Kerangka Filosofis Kristen Dan Pendidikan Kristen
_oOo_
 
Pendahuluan.
 
Kita semua mengakui bahwa pendidikan Kristen, dalam arti sistem dan kurikulum sekolah-sekolah Kristen, yang ada di Indonesia dewasa ini dimotivasi oleh semangat modern. Semangat itu demikian berdampaknya bagi kita semua. Artikel ini dibuat sebagai suatu latihan bagi penulis dan apabila mungkin, oleh anugerah Tuhan, dapat memotivasi para ilmuwan, peneliti, penyelenggara pendidikan serta pendidik bahkan orangtua Kristen, setidaknya dalam konteks Indonesia, untuk memikirkan perlunya dilakukan kajian-kajian serius atas kerangka filosofis keilmuan yang ada saat ini. Sebagai orang yang awam dalam ilmu alam, pendidikan dan kemasyarakatan, penulis menggunakan sejumlah buku karya filsuf dan teolog Kristen sebagai referensi, yang dari mereka banyak orang Kristen lainnya juga telah belajar.
Sebagai pengerja pada Persekutuan Studi Reformed, artikel ini juga dibuat sehubungan dengan Misi Persekutuan Studi Reformed: Menggali, memelihara dan mengaplikasikan sebanyak mungkin kekayaan yang telah diwariskan teologi Reformed yang telah terwujud dalam berupa-rupa karya literatur dan himne yang telah memperlengkapi orang-orang Kristen dan gereja sepanjang jaman.
 
Filsafat dan Teologi Kristen.
 
Albert M. Wolters di dalam bukunya Creation Regained mengatakan bahwa filsafat dan teologi merupakan bidang khusus di mana tidak setiap orang dapat terlibat di dalamnya. Keduanya memerlukan keahlian khusus, menuntut kecerdasan tertentu dan pendidikan yang memadai. Filsafat dan teologi bersifat ilmiah (scientific).
 
 
Philosophy can be described as that comprehensive (totality-oriented) scientific discipline which focuses on the structure of things – that is, on the unity and diversity of creational givens. Theology (i.e. Christian systematic theology), on the other hand, can be said to be that comprehensive (totality-oriented) scientific discipline which focuses on direction of things – that is, on the evil that infects the world and the cure that can save it. (Albert M. Wolters, “Creation Regained: Biblical Basics for A Reformational Worldview,” Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 2000, p. 9).
 
 
Tugas filsafat adalah mengamati “struktur” yang ada di dalam ciptaan menurut ketunggalan dan kejamakannya. Sedang teologi memusatkan diri pada “arah” menuju mana seluruh keragamanan aspek ciptaan berjalan. Teologi Kristen, dalam kerangka ini, menyadari bagaimana dosa telah merusak seluruh relasi-relasi di dalam ciptaan serta jalan keluar dengan mana kerusakan itu diselesaikan. Dengan kerangka di atas maka filsafat Kristen dan teologi Kristen yang dibangun adalah demikian,
 
 
Christian philosophy looks at creation in the light of the basic categories of the Bible; Christian theology looks at the Bible in the light of the basic categories of the creation. (Albert M. Wolters, “Creation Regained: Biblical Basics for A Reformational Worldview,” Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 2000, p. 9).
 
 
Pandang Dunia.
 
Berbeda dengan filsafat dan teologi, pandang dunia bersifat pra-ilmiah (pre-scientific). Ia berurusan dengan permasalahan-permasalahan yang bersifat struktural maupun direksional. Ia tidak memerlukan kualifikasi akademik tertentu dan lebih merupakan suatu hikmat atau akal sehat. Demikian dikatakan Albert M. Wolters di dalam buku yang sama,
 
 
A worldview, by contrast, is equally concerned with both structural and directional questions. It does not yet have the differentiation of the focus characteristic of the comprehensive scientific disciplines. (Albert M. Wolters, “Creation Regained: Biblical Basics for A Reformational Worldview,” Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 2000, p. 9).
 
 
Wolters memaksudkan bahwa pandang dunia merupakan pengalaman sehari-hari tiap orang, komponen pengetahuan manusia yang tidak terhindarkan, dan dengan demikian bersifat non-ilmiah, bahkan lebih bersifat pra-ilmiah (oleh karena pengetahuan ilmiah selalu bergantung pada pengetahuan intuitif dari pengalaman sehari-hari). Wolters melanjutkan,
 
 
… world view will be defined as “the comprehensive framework of one’s basic beliefs about things.” / … cara pandang dunia didefinisikan sebagai “kerangka menyeluruh dari kepercayaan-kepercayaan mendasar seseorang mengenai segala suatu.” (Albert M. Wolters, “Creation Regained: Biblical Basics for A Reformational Worldview,” Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 2000, p. 2).
 
 
Suatu pandang dunia, menurut Wolters, setidaknya terdiri dari tiga elemen berikut ini:
 
  1. Things. Istilah things harus dipahami sebagai segala suatu yang yang kepadanya kita menaruh kepercayaan. Allah sekali pun termasuk di dalam pengertian things ini.
     
  2. Beliefs. Pandang dunia merupakan kepercayaan-kepercayaan (beliefs) mendasar seseorang. Kepercayaan berbeda dengan sekadar suatu perasaan atau pendapat. Kepercayaan, menurut Wolters, memiliki suatu klaim kognitif (cognitive claim), yaitu suatu klaim terhadap sesuatu yang kita ketahui. Misalnya, menurut Wolters, kita “percaya” bahwa pendidikan merupakan jalan menuju kebahagiaan umat manusia. Apa yang kita “percayai” itu kita pertahankan dan jalani sedemikian rupa. Tidak demikian halnya dengan perasaan. Perasaan tidak memerlukan klaim dan argumentasi atas apa yang kita ketahui.
     
  3. Basic. Pandang dunia berhubungan dengan kepercayaan-kepercayaan mendasar (basic) mengenai segala suatu
 
Pada akhirnya, Wolters mengatakan, kepercayaan-kepercayaan mendasar yang dipegang seseorang cenderung membentuk suatu kerangka pikir (framework atau pattern); di mana semuanya saling bergantung dalam suatu cara tertentu.
Brian J. Walsh dan J. Richard Middleton dalam bukunya The Transforming Vision mengatakan demikian,
 
 
A world view is never merely a vision of life. It is always a vision for life as well. Indeed, a vision of life, or world view, that does not actually lead a person or a people in a particular way of life is now world view at all. Our world view determines our values. It helps us interpret the world around us. It sorts out what is important from what is not, what is of highest values from what is least. / Sebuah pandang dunia tidak pernah sekadar merupakan sebuah visi tentang hidup. Ia selalu merupakan sebuah visi untuk hidup. Sebuah visi hidup, atau pandang dunia, yang tidak membawa seseorang atau suatu bangsa kepada suatu jalan hidup tertentu sama sekali tidak dapat disebut suatu pandang dunia. Pandang dunia menentukan nilai-nilai kita. Ia menolong kita menafsirkan dunia di sekitar kita. Ia membedakan apa yang penting dari yang tidak, apa yang nilainya tinggi dari yang tidak. (Brian J. Walsh & J. Richard Middleton, “The Transforming Vision: Shaping a Christian World View,” Illinois: InterVarsity Press, 1984, p. 32).
 
 
Lebih lanjut Walsh dan Middleton mengatakan tiga hal penting berikut ini mengenai pandang dunia:
 
  1. Sebuah pandang dunia menyediakan sebuah model tentang dunia yang mengarahkan seseorang atau suatu bangsa yang menaruh kepercayaan kepadanya untuk hidup di dalam dunia. Pandang dunia menetapkan bagaimana dunia serta kehidupan ini seharusnya berjalan, dan dengan demikian mengarahkan bagaimana penganutnya harus bersikap dan bertindak di dalam dunia.
     
  2. Setiap pandang dunia selalu diperlengkapi dengan sebuah eskatologi, visi tentang masa depan, yang menuntun dan mengarahkan kehidupan seseorang atau suatu bangsa.
     
  3. Sebuah pandang dunia tidak pernah dimiliki hanya oleh seorang pribadi. Ia selalu dimiliki bersama dan oleh karena itu bersifat komunal.
 
Maka, menurut Walsh dan Middleton, seluruh aktivitas masyarakat baik itu politik, hukum, ekonomi, pendidikan, pernikahan dan keluarga selalu merupakan ekspresi dari sebuah cara hidup yang dipandu oleh suatu keyakinan (confession) tertentu, sesuatu yang berkaitan dengan apa yang Wolters maksudkan dengan kepercayaan (belief).
 
Dari Pandang Dunia Menuju Dunia Keilmuan.
 
Sebuah pandang dunia yang bersifat pra-terori itu pertama-tama dimanifestasikan dalam kehidupan akademik pada saat seorang ilmuwan merumuskan sebuah kerangka filosofis teoritis. Alur perjalanan dari “pandang dunia” menuju suatu “paradigma filosofis” hingga “disiplin akademik” digambarkan sebagai berikut oleh Walsh dan Middleton:
 
Pandang dunia
Paradigma filosofis
Disiplin akademik
Konsep prateoritis tentang totalitas dari realita
Konsep teoritis tentang totalitas dari realita
Konsep teoritis tentang aspek tertentu dari realita
 
Relasi di antara ketiganya itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
 
  1. Pada hekekatnya dunia keilmuan berakar pada komitmen religius (meskipun komitmen tersebut adalah pada akal manusia itu sendiri), sehingga iman dan dunia keilmuan selalu terintegrasi. Permasalahannya adalah: iman yang mana? Permasalahan utama ilmuwan Kristen adalah mereka tidak mengenal religiusitas apakah yang sesungguhnya “mengarahkan” perjalanan dunia keilmuan, sehingga mereka selalu menemukan diri mereka melakukan aktivitas keilmuan yang berkontradiksi dengan iman Kristen.
     
  2. Apabila pada kenyataannya dunia keilmuan telah diatur berdasarkan model pandang dunia-filsafat-disiplin akademik yang koherensi internalnya telah berkonflik dengan iman Kristen, maka berbagai kajian ilmu yang ada di perguruan tinggi saat ini jelas memerlukan pembaruan dan oleh karena itu diperlukan suatu alat bantu yaitu wawasan Kristen. Walsh dan Middleton mengutip perkataan Nicholas Wolterstorff: the Bible “does not provide us with a body of indubitably known propositions by reference to which we can govern all our acceptance and nonacceptance of theories.” / Alkitab “tidak menyediakan bagi kita seperangkat pernyataan yang mutlak dapat dijadikan acuan dalam menetapkan persetujuan atau penolakan kita atas berbagai teori.” (Brian J. Walsh & J. Richard Middleton, “The Transforming Vision: Shaping a Christian World View,” Illinois: InterVarsity Press, 1984, p. 172). Maka “pandang dunia Kristen” hanya mungkin terwujud di dalam “analisis teoritis ilmiah yang didasarkan atas kebenaran Alkitab” apabila keduanya dihubungkan dengan suatu “paradigma filosofis Kristen”.
 
Pendidikan Kristen Tanpa Kerangka Filosofis Kristen?
 
Berdasarkan analisis Wolters serta Walsh dan Middleton mengenai pandang dunia dapat kita bayangkan bahwa tanpa diperkembangkannya suatu paradigma filosofis Kristen tidak akan pernah ada suatu analisis teoritis ilmiah yang didasarkan atas kebenaran Alkitab. Dengan demikian tidak akan pernah ada harapan pembaruan di dalam kurikulum pendidikan Kristen.
 
Sebagai guru atau pendidik pada lembaga pendidikan Kristen kita puas apabila anak-anak didik kita sanggup mencapai indikator-indikator prestasi akademik tertentu.
Sebagai orang tua kita bangga apabila anak-anak kita kelak sanggup berkompetisi memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi agar kemudian dapat memasuki dunia pekerjaan. Hal itu tidak salah. Akan tetapi pernahkah kita memikirkan sungguh-sungguh apakah pendidikan yang mereka kecap itu dapat memperlengkapi mereka untuk kelak mengarungi hidup Kristen secara terintegritas? Sebagai ilmuwan, peneliti, penyelenggara pendidikan, pendidik dan orang tua Kristen, kita perlu memikirkan pentingnya dilakukan kajian-kajian serius terhadap paradigma filosofis yang membentuk kurikulum pendidikan modern dewasa ini berdasarkan kategori-kategori Alkitab, yaitu suatu Christian philosophy.
 
Kritik Thomas S. Kuhn Atas Paradigma Filosofis Ilmu Pengetahuan.
 
Thomas S. Kuhn melalui bukunya The Structure of Scientific Revolutions, yang di dalamnya menolak pandangan klasik Bacon tentang ilmu pengetahuan, berpendapat bahwa ilmu pengetahuan tidak bergerak maju semata-mata oleh metode induktif yang dilakukan langkah demi langkah. Ada kerangka kepercayaan dan keyakinan tertentu di dalamnya yang menentukan standar-standar di dalam penelitian, Kuhn menyebut kerangka kepercayaan dan keyakinan itu sebagai “paradigma”. Perhatikan apa yang Vern S. Poythress, seorang Profesor Penafsiran Perjanjian Baru pada Westminster Theological Seminary, katakan tentang pandangan Thomas S. Kuhn tersebut di dalam bukunya Science and Hermeneutics,
 
 
Kuhn argued that science did not advance merely by a step-by-step inductive method. Research on specific problems always took place against the background of assumptions and convictions produced by previously existing science. In mature science, this background took the form of “paradigms,” a cluster of beliefs, theories, values, standards for research, and exemplary research result that provided a framework for scientific advance within a whole field. (Vern S. Poythress, “Science and Hermeneutics: Implications of Scientific Method for Biblical Interpretation,” Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1988, p. 43).
 
 
Thomas S. Kuhn berpendapat bahwa setiap komunitas ilmiah (atau aliran pemikiran) selalu melakukan karya ilmiah berdasarkan paradigma yang mereka bangun bersama. Paradigma berfungsi sebagai kerangka konseptual para ilmuwan. Ia membentuk kriteria atas dasar mana teori-teori dapat dinilai. Demikian dikatakan oleh Walsh dan Middleton,
 
 
For Kuhn, each scientific community (or school of thought) does its scientific work by means of a shared paradigm. The paradigm functions as the scientists’ conceptual framework – their shared generalizations, values and beliefs. It provides the criteria by which theories are judged, evidence is deemed admissible, … and the elements of a true conclusion are constituted. (Brian J. Walsh & J. Richard Middleton, “The Transforming Vision: Shaping a Christian World View,” Illinois: InterVarsity Press, 1984, p. 169).
 
 
Kritik Thomas S. Kuhn Sebagai Suatu Peluang Bagi Paradigma Filosofis Kristen.
 
Poythress berpendapat bahwa Kuhn telah berada di jalur yang tepat. Ia dipandang telah membawa banyak aspek di dalam pengembangan ilmu pengetahuan modern, yang selama ini telah terbungkus oleh berkuasanya filsafat ilmu pengetahuan modern serta catatan-catatan tambahan buku teks mengenai sejarah ilmu pengetahuan modern, kepada terang. Bagi Poythress banyak hal yang dikatakan oleh Kuhn dapat diterapkan ke dalam komunitas keilmuan apapun. Ide-ide Kuhn dipandang dapat diaplikasikan kepada penafsiran Alkitab, sekalipun tidak semua yang benar dari ilmu pengetahuan adalah benar berdasarkan penafsiran alkitab.
 
 
Hence his ideas should be applicable to biblical interpretation. But not everything that is true of science is true of biblical interpretation. (Vern S. Poythress, “Science and Hermeneutics: Implications of Scientific Method for Biblical Interpretation,” Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1988, p. 52).
 
 
Sebagaimana halnya Wolters, Walsh dan Middleton mengatakan,
 
 
Thomas Kuhn has given fresh insight to the issue of control beliefs by his discussion of “paradigms.” (Brian J. Walsh & J. Richard Middleton, “The Transforming Vision: Shaping a Christian World View,” Illinois: InterVarsity Press, 1984, p. 169).
 
 
Ide Kuhn ini seharusnya menjadi suatu pengharapan baru bagi para ilmuwan Kristen untuk memformulasikan paradigma filosofis Kristen di dalam memperbarui kurikulum dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan modern.
 
Menuju Kerangka Filosofis Pendidikan Kristen: The Transforming Vision.
 
1.
Perlunya menghargai multidimensionalitas.
 
Kita disadarkan bahwa sesungguhnya ilmu pengetahuan di dalam kurikulum pendidikan modern telah mengalami reduksi. Setiap aspek ciptaan tidak lagi dihargai menurut maksud ia diciptakan Tuhan. Ilmu Ekonomi, misalnya, harus ditata ulang berdasar kerangka filosofis Kristen yang multidimensional. Ilmu Ekonomi harus diredefinisi sebagai disiplin ilmu yang mengamati bagaimana manusia mengelola dan memenuhi kebutuhannya sebagai manusia yang sudah diperbarui menurut gambar dan rupa Allah Pencipta dengan menggarap bumi yang juga diciptakan Allah Pencipta. Ia tidak boleh direduksi oleh kerangka filosofis economism yang hanya menyempitkan ekonomi ke dalam aspek numerik saja.
 
Itu berarti tujuan akhir ilmu ekonomi adalah aktivitas ekonomi yang menyelenggarakan kesejahteraan bagi banyak orang di dalam ucapan syukur pada Tuhan (stewardhsip), bukan memiliki semua yang kita mau (having).
 
2.
Mewujudkan dunia pendidikan yang Kristiani.
 
Dalam Creation Regained, Wolters mengatakan demikian: Bondage in Scripture has to do with enslavement to a spiritual empire. / Perbudakan di dalam Alkitab selalu berkaitan dengan perbudakan suatu kerajaan yang sifatnya rohani. (Albert M. Wolters, “Creation Regained: Biblical Basics for A Reformational Worldview,” Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 2000, p. 55). Dunia keilmuan telah direduksi oleh kerangka filosofis scientism yang memutlakkan ilmu pengetahuan sebagai pengganti wahyu Tuhan dan technicism yang memutlakkan pentingnya penguasaan manusia atas alam sebagai sumber kebahagiaan hidup manusia. Tanpa kita sadari kedua ilah jaman itu telah mengarahkan program dan kurikulum pendidikan modern saat ini menuju semangat kompetisi yang individualistik. Yang menyedihkan pula adalah anak-anak didik, yang oleh para orangtua Kristen telah dipercayakan kepada para penyelenggara pendidikan dan pendidik Kristen, kini juga berada di dalam lingkaran kompetisi dunia modern yang sangat individualistik.
 
Kesimpulan.
 
Oleh karena itu para ilmuwan, peneliti, penyelenggara pendidikan, pendidik, serta orang tua Kristen harus secara bersama-sama belajar untuk membangun kesadaran pentingnya studi antar disiplin. Walsh dan Middleton menekankan perlunya integrasi atas wawasan yang terbatas dari tiap-tiap disiplin ilmu (karena pengetahuan manusia memang terbatas adanya) untuk menghasilkan suatu gambaran yang multidimensional tentang setiap disiplin keilmuan.
 
Masa depan pendidikan Kristen merupakan tanggungjawab semua pihak. Maka “one’s basic beliefs about things yang dimaksud oleh Wolters ini harus secara bersama, berinteraksi, saling membangun dan menguatkan agar memasyarakat dan bukan mustahil seluas bangsa, hal mana dimaksud oleh Walsh dan Middleton.
Diambil dari Buletin Seminar Pendidikan Kristen 2008.
 
[ Jessy Victor Hutagalung ]
Persekutuan Studi Reformed