19-20)
 
_oOo_
 
Di dalam doktrin soteriologi Yahudi, universalitas dosa menjadi konsep yang tidak asing dan tidak bisa disangkal. Konsep ini menekankan bahwa sesungguhnya manusia memiliki kecenderungan (yeser) untuk berbuat baik dan jahat. Oleh karenanya, untuk menekan dorongan berbuat jahat dan untuk memiliki kecenderungan berbuat baik itu mereka membutuhkan Taurat. Tauratlah yang akan memimpin mereka kepada kebaikan demi memperoleh kebenaran di hadapan Allah. Tak ada kebenaran, kesempurnaan, dan kekudusan sejati tanpa Taurat. Bagi mereka yang tidak memiliki hukum Taurat, tidak mungkin keluar dari persoalan yeser ini.
Di dalam konsep penebusan bangsa Yahudi, penggenapan hukum Taurat (miswoth) yang kongkrit menjadi sarana untuk memperoleh kebenaran manusia di hadapan Allah. Dengan memenuhi tuntutan Taurat dan segala pahala yang tersedia di dalamnya maka mereka meyakini ketika hari penghakiman tiba mereka akan diterima oleh Allah. Dengan demikian bagi orang Yahudi, Taurat menjadi “substansi kehidupan” sejati dan sarana penebusan yang kuat.
Walau demikian, konsep ini justru ditentang oleh Rasul Paulus. Ia menyatakan bahwa identitas bangsa Yahudi termasuk di dalamnya ia sendiri, Petrus, maupun Barnabas, dan segala peraturan-peraturan yang dilakukan tidak akan membawa bangsa ini kepada keselamatan. Paulus menyebut tidak hanya bangsa-bangsa lain dikatakan berdosa, tetapi kami - Paulus, Petrus, dan orang Kristen Yahudi - sama-sama merupakan orang berdosa yang tidak mungkin dibenarkan oleh karena hukum Taurat. Perkataan ini jelas dikutip dari Mazmur 143:2, “Janganlah berpekara dengan hamba-Mu ini, sebab di antara yang hidup tidak seorang pun yang benar di hadapan-Mu.” Mazmur 143:2 begitu penting bagi Paulus yang ditegaskan oleh perkataannya, “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.” (Rm. 3:20).
 
Hidup oleh iman di dalam Kristus (Galatia 2:19-20)
 
“Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah, aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”.
Bagi Paulus, adalah suatu yang tidak mungkin untuk kembali kepada hukum Taurat, membangun hukum Taurat untuk beroleh kebenaran di hadapan Allah. Karena dikatakan, bahwa ia telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat. Maka Paulus memberikan antitesis antara keadaan yang lama berdasar pada hukum Taurat yang memimpin kepada kematian dan hidup baru yang datang melalui iman. Di sini, “hukum Taurat” dan “Allah” disandingkan untuk menunjukkan kepada siapa seseorang harus tunduk. Terhadap hukum Taurat yang dipahami sebagai kuasa yang menjadi musuh orang berdosa dan menghalangi jalan kehidupan, Paulus dikatakan sekarang telah mati olehnya.
Kalimat “oleh hukum Taurat” menunjuk kepada sanksi Taurat yang diterima oleh Kristus saat Ia menyerahkan diri bagi umat-Nya (ay. 20). Kristus dan juga mereka yang ada di dalam Kristus, telah mati untuk Taurat dan terlepas dari jeratnya. Hukum Taurat tidak lagi menjadi aturan yang dipaksakan seolah mereka masih hidup di dalamnya. Tetapi terhadap semuanya ini Paulus maupun orang percaya telah mati bersama Kristus, karena Kristus telah memberi jalan lain yang melaluinya mereka dapat diselamatkan.
Apa yang dikatakan Paulus “mati oleh hukum Taurat” dilihat sebagai fakta bahwa ia sekarang menjadi milik Kristus. Di dalam kematian Kristus, Paulus dan orang percaya telah mati bagi hukum Taurat supaya ia hidup bagi Allah. Hal ini diidentikkan oleh Paulus bahwa ia telah disalibkan dengan Kristus. Kematian Kristus telah melepaskan Paulus maupun jemaat dari konteks hidup yang lama. Maka sekarang, hidup bagi Allah yang dikatakan Paulus berbicara tentang dibangkitkan bersama Kristus yang sudah diberikan dan dimulai di dalam kebangkitan Kristus. Hidup bukan lagi sekadar keadaan manusia yang Allah berikan, tetapi terkait dengan bagi siapa ia hidup dan mendedikasikan hidupnya. Maka, bagi Paulus, hidup tidak lagi untuk diri sendiri di dalam kehidupan yang lama, tetapi hidup yang diarahkan kepada Kristus Tuhan. Berbeda dengan mereka yang sekadar melakukan hokum Taurat yeng ternyata hidup untuk dirinya sendiri dan tidak pernah mendedikasikan hidupnya bagi Allah.
Kemudian Paulus mengatakan, “aku telah disalibkan dengan Kristus” dan “hidup bagi Allah,” Ini merupakan suatu pemikiran Paulus akan eskatologis-Kristus. Saat Kristus disalib, umat-Nya dilepaskan dari dunia, dosa, dan Taurat yang menguasai dan memesona mereka. Dunia, dosa, dan Taurat menggambarkan akan kehidupan dari suatu era lama yang mana “oleh salib” Kristus umat Allah dilepaskan. Maka, melalui ayat 20 ini ingin dikatakan bahwa terjadi pergeseran dari “kami bersama Kristus” menjadi “Kristus dalam kami”.
Mati bersama Kristus artinya kita telah mati bagi dosa, hukum Taurat, serta dunia ini, namun sekarang hidup bagi Allah. Dan ini semua hanya bisa didasarkan pada persekutuan yang hidup dengan Kristus. Namun demikian sekalipun kita sudah disalibkan dengan Kristus dan memberikan hidup kita bagi Allah namun kita masih menunggu kepenuhannya secara utuh, seperti yang dikatakan Paulus, “Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging”. Kata “daging” yang dipakai Paulus di sini ingin menunjukkan bahwa manusia masih hidup di dalam kelemahan dan kefanaannya. Daging menunjukkan eksistensi lama yang identik dengan dosa. Di lain pihak Paulus kadang memakai “Roh” untuk mewakili ciptaan baru.
Manifestasi hidup baru dalam daging ini adalah bukti dari karakter sementaranya. Hidup baru masih tersembunyi namun sekaligus telah dinyatakan (Kol. 3.3). Ketika Paulus membicarakan realitas hidup baru dalam daging, Paulus tidak bermaksud menghilangkan kelemahan dan kefanaan dari kehidupan di dunia ini, tetapi ingin menyatakan bahwa hidup baru di tengah kelemahan ini hanya bisa dimengerti, disadari dan di alami di dalam iman, yaitu iman di dalam Anak Allah Kristus Tuhan yang telah mengasihi dan menyerahkan diri-Nya untuk kita.
 
Penutup
 
Tidak ada kebenaran oleh karena hukum Taurat maupun peraturan-peraturan di dalam agama yang dibuat manusia, karena kebenaran Allah hanya ada di dalam Kristus. Hukum Taurat dan peraturan lainnya hanya memimpin manusia terus hidup di dalam “daging,” yakni keadaan hidup yang lama dan berdosa, karena keadaan manusia yang lama yang diidentikan dengan “daging” dihakimi di dalam Kristus, namun Kristus menjadi kebenaran bagi mereka yang ada di dalam Kristus Tuhan yang oleh iman kita hidup bagi-Nya.
Selamat Paskah 2018. Tuhan memberkati.
[ Mulatua ]