KEMATIAN KRISTUS:
RENCANA ALLAH, KORBAN SEJATI
& BERELASI DENGAN KITA
_oOo_
 
Pendahuluan
 
Pada suatu waktu, penulis teringat kembali akan sebuah artikel Paskah yang pernah dikirim oleh seorang sahabat beberapa tahun yang lalu. Judul artikel tersebut “Mahalnya kematian Yesus di kayu salib.” Isi artikel itu secara singkat mengisahkan tentang pengorbanan seorang bapak yang rela memberikan anak satu-satunya yang sangat dikasihi demi keselamatan orang lain yang mereka tidak kenal. Satu hal yang menarik adalah bagaimana kisah pengorbanan si anak tersebut dijadikan analogi untuk pengorbanan Kristus yang mati di kayu salib.
 
Inti dari isi artikel itu, setidak-tidaknya menggambarkan 3 (tiga) pertanyaan penting yang mesti dijawab bagaimana kita memaknai dengan benar inti dari kematian Kristus. Pertama, Apakah kematian Kristus adalah sebuah rencana Allah (God's plan)? Kedua, Apakah kematian Kristus dipahami sebuah korban dalam pengertian korban sejati (true sacrifice)? Dan ketiga, Apakah kematian Kristus adalah kematian yang berelasi dan berdampak pada kita? Tulisan ini akan mencoba menjawab ketiga pertanyaan tersebut.
 
Kematian Kristus: Rencana Allah (God’s Plan)?
 
Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa kematian Kristus seharusnya tidak sebagai suatu peristiwa yang terjadi bergitu saja (accidental). Kematian-Nya jelas berada di dalam rencana Allah. Rencana itu sudah ada di dalam pikiran Allah sejak di dalam kekekalan. Kematian-Nya merupakan bagian dari rencana keselamatan yang Allah nyatakan bagi manusia berdosa sebelum dunia dijadikan. Tidak ada seorangpun dan apapun di dalam dunia ini yang mampu menggagalkan rencana Allah. Bagaimana dengan fakta kejatuhan manusia ke dalam dosa? Apakah dosa menghancurkan rencana Allah? Tidak! Dosa tidak pernah menghancurkan dan menggagalkan rencana Allah, karena rencana-Nya kekal adanya. Dosa semata-mata hanya bisa “menginterupsi”-nya. Rencana Allah akan tetap terlaksana seturut dengan ketetapan Allah. Tidak ada satupun dan siapapun yang mampu menggagalkan rencana itu.
 
Ketika kita menyatakan bahwa kematian Kristus adalah rencana Allah, maka hal ini tidak dapat pisahkan atau dilepaskan dari ketaatan penuh Kristus atas kehendak Allah Bapa. Kematian-Nya adalah konsekuensi dari ketaatan-Nya yang sempurna untuk menjalankan tugas yang diperintahkan Bapa-Nya. Ketaatan-Nya bukan karena keterpaksaan untuk menjalankannya, tetapi sepenuhnya kerelaan untuk menjalankan kehendak Bapa-Nya. Dan itu dikerjakan sebagai demonstrasi luapan kasih-Nya kepada Bapa-Nya. Ia berkata, “Aku senantiasa berbuat yang berkenan kepada-Nya” (Yoh. 8:29); “Tetapi dunia supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan Aku melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Bapa kepada-Ku” (Yoh. 14:31). “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34); “Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yoh. 5:30); “Sebab Aku telah turun ke dunia bukan untuk melakukan kehendak-Ku sendiri, tetapi melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh. 6:38). Paulus di dalam Surat Filipi dengan jelas menghubungkan ketaatan Kristus ini dengan kematian-Nya di kayu Salib. Paulus berkata, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil. 2:8). Kerelaan Kristus untuk taat secara sempurna kepada kehendak Bapa untuk mati di kayu salib dapat kita jumpai pada peristiwa dramatis di Taman Getsemani sebelum Ia ditangkap dan disalibkan, ketika Ia berdoa dengan penuh kegentaran dan penyerahan diri kepada Bapa-Nya untuk meminta sekiranya mungkin Bapa mengambil cawan penderitaan itu dari pada-Nya. Tetapi jika Bapa berkehendak untuk Ia meminumnya, maka dengan rela Ia akan melakukan-Nya dan merelakan kehendak Bapa yang terjadi. “Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”” (Mat. 26:39); “Lalu Ia pergi untuk yang kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu”” (Mat. 26:42). Petrus dalam khotbahnya di Kisah Para Rasul pasal 2 berkata, “Dia (Kristus) yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis. 2:23).
 
Craig A. Evans di dalam bukunya, Hari-Hari Terakhir Yesus: Apa Yang Sesungguhnya Terjadi, melihat fenomena yang muncul bagaimana banyak para kritikus yang menyatakan bahwa Kristus tidak pernah mengantisipasi kematian-Nya; bahwa kematian menjemput-Nya begitu saja atau bahwa Ia terjebak dalam suatu kerusuhan dan kemudian ditangkap bersama dengan orang lain. Mereka menganggap kematian Kristus hanya sebuah kebetulan belaka dan bukan rencana Allah. Benarkah demikian? Apakah benar Kristus tidak mengantisipasi kematian-Nya? Tidak! Menjawab pernyataan para kritikus tersebut, Evans memaparkan argumentasinya sebagai berikut:
 
  1. Kita dapat mengatakan bahwa Kristus sebenarnya telah mengantisipasi kematian-Nya ketika Ia melihat dengan mata sendiri apa yang terjadi dengan Yohanes. Nasib tragis yang menimpa Yohanes ketika ia harus mengalami penderitaan di dalam penjara, pastilah memberikan kesan mendalam di dalam diri-Nya. Bukanlah suatu hal yang aneh jika Ia juga berfikir bahwa apa yang dialami oleh Yohanes pada suatu saat akan dialami-Nya juga.
     
  2. Peristiwa di taman Getsemani ketika Kristus harus berdoa dan bergumul untuk meminum cawan pahit penderitaan sampai mencucurkan keringat seperti darah (Mrk. 14:33-36), sementara itu juga Ia pernah mengajar murid-Nya untuk memikul salib dan mengikuti-Nya. Pada bagian yang lain, kita melihat Kristus melakukan suatu hal yang berbeda dengan apa yang terjadi di Getsemani ketika Ia berdoa kepada Allah Bapa bagi murid-Nya dengan ketenangan dan kedamaian (Yoh. 17). Kedua peristiwa berbeda dan bertolak belakang ini hendak menunjukkan bahwa sesungguhnya Yesus sendiri sudah mengatisipasi kematian-Nya kelak.
 
Selain itu, pada waktu kita mencoba untuk menjelajahi Alkitab khususnya di dalam 4 (empat) kitab Injil Sinoptik di Perjanjian Baru, maka sesungguhnya kita akan menjumpai banyak bagian-bagian Alkitab yang berbicara dengan jelas mengenai bagaimana Yesus Kristus sebenarnya sudah mengantisipasi kematian-Nya. Mari kita perhatikan beberapa kutipan perkataan dari Yesus Kristus sendiri di akhir-akhir masa hidupnya yang menunjukkan hal tersebut:
 
  1. Setelah peristiwa pengakuan Petrus yang menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias dari Allah, Yesus melanjutkannya dengan pemberitahuan untuk pertama kalinya akan penderitaan yang akan Ia alami dan syarat-syarat mengikuti-Nya. Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua. imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Luk. 9:22). Kemudian dilanjutkan dengan pemberitahuan kedua dan ketiga. Ia berkata, “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia” (Luk. 9:42); “Sebab Ia (baca:Yesus) akan diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. diolok-olokkan, dihina, dan diludahi, dan mereka menyesah dan membunuh Dia, dan pada hari ketiga Ia akan bangkit” (Luk. 18:32).
     
  2. Pada peristiwa penetapan perjamuan malam sebelum Yesus ditangkap, Ia kembali menyatakan akan penderitaan dan kematian yang akan dialami-Nya kepada para murid. “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya pada mereka, katanya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan aku.” Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah Perjanjian Baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu”.
 
Dari pemaparan ini, kita dapat menjawab pertanyaan di atas dengan menyatakan bahwa kematian Kristus adalah rencana Allah.
 
Kematian Kristus: Korban sejati (True Sacrifice)?
 
Kata "korban" di dalam bahasa Inggris memiliki 2 (dua) pengertian yang berbeda namun memiliki signifikansi yang penting, yaitu: korban dalam pengertian “victim” dan korban dalam pengertian “sacrifice.” Korban dalam pengertian victim bersifat pasif, sedangkan dalam pengertian sacrifice bersifat aktif. Bagaimana dengan kematian Kristus?
 
Pada bagian sebelumnya, kita melihat bagaimana kematian Kristus berada di dalam rencana kekal Allah. Oleh karena itu, kematian-Nya tidak boleh dipahami sebagai “korban” di dalam konteks victim yang bersifat pasif, tapi harus dipahami dalam konteks penyerahan diri atau self sacrifce yang bersifat aktif. Kristus secara aktif menyerahkan diri-Nya sebagai korban (sacrifice). Kematian Kristus tidak boleh dipahami secara sempit sebagai sebuah korban dari plot atau desain yang dirancang oleh manusia berdosa untuk membunuh-Nya, tapi harus dipahami sebagai plot dari story rencana keselamatan yang telah ditetapkan Allah Bapa di dalam kekekalan.
 
Kematian Kristus bukan sekadar korban (victim) dari tentara Romawi yang menangkap dan menyalibkan Dia, korban (victim) dari kelicikan Imam Kepala dan ahli Taurat Yahudi yang menganggap-Nya sebagai pemberontak dan ingin menyingkirkan-Nya, korban (victim) dari orang-orang Yahudi yang berteriak dengan keras dan lantang “Salibkanlah Dia,” korban (victim) dari Pontius Pilatus yang memutuskan untuk menyalibkan-Nya meskipun tidak ditemukan setitikpun kesalahan yang dilakukan-Nya, atau bahkan korban (victim) dari Yudas yang menjual-Nya demi tiga puluh uang perak. Kematian-Nya harus dilihat sebagai sebuah korban penyerahan diri secara aktif dimana Ia harus mati disalibkan. Pengorbanan Kristus adalah sebuah korban sejati (true sacrifice). Tentara Romawi, Imam Kepala dan ahli Taurat Yahudi, Pontius Pilatus, dan Yudas hanyalah “alat” yang dipakai Allah Bapa untuk menggenapkan rencana-Nya. Mereka bukanlah aktor utama dari rencana Allah Bapa, tapi hanya dipakai Allah untuk menjadikan Kristus sebagai “true sacrifice”.
 
Berikut kita melihat beberapa bagian dari Alkitab yang berbicara secara jelas mengenai Kristus sebagai true sacrifice yang menyerahkan diri-Nya untuk mati di kayu salib:
 
 
1 Yoh. 3:16
“Demikian kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.”
 
Yoh. 10:11
“Akulah (baca: Yesus) gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawa-Nya bagi domba-dombanya.”
 
Mark. 10:45
“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
 
Mat. 20:28
“Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
 
 
Dari pemaparan disertai dengan referensi Alkitab ini, maka kita dapat menjawab pertanyaan di atas dengan menyatakan bahwa kematian Kristus adalah sebagai true sacrifice bukan victim.
 
Kematian Kristus: Kematian Yang Berelasi dengan Kita?
 
Jikalau kematian Kristus hanyalah sebuah kebetulan atau diluar rencana Allah Bapa, dan kematian-Nya hanya dilihat sebagai “korban” di dalam pengertian “victim” bukan “sacrifice,” maka kematian-Nya tidak lebih dari kematian yang dialami oleh setiap manusia yang hidup di dunia ini. Kematian itu menjadi tidak bermakna apa-apa bagi kita. Kematian seperti itu menjadi kematian yang tidak berelasi dan berimplikasi terhadap kita. Kematian-Nya menjadi kematian yang tidak membawa kita kepada jalan penebusan, pengampunan dosa, dan keselamatan kekal. Status kita akan tetap sama sebagai manusia berdosa yang layak dimurkai dan masuk ke dalam kebinasaan kekal. Puji Tuhan, kematian Kristus bukanlah kematian seperti itu. Kematian-Nya berada di dalam rencana kekal dari Allah Bapa, dan kematian-Nya adalah true sacrifice. Jika kematian Kristus adalah “fruitful death” dan memiliki relasi dengan kita, maka pertanyaannya apakah makna kematian Kristus bagi kita? Mari kita perhatikan beberapa hal penting berikut:
 
  1. Kematian Kristus menjadi jalan pendamaian antara kita dengan Allah Bapa.
    Di dalam Kejadian pasal 3 kita melihat sebuah fakta kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa telah berakibat serius dengan relasi antara manusia dengan Allah. Relasi itu kini rusak akibat dari pemberontakan manusia terhadap Allah dan perintah-Nya. Pemberontakan itu menjadikan manusia seteru dan musuh Allah. Apa artinya menjadi seteru Allah? Artinya manusia terpisah dengan Allah, sang sumber hidup, yang artinya kematian. Pertanyaannya, bagaimana relasi itu dapat dipulihkan? Alkitab menjawab: dengan pendamaian oleh Kristus melalui kematian-Nya. Paulus mencatat dalam Surat Roma, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya” (Rm. 3:25). Paulus melanjutkan, “Sebab jikalau kita, masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Rm. 5:10). Di dalam Surat Kolose, Paulus juga mengatakan, “Juga kamu yang dahulu jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Kol. 1:21-22).
     
  2. Kematian Kristus menjadi jalan pembenaran bagi kita.
    Konsep pembenaran di dalam Alkitab harus dimengerti sebagai penerimaan seseorang sebagai orang benar di hadapan Allah. Pembenaran berarti menyatakan seseorang yang bersalah melakukan dosa diperhitungkan sebagai orang yang tidak bersalah. Pembenaran menyangkut status seseorang benar di mata hukum. Pembenaran bukan berarti “menjadikan benar” tetapi “menyatakan atau mendeklarasikan secara yudisial bahwa seseorang adalah benar sesuai hukum.” Pembenaran sepenuhnya adalah pekerjaan Allah di dalam Kristus. Pembenaran yang kita terima bukan berasal dari kebenaran kita sendiri, tetapi kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepada kita orang berdosa.
     
    James A. Buchanan di dalam bukunya, Not Guilty, mengatakan, “Tidak ada kebenaran bagi kita dengan cara yang lain selain oleh kebenaran Kristus yang diperhitungkan sebagai milik kita.” Berkaitan dengan konsep pembenaran ini, Anthony A. Hoekema di dalam bukunya, Diselamatkan oleh Anugerah, mengutip salah satu bagian dari Pengakuan Iman Westminster berkata demikian, “Mereka yang dipanggil Allah secara efektif, juga secara bebas dibenarkan oleh Allah, bukan dengan menanamkan kebenaran di dalam diri mereka, tetapi dengan mengampuni dosa-dosa mereka dan menyatakan dan menerima pribadi-pribadi mereka sebagai benar. Hal ini tidak dikarenakan sesuatu yang terdapat di dalam diri mereka atau yang dikerjakan oleh mereka, tetapi semata-mata dikarenakan Kristus dengan mengimputasikan ketaatan dan pemuasan Kristus atas mereka, sehingga mereka boleh menerima dan bergantung kepada-Nya dan kebenaran-Nya dengan iman, dimana iman ini sendiri juga bukan milik mereka sendiri melainkan adalah anugerah dari Allah”.
     
    Dari penjelasan di atas, kita melihat bahwa konsep pembenaran tidak mungkin dapat dilepaskan dari Kristus dan apa yang telah dikerjakan-Nya. Pembenaran didasarkan kepada karya subsitusi (penggantian) Kristus bagi kita. Hal ini melibatkan Kristus yang dengan rela mati mengambil tempat kita untuk menanggung seluruh murka Allah Bapa akibat dari dosa-dosa kita. Petrus berkata bahwa Kristus telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib (1 Pet. 2:24). Terkait dengan konsep pembenaran ini, Paulus berkata, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati bagi kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah” (Rom. 5:8-9).
     
  3. Kematian Kristus menjadi jalan keselamatan kita.
    Pernyataan Paulus di dalam Surat Roma 5:8-10 menjadi kunci penting untuk memahami bahwa kematian Kristus menjadi satu-satunya jalan keselamatan kita orang berdosa. Di dalam bagian itu, kita melihat kasih Allah ditunjukkan bukan pada saat hidup kita benar, tetapi pada saat kita masih berdosa dan menjadi seteru Allah. Kasih Allah itu termanifestasi secara nyata dari apa yang dikerjakan Kristus bagi orang berdosa ketika dengan rela Ia menyerahkan diri-Nya mati bagi kita. Kematian-Nya menjadi jalan pendamaian bagi kita yang berdosa dengan Allah Bapa. Kristus menjadi satu-satunya pengantara kita dengan Allah Bapa melalui korban darah-Nya sendiri (Ibrani pasal 9). Kematian-Nya juga menjadi jalan pembenaran kita, dimana Kristus menjadi korban yang menggantikan kita yang berdosa dan tidak layak ini. Melalui pendamaian dan pembenaran yang dikerjakan oleh Kristus ini, menjadi jalan keselamatan kita. “Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia” (Ibr. 9:28). Paulus berkata, “Sebab jikalau kita, ketika kita masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” (Rm. 5:10).
 
Dari pemaparan di atas, kita dapat menyatakan bahwa kematian Kristus bukanlah kematian yang sia-sia dan tidak berelasi dengan kita. Kematian-Nya adalah kematian yang berbuah (fruitful death) menjadi jalan pendamaian, jalan pembenaran, sekaligus jalan keselamatan bagi kita.
 
Penutup
 
Setelah kita melihat apa yang telah Kristus kerjakan bagi kita, pertanyaannya sekarang “Apa yang harus kita kerjakan bagi Dia?” Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita perhatikan apa yang Paulus katakan di dalam Roma 5:11-13, sebagai berikut: “Demikian hendak-Nya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus (ayat 11). Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya (ayat 12). Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran” (ayat 13).
 
Sama seperti Kristus yang telah memberikan teladan sempurna bagi kita atas hidup yang Ia serahkan menjadi korban sejati (true sacrifice) bagi kita, biarlah kita juga dengan rela mau mempersembahkan diri kita menjadi korban hidup (living sacrifice) bagi Allah. Penulis ingin menutup artikel ini dengan mengutip perkataan Paulus di dalam Roma 12:1, yang berkata demikian, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati”.
 
Selamat Paskah 2019 Tuhan memberkati.
[ Nikson Sinaga ]