MORALITAS PENGETAHUAN KESUSASTERAAN
(MORALITY OF LITERARY KNOWLEDGE):
BAGAIMANA SEHARUSNYA ORANG KRISTEN BERSIKAP
 
(BAGIAN PERTAMA) - RETORIKA
_oOo_
 
Pengantar
 
Seorang bernama Aldi yang bekerja pada sebuah instansi pemerintah mengatakan: “Betapa enaknya bekerja di tempat yang ‘basah’ seperti ini. Jumlah pemasukan yang aku dapatkan jauh lebih tinggi dari gaji yang aku terima dari negara. Dengan profesi pegawai negeri aku dan keluargaku menikmati kehidupan mewah dengan harta kekayaan yang berlimpah. Tentu saja aku ingat untuk memberikan persembahan kepada Tuhan.” Dari cerita ini tergambar bagaimana pemuda ini memahami perjalanan hidupnya berdasarkan apa yang ia yakini akan Tuhan, dunia, dan dirinya. Mengenai Aldi seorang temannya bernama Bima mengatakan bahwa Aldi adalah orang yang beruntung karena dapat bekerja pada instansi seperti itu oleh karena tidak semua orang dapat memperoleh kesempatan seperti itu. Sementara itu seorang temannya bernama Cakra mengatakan bahwa Aldi harus merenungkan apakah kehidupan mewah yang ia dapatkan melalui jabatannya pada sebuah instansi pemerintah itu sesungguhnya telah sejalan dengan komitmen-komitmen tertingginya, misalnya kepada Tuhan dan negara, melalui sumpah jabatannya. Pendapat siapakah yang benar: Bima atau Cakra?
 
Pada masa ini tidak seorang pun dapat mengatakan pendapat siapa yang benar di antara keduanya; dengan kata lain, kedua pendapat tentang Aldi itu harus diterima dengan alasan bahwa pendapat Bima dan Cakra didasarkan atas interdependensinya dengan berbagai situasi yang berbeda. Inilah zaman kita: tidak ada versi yang otoritatif dalam ‘membaca’ realita. Artikel ini akan membahas keprihatinan kita terhadap kondisi ‘pembacaan’ realita ini dalam wacana moralitas pengetahuan kesusasteraan serta bagaimana kita harus bersikap sebagai orang Kristen.
 
Pendahuluan
 
Kita telah memasuki wacana zaman pembaca (the age of the reader). Segala sesuatunya, bukan hanya tulisan, telah diperlakukan sebagai “teks-teks.” Dengan semakin besarnya teks, semakin pudarlah fakta-fakta. Apa yang kita mengerti dari teks menentukan bagaimana kita menjalani hidup. Apa yang kita mengerti dari Firman Tuhan menentukan bagaimana kita menafsirkan realitas. Kita hidup pada masa dimana semakin sedikit orang memikirkan penafsiran teks dengan serius. Pada masa sekarang ini semua penafsiran yang ada akan teks Alkitab seakan-akan dapat dianggap benar menurut interdependensinya dengan segala sesuatu. Pengetahuan, oleh filsuf hermeneutika, sudah tidak lagi dipandang sebagai hasil pengamatan suatu pokok studi tertentu atas fakta-fakta, melainkan hanya sebagai suatu upaya penafsiran.
 
 
… rather as an interpretive effort whereby a subject rooted in a particular history and tradition seeks to understand the strange by means of the familiar. / … melainkan lebih sebagai suatu upaya penafsiran dimana suatu pokok studi yang telah berakar di dalam suatu sejarah dan tradisi tertentu berusaha mengerti sesuatu yang asing dengan merujuk pada hal-hal yang telah dikenal sebelumnya. (Kevin J. Vanhoozer, “Is There A Meaning In This Text?: The Bible, The Reader, And The Morality Of Literary Knowledge,” Zondervan, Grand Rapids, Michigan, 1998, p. 20)
 
 
Dengan demikian pada saat seseorang menjadi tahu akan sesuatu maka hal yang sesungguhnya terjadi adalah orang itu hanya telah menafsirkan sesuatu yang baru dengan referensi hal-hal yang telah ia kenal sebelumnya. Era realisme dimana pikiran manusia dipahami sebagai cermin dari alam (mirror of nature) telah berakhir dan dengan demikian telah diambil alih oleh teks.
 
Penafsiran teks: Pemikiran Sokrates dan Plato
 
Di bawah ini kita akan melihat pemikiran filsuf Yunani kuno yang diwakili oleh Sokrates dan Plato mengenai bahasa.
 
  1. Sokrates dengan teori “bahasa adalah suara tiruan” (language is imitative sound)
     
    Filsuf Yunani kuno ini memulai penyelidikannya atas makna teks dari etimologi atau studi asal kata. Pada tingkat huruf, “r” secara alamiah mengekspresikan kecepatan suatu gerak oleh karena pada saat mengucapkan huruf ini “lidah manusia berada dalam keadaan paling banyak dipacu dan paling kurang istirahat”. Demikian pula huruf “l” mengungkapkan kefasihan suatu lafal, oleh karena saat kita memperkatakannya lidah kita seakan demikian licinnya. Pada tingkatan kata, waktu kita menyebut kata “bergulir” kita memikirkan suatu gerak leluasa yang berputar dengan cepat. Oleh karena itu Sokrates mengatakan bahwa bahasa merupakan suatu “suara tiruan” (language is imitative sound). Kata-kata yang kita ucapkan mengungkapkan kemiripan dengan benda-benda tertentu yang ada (words resemble things).
     
  2. Plato dengan gagasan “bahasa selalu menunjuk pada natur sesuatu” (according to a thing’s nature)
     
    Plato, berbeda dengan Sokrates yang mengatakan bahwa bahasa kita mengungkapkan berbagai obyek yang ada, mempertanyakan: dalam arti apakah kata “batu,” misalnya, menggambarkan batu-batu yang sesungguhnya? Bagi Plato etimologi memang menarik akan tetapi tidak menjelaskan segala sesuatunya. Dengan gagasannya mengenai realita bahwa materi, yang bersifat semu, merupakan bayang-bayang dari bentuk, yang bersifat konkrit, maka mengenai bahasa Plato mengatakan bahwa ketika kita menyebut atau memberi nama atas berbagai hal sesungguhnya kita sedang mendefinisikan natur atau sifat mereka, bukan sekadar mengungkapkan kemiripannya dengan benda-benda yang ada. Bagi Plato suatu nama selalu mendeskripsikan natur dari sesuatu. Maksudnya ketika kita menyebut suatu materi dengan “batu” sesungguhnya kita sedang mendefinisikan materi itu menurut naturnya, seperti: keras, berat dan ringan serta kasar dan halusnya.
Sokrates dan Plato telah memunculkan gagasan yang brilian dalam memahami bahasa. Akan tetapi penafsiran merupakan aktivitas yang terus menghasilkan teks lain sehingga dari zaman ke zaman persoalan penafsiran teks tidak pernah selesai.
 
Penafsiran teks: Pemikiran Kierkegaard
 
Berikutnya kita melihat bagaimana pandangan Kierkegaard tentang penafsiran (interpretation). Apakah hal yang sesungguhnya terjadi pada saat kita sedang menafsirkan teks? Pengertian yang semakin jelas yang berujung pada suatu responkah, atau penafsiran yang semakin jauh lagi dari apa yang sesungguhnya teks maksudkan? Untuk menjelaskan pemikirannya mengenai penafsiran kita akan melihat tiga perumpamaan yang dikembangkan oleh filsuf eksistensial Denmark Soren Kierkegaard.
 
  1. “melihat diri orang di dalam cermin” (to see oneself in the mirror)
     
    Latar belakang perumpamaan “pantulan cermin” (mirror image) ini adalah Kierkegaard menegaskan bahwa sikap yang benar dalam membaca Alkitab dan melakukannya, sebagaimana dikatakan oleh Yakobus 1:23, adalah bagaikan halnya seseorang yang “melihat diri seseorang di dalam cermin” dan mengingat apa yang ia lihat pada cermin itu yaitu wajahnya; maksudnya, setiap melihat pantulan wajahnya pada sebuah cermin ia akan selalu bertanya apakah dia sendiri telah melakukan apa yang Alkitab perintahkan. Dengan demikian seseorang akan sungguh-sungguh menerima berkat dari membaca Firman hanya apabila sikap hatinya tidak sebatas menginspeksi cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Kalau begitu, apakah yang Kierkegaard maksudkan dengan perumpamaan ini? Apakah ia sedang memaksudkan bahwa: pertama, tidak ada sesuatu pun di dalam teks sehingga pada saat seseorang membaca suatu teks penulisnya mati dan dengan demikian sebagai pembaca ia bebas untuk memahami teks itu seturut pikirannya sendiri saja? Atau kedua, seseorang memandang satu teks sebagaimana halnya teks itu memang memaksudkan tentang sesuatu? Kedua hal dalam perumpamaan pertama ini mewakili pertanyaan penting pertama yang harus kita ajukan kepada metode penafsiran kontemporer abad ini terhadap Alkitab maupun buku-buku lainnya: Apakah sesungguhnya suatu teks hanya dapat dimaknai menurut realita pembacanya, atau adakah sesuatu di dalam teks yang mencerminkan suatu realita yang tidak tergantung pada penafsiran pembacanya?
     
  2. “surat sang kekasih” (the lover’s letter)
     
    Dalam perumpamaan kedua ini Kierkegaard berkisah tentang seorang pria yang menerima surat dari kekasihnya yang ditulis dalam suatu bahasa yang asing. Mati-matian membaca surat tersebut, ia mengambil sebuah kamus dan mulai menerjemahkan satu demi satu kata untuk beberapa lamanya. Seorang temannya masuk, menginterupsinya, dengan berkata: “Aha, engkau sedang membaca sebuah surat yang dikirim kekasihmu”. Sang kekasih tersebut menjawab: “Tidak, temanku, aku duduk di sini bersusah payah dengan sebuah kamus menerjemahkan kata-kata yang tidak aku mengerti. Apabila engkau menyebut ini membaca, engkau mencemoohku.” Berdasarkan perumpamaan kedua, maka pertanyaan yang harus kita ajukan kepada metode penafsiran kontemporer ini adalah apakah apakah ilmu bahasa dan studi historis merupakan suatu pembacaan yang murni? Bagi Kierkegaard ilmu bahasa sesungguhnya hanya merupakan suatu pengujian dan pengolahan dari cermin itu sendiri – bagaikan melihat pada suatu cermin ketimbang berada di dalamnya. Inilah bahaya studi kritik literal moderen: kita berpikir bahwa kita sudah menaklukkan teks dan memahaminya, padahal sesungguhnya yang kita tangkap hanyalah pantulannya saja.
     
  3. “ketetapan raja” (king’s decree)
     
    Dalam perumpamaan ketiga ini Kierkegaard mengajak kita membayangkan satu negeri dimana suatu ketetapan raja dikeluarkan. Hal yang terjadi kemudian adalah dari hari ke hari para bawahan sang raja terus menerus memberikan tafsiran yang berbeda-beda atas ketetapan itu ketimbang mematuhinya sehingga rakyat kesulitan menaati jenis upeti apakah yang seharusnya mereka persembahkan. Dengan perumpamaan ini Kierkegaard memaksudkan bahwa ketika terhadap teks hanya ada penafsiran maka sesungguhnya tidak akan pernah ada pembacaan yang akurat.
Dengan ketiga perumpamaan ini Kierkegaard bermaksud menyoroti bahwa para pembaca teks telah tidak lagi menghargai keistimewaan dan tanggung jawab penafsiran dengan benar. Tujuan penafsiran tidak lagi menggali dan mengkomunikasikan maksud sesungguhnya yang seseorang, lain dari kita, hendak sampaikan, melainkan demi menghindarkan diri dari tuntutan untuk meresponi apa yang suatu teks maksudkan.
 
Membawa penafsiran kembali kepada apa yang teks “maksudkan”: Retorika
 
Di tengah peradaban kita yang seperti ini kita ditantang untuk memikirkan bagaimana kita dapat membawa penafsiran kembali kepada tempatnya. Hal itu merupakan tugas yang tidak mudah. Untuk menyampaikan maksud ini kita memerlukan alat bantu, yaitu retorika, suatu seni dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Aristotel mengatakan bahwa sebagai seni, retorika mencakup setidaknya tiga hal: etos (ethos), yaitu bagaimana pembicara atau penulis menghidupi dan mengalami sendiri pergumulan, gelisah dan hasrat yang disampaikannya; patos (pathos), yaitu respon emosional apakah yang pembicara atau penulis kehendaki untuk diberikan oleh pendengar atau pembacanya atas apa yang telah disampaikan; dan logika (logos), yaitu argumentasi dan alasan yang mendasarinya.
 
 
Rhetoric is the art of discourse, an art that aims to improve the facility of speakers or writers who attempt to inform, persuade, or motivate particular audiences in specific situations. / Retorika merupakan seni percakapan, suatu seni yang bertujuan untuk memperlengkapi para pembicara atau penulis saat berupaya untuk menyampaikan, mengajak, atau mendorong pendengar-pendengar tertentu dalam situasi-situasi khusus. (Aristotles, Rhetoric.http://en.m.wikipedia.org/wiki/Rhetoric)
 
 
 
Apa yang Alkitab ajarkan
 
Dalam tulisan ini kita akan melihat bagaimana Tuhan Yesus mengajarkan pendengarnya untuk memahami teks dengan benar dengan menggunakan retorika. Ia bermaksud untuk mengembalikan pendengarnya kepada pengertian yang benar akan peranan Yohanes Pembaptis sebagai seorang yang, sebagaimana telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama, secara khusus diarahkan untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Mesias. Untuk maksud itu mari kita lihat Lukas 7:24-28. Lukas pasal 7 ayat 24 hingga 28 dilatarbelakangi hal demikian:
 
  1. Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi yang berkhotbah dengan berani dan oleh keberaniannya ia mempunyai banyak pendenggar. Dalam keadaan itu itu Yohanes Pembaptis mendengar dari murid-muridnya bahwa Tuhan Yesus telah menyampaikan berita penghakiman, melakukan penyembuhan atas banyak orang di berbagai tempat dan membangkitkan anak laki-laki yang telah mati di Nain. Sebagaimana halnya nabi-nabi Perjanjian Lama lainnya ia tidak melihat secara jelas berapa kali Mesias akan datang, akan tetapi dalam keterpenjaraannya itu adalah wajar apabila ia berpikir bahwa apa yang Tuhan Yesus kerjakan atas banyak orang pada waktu itu menyiratkan tanda akan segera turunnya Kerajaan Allah di atas bumi dan dengan demikian mengakhiri semua penguasa dunia ini.
     
  2. Kemudian ia menyuruh dua orang muridnya untuk menanyai Tuhan Yesus apakah Ia memang Mesias yang akan datang itu masih haruskah mereka menantikan seorang lain lagi. Atas pertanyaan itu Tuhan Yesus tidak menjawab mereka secara langsung dengan “iya” atau “bukan,” melainkan dengan cara mendeskripsikan apa yang Ia telah kerjakan atas banyak orang, yaitu orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik (Lukas 7:22). Tuhan Yesus menutup deskripsinya dengan kalimat: “Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” (Lukas 7:23).
     
  3. Oleh deskripsi yang Tuhan Yesus sampaikan melalui kedua muridnya itu tahulah Yohanes Pembaptis bahwa sesungguhnya Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama itu tidak datang sekali saja melainkan bersifat sekuensial, hal mana belum ia lihat secara jelas sebelumnya. Dalam kedatangan-Nya yang pertama mesias masih akan menghadapi penolakan dan menanggung penderitaan. Penyembuhan yang Tuhan Yesus kerjakan memang menandakan telah masuknya atmosfir zaman baru ke dalam zaman sekarang, sekali pun demikian, Roma masih terus berkuasa dan umat Tuhan masih berada di bawah penindasan, hal mana sangat mungkin membuat banyak orang menjadi kecewa dan akhirnya menolak Dia.
 
Setelah suruhan Yohanes itu pergi, Yesus berkata-kata secara retoris kepada orang banyak.
 
  1. “Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari?” (ayat 24). Apakah orang ke padang gurun untuk mendengar khotbah yang penuh dengan keraguan dan terombang-ambing? Pertanyaan retoris ini mempunyai jawaban negatif, yaitu: “tidak.” Yohanes Pembaptis adalah seorang pengkhotbah yang teguh.
     
     
    John worked in the wilderness where one might expect to see reeds growing. The shaking of reeds in the wind was proverbial, and the metaphor suggests a wavering or easy-going person. / Yohanes bekerja di padang belantara dimana seseorang mungkin berharap untuk menemukan buluh-buluh bertumbuh. Buluh yang bergoyang oleh angin itu merupakan kiasan, dan gambaran yang digunakan melukiskan seorang yang penuh dengan keraguan dan mudah diombang-ambingkan. (I. Howard Marshall, “The New International Greek Testament Commentary: The Gospel of Luke,” Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, The Paternoster Press, 1978, p. 294).
     
     
  2. “Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian indah dan yang hidup mewah, tempatnya di istana raja” (ayat 25). Pakaiannya yang demikian memprihatinkan melambangkan keprihatinannya akan dosa dan urgensi pertobatan. Pertanyaan retoris ini juga mempunyai jawaban negatif, yaitu: “tidak”.
     
     
    The point is the austerity and asceticism of John who wore a garment of camel hair. He did not wear the splendid apparel of those who lived in king’s palaces and were subject to the royal beck and call. He saw the need for stern repentance in the light of God’s coming judgment. / Intinya adalah kesahajaan dan keprihatinan Yohanes yang memakai jubah dari bulu unta. Ia tidak menggunakan pakaian yang serba indah sebagaimana halnya mereka yang tinggal di istana raja dan tunduk kepada aturan dan panggilannya. Ia menantikan terjadinya pertobatan yang sungguh-sungguh di dalam terang penghakiman Tuhan yang akan datang. (I. Howard Marshall, “The New International Greek Testament Commentary: The Gospel of Luke,” Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, The Paternoster Press, 1978, p. 294).
     
     
  3. “Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi” (ayat 26). Apabila kedua pertanyaan retoris sebelumnya mempunyai jawaban negatif, pertanyaan retoris ke-tiga ini mempunyai jawaban positif. Yohanes memang benar seorang nabi. Akan tetapi ia dikatakan juga lebih dari pada nabi oleh karena ia sebagaimana dikatakan oleh kitab Maleakhi adalah seorang pembuka jalan bagi Dia yang akan datang. Tuhan Yesus menegaskan jawaban positifnya dengan mengutip Perjanjian Lama bahwa Yohanes memang adalah utusan yang benar-benar telah disuruh Allah untuk mendahului Anak-Nya; untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan sang Mesias (ayat 27).
Dalam hal ini Tuhan Yesus mengoreksi kesan-kesan pendengarnya bahwa Yohanes adalah satu-satunya orang yang paling berbahagia. Seberapa pun besarnya Yohanes, ia tetap merupakan bagian dari era yang mendahului kerajaan yang turun oleh Kristus, dan oleh karena itu ia tetap “tidak lebih” berbahagia dibandingkan dengan mereka yang merupakan bagian dari era baru yang dihadirkan oleh kerajaan Kristus (ayat 28). Tiga unsur retorika: etos, patos dan logika telah diberikan di sini agar pendengarnya menempatkan Yohanes Pembaptis pada tempatnya, sebagai pendahulu, dan era baru yang dihadirkan-Nya juga pada tempatnya. Secara etis: Tuhan Yesus memang adalah Mesias yang dinanti jauh melampaui Yohanes Pembaptis itu sendiri; secara patos: pendengar atau pembaca berespon dengan sikap hati yang sejalan dengan mulai hadirnya era baru yang dibawa oleh Tuhan Yesus; secara logika: kedaulatan Allah sendiri telah mengarahkan sejarah sedemikian rupa sehingga pada waktunya era yang baru itu tiba saat Mesias datang untuk menggenapkan pekerjaan-Nya. Jadi di sini Tuhan Yesus mengembalikan teks kepada tempatnya.
 
Kesimpulan
 
Moralitas pengetahuan kesusasteraan telah memasuki era yang baru dan oleh karena itu penafsiran Alkitab juga telah menghadapi tantangan yang tidak mudah dihadapi. Akan tetapi itu tidak berarti ruang perjuangan iman orang Kristen telah tertutup sama sekali. Selalu ada ruang dalam mana orang Kristen dapat mengambil bagian. Dari bahasan ini kita melihat bahwa retorika merupakan salah satu ruang di mana orang Kristen dapat bekerja untuk mengembalikan teks kepada tempatnya. Pengertian yang akurat akan Firman Tuhan membuka jalan agar kita dapat ikut berkarya. Dengan retorika, sebagaimana Alkitab telah ajarkan, orang Kristen dan gereja dapat mengembangkan percakapan yang benar untuk membawa pemahaman akan teks-teks zaman kita kembali pada tempatnya.
 
Penutup
 
Dari bahasan ini kita melihat bahwa retorika merupakan salah satu ruang di mana orang Kristen dapat bekerja untuk mengembalikan teks kepada tempatnya. Oleh karena itu mari gunakan media tulisan selain media suara untuk menyampaikan retorika yang benar. Seluruh institusi ciptaan mulai dari negara hingga gereja memerlukan retorika yang benar.
 
Selamat Paskah 2019.
[ Jessy V Hutagalung ]