Prinsip-Prinsip yang Membentuk
Karakteristik Hidup Kristen Reformed
_oOo_
 
Di zaman di mana kehidupan sehari-hari menjadi semakin kompleks dan penuh problem, kita sebagai orang Kristen sekarang sudah semakin kehilangan arah akan apa sebenarnya yang menjadi tujuan akhir hidup kita. Pekerjaan sehari-hari, berbagai urusan pribadi dan keluarga semakin menguras waktu dan tenaga kita dan tanpa disadari, kita telah terjebak ke dalam pola rutinitas yang sebenarnya cenderung “individualistis.”
 
Apabila kita sudah merasa bahwa berbagai kesibukan yang “individualistis” ini sudah terlalu banyak menyita waktu kita untuk memikirkan orang lain, apalagi memikirkan kondisi bangsa kita yang sudah semakin rusak moral ini, lalu apakah gunanya kita di tengah bangsa dan negara ini kalau kita sudah memposisikan diri menjadi garam yang tawar?
 
Di dalam buku Katekismus Singkat Westminster ada tertulis: “What is the chief end of man? Man’s chief end is to glorify God and to enjoy Him forever.” Inilah yang harus menjadi obsesi dan tujuan akhir kehidupan orang-orang Kristen, yakni memuliakan Tuhan dan menikmati-Nya selamanya.
 
Kutipan itu adalah sebuah kalimat pengakuan iman Reformasi yang dihasilkan oleh persidangan para pemuka-pemuka gereja Protestan dari berbagai denominasi di Inggris Raya selama tahun 1643-1646 yang dikenal dengan persidangan “Westminister Assembly,” untuk dijadikan bahan standar katekisasi tentang apa yang seharusnya menjadi tujuan akhir hidup umat Kristen, tanpa memandang siapa dirinya, apa bidang pekerjaannya dan dari mana denominasi gerejanya.
 
Warisan iman Reformasi ini lahir dari sebuah keyakinan para pemimpin Reformasi Kristen tersebut bahwa setiap manusia diciptakan untuk hidup di tengah dunia dengan masing-masing dibekali oleh Tuhan sebuah misi panggilan yang unik dan panggilan ini harus dijalankan sepenuhnya sampai pada akhir hayat hidup, guna menggenapkan rencana Tuhan atas dirinya dan dunia ini.
 
Menurut penulis, keyakinan terhadap konsep tujuan akhir hidup dan doktrin panggilan umat Tuhan di dunia ini sangat mempengaruhi pembentukkan karakter para tokoh-tokoh Kristen Reformed, yang turut mengobarkan hati dan pikiran mereka untuk memimpin pembaruan peradaban manusia kembali kepada Firman Tuhan, khususnya di masa abad ke-16 sampai ke-18.
 
Melalui artikel ini, kiranya penulis dapat memberikan gambaran tentang beberapa ciri khas prinsip yang membentuk karakter hidup para tokoh Kristen Reformed untuk mau memikul salib menjadi berkat bagi peradaban manusia, sehingga kita pun sebagai umat Tuhan di Indonesia tidak terlarut ke dalam “kesibukan yang individualistis,” tetapi bersedia dibentuk Tuhan menjadi berkat bagi bangsa dan negara kita saat ini.
 
Seluruh aspek kehidupan harus berpusat kepada Kristus.
(The God-centered life).
 
Dunia modern telah membentuk pola pikir kita untuk terbiasa memisahkan kehidupan ini menjadi dua bagian, yakni ada kehidupan rohani (di gereja/persekutuan) dan ada kehidupan sekuler (di luar gereja/persekutuan). Sering kali ketika kita mengambil keputusan untuk menerima pekerjaan, memilih sekolah, mencari pacar, menikah, menghadapi permasalahan, beradaptasi pada lingkungan pekerjaan atau budaya tertentu, kita tidak melibatkan Tuhan di dalam menggumuli keputusan tersebut karena kita tidak menganggapnya atau memprioritaskannya sebagai bagian dari kehidupan religius kita. Tuhan hanya kita prioritaskan ketika kita berada di lingkungan gereja dan persekutuan saja.
 
Berbeda halnya dengan tokoh-tokoh Kristen Reformed yang menganggap seluruh aspek kehidupan mereka harus berpusat kepada Kristus. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang sangat terobsesi pada Tuhan (God-obsessed people), baik itu di dalam pergumulan kehidupan pribadi maupun terhadap urusan publik. Mereka adalah orang-orang yang Kristus-sentris (Christocentric). Seorang Puritan bernama Thomas Shepard menulis surat kepada anaknya yang baru masuk kuliah di Harvard untuk “Ingatlah akan tujuan akhir hidupmu, yakni untuk kembali kepada Tuhan dan bersekutu dengan-Nya.”11.
Leland Ryken, Wordly Saints: The Puritans as They Really Were (Grand Rapids : Zondervan, 1986), p. 161.
Fokus gerakan Kristen Reformed di dalam pengembangan bidang pendidikan adalah pada pembangunan relasi seseorang dengan Allah.
 
Mengenai kegunaan uang, John Hooper (dikenal sebagai “Bapa dari gerakan Puritanisme”) mengatakan bahwa: “Uang ada untuk memuliakan Tuhan dan untuk kebaikan orang lain.”22.
Ibid., p.66.
Tentang pernikahan, Oliver Cromwell (tokoh Puritan di parlemen yang menjadi pemimpin persemakmuran Inggris Raya selama tahun 1651-1658) menuliskan sebuah surat kepada anak perempuannya yang akan segera menikah demikian:
 
 
“Sayangku,…jangan biarkan apapun membuatmu kehilangan rasa cintamu kepada Kristus…di mana cinta yang paling berharga yang kau miliki atas suamimu adalah gambar dan rupa Kristus di dalam dirinya. Pandanglah itu dan cintailah dengan sebaik mungkin, dan semua hal lainnya demi cinta itu.”33.
Ibid., p. 207.
 
 
Seluruh pengalaman kehidupan yang dialami oleh orang-orang Kristen Reformed, selalu mereka kaitkan dengan Tuhan, baik itu perkara-perkara yang bersifat kecil maupun yang besar, dan mereka meyakini sekali bahwa semua keputusan-keputusan hidup mereka harus bermuara untuk kemuliaan Tuhan, yang terkait dengan pertanyaan utama di dalam Katekismus Singkat Westminster, yakni “what is the chief end of man.”
 
Seluruh aspek kehidupan adalah milik Tuhan.
(All of Life is God’s).
 
Konsep kehidupan modern yang membagikan antara dunia rohani dan dunia sekuler, membuat seolah-olah Tuhan hanya hadir di dunia rohani yang “suci” dan tidak hadir di dunia sekuler yang “tidak suci.” Tidak demikian dengan pandangan orang Kristen Reformed. Mereka hidup sekaligus di dalam dua dunia, yakni dunia spiritual yang tidak nyata dan dunia fisik yang nyata, di mana bagi orang Kristen Reformed, kedua dunia tersebut sama nyatanya, dan tidak ada pembagian antara dunia rohani dan dunia sekuler. Yang ada hanyalah satu dunia yang kudus dan itu adalah milik Tuhan. John Cotton, salah seorang pemimpin rombongan imigran pertama Puritan yang membangun koloni di Amerika, mengatakan bahwa:
 
 
“Bukan hanya kehidupan rohani saya saja, tetapi juga kehidupan publik saya di dunia ini, semua kehidupan yang saya jalani, adalah oleh iman saya kepada Yesus Kristus, yang tidak mengecualikan satu aspek kehidupan pun terlepas sebagai sarana iman saya kepada Kristus.”44.
Perry Miller, and T.F. Johnson, The Puritans (rev.ed.), (New York: Harper Torchbooks, 1963), p. 319.
 
 
Salah satu sumbangsih terbesar Gerakan Kristen Reformed terhadap pembangunan peradaban manusia adalah upayanya mengembalikan kepekaan manusia di dalam mengintegrasikan seluruh aspek-aspek kehidupan tanpa terkecuali. Mereka bertekad untuk mengkuduskan seluruh aspek-aspek kehidupan dunia, bukan dengan mengeluarkan berbagai larangan atau menjauhkan diri dari aspek kehidupan tersebut seperti yang dilakukan oleh pihak gereja sebelum Peristiwa Reformasi, tetapi dengan menanamkan prinsip-prinsip Alkitab ke dalamnya.
 
Kesadaran dan ketekatan orang Kristen Reformed untuk menempatkan seluruh bidang-bidang kehidupan di dunia ini dibawah prinsip Alkitab adalah karena mereka melihatnya sebagai ciptaan dan milik Tuhan yang kudus. Kepekaan orang Kristen Reformed di dalam melihat seluruh kehidupan ini secara utuh mempermudah panggilannya di dalam mengintegrasikan antara kebutuhan dirinya, kebutuhan gereja dan kebutuhan publik menjadi satu gerakan religius yang efektif. Kepekaan inilah yang turut membangun kesadaran moral orang Kristen Reformed untuk tidak bisa berdiam diri melihat aspek-aspek kehidupan di dunia dikuasai oleh roh jahat begitu saja sebelum dia dikembalikan kepada prinsip Firman Tuhan.
 
George Swinnock mengatakan bahwa “seorang pedagang yang saleh sepatutnya akan mengetahui bahwa baik toko maupun gerejanya adalah tanah yang kudus.” Politik juga telah menjadi bagian terpenting dalam sejarah gerakan Kristen Reformed, di mana Richard Sibbes mengatakan bahwa: “adalah suatu kesombongan yang buruk untuk memisahkan agama dari kebijakan publik dan pemerintahan, seolah-olah agama berdiri dengan alasan tersendiri dan negara dengan alasannya tersendiri.”55.
T.H. Breen, (New Haven: Yale University Press, 1970), p. 12.
Kehidupan saleh berdasarkan Firman Tuhan di seluruh tahap kehidupan seseorang, itulah yang menjadi sasaran dari gerakan orang-orang Kristen Reformed.
 
Melihat pekerjaan Tuhan melalui peristiwa sehari-hari.
(Seeing God in commonplace).
 
Dampak logis dari prinsip bahwa seluruh kehidupan adalah milik Tuhan, adalah keyakinan orang Kristen Reformed untuk dapat melihat pekerjaan Tuhan melalui sarana peristiwa kehidupan sehari-hari. Ini merupakan salah satu ciri khas karakter paling menarik yang dimiliki oleh seorang Kristen Reformed. Bagi orang-orang Kristen Reformed, semua yang terjadi dalam kehidupan di dunia mengacu kepada rencana Tuhan sekaligus sarana pemberian anugerah-Nya. Mereka melihat kehidupan ini melalui kacamata kedaulatan Tuhan (God’s sovereignty) atas seluruh kehidupan di dunia. Dengan menggunakan kerangka ini, maka tidak ada satu pun peristiwa yang dapat dikatakan sepele atau taken for granted dalam kacamata orang Kristen Reformed.
 
Nathaniel Mather menilai “bahkan aktivitas yang paling sederhana sekalipun, seperti suami mencintai istri atau anaknya, menjadi tindakan yang diberkati, yang bernilai besar di mata Tuhan.”66.
Op.cit., Leland Ryken, p. 209.
John Winthrop, seorang pemimpin imigran pertama kaum Puritan ke benua Amerika, menganggap peristiwa sakit demam panasnya yang cukup parah sebagai sebuah berkat pengalaman persekutuan yang paling akrab yang pernah dia alami bersama Tuhan.77.
Ibid.
 
Ketika Robert Blair membuka jendela dan melihat matahari yang bersinar terang dan seekor sapi di ladang, dia teringat seketika bahwa matahari diciptakan untuk menyinari bumi dan seekor sapi diciptakan untuk menghasilkan susu, yang membuat dirinya sadar akan sedikitnya ia memahami maksud dan tujuan hidupnya di tengah dunia.88.
Ibid.
 
Bagi orang Kristen Reformed, apapun di dalam kehidupan ini, bisa digunakan Tuhan sebagai sarana pemberian anugerah-Nya dan pembentukkan Tuhan atas dirinya. Pandangan ini dibentuk oleh kesadaran orang Kristen Reformed yang sangat kuat akan kedaulatan Tuhan di dalam memakai seluruh momentum kehidupan ini untuk mengetuk hati nurani dan mengerjakan anugerah-Nya. Kesadaran ini juga membuat mereka sering merenungkan dan memaknai setiap peristiwa yang terjadi di sekitar hidupnya guna mengetahui maksud dan tujuan Tuhan terhadap diri dan lingkungan sekitarnya melalui momentum peristiwa tersebut. Maka, tidaklah heran mengapa orang-orang Kristen Reformed memiliki kesadaran moral yang kuat untuk selalu ingin mengetahui apa kehendak Tuhan, apa yang benar dan apa yang salah di mata Tuhan. Tidak ada tempat atau kejadian yang tidak berpotensial bagi orang Kristen Reformed untuk menemukan Tuhan di dalamnya.
 
Konsep modern tentang dualisme kehidupan (rohani dan sekuler), membuat kita sering kurang peka atau menganggap biasa (taken for granted) segala momen-momen peristiwa yang terjadi di dalam diri dan sekeliling kita. Padahal, melalui momen-momen tersebutlah Tuhan acapkali sedang membentuk diri kita atau mengasah Firman Tuhan yang telah kita pelajari guna mengarahkan kita pada suatu tugas panggilan tertentu atau menguatkan iman kita di dalam menjalankan misi tertentu.
 
Hidup dengan visi dan semangat pengharapan yang tinggi.
(Living in a vision and spirit of great expectancy).
 
Orang Kristen Reformed tidak beraktivitas hanya untuk mengisi waktu, mengaktualisasi diri, menjalankan rutinitas atau program yang telah ditentukan. Keyakinan Orang Kristen Reformed bahwa setiap umat Tuhan lahir untuk memenuhi sebuah panggilan hidup tertentu di dunia oleh Tuhan membentuk mereka menjadi orang-orang yang visioner. Seluruh aktivitas yang dilakukannya diintegrasikan guna mencapai visi tersebut dan dilaksanakan dengan penuh semangat dan harapan yang tinggi. Orang Kristen Reformed menyadari betul bahwa kegiatan misi adalah aktivitas utama gereja di zaman antara kedatangan Kristus yang pertama dan yang kedua.99.
Anthony A. Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman (Penerbit Momentum, Surabaya, 2000), h. 43.

 
Keyakinan mereka bahwa seluruh kehidupan ini adalah milik Tuhan di mana Dia berdaulat di dalam memelihara umat-Nya melalui sarana peristiwa sehari-hari, turut membentuk kesadaran orang Kristen Reformed mengenai di mana mereka harus berdiri di tengah dunia dan kemanakah visi kehidupannya. Visi gerakan Kristen Reformed tidak kurang dari melakukan pembaruan total kehidupan masyarakat (totally re-formed society) berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab. Mereka melihat kehidupan di dunia sebagai arena peperangan antara kuasa terang dan kuasa kegelapan, yang akan terus berlanjut sampai tiba Akhir Zaman. Namun, bukti kemenangan Kristus melawan kuasa kegelapan pada kedatangan-Nya yang pertama merupakan suatu kekuatan yang memberikan harapan bagi setiap orang Reformed bahwa mereka sedang menjalankan misi peperangan rohani yang akan mereka menangkan lagi berkat bantuan-Nya.
 
John Milton, seorang pujangga besar di Inggris pada abad ke-17, mendefinisikan sasaran pendidikan, sebagai “upaya untuk menjadi serupa dengan Allah dan belajar untuk dapat melakukan segala hal yang disebut berbuat adil, terampil, bermurah hati.”1010.
Op.cit., Leland Ryken, p. 212.
Pada tahun 1775, seorang pengkotbah dari Connecticut bernama Ebenezer Baldwin menyikapi krisis kemungkinan akan terjadinya Perang Kemerdekaan Amerika melawan Inggris justru dengan pengharapan yang positif bahwa:
 
 
“Malapetaka perang hanya akan mempercepat rencana Tuhan mendirikan Dunia Baru. Yesus akan mendirikan Kerajaan Agung-Nya di Amerika: kebebasan, agama dan ilmu pengetahuan telah hilang dari Eropa dan bergerak ke arah barat, menyeberangi laut Atlantik. Krisis yang ada sekarang ini adalah jalan awal menuju akhir dari tatanan masa kini yang korup.”1111.
Karen Armstrong, Berperang Demi Tuhan (Terj.) (Penerbit Mizan, Bandung, 2001), h. 129.
 
 
Mengapa mayoritas masyarakat Amerika berani mendukung perang kemerdekaan melawan Inggris yang pada saat itu memiliki kekuatan militer terhebat di dunia? Karena mayoritas masyarakat Amerika di masa itu telah hidup dari generasi ke generasi dengan visi yang ditanamkan oleh gerakan Reformed kaum Puritan tentang berdirinya sebuah “kota di atas bukit” (a city upon a hill) yang akan menjadi “terang dunia,” sebuah “Israel baru” (a new Israel) di benua baru, dan kemerdekaan dari kekuasaan despotik Inggris dilihat sebagai pintu harapan untuk mewujudkan visi tersebut. Visi merupakan sesuatu yang sudah terintegrasi di dalam karakter hidup orang Kristen Reformed dan yang menstimulir keberanian mereka di dalam melakukan pembaruan total kehidupan masyarakat sesuai prinsip Alkitab.
 
Alkitab sebagai otoritas final terhadap setiap nilai dan praktek kehidupan.
(Bible as a final authority to all beliefs).
 
Setiap manusia hidup dengan menganut berbagai nilai kehidupan tertentu, baik itu budaya, agama, ideologi, sistem politik, filsafat hidup dan sebagainya. Sejarah manusia merupakan saksi hidup betapa banyaknya orang yang rela mengorbankan dirinya demi keyakinan tertentu. Bagi orang Kristen Reformed, setiap nilai-nilai keyakinan yang dikembangkan oleh manusia hanya akan menemukan keutuhannya apabila ia tunduk pada otoritas Alkitab, yang adalah sumber Kebenaran bagi segala “kebenaran” lainnya. Di luar Alkitab, setiap nilai-nilai dan sistem kehidupan tanpa terkecuali merupakan sesuatu yang rapuh dan fragmented.
 
Keyakinan bahwa Alkitab adalah sumber otoritas atas segala hal dalam kehidupan ini membentuk karakter dari gerakan Kristen Reformed di dalam membangun peradaban manusia. Kedahsyatan pengaruh mereka di dalam membangun peradaban dunia di abad ke-16 sampai ke-18 tidak serta merta diawali oleh ide-ide cemerlang yang dihasilkan oleh para tokohnya, tetapi oleh keberanian mereka dalam menyangsikan dan melawan otoritas di setiap bidang kehidupan yang tidak tunduk pada prinsip Alkitab. Keberanian ini ditopang oleh keyakinan para martir Kristen bahwa setiap nilai-nilai kehidupan hanya akan menemukan keutuhannya apabila ditundukkan pada otoritas Alkitab. Keyakinan mereka bahwa seluruh tema dalam setiap aspek kehidupan ini dapat ditemukan akarnya di Alkitab, membentuk kepercayaan diri orang Kristen Reformed untuk terlibat aktif di dalam berbagai bidang kehidupan, guna menegakkan tema-tema kehidupan tersebut sesuai dengan prinsip Firman Tuhan.
 
Thomas Cartwright, salah seorang pencetus gerakan Puritanisme di Inggris, mengatakan bahwa “Alkitab berisikan arahan untuk segala hal yang dapat ditemukan dalam setiap kehidupan manusia.”1212.
Op.cit., Leland Ryken, p. 143.
 
Berdasarkan landasan ini dan natur penerapan prinsip Alkitab yang bersifat universal, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu lingkup bidang pun di dunia ini di mana orang Kristen tidak dapat menerapkannya berdasarkan kenyataan Firman Tuhan dan prinsip-prinsip Alkitab.
 
Menurut William Perkins, “Alkitab berisikan berbagai macam ilmu pengetahuan yang kudus, termasuk ilmu tentang etika, ekonomi (doktrin tentang cara membangun keluarga), politik (doktrin tentang hak pemerintahan dari sebuah persemakmuran), lembaga pendidikan (doktrin tentang bagaimana memimpin sekolah dengan baik).”1313.
Ibid.
 
Betapa luasnya lingkup pengaplikasian Alkitab sehingga urusan sekolah, politik dan kebijakan ekonomi sekali pun menjadi terkait dengannya.
 
Keimamatan orang-orang percaya.
(Priesthood of all believers).
 
Orang Kristen Reformed melihat dirinya bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri, yakni sebagai tentara yang diutus oleh Tuhan di tengah dunia untuk melawan roh-roh jahat yang akan selalu berupaya merebut setiap aspek kehidupan dari tangan-Nya. Selayaknya setiap tentara yang akan diutus ke medan pertempuran, pasti harus diperlengkapi terlebih dahulu dengan berbagai pelatihan tentang bagaimana menyerang lawan dan melindungi diri dari serangan lawan.
 
Keyakinan inilah yang menstimulir orang Kristen Reformed di dalam mempersiapkan pembinaan dan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak Tuhan agar menjadi pelayan Tuhan yang efektif dan produktif di tengah-tengah masyarakat. Cara pandang inilah juga yang menyebabkan mengapa gerakan Kristen Reformed mampu menjadi gerakan yang efektif di dalam mentransformasikan berbagai aspek kehidupan dunia kembali pada prinsip-prinsip Alkitab selama abad ke-16 sampai ke-18, terutama di Eropa Barat dan Amerika.
 
 
“Panggilan sebuah reformasi adalah suatu panggilan untuk mengambil tindakan, pertama-tama mentransformasi diri seseorang menjadi instrumen yang layak (fit) di dalam melayani kehendak Tuhan, dan kemudian mengkaryakannya di tengah dunia untuk mentransformasi seluruh kehidupan masyarakat.”1414.
Ibid., p. 12.
 
 
Bagi orang Kristen Reformed, hanya Alkitablah satu-satunya sarana yang mampu mempersiapkan dan membentuk seseorang menjadi pelayan Tuhan yang efektif dan produktif bagi kepentingan umum, baik itu di bidang politik, ekonomi, pendidikan, hukum, budaya, seni, sosial, psikologi, lingkungan hidup dan sebagainya, karena Alkitablah sumber otoritas dan Kebenaran bagi seluruh aspek kehidupan. Maka, tindakan pertama untuk mempersiapkan seseorang menjadi pelayan Tuhan yang efektif di manapun bidang kehidupan yang sedang atau akan ditekuninya, harus dimulai dari pembelajaran isi Alkitab itu sendiri dan pembinaan di dalam pengaplikasiannya.
 
Langkah pertama ini bertujuan untuk membentuk seorang anak Tuhan menuju proses “kelahiran baru” (regenerasi), di mana ia menemukan bentuk hubungan yang benar bersama Allah, dengan sesama manusia, dan di tengah dunia. Persepktif baru inilah yang akan menjadikan seorang pelayan Tuhan berintegritas di dalam menjalankan panggilan kehidupannya.
 
Orang Kristen Reformed memandang bahwa dikarenakan setiap aspek kehidupan tanpa terkecuali hanya akan berjalan benar bila diterapkan berdasarkan prinsip Alkitab yang adalah sumber otoritasnya, dan hanya umat pilihan Tuhanlah yang mengetahui bagaimana mengembalikan kehidupan pada posisi sebenarnya, maka sudah menjadi tanggung jawab bagi setiap umat pilihan Tuhan untuk memimpin setiap aspek kehidupan di dunia sesuai panggilannya. Hanya dengan cara inilah, Tuhan dipermuliakan di bumi. Dengan demikian, maka setiap umat Tuhan tanpa terkecuali, berkewajiban melaksanakan fungsi keimamatannya di seluruh aspek kehidupan dan untuk bisa melakukannya, maka ia harus selalu mempelajari Alkitab sebagai panduan hidupnya.
 
Increase Mather, seorang Rektor Harvard di abad ke-17 dan ayah dari pendiri Universitas Yale (Cotton Mather), memberikan pandangannya tentang “maksud tujuan Alkitab kepada kita adalah untuk menunjukkan bagaimana semestinya kita melayani Tuhan, dan bagaimana semestinya kita melayani panggilan generasi di masa kita.”1515.
Ibid.,p. 181.
 
Bagi orang Kristen Reformed, mempelajari Alkitab bukan hanya tugas dan tanggung jawab pendeta atau mahasiswa teologi saja, tetapi setiap umat Tuhan. Mempelajari Alkitab dan panggilan untuk terlibat aktif menuntun setiap aspek kehidupan pada prinsip-prinsip Alkitab merupakan dua fungsi keimamatan orang Kristen yang saling melekat satu sama lain. Seorang umat Tuhan tidak bisa hanya ingin belajar Alkitab tetapi tidak mau terlibat aktif mengerjakan anugerah-Nya di dalam aspek kehidupan tertentu karena “terlalu sibuk” atau “takut tangannya kotor.” Sebaliknya, ia juga tidak bisa hanya ingin menjadi “aktivis Kristen” tetapi malas belajar Alkitab.
 
John Owen, tokoh Kristen Reformed yang dijuluki sebagai “pangeran Puritan,” menegaskan bahwa “kebahagiaan kita dicapai bukan di dalam mengetahui banyak hal tentang Injil, tetapi di dalam melakukannya.”1616.
Ibid.,p. 213.
John Preston mengatakan bahwa “cara untuk bertumbuh di dalam setiap anugerah Tuhan adalah dengan mengerjakannya.”1717.
Ibid.
 
Saudara-saudari, semakin kita mengintegrasikan doktrin-doktrin Alkitab di dalam pelaksanaan panggilan kehidupan kita, semakin besar doktrin tersebut membukakan dirinya pada kita akan kekayaan dan kelimpahan anugerah Tuhan, sehingga kita pun semakin menikmati kehidupan di dalam memuliakan Tuhan, yang memang menjadi tujuan akhir hidup setiap umat Tuhan, yakni memuliakan Tuhan dan menikmati-Nya selamanya. Bagaimanakah dengan kita? Apakah panggilan hidup kita? Apakah kita sudah hidup dengan prinsip-prinsip yang membangun keseluruhan diri kita untuk dapat berperan di dalam melayani Tuhan, baik di pekerjaan, kuliah, organisasi dan aktivitas lainnya?
 
Kiranya Artikel ini dapat membantu kita di dalam upaya menjadi pelayan Tuhan yang berkarakter dan dapat berperan bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia.
 
Diambil dari Buletin Natal 2007
[ Randy ]
 
Notes
 
1
Leland Ryken, Wordly Saints: The Puritans as They Really Were (Grand Rapids : Zondervan, 1986), p. 161.
 
2
Ibid., p.66.
 
3
Ibid., p. 207.
 
4
Perry Miller, and T.F. Johnson, The Puritans (rev.ed.), (New York: Harper Torchbooks, 1963), p. 319.
 
5
T.H. Breen, (New Haven: Yale University Press, 1970), p. 12.
 
6
Op.cit., Leland Ryken, p. 209.
 
7
Ibid.
 
8
Ibid.
 
9
Anthony A. Hoekema, Alkitab dan Akhir Zaman (Penerbit Momentum, Surabaya, 2000), h. 43.
 
10
Op.cit., Leland Ryken, p. 212.
 
11
Karen Armstrong, Berperang Demi Tuhan (Terj.) (Penerbit Mizan, Bandung, 2001), h. 129.
 
12
Op.cit., Leland Ryken, p. 143.
 
13
Ibid.
 
14
Ibid., p. 12.
 
15
Ibid.,p. 181.
 
16
Ibid.,p. 213.
 
17
Ibid.