Permintaan Rasul Paulus kepada Filemon untuk Onesimus
sebagai wujud dari ekspresi iman Kristen
(Filemon 1:8–20)
_oOo_
 
Pengantar
 
Kekristenan selalu berada di tengah setting sosial yang sangat kompleks. Berbagai konflik akibat pertemuan dari berbagai pemikiran selalu terjadi di mana saja. Siapapun dapat membenarkan segala sesuatu seturut dengan preferensi pribadinya (“allah”-nya secara pribadi). Kekristenan tentu saja berhadapan dengan tantangan seperti ini. Oleh karenanya, iman kepada Kristus dituntut untuk membawa pemikiran baru tatkala diperhadapkan dengan masalah-masalah sosial yang ada.
 
Surat ini merupakan surat personal Paulus kepada Filemon yang mana melalui pelayanan Paulus ia dilahirbarukan menjadi orang percaya. Filemon adalah seorang Kristen yang berjemaat di wilayah Kolose. Ia memiliki status sosial berkecukupan, yang pada masa itu umumnya memiliki seorang budak. Salah satu budak yang dimiliki Filemon bernama Onesimus. Pada suatu kejadian, Onesimus melarikan diri dari tuannya, Filemon, dan ia bertemu dengan Paulus. Dan melalui pelayanan Paulus inilah Onesimus mengalami kelahiran baru. Meski Onesimus bisa dikatakan seorang budak telah bersalah kepada Filemon, di samping keduanya bisa dikatakan memiliki strata sosial yang jauh berbeda, namun kedua orang ini adalah buah pelayanan Paulus. Dan tentunya mereka berdua mempunyai relasi yang sangat dekat dengan Paulus. Di bagian Firman Tuhan ini kita akan melihat bagaimana Paulus mendamaikan kedua anak Tuhan ini ditengah-tengah konteks sosial pada waktu itu, yaitu perbudakan.
 
Untuk lebih mengerti Filemon, maka kita perlu sedikit mengetahui keadaan sosial pada waktu itu, yaitu berlakunya sistem sosial perbudakan. Sistem ini diterima oleh masyarakat pada masa itu karena sudah berlangsung ribuan tahun lamanya. Budak adalah properti atau harta milik tuannya. Budak dinilai sama dengan kuda, kereta atau benda lainnya. Yang membedakan, budak dapat berbicara, tetapi benda lain tidak. Budak tidak memiliki hak apapun atas dirinya. Jika seorang budak melarikan diri dari tuannya, maka hukuman terhadapnya ditentukan sepenuhnya oleh tuannya. Hukuman maksimal dengan membunuh budaknya bisa saja dilakukan tuannya jika diperlukan. Memang pada masa itu sudah ada suara-suara nyaring yang menentang sistem sosial seperti ini dan bahkan ada yang melakukan pemberontakan. Akan tetapi dengan cepat dan cenderung represif, tindakan itu selalu bisa diatasi oleh pihak berwenang.
 
Di bagian Firman Tuhan ini jelas terlihat bahwa Paulus tidak secara tegas mengatakan perbudakan itu salah dan secara keras menentangnya. Hal ini dikarenakan apabila penentangan secara frontal itu dilakukan, maka akan dapat menimbulkan gejolak sosial yang luar biasa. Jika ini terjadi, maka besar kemungkinan Kekristenan dapat dianggap sebagai penyebab dari pemberotakan sosial. Dan Paulus tidak mau hal itu terjadi. Di sini, Paulus memang tidak terlalu fokus kepada masalah perbudakan tetapi ia ingin menitikberatkan pada hal yang lebih besar lagi, yaitu masalah relasi antar sesama orang Kristen (christian relationship). Paulus lebih memilih jalan bagaimana khotbah Firman Tuhan yang disampaikan berbicara secara langsung atas masalah ini. Ini yang disebut oleh Richard R. Melick, Jr sebagai rute teologis (theological route). Ketika Firman Tuhan ditaburkan, maka ia akan bertumbuh menjadi dasar yang kuat bagi seseorang untuk membawa perubahan pemikiran secara total sehingga pada akhirnya akan berdampak terjadinya perubahan sosial.
 
Paulus pernah mengajarkan persamaan (equality) di Galatia 3:28 dan kesatuan di dalam Kristus. Paulus juga pernah mengajarkan bagaimana hubungan tuan dan hamba yang seharusnya di Kolose 3:22–4:1. Kepada tuan dan hamba harus diingat bahwa mereka juga mempunyai Tuan di surga. Jadi Paulus melalui ajarannya lebih menekankan masalah relasi orang percaya.
 
Eksposisi Filemon 1:8-20
 
 
Ayat 8
karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan.
 
 
Setelah Paulus mengucap syukur atas hal-hal yang diingatnya dan yang didengarnya (ayat 4–7) mengenai kesaksian kasih Filemon, dengan lembut dan kasih Paulus ingin menyampaikan sesuatu kepada Filemon. Dia tidak memakai otoritasnya sebagai Rasul, tetapi Paulus hanya ingin bergantung penuh pada providensia/pemeliharaan Allah terhadap apa yang ingin disampaikannya tanpa intervensi apapun, dan berharap agar Filemon berespon sesuai dengan komitmen kekristenannya dan melakukan apa yang Tuhan harapkan.
 
 
Ayat 9
tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya daripadamu. Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus,
 
 
Berdasarkan kasih Filemon di ayat 4–7, Paulus berharap Filemon menyatakannya lagi di dalam kasus yang Paulus minta. Pendekatan Paulus dengan mengingat Filemon salah satunya didasari oleh karena kondisinya semakin tua dan ia juga dipenjarakan karena Injil. Hal ini tidak serta merta menujukkan bahwa Paulus sedang mengeluh atas keadaannya seperti itu, karena sebagaimana dikatakannya di dalam Surat Filipi 4:10–14, ia menuliskan bagaimana ia bangga karena telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.
 
 
Ayat 10
mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus,
 
 
Paulus sama sekali tidak punya motivasi apapun untuk menguntungkan dirinya sendiri. Ia mengasihi Onesimus, buah pelayanannya, dengan menyebutnya “anakku.” Paulus berharap kasihlah yang akan mengubah seseorang untuk melakukan hal yang benar. Besar kemungkinan Filemon baru mendengar kabar tentang Onesimus. Dan inilah harapan Paulus kepada Filemon bagaimana dia mau menerima kembali Onesimus tanpa menghukumnya.
 
 
Ayat 11
dahulu memang dia tidak berguna bagimu, tetapi sekarang sangat berguna baik bagimu maupun bagiku.
 
 
Paulus ingin menggambarkan bagaimana melalui Injil yang diberitakan itulah seseorang dilahir barukan. Sama seperti Onesimus yang merupakan buah dari pelayanan pemberitaan Injil yang dikerjakannya. Kuasa Injil lah yang membuat Onesimus yang dahulu dianggap tidak berguna (useless), sekarang menjadi berguna (usefull). Paulus menyadari bahwa Onesimus telah lahir baru sebagai buah pelayanannya. Itu sebabnya dia berkeinginan untuk menolong Onesimus memperbaiki masa lalunya.
 
 
Ayat 12
Dia kusuruh kembali kepadamu – dia, yaitu buah hatiku.
 
 
Besar kemungkinannya setelah lahir baru, Onesimus ingin memperbaiki masa lalunya dengan Filemon. Paulus berkeinginan untuk mengirim kembali Onesimus kepada Filemon oleh karena ia telah menyaksikan sendiri perubahan dan pertumbuhan yang ada pada diri Onesimus. Mengapa demikian? Karena ada kemungkinan Onesimus bisa melarikan diri lagi kalau ia tidak punya niat untuk memperbaiki hubungan mereka berdua. Dalam hal ini Paulus tidak berhak menahan Filemon untuk melayani pekerjaan Tuhan bersamanya ketika dia di penjara. Demikian pula, Paulus tidak memiliki hak untuk menahan Onesimus dikarenakan ia adalah “hak milik” (properti) dari Filemon. Paulus peka terhadap masalah ini. Ia tidak tidak ingin melanggarnya. Oleh sebab itu ia mengirim kembali Onesimus kepada Filemon.
 
 
Ayat 13
Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil,
 
 
 
Ayat 14
tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan denga sukarela.
 
 
Di sini ditegaskan sekali lagi, adalah sebuah kesalahan jika Paulus menahan Onesimus, walaupun dalam hatinya ia ingin melakukannya. Onesimus harus membayar harga untuk memperbaiki kesalahannya. Sebagai budak yang pernah melarikan diri, tentu situasi ini bukan sesuatu yang mudah bagi Onesimus. Ia pastinya akan diliputi ketakutan yang besar. Dan Filemon sendiri harus bebas dari tekanan apapun untuk memutuskan nasib Onesimus. Di sini jemaat Tuhan pada waktu itu ingin melihat bukti dari ekspresi iman Kristen di dalam menghadapi masalah ini. Jadi respon yang spontan tanpa paksaan yang adalah wujud dari iman Kristen yang selalu ingin menjalankan apa yang diharapkan Tuhan.
 
 
Ayat 15
Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak daripadamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya,
 
 
Ayat ini ingin menunjukkan bagaimana kuasa Injil sanggup membawa perubahan pada diri Onesimus. Perubahan itu terjadi hanya oleh karena anugerah Allah semata.
 
 
Ayat 16
bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih daripada hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, bagiku sudah demikian, apalagi bagimu, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan.
 
 
Penerimaan Filemon diharapkan Paulus sangat kontras, yaitu bukan sekedar hamba tetapi sebagai saudara sebagaimana dengan apa yang sudah dilakukan Paulus sendiri terhadap Onesimus. Sekali lagi Paulus sangat bergantung kepada pemeliharaan Allah (providensia Allah) sebagai dasar baginya untuk berharap kepada respon Filemon.
 
 
Ayat 17
Kalau engkau menganggap aku temanmu seiman, terimalah dia seperti aku sendiri.
 
 
Inilah hal sederhana sekaligus serius dari harapan Paulus. Jika Filemon telah menganggap Paulus sebagai teman atau partnernnya di dalam melakukan pekerjaan Tuhan, maka sudah sewajarnya jika Paulus berharap Filemon menerima Onesimus, sama seperti ketika Filemon menerima Paulus, karena Paulus sangat mengasihi Onesimus sehingga dia menyebutnya “anakku” dan “buah hatiku”.
 
 
Ayat 18
Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku,
 
 
 
Ayat 19
aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri: Aku akan membayarnya – agar jangan kukatakan: “tanggungkanlah semuanya itu kepadamu!” – karena engkau berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri.
 
 
Paulus mengantisipasi kemungkinan adanya hambatan atau kegagalan terhadap permintaannya oleh karena hal-hal yang bersifat materi, yaitu kerugian yang dialami Filemon oleh karena kaburnya Onesimus. Paulus memperkuat permintaannya ini kepada Filemon dengan bersedia membayar kerugian materi yang dialami Filemon. Dalam hal ini Paulus sedang meneladani apa yang telah dilakukan Tuhan kita Yesus Kristus yang bersedia menanggung dan membayar hutang-hutang dosa kita dengan nyawa-Nya sendiri agar kita bisa diterima oleh Tuhan Allah. Sekaligus Paulus ingin mengingatkan akan buah pelayanannya terhadap Filemon sehingga Filemon telah berhutang kepada Paulus, dan hutang ini tentulah lebih besar dari segala hutang materi yang perlu ditanggungkan kepada Paulus.
 
 
Ayat 20
Ya saudaraku, semoga engkau berguna bagiku di dalam Tuhan: Hiburkanlah hatiku di dalam Kristus!
 
 
Paulus meminta Filemon tetap di dalam karakternya yang berdasarkan Iman Kekristenan sehingga Filemon mendapat berkat. Bukan sekadar berkat materi tetapi berkat yang daripada Allah sendiri, dan yang pada akhirnya giliran nanti Filemon boleh menjadi berkat bagi Paulus dengan menghibur Paulus.
 
Penutup
 
Melalui bagian Firman Tuhan ini, kita belajar melihat bagaimana pendekatan Paulus sangat menjaga keseimbangan antara persahabatannya yang kuat dengan Filemon, ketaatannya terhadap hukum (Roman Law) mengenai budak yang melarikan diri dari tuannnya, dan keinginannya untuk menolong Onesimus yang menjadi hasil buah pelayanannya dan juga yang sangat ia kasihi. Ketika kita menghadapi berbagai masalah sosial di dalam relasi kita dengan saudara kita seiman, maka kita harus mampu mewujud nyatakan iman Kristen kita sama seperti dengan apa yang telah ditunjukkan oleh Filemon dan Rasul Paulus, demikian juga dengan Onesimus. Karena dengan masuknya Surat Paulus kepada Filemon di dalam kanon Kitab Suci kita (Alkitab) maka dapat dipastikan jemaat pada waktu itu melihat kesaksian Iman Kristen Filemon yang menerima Onesimus.
 
Selamat Paskah 2019.
[ Ranto M Siburian ]