MORALITAS PENGETAHUAN KESUSASTERAAN
(MORALITY OF LITERARY KNOWLEDGE):
BAGAIMANA SEHARUSNYA ORANG KRISTEN BERSIKAP
 
(BAGIAN KEDUA) - LOGOSENTRISME
_oOo_
 
Pengantar
 
Pada tahun 2012 pemimpin sebuah partai politik yang saat itu berkuasa di Indonesia dalam sebuah wawancara televisi berkata: “Pertanyaannya adalah: “Apakah saya terlibat di dalam kasus Hambalang?” Jawaban saya adalah: “Tidak ada.”” Hambalang adalah suatu tempat di mana pada saat itu sebuah pusat olah raga nasional Indonesia sedang dibangun oleh pemerintah dengan biaya yang sangat besar dengan indikasi terjadinya penyelewengan sejumlah besar uang negara. Apabila perkataan pemimpin partai politik itu dipahami sebagai sekadar “rangkaian dari sejumlah kata” memang perkataan tersebut tidak mempunyai makna. Akan tetapi karena perkataan itu diperkatakan oleh seseorang yang mempunyai kekuasaan politik apakah perkataan itu dapat begitu saja kita percaya? Bukankah sesungguhnya perkataan tersebut mewakili suatu kekuasaan dan oleh karena itu tidak dapat dilepaskan dari siapa yang berkuasa?
 
Pendahuluan
 
Ketika “kata” keluar dari suatu “kuasa” maka mau tidak mau “kata” seakan-akan menghadirkan kebenaran dan oleh karena itu ia bagaikan sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan lagi. Inilah logosentrisme: suatu keyakinan akan adanya suatu sumber otoritatif di luar dunia kita ini, sehingga “kata” dipahami tidak sekadar sebagai “rangkaian huruf” dan juga di mana “kalimat” tidak sekadar sebagai “rangkaian kata,” yang menjamin korelasi antara “bahasa” yang kita gunakan dengan “kenyataan” (reality). Menyambut datangnya musim Natal tahun 2019 ini penulis mengajak kita untuk melihat apa itu logosentrisme dan bagaimana moralitas orang Kristen seharusnya dibangun dalam memandang hal ini berdasarkan inkarnasi Kristus, Anak Allah, di dalam dunia.
 
Logosentrisme: apa itu?
 
Logosentrisme merupakan istilah yang dipopulerkan oleh Ludwig Klages (1872-1956), seorang kritikus tulisan tangan (handwriting) Jerman, pada dekade tahun 1920-an sehubungan dengan proposalnya mengenai superioritas ilmu bahasa ketimbang tulisan tangan.
 
 
… situates the logos, ‘the word’ or the ‘act of speech’, as epistemologically superior in a system, or structure, in which we may only know, or be present in, the world by way of a logocentric metaphysics. For this structure to hold true it must be assumed that there is an original, irreducible object to which the logos is representative, and therefore, that our presence in the world is necessarily mediated. If there is a Platonic Ideal Form then there must be an ideal representation of such a form. This ideal representation is according to logocentrist thought, the logos. / … menempatkan logos. ‘kata’ atau ‘tindakan berkata-kata,’ sebagai sesuatu yang secara epistemologis unggul di dalam suatu sistem, atau struktur, yang di dalamnya kita hanya mungkin mengetahui, atau hadir di dalamnya, dunia menurut suatu metafisika logosentris. Untuk berpegang pada struktur ini harus diyakini bahwa ada suatu obyek awal atau sesuatu yang tidak bisa disempitkan lagi, yang terhadapnya logos merupakan suatu representasi saja, dan oleh karena itu, kehadiran kita di dalam dunia ini dengan sendirinya terperantarai. Jika ada Bentuk Ideal Platonisme maka pasti ada suatu representasi yang ideal bentuk seperti itu. Representasi ideal menurut pemikiran para logosentris, adalah logos.
 
(http://en.wikipedia.org/wiki/Logocentrism)
 
 
Maksudnya di dalam proses komunikasi moderen “perkataan” (speech) dipandang sebagai sesuatu yang sangat berkuasa oleh karena ia lebih dekat kepada sumber transendennya, yaitu “Pikiran” (Mind) dan “Dunia” (World) dan dengan demikian ia berkepastian dan stabil, ketimbang “tulisan” (writing). Perkataan secara langsung mewakili kehadiran kehendak otoritatif transenden, sedangkan tulisan hanya menggantikan ketidakhadiran penulisnya. Dengan kata lain dalam tradisi Barat dipahami bahwa kata yang tertulis merupakan suatu tanda dari suatu tanda lain. Menurut Aristotel (384SM-322SM), ‘kata yang diperkatakan merupakan simbol dari pengalaman mental sedangkan kata yang tertulis merupakan simbol saja dari kata yang diucapkan.’ Demikian pula menurut Rousseau (1712-1778), ‘tulisan merupakan sesuatu yang bukan apa-apa selain dari representasi perkataan; oleh karena itu adalah hal yang ganjil bahwa seseorang memperhatikan upaya memastikan representasi atau citra dari sesuatu secara lebih ketimbang memperhatikan obyeknya itu sendiri’. Jadi logosentrisme merupakan suatu kepercayaan Barat moderen bahwa makna kata dan kebenaran ide-ide kita dijamin oleh suatu sumber atau pusat yang bersifat transenden dan otoritatif di luar bahasa yang kita gunakan dan oleh karena itu ia merupakan sesuatu yang berkepastian dan stabil sehingga tidak perlu dipertanyakan dan digugat dan dengan demikian bahasa sebagai sistem dipandang superior ketimbang tulisan. Bayangkan bahwa dengan kerangka ini kitab Matius, misalnya, dipisahkan antara sebagai perkataan Allah (yang secara historis didominasi oleh institusi gereja) yang superior dan sebagai catatan seseorang bernama Matius yang inferior!
 
Logos dalam pemikiran Barat moderen
 
Dalam perjalanan filsafat Barat kita melihat bahwa “perkataan” (speech) telah menjadi media di mana realitas utama yang disadari, apakah itu Allah maupun Akal, telah menyatakan diri. Perkembangan teologia yang seharusnya tunduk kepada “perkataan” Allah, misalnya, pernah mengalami interaksi keras dengan rezim Akal; teologia liberal, misalnya, yang menyetujui penolakan atas hal-hal supranatural seperti kelahiran Kristus dari seorang perawan dan mengutamakan moralitas, merupakan bentuk kompromi kekristenan sekuler barat yang dipengaruhi pemahaman bahwa menurut Akal hal-hal supranatural seperti itu merupakan hal yang “tidak masuk akal.” Dengan kata lain teologia telah menjadi alat dari rezim Akal untuk menyampaikan “perkataan”-nya, sesuatu yang ironis.
 
Logos dalam pengajaran Alkitab
 
Untuk membangun paradigma yang benar mengenai bagaimana orang Kristen seharusnya bersikap terhadap logosentrisme ini mari kita lihat Yohanes pasal 1 ayat 1 di mana kata Yunani logos dipergunakan untuk Kristus.
 
  1. “Pada mulanya adalah Firman” (NIV: In the beginning was the Word),
     
    Kata “pada mulanya” apabila dirujuk pada makhluk ciptaan dapat diartikan “permulaan yang dihitung sejak ciptaan itu diciptakan atau dijadikan,” atau dapat juga diartikan “permulaan sejak mana ciptaan itu mulai berada.” Akan tetapi, di sini, kata “pada mulanya” oleh Yohanes tidak dirujuk pada sesuatu yang diciptakan seperti manusia serta alam dengan segenap isinya, melainkan pada Keilahian Kristus yang kekal; dengan maksud agar kita mengetahui bahwa dia adalah Allah yang kekal, “yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia” (I Tim. 3:16), sehingga kata ini sesungguhnya bermaksud menyatakan bahwa Firman (Inggris: Word; Yunani: Logos) itu adalah pribadi yang telah berada sejak pada mulanya dan tanpa keberadaan-Nya tidak sesuatu pun akan dijadikan dan ada. Secara filosofis kita dapat mengatakan ini sebagai suatu instantiasi (instantiation). Anak Allah ini adalah pribadi yang telah berada “sejak pada mulanya” (from the beginning); dia adalah pribadi yang sama sekali tidak tergantung pada segala keberadaan lainnya yang diciptakan (the created) itu. Jadi di sini “Firman” atau “Kata” (yang oleh Calvin Translation Society diterjemahkan sebagai Speech) merupakan suatu instansi independen yang kini telah hadir dalam rupa kita. Dia, Anak Allah, adalah pengharapan kita sebagai manusia berdosa akan pemulihan yang kita nantikan oleh karena kuasa mencipta dan memperbarui yang ada padanya. Dia, yang adalah “Kata” (Logos) ini, mempunyai perbedaan kualitatif dengan sekadar ‘definisi’ (definition), ‘argumentasi’ (reasoning) dan ‘perhitungan’ (calculation) sebagaimana dimengerti oleh filsafat Yunani. Dia adalah “Firman” atau “Kata” yang bereksistensi pada dirinya sendiri dan tidak bergantung pada semua “kata” yang pernah, sedang dan akan “ada”. Semua “kata” yang ada dan diperkatakan berdasarkan definisi, argumentasi dan perhitungan manusia bergantung kepadanya, sang “Kata” itu.
     
  2. Firman itu bersama-sama dengan Allah (NIV: and the Word was with God),
     
    Suatu relasi (relation). Dia, Anak Allah itu, berbeda dengan makhluk ciptaan lainnya. Oleh karena itu, John Calvin mengatakan, atas pertanyaan-pertanyaan seperti “Di mana Logos ini berada sebelumnya? Bagaimana ia menyatakan kuasanya? Apa naturnya? Bagaimana ia dapat dikenal?” kita tidak boleh menyamakannya dengan dunia ini maupun makhluk-makhluk ciptaan lainnya. Dengan kata “bersama,” di sini, Yohanes bermaksud menyatakan bahwa Dia tersatukan dengan Allah di dalam suatu relasi Tritunggal, sejak sebelum waktu dan dunia dijadikan.
     
     
    … the ancient writers of the Church … said that there are three Hypostases, or Subsistences, or Persons, in the one and simple essence of God. / … para penulis kuno Gereja … mengatakan bahwa ada tiga Hipostasis, atau Subsistensi, atau Pribadi, di dalam satu esensi Allah yang tunggal. (John Calvin, “Commentary on the Holy Gospel of Jesus Christ: According to John,” The Calvin Translation Society, Baker Books, Grand Rapids, Michigan, 1999, p.28-29)
     
     
    Dia yang adalah “Firman” atau “Kata” itu harus dipahami dalam Hikmat Allah yang Kekal (sesuatu yang John Calvin sebut dengan Eternal Wisdom of God). Oleh karena itu di sini “Kata” merupakan oknum yang secara kualitas berbeda dengan sekadar “kata” terlebih lagi apabila “kata” itu adalah kata-kata yang diperkatakan oleh manusia, yang adalah ciptaan dengan naturnya yang berdosa.
     
  3. dan Firman itu adalah Allah (NIV: and the Word was God)
     
    Suatu klasifikasi (classification). Dia adalah Allah adanya. Dia berbagian dengan Bapa dan Roh Kudus dalam satu esensi atau hakekat keallahan. Dia tidak mungkin berinstantiasi sebagai Allah dan berada di dalam relasi yang tepat dalam satu esensi keallahan apabila ia sendiri klasifikasinya bukan Allah.
     
     
    Now since there is but one God, it follows that Christ is of the same essence with the Father, and yet that, in some respect, he is distinct from the Father. / Oleh karena hanya ada satu Allah, Kristus yang esensinya sama dengan Bapa, tetap merupakan pribadi yang berbeda dengan Bapa. (John Calvin, “Commentary on the Holy Gospel of Jesus Christ: According to John,” The Calvin Translation Society, Baker Books, Grand Rapids, Michigan, 1999, p. 29)
     
     
    Inilah pengharapan kita. Di sini “Firman” atau “Kata” adalah Allah itu sendiri. Kita tidak boleh melepaskan “Kata,” yang adalah sumber “kata” yang ada, dari Allah. Kepada-Nya “kata” dan orang yang memperkatakannya sesungguhnya bergantung bahkan bertanggungjawab. Inilah jaminan kepastian dan kestabilan tak berwaktu dari “Kata” itu: Dia adalah Allah itu sendiri.
Rasul Yohanes mengkondensasikan sekali lagi: “Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah” (Yohanes 1:2; NIV: He was with God in the beginning), agar kita memahami bahwa Kristus, sang “Kata,” yang berada pada diri-Nya sendiri itu permulaannya adalah sejak sebelum adanya waktu. Dia berinstatiasi sebagai Allah dan berelasi di dalam komunitas Allah Tritunggal oleh karena Dia sendiri adalah Allah. Inilah pengharapan kita: Kristus, yang adalah “Firman Allah” atau “Kata Allah” itu sendiri.
 
Bagaimana sikap moral orang Kristen terhadap logosentrisme?
 
  1. Berdasarkan ide ‘dekonstruksi’ maupun ‘sosiologi pengetahuan’
     
    Filsuf-filsuf hermeneutika telah memaparkan metode seperti dekonsutruksi dan sosiologi pengetahuan dalam menghadapi logosentrisme. Dekonstruksi adalah filsafat dasar postmodern di mana pembaca melakukan suatu ‘pembacaan ulang’ (second reading) atas teks di mana pada akhirnya menuntut pembaca untuk melakukan suatu ‘pembongkaran’ (undoing) atas teks. Dengan ‘dekonstruksi’ kita tahu bahwa sesungguhnya filsafat barat yang telah demikian lama mengklaim berkata-kata atas “suara” otoritatif tertentu: Akal, sendirinya juga membutuhkan ‘kekuasaan’ agar dapat berlangsung sebagai suatu rezim; sesuatu yang mengungkapkan bahwa Akal itu tidak sempurna. Teologia juga demikian, mengklaim berkata-kata atas “suara” Allah, padahal dalam sejarah teologia pun tercatat pernah tunduk pada rezim Akal. Demikian juga dengan kritik Nietzsche, hal mana dikembangkan kemudian oleh Foucault dengan pemikirannya tentang sosiologi pengetahuan serta strategi ‘hermeneutika kecurigaan’-nya, kita mendapati bahwa “kepastian” akan “suara” otoritatif tertentu dalam filsafat barat selama ini sesungguhnya merupakan suatu tirani yang ditegakkan dengan cara meniadakan tiga hal ini, yaitu apa yang tidak pasti, apa yang tidak sesuai dan apa “Yang Lain” (the Other). Oleh karena itu para filsuf hermeneutika telah menyuarakan agar pembaca (reader) memerdekakan “teks” dari “kata”.
     
    Akan tetapi sebagai orang Kristen jalan keluar yang disuarakan oleh para filsuf hermeneutika ini: ‘dekonstruksi’ dan ‘sosiologi pengetahuan,’ harus kita cermati, karena sikap moral mereka terhadap kerapuhan logosentrisme ini mereka berlakukan atas segala sesuatunya termasuk teks Alkitab. Dekonstruksi mengarahkan bahasa pada “ketiadaan makna pasti” (undecidability) dan dengan demikian hermeneutika Alkitab tidak membawa kita pada pengharapan; sedangkan sosiologi pengetahuan membawa bahasa ke sekadar bagaimana ia berfungsi tanpa ditunggangi rezim otoritatif di dalam suatu masyarakat dan dengan demikian “Firman” atau “Kata” tidak lagi mempunyai otoritas atas realitas. Oleh karena itu jangan sampai dengan semangat ‘dekonstruksi’ dan ‘hermeneutika kecurigaan’ ini, orang Kristen juga ikut jatuh ke dalam suatu tindak ‘kekerasan’ terhadap penafsiran Alkitab (interpretive violence). Kita tetap dapat memanfaatkan ‘dekonstruksi’ maupun ‘sosiologi pengetahuan’ sebagai strategi terhadap logosentrisme ini, tetapi tetap di dalam kesadaran kita akan “Kata” dan apabila tidak maka kita juga akan jatuh kepada “kata.” Oleh karena itu mari kita perhatikan bagaimana Alkitab berpandangan akan hal ini.
     
  2. Berdasarkan Logos Alkitab
     
    Para Reformator gereja sejak awalnya juga telah menyuarakan pentingnya penafsiran secara alkitabiah (biblical interpretation) atas Alkitab dan atas realitas kehidupan. Dengan kesadaran bahwa “Pada mulanya adalah Firman, …” (Yoh. 1:1) pembaca dan pendengar yang beriman harus menyadari hal berikut ini:
     
    • “Firman” atau “Kata” itu sesungguhnya adalah Anak Allah itu sendiri yang “telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh. 1:14). Itu berarti Ia merupakan representasi yang sepenuhnya dapat dipercaya (reliable) akan Allah. “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah …” (Ibr. 1:3). Dia, sang “Kata”, identik dengan Allah. Oleh karena itu Dia adalah “Firman” atau “Kata” yang dapat kita percaya dan bahkan hanya kepadanya kita harus bersandar. “Firman” itu juga adalah “Penulis” (Author) yang sesungguhnya dari “kata” yang ada; Dia adalah sumber yang daripadanya “kata-kata” (words) berasal.
       
    • Realitas “Firman” atau “Kata” ini sekarang dikomunikasikan kepada kita melalui “kata-kata” yang telah ada terlebih dahulu mendahului Yohanes, si “pembicara” (speaker). Si “pembicara” tidak mungkin dapat mengkomunikasikan tentang “Kata”, dengan menggunakan kata-kata yang ada, kepada kita apabila “Kata” itu sendiri tidak terlebih dahulu mengkomunikasikan dirinya dalam cara yang dimengerti oleh kita semua. Hanya dengan demikianlah maka Yohanes dapat menggunakan “kata-kata” yang tepat untuk mengkomunikasikan “Kata” itu kepada kita. Dengan demikian “kata” yang Yohanes ucapkan tentang “Kata” di sini juga bukan merupakan sekadar “kumpulan huruf atau kata” melainkan sesuatu yang dapat kita percaya untuk kemudian mengerti (Latin: credo ut intelligam).
 
Sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya, kita tentunya tidak menerima logosentrisme seperti halnya telah dihidupi oleh tradisi moderen selama ini dengan kepercayaan religiusnya akan Akal. Tetapi di satu sisi kita tetap harus menyadari bahwa Logos, yang identik dengan Anak Allah itu, adalah pusat dari segala sesuatunya. Jadi sikap moral pembaca Kristen seharusnya adalah logosentrisitas, suatu keterpusatan kepada “Kata” (Logos), Anak Allah yang adalah Yesus Kristus, pegangan yang dapat kita percaya untuk menjalani kehidupan di dalam dunia di mana Akal menyatakan diri melalui “kata-kata” manusia berdosa.
 
Kesimpulan
 
Satu hal yang kita dapat dari pembahasan ini adalah bahwa studi bahasa dan kata merupakan sesuatu yang sepenuhnya religius. Sikap moral Kristen kita harus memadukan hidup yang benar dengan bahasa yang benar sehingga bahasa yang kita gunakan dapat dipercaya sebagai representasi dari suatu realitas kebenaran. Logos yang diperkatakan Alkitab adalah sandaran kita sesungguhnya untuk menilai “kata” yang mewujudnyata dalam berbagai cara pandang kehidupan (worldview) di dalam dunia ini.
 
Penutup
 
Dari bahasan ini kita melihat bahwa bahasa merupakan salah satu ruang di mana orang Kristen dapat bekerja untuk mewujudnyatakan realitas yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Oleh karena itu mari gunakan “kata” untuk menghadirkan kebenaran dan untuk itu orang Kristen harus bersandar kepada “Kata” agar dapat menyampaikan “kata” kepada segenap institusi ciptaan Tuhan. Persekutuan Studi Reformed merupakan salah satu wadah itu. Mari kita gunakan waktu kita yang tersisa ini sebaik-baiknya bagi kemuliaan Tuhan.
 
Selamat Natal 2019 dan Selamat Tahun Baru 2020.
[ Jessy V Hutagalung ]