YESUS SANG MESIAS,
PENGANTARA ALLAH & MANUSIA
 
( Eksposisi Yohanes 5:17–30)
_oOo_
 
 
Ayat 17
Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga."
 
 
Dalam bagian ini Yesus sedang menjawab tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang Yahudi yang menganggapnya telah merusak hari Sabat. Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah Anak Allah dengan menyebut Allah sebagai Bapa-Nya di mana kesucian, kekudusan, kedaulatan dan kehendak-Nya setara (instar omnium). Yesus bekerja sebagaimana Allah Bapa juga bekerja. Allah bekerja tidak dibatasi oleh waktu, tak terkecuali dengan hari Sabat. Allah terus bekerja menopang jalannya proses kehidupan ciptaan agar semua berjalan selaras dengan apa yang dikehendaki-Nya. Semuanya ini adalah bagian dari pemeliharaan Allah (providensia Allah) atas seluruh ciptaan.
Memikul tilam adalah satu aktivitas dari berbagai aktivitas lain yang dilarang untuk dikerjakan pada hari Sabat. Itu sebabnya orang-orang Yahudi sangat marah waktu melihat orang sakit itu memikul tilamnya, karena tindakan itu melanggar kesucian hari sabat. Menyadari tindakannya dipersalahkan, orang yang baru disembuhkan itu seolah ingin melemparkan kesalahannya itu kepada Yesus. Ia berkata, “Orang yang menyembuhkan aku yang memerintahkan, maka aku lakukan ini.” Di sini kita bisa melihat betapa rusaknya cara berpikir orang itu. Ia yang telah disembuhkan oleh Yesus di satu sisi berupaya membela dirinya namun di sisi lain tanpa disadari ia sedang menjerumuskan Yesus.
Mengapa Yesus memerintahkan dia untuk memikul tilamnya? Apakah Yesus tidak tahu kalau tindakannya itu akan berujung masalah? Tentu Yesus tahu. Melalui tindakan itu sesungguhnya Ia ingin mendidik umat-Nya untuk memahami Taurat dengan benar. Mereka melakukan segala peraturan di dalam Taurat secara mekanistik dan kering. Mereka tidak memahami makna sesungguhnya di balik setiap peraturan itu. Peraturan ditaati hanya sebatas usaha untuk membuktikan kesalehan dan kelebihan diri dibanding orang lain. Sesungguhnya mereka tidak mengasihi Tuhan dan tidak memahami isi hati Tuhan di dalam firman-Nya. Mereka hanya tahu mana yang boleh, mana yang tidak boleh. Mereka ingin menaati hukum Allah, namun ketaatan mereka tidak dilandasi pengertian yang benar.
Kembali lagi, sebagaimana Allah Bapa berkerja demikian Yesus pun bekerja. Allah Bapa dan Yesus Kristus bersama-sama bekerja mencipta segala sesuatu, menopang dan mengendalikannya untuk berjalan seturut kehendak-Nya. Ia adalah Tuhan atas segala sesuatu termasuk Tuhan atas hari Sabat.
 
 
Ayat 18
Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah.
 
 
Tuduhan orang Yahudi atas kejahatan yang Yesus lakukan ternyata tidak sebatas pelanggaran terhadap hari Sabat. Namun lebih dari itu, Yesus mengatakan Allah adalah Bapa-Nya, yang artinya Ia sedang menyamakan diri-Nya sendiri dengan Allah. Perkataan Yesus inilah yang memantik kemarahan orang Yahudi semakin memuncak. Itu sebabnya mereka berniat dan berupaya untuk membunuh-Nya. Tentu Yesus tahu akan hal itu.
Di saat orang Yahudi menolak Yesus dan berniat ingin membunuh-Nya, sesungguhnya tindakan itu sama artinya dengan mereka sedang menolak Allah. Sebagai orang Kristen, terkadang kita harus mengalami penolakan dari dunia ini karena kita tidak ingin sama dengan dunia. Namun kita tidak perlu berkecil hati, karena Tuhan kita, Yesus Kristus pun pernah mengalaminya. Inilah yang seharusnya meneguhkan kita.
 
 
Ayat 19
Maka Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.
 
 
Dengan pernyataan ini, Yesus ingin memberi kesaksian tentang diri-Nya, yaitu:
 
  • Yesus sadar dan mengerti bahwa orang Yahudi akan menfitnah dia dengan pernyataan-Nya.
  • Yesus tidak tinggal diam, justru Ia menyatakan diri-Nya sebagai Allah dan sebagai Penebus itu.
  • Orang Yahudi yang merendahkan Yesus adalah manusia yang melakukan pekerjaan dengan kekuatan yang ilahi (suatu ajaran arian yang sesat)
 
Yesus Kristus adalah Pengantara antara Allah dan manusia. Ia selalu taat pada kehendak Bapa-Nya. Allah tidak pernah berdusta dan tidak dapat menyangkal diri-Nya sendiri. Ia mengungkapkan kesempurnaan kebenaran-Nya, bukan ketidaksempurnaan dalam kekuatan-Nya. Jadi, di sini Yesus begitu mengabdikan diri kepada kehendak Bapa-Nya, hingga mustahil bagi-Nya untuk bertindak di luar kehendak Bapa-Nya. Tidak seorang pun dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah Bapa, kecuali Anak Tunggal Allah. Sebagai Pengantara, yang Yesus kerjakan sebagaimana Allah Bapa juga kerjakan adalah dengan kebijaksanaan yang kekal, Ia menetapkan rencana penebusan bagi kita dan menetapkan langkah-langkah yang tidak akan pernah mungkin dilanggar ataupun diubah.
Kesetaraan Yesus Kristus dengan Bapa salah satunya adalah dalam hal bekerja. Apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Ia melakukan dengan wewenang, kebebasan, hikmat, kekuatan, dan kuasa yang sama.
 
 
Ayat 20
Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri, bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi dari pada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran.
 
 
Dalam Matius 3:17 dikatakan: lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
Allah berkomunikasi dengan Anak. Ini menunjukkan Bapa mengasihi Anak dengan cara menunjukkan segala sesuatu yang dikerjakan oleh-Nya dalam hal menciptakan dan mengatur dunia. Allah Bapa juga akan menunjukkan kepada-Nya, yaitu akan mengangkat dan mengarahkan Anak untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari itu. Tidak hanya kuasa menyembuhkan orang sakit, tetapi Kristus juga memiliki kuasa untuk membangkitkan orang mati, dan Dia sendiri juga harus bangkit dari antara orang mati.
Perintah mengangakat tilam pada hari sabat, meski tindakan itu bagi orang-orang Yahudi adalah upaya yang berani, namun tindakan-Nya itu tidaklah ada apa-apanya dibandingkan dengan tindakan-Nya untuk membatalkan seluruh hukum upacara (seremonial) dan menetapkan ketetapan-ketetapan baru yang tidak lama kemudian dilakukan-Nya, sehingga mereka menjadi heran. Kristus membuktikan kesetaraan-Nya dengan Bapa dengan menyebut beberapa pekerjaan khusus yang dilakukan-Nya yang hanya bisa dikerjakan oleh Allah saja.
 
 
Ayat 21
Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya
 
 
Hal ini bekenaan dengan wewenang, kemampuan, dan tindakan Allah membangkitkan orang mati dan memberikan kehidupan. Allah yang pertama kali menghembuskan nafas kehidupan kepada manusia dan menjadikannya makhluk yang hidup, Allah itu juga yang berkuasa membangkitkan orang mati dan memberikan kehidupan. Contohnya, Allah memakai Nabi Elia untuk membangkitkan anak janda Sarfat atau nabi Elisa yang membangkitkan anak perempuan Sunem. Semua ini bisa terjadi semata-mata karena kuasa Ilahi ada di dalamnya.
Sang Pengantara diberi hak istimewa untuk menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya kapanpun Ia berkenan, karena Ia mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri sama seperti Bapa. Bapa dan Anak tidak bergantung pada apapun dan keberadaan-Nya bukan berasal dari yang ada karena Dialah sumber kehidupan. Dialah pencipta keberadaan dan kesejahteraan ciptaan. Dialah Allah yang hidup dan Allah dari semua yang hidup. Demikian juga Anak, sumber semua kehidupan dan segala sesuatu yang baik.
Maksud dari Kristus membangkitkan di sini dipahami di dalam konteks membangkitkan orang-orang yang mati karena pelanggaran dosa (Ef. 2:1). Mereka mati secara rohani dan terpisah dari sumber kehidupan, Allah sendiri, namun mereka tidak sadar akan kesengsaraannya dan tidak mampu menolong dirinya sendiri keluar dari kondisi itu kecuali mereka bertobat kepada Allah. Pertobatan seseorang kepada Allah merupakan titik kebangkitan seseorang dari kematian menuju ke kehidupan. Setelah mengalami pertobatan, jiwanya bisa hidup bagi Allah dan memuliakan Allah. Dan ini dapat terjadi hanya oleh karena kuasa Ilahi. Roh kudus bekerja di dalam hati mereka sehingga bisa mendengar, mengerti, menyadari dan percaya kepada Anak Allah. Dengan demikian, kita perlu mengerti bahwa satu-satunya cara seseorang dapat kembali kepada Allah adalah bertemu dengan Allah sendiri melalui firman Tuhan yang diberitakan. Hanya Allah yang dapat mengubah hati manusia. Dan itu semua dapat terjadi oleh karena anugerah Allah semata bagi umat pilihan-Nya.
 
 
Ayat 22-23
Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak. supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia
 
 
Pemberian kuasa kepada Kristus untuk melakukan tugas sebagai hakim tidak boleh dimengerti seakan Bapa berhenti memerintah. Allah Bapa terus memerintah melalui Kristus supaya manusia tidak langsung berhadapan atau di bawah hukum sang Pencipta, tetapi tetapi di bawah kasih karunia sang Penebus. Bapa menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak berarti :
 
  • Anak dipercayakan pengelolaan kerajaan Allah, dan Ia dijadikan Kepala segala sesuatu (Ef. 1:10), kepala dari tiap-tiap laki-laki (1Kor. 11:3). Segala sesuatu ada di dalam Dia (Kol. 1:17).
     
  • Anak diberi kuasa untuk segera menetapkan hukum guna mengikat hati nurani. Perkataan Aku berkata kepadamu sekarang merupakan bentuk yang menggambarkan jalannya kerajaan sorga. Dijalanilah kerajaan itu oleh Tuhan Yesus, dan oleh wewenang-Nya dan semua hukum dan peraturan sekarang terhubung dengan tongkat pemerintahan-Nya.
     
  • Anak diberi kuasa untuk menentukan dan menetapkan persyaratan kovenan baru itu, dan untuk menyusun pasal-pasal perdamaian di antara Allah dan manusia. Allah di dalam Kristuslah yang telah memperdamaikan dunia dan kepada-Nya telah diberikan kuasa untuk memberikan hidup kekal. Kitab kehidupan adalah Kitab Anak Domba. Oleh putusan hukuman-Nyalah kita akan berdiri atau jatuh.
     
  • Anak ditugaskan untuk melanjutkan dan menuntaskan peperangan melawan kuasa-kuasa kegelapan, untuk mengusir dan menjatuhkan penghakiman atas penguasa dunia ini. Ia bukan saja ditugaskan untuk menghakimi, tetapi juga untuk berperang (Why. 19:11). Semua orang yang hendak berperang bagi Allah melawan Iblis harus mendaftarkan diri di bawah panji-Nya.
     
  • Anak ditetapkan sebagai pengatur tunggal untuk menghakimi pada hari penghakiman itu. Para penulis kuno umumnya memahami kata-kata ini sebagai hak khusus yang hanya dimiliki oleh-Nya, yaitu bahwa hanya Dialah yang empunya kuasa untuk menghakimi. Penghakiman terakhir dan berlaku umum atas segala umat manusia ini diberikan kepada Anak Manusia. Pengadilan itu adalah milik-Nya. Itu adalah kursi pengadilan Kristus. Para pelayan yang menyertai-Nya adalah milik-Nya, yaitu malaikat-malaikat-Nya yang perkasa. Dia akan mengadili perkara-perkara dan menjatuhkan hukuman (Kis. 17:31).
 
Dan yang menjadi alasan kuasa untuk menghakimi itu diberikan kepada-Nya antara lain :
 
  • Karena Dia adalah Anak Manusia.
     
    • Merendahkan diri sebagai manusia yang hina untuk menjalankan rencana Bapa-Nya, yakni menanggung seluruh aib dan dosa-dosa manusia agar manusia tidak binasa.
       
    • Di dalam pertalian dan persekutuan-Nya dengan kita, Allah Bapa telah menyerahkan penguasaan atas anak-anak manusia kepada-Nya, karena sebagai sebagai Anak Manusia, ia memiliki sifat yang sama dengan orang-orang yang ada di bawah penguasaan-Nya itu, dan karena itu pula sangatlah sesuai bila Ia yang menjadi Hakim atas mereka.
       
    • Telah dijanjikan bahwa Ia akan menjadi Mesias. Di dalam penglihatan yang terkenal mengenai kerajaan dan kemuliaan-Nya itu (Dan. 7:13-14), Dia disebut Anak manusia, demikian juga dalam Mazmur 8:5-7. Engkau telah membuat anak manusia berkuasa atas buatan tangan-Mu. Dia adalah Mesias, dan oleh karena itu Ia diberikan semua kuasa ini. Orang Yahudi biasanya menyebut Kristus Anak Daud, tetapi Kristus biasanya menyebut diri-Nya Anak Manusia, yang merupakan gelar yang lebih rendah, yang berbicara mengenai Dia sebagai seorang raja dan Juruselamat, bukan hanya bagi bangsa Yahudi, tetapi bagi seluruh umat manusia.
     
  • Supaya semua orang menghormati Anak (ayat 23)
     
    • Mengakui Dia sebagai Tuhan dan menyembah-Nya. Kita harus menghormati Dia yang dipermalukan karena kita.
       
    • Menghormati Anak sama seperti menghormati Bapa. Tidak seperti orang-orang Yahudi yang seolah-olah menghormati Bapa tetapi mereka justru menghina Kristus yang sama artinya dengan menghina Allah Bapa.
       
    • Kita tidak akan pernah menemukan Allah yang benar kecuali di dalam Kristus. Tidak menghormati Anak berarti tidak menghormati Bapa.
 
 
Ayat 24
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
 
 
Ini merupakan inti dari seluruh isi Injil, yakni :
 
  • Watak orang Kristen berarti mau mendengar perkataan Kristus. Bukan berarti sekadar mendengar, tetapi juga menyimak dan mengerjakannya, seperti pelayan mengerjakan perintah tuan mereka. Kita harus mendengar dan menaatinya, harus patuh pada Injil Kristus sebagai aturan tetap bagi iman dan perbuatan kita. Mendengar untuk percaya kepada Dia yang mengutus Kristus, karena Kristus akan membawa kita, manusia berdosa, kembali kepada Allah. Kehidupan diperoleh dengan mendengarkan firman-Nya, karena iman tumbuh dari pendengaran atas firman Tuhan. Tidak hanya mendengar masuk ke dalam pengetahuan kognitif saja, tetapi masuk ke kedalaman hati kita. Itu sebab, iman memiliki kedudukannya bukan di telinga, tetapi di dalam hati.
     
  • Ketetapan orang Kristen adalah memperoleh pengampunan dan tidak turut dihukum. Anugerah Injil adalah pembebasan sepenuhnya dari kutuk hukum Taurat. Orang percaya bukan saja tidak akan berada di bawah hukuman selamanya, tetapi juga tidak turut dihukum sekarang ini, dan tidak terancam olehnya (Rm. 8:1). Ia tidak akan turut dihukum maupun dikenai dakwaan. Allah telah memindahkannya dari maut ke dalam hidup. Dikaruniakan kebahagiaan masa sekarang dalam kehidupan rohani dan berhak atas kebahagiaan masa depan dalam hidup kekal.
 
 
Ayat 25
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.
 
 
Suara Injil-Nya memiliki kekuatan memberikan kehidupan dan memiliki kuasa untuk membangkitkan orang mati (kematian rohani). Kristus menunjukkan bahwa kita semua sudah “mati” sebelum Dia membangkitkan kita. Dan karenanya jelaslah apa yang dapat dicapai seluruh sifat manusia untuk mendapatkan keselamatan. Dengan Injil, di mana bangsa-bangsa yang sebelumnya terasing dari kerajaan Allah, terpisah dari Tuhan, dan kehilangan semua harapan keselamatan, diundang untuk menjadi bagian dari kehidupan yang kekal.
 
 
Ayat 26
Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri
 
 
Ia adalah sumber kehidupan, dan kehidupan itu dicurahkan kepada manusia. Tuhan dikatakan memiliki kehidupan di dalam dirinya sendiri, bukan hanya karena ia sendiri hidup dengan kekuatannya sendiri yang melekat, tetapi karena di dalam diri-Nya kepenuhan kehidupan itu. Ia mengomunikasikan kehidupan pada semua hal. Dan ini secara khusus hanya milik Allah semata sebagaimana dikatakan Mazmur 36:10, “Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang”.
 
 
Ayat 27
Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia.
 
 
Allah menyerahkan wewenang dan kuasa penghakiman manusia kepada Kristus. Ia memiliki kuasa untuk membuat undang-undang dan hukum, serta menjalankannya. Kalimat yang digunakan di sini khusus dimaksudkan bagi penghakiman untuk menjatuhkan hukuman (Yud. 15). Poiēsai krisin -- untuk menjatuhkan hukuman atas semua orang, yang sama dengan mengadakan pembalasan (2Tes. 1:8). Kehancuran orang berdosa yang tidak mau bertobat muncul dari tangan Kristus. Dia yang menjatuhkan hukuman atas mereka, juga adalah Dia yang akan mewujudkan keselamatan bagi mereka. Karena itu, hukuman yang dijatuhkan tidak akan pandang bulu. Tidak ada keluputan dari hukuman yang dijatuhkan oleh Penebus itu. Kristus ditunjuk oleh Bapa untuk menjadi pencipta kehidupan, sehingga mungkin tidak perlu bagi kita untuk pergi jauh untuk mencarinya, karena Kristus tidak menerimanya untuk dirinya sendiri, seolah-olah dia membutuhkannya, tetapi untuk memperkaya kita dengan kekayaannya. Maka dapat disimpulkan sebagai berikut: “Apa yang tersembunyi di dalam Allah dinyatakan kepada kita di dalam Kristus sebagai manusia, dan kehidupan, yang sebelumnya tidak dapat diakses karena kita berdosa sekarang diletakkan di depan mata kita”.
 
 
Ayat 28-29
Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.
 
 
Ini berbicara mengenai kebangkitan di akhir zaman di mana saat itu akan segera tiba. Waktu akan berakhir, tidak di tambahkan atau dimundurkan lagi. Saatnya tiba bahwa semua orang akan mendengar suara Tuhan, sang Hakim, yang akan menghakimi manusia. Waktunya akan tiba kebangkitan bagi semua orang. Sang Hakim akan memisahkan mereka, umat pilihan-Nya yang akan mendapatkan hidup kekal dan mereka yang tidak dipilih yang akan mendapatkan kebinasaan.
Mereka yang telah berbuat baik tidak boleh menganggapnya sebagai hasil dari usaha mereka sendiri. Setiap orang yang berbuat baik adalah buah dari pekerjaan Allah Bapa sebagai inisiator keselamatan, digenapi dengan karya penebusan Kristus dan diaplikasikan oleh Roh Kudus di dalam diri mereka. Perbuatan baik adalah respon sekaligus tangung jawab atas anugerah yang telah Tuhan berikan.
Sekalipun orang percaya harus dihukum karena perbuatan mereka, tetapi hal itu tidak ditimpakan atas mereka karena ada pengampunan dari Kristus. Tanpa pengampunan Allah terhadap mereka yang percaya kepada-Nya, tidak pernah ada seorang pun di dunia ini yang dapat dikatakan dia hidup dengan baik. Bahkan tidak ada satu pun pekerjaan yang akan dianggap sama sekali baik kecuali Allah sudah mengampuni dosa-dosanya. Tidak ada yang sempurna. Semua sudah berdosa dan semua sudah rusak. Jadi bila kita sebagai umat pilihan-Nya meresponi anugerah Tuhan itu pun karena kesetiaan Tuhan. Bagaimana orang-orang percaya terus setia? Itu semua semata-mata karena kesetiaan dan kemurahan Tuhan saja.
 
 
Ayat 30
Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.
 
 
Seluruh hak menghakimi adalah milik Kristus dan penghakiman-Nya adalah adil. Apa yang sudah ditetapkan dari semula akan dijalankan. Yang ditetapkan mendapat kemurahan akan mendapat kemurahan dan yang ditetapkan untuk dijatuhi hukuman akan mendapat hukuman. Dan semuanya itu dilakukan-Nya semata-mata karena Ia taat dan turut kepada kehendak Bapa yang mengutus-Nya. Kristus dengan rela menyerahkan dan menundukkan diri-Nya sendiri kepada Bapa untuk keselamatan dan hidup kekal bagi orang-orang pilihan-Nya.
 
[ Eva P. Marpaung ]
 
 
Sumber :
 
  • Tafsiran Matthew Henry Injil Yohanes 1-11
  • Calvin Commentary of John.