Pemikiran Calvin mengenai
Kejatuhan dan Kematian Kristus bagi Orang Berdosa
_oOo_
 
Abad Pencerahan memiliki harapan-harapan yang tinggi untuk kemanusiaan. Untuk mencapai harapan-harapan itu mereka membebaskan diri dari gereja, tradisi dan Kitab Suci. Individu berusaha untuk maju dengan usahanya sendiri demi mencapai kesempurnaan intelektual ataupun kesempurnaan moral.11.
Michael Horton, “Theological Guide to Calvin Institutes: Essay and Analysis” (P&R Publishing, 2008). Chapter 7.

 
Mereka menolak Kristus ataupun Kitab Suci untuk mencapai kesempurnaan moral karena hukum moral yang ada di dalam hati manusia dijadikan dasar untuk mencapai kesempurnaan moral ataupun kesempurnaan intelektual tersebut. Mereka menentang dan menolak fakta adanya dosa asal maupun kerusakan total. Menurut mereka, dengan hanya melalui usaha kerja keras dari diri sendiri saja perubahan moral manusia dapat tercapai.
 
Pemikiran ini tentunya tidak lepas dari warisan pemikiran yang sekian lama telah membentuk sebuah wawasan pemikiran mengenai natur manusia.
Salah satu pandangan yang mengajarkan bahwa dosa Adam tidak memiliki relevansinya atau konsekuensinya dengan keturunan Adam adalah pandangan Pelagianisme. Pandangan ini mengajarkan semua manusia yang dilahirkan adalah manusia rohaniah yang netral. Ia tidak jahat ataupun baik. Manusia dapat mencapai kesempurnaan moral yang baik melalui pilihannya sendiri, apakah ia memilih yang baik ataukah yang jahat. Itu sebabnya bagi Pelagius, dosa hanya sebagai sebuah “kebiasaan” (habit) yang tidak baik. Oleh karenanya, untuk menyelesaikan masalah dosa hanya diperlukan usaha manusia itu sendiri melalui kehendak dan keinginannya. Maka dari itu, bagi Pelagius tidak perlu ada keselamatan ataupun anugerah untuk menyelesaikan masalah dosa.
 
Ide pemikiran Pelagius ini kemudian menjadi benih munculnya pemikiran-pemikiran yang meninggikan akan keilahian manusia. Walau pemikiran theologi Kristen menolak pemikiran Pelagius tersebut, namun ada beberapa pemikiran theolog Kristen secara jelas tidak bisa melepaskan pemikiran mereka dari ide Pelagius.
 
John Calvin sebagai theolog Reformed telah memberikan warisan pemikiran theologi Kristen yang paling besar sepanjang sejarah. J.I. Packer mengatakan bahwa Institutes Calvin edisi ke-5, tahun 1559 merupakan salah satu keajaiban dunia literatur, yaitu tentang penulis dan penulisan.
 
Dan di dalam bukunya Insitutio ini saya ingin menyampaikan salah satu pemikiran Calvin di dalam bukunya yang telah menjadi pertentangan di dalam sejarah gereja, yaitu pemikirannya tentang natur manusia setelah jatuh kedalam dosa. Serta pemikiran Calvin akan karya keselamatan Kristus yang menjadi dasar bagi penulis bahwa hanya melalui karya keselamatan Kristus kejatuhan manusia kedalam dosa dapat diselesaikan.
 
Kejatuhan manusia di dalam pemikiran Calvin
 
Calvin dan theologi Reformed secara umum berbeda dengan Luther dan Lutheranisme mengenai pengaruh kejatuhan pada gambar Allah. Bagi tradisi Lutheranisme, kejatuhan begitu merusak natur manusia sehingga tidak ada sisa gambar Allah, gambar itu seluruhnya telah hilang dan dapat dipulihkan hanya melalui penebusan Kristus.22.
Ibid.
Akan tetapi Calvin ataupun theologi Reformed menolak untuk menerima penghapusan total akan gambar Allah.
 
Sesungguhnya pemikiran Calvin ini menjadi suatu bukti akan kepedulian Calvin untuk menjunjung tinggi natur manusia sebagai ciptaan Allah. Calvin memberikan pandangannya di dalam bukunya Institutio 2.2.15.
 
 
“...sekalipun jatuh dalam dosa dan menyimpang dari keseluruhannya, bagaimanapun juga berpakaian dan dihiasi dengan karunia-karunia Allah yang sangat baik. Jika kita menganggap Roh Allah sebagai satu-satunya sumber kebenaran, kita tidak akan menolak kebenaran itu sendiri, ataupun memandang rendah dimanapun kebenaran itu akan muncul, kecuali kita tidak ingin menghormati Roh Allah...”
 
 
Sehingga di dalam pemikiran Calvin, kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak dapat menghapuskan jejak gambar Allah. Fakta inilah menjadi bukti bahwa pemikiran Calvin akan penyandang gambar Allah yang sudah jatuh kedalam dosa adalah tetap religius, akan tetapi rasa keilahian yang ditanam di dalam manusia (“Sensus Divinitas”) tidak lagi memiliki arah yang tepat. Oleh karenanya manusia yang sudah jatuh kedalam dosa tidak lagi menyembah Allah yang sejati melainkan menyembah berhala. Gambar Allah tidak lagi berbau harum dan itu menjadi beban bagi manusia yang berdosa untuk dibuang, akan tetapi manusia menghadapi fakta bahwa gambar itu tidak dapat dihapuskan, akhirnya gambar itu menjadi begitu rusak.
 
Kerusakan total bagi Calvin adalah kerusakan alamiah dalam artian bahwa kerusakan itu secara universal diwariskan. Namun demikian, sekalipun kerusakan total bersifat menyeluruh akan tetapi kemampuan alamiah untuk merenungkan Allah, mengucap syukur belumlah hilang, tetapi semua kemampuan moral untuk bersyukur dan menyembah Allah itu seluruhnya diserahkan kepada dosa. Sebab bagi Calvin setiap orang masih mempertahankan “Sensus Divinitas” yang tertanam di dalam manusia.
 
Dosa tidak dapat menciptakan melainkan hanya dapat merusak, mendistorsi, menodai dan menindas keadaan aslinya yang ditetapkan oleh kebaikan Allah.33.
Ibid.
Kejelekan rupa adalah keindahaan yang dirusak,44.
Ibid.
Akan tetapi dosa tidak dapat menghancurkan gambar Allah secara total melainkan di dalam pemikiran Calvin kerusakan yang ditimbulkan adalah total secara keluasannya, bukan di dalam intensitasnya. Dengan perkataan lain tidak ada tumpuan kebaikan di dalam kita baik pikiran, kehendak, emosi atau tubuh dimana kita dapat datang kepada Allah. Dosa telah merusakkan seluruh pribadi, seperti racun yang bekerja dalam intensitasnya yang lebih besar atau lebih kecil melalui seluruh nadi.55.
Ibid.
 
Maka apa yang Calvin sampaikan pemikirannya tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa yang mengakibatkan kerusakan total secara menyeluruh sesungguhnya membawa kepada pemikiran kita bahwa segala kerusakan total yang sudah diwariskan itu bukanlah natur manusia alamiah yang terlihat melainkan kerusakannya yang terlihat. Dan melaluinya itu semuanya itu Calvin menegaskan bahwa apa yang Calvin sampaikan bukan memiliki tujuan untuk menyingkapkan pertentangan ataupun perdebatan manusia, akan tetapi seperti apa yang Paulus katakan adalah untuk mengajar kita di mana keselamatan harus ditemukan, yaitu di dalam anugerah Allah saja, di dalam Kristus Tuhan daripada di dalam kita.66.
Ibid.
 
Kematian Kristus bagi orang berdosa
 
Di dalam kejatuhan kita di dalam dosa, sungguh kejatuhan itu telah menjadikan kita hidup di dalam kutuk dosa, mati dan terhilang. Untuk itu bagi Calvin kita sangat membutuhkan satu-satunya Penebus dan Juruselamat kita, yaitu Yesus Kristus Tuhan. Calvin mengajak para pembacanya untuk merenungkan bagaimana Kristus telah menggenapi keselamatan bagi kita.
 
Di dalam bukunya Institutio 2.16.2, Calvin menyampaikan bagaimana kemurahan Allah yang dinyatakan di dalam kematian Kristus memperdamaikan manusia yang berdosa sebagai musuh-musuh Allah. Bagi Calvin bahwa ketika kita sudah sepantasnya menerima murka Allah akan tetapi Ia mengasihi kita dan mengutus Penebus kita untuk menyelamatkan kita. Ia berdiri menentang kita sebagai orang-orang berdosa, akan tetapi Ia masih mengasihi kita sebagai ciptaan-Nya. Jadi Ia digerakkan oleh kasih yang murni dan diberikan dengan cuma-cuma untuk menerima kita di dalam anugerah-Nya. Karena itu bagi Calvin, oleh kasih-Nya Allah Bapa berjalan dahulu dan mengantisipasi pendamaian kita dalam Kristus... Tetapi sampai Kristus menolong kita melalui kematian-Nya, ketidakbenaran yang layak menerima kemarahan Allah tetap ada di dalam kita, dan dikutuk, dihukum di hadapan-Nya. Karena itu, kita dapat sepenuhnya dan dengan teguh bersatu dengan Allah hanya ketika Kristus menyatukan kita dengan Dia.
 
Calvin kemudian juga menegaskan bahwa kematian Kristus merupakan bagian dari ketaatan-Nya dan kematian itu harus Ia pilih untuk membebaskan kita dengan memindahkan penghukuman kita kepada diri-Nya dan memikul kesalahan kita. Yesus Kristus harus disalibkan karena hanya itu satu-satunya cara Ia dapat membayar hukuman kita di hadapan Allah. Maka sekarang Calvin mengingatkan kepada kita bahwa dengan memandang salib Yesus maka ini adalah pembebasan kita, dosa yang membuat kita dapat dikenakan penghukuman kini telah dipindahkan ke atas kepala Anak Allah yaitu Kristus Yesus. Kita harus, di atas segalanya, mengingat substitusi ini, kalau tidak kita akan gemetar dan tetap cemas sepanjang hidup – seolah-olah pembalasan Allah yang telah Anak Allah pikul atas diri-Nya, masih mengancam kita.
 
Di dalam bukunya Institutio 2.17.4 sekali lagi Calvin secara khusus kembali menunjuk bahwa kematian Kristus sebagai jasa yang mendatangkan anugerah dan kesalamatan bagi kita. Bahkan sesungguhnya bagi Calvin, korban-korban Perjanjian Lama merupakan cara-cara Allah menebus dosa dan semuanya ini menunjuk kepada kematian Kristus sebagai korban ultimat bagi dosa. Upacara-upacara korban di dalam Perjanjian Lama dengan baik mengajarkan kepada kita kekuatan dan kuasa kematian Kristus. Juga di dalam bagian ini Calvin menunjukan dari Kitab Suci bahwa Kristus mengambil kutuk yang pantasnya kita dapatkan, membayar hukuman yang layak kita terima dan memikul dosa-dosa kita, untuk lebih jauh menekankan bahwa Ia melakukan suatu karya untuk mendapatkan keselamatan kita.
 
Penutup
 
Pemikiran Calvin yang memaparkan akan kejatuhan kita di dalam dosa merupakan suatu sikap eksegesis Calvin yang jujur dan murni, sekalipun pemikirannya yang ia sampaikan secara gamblang mungkin tidak semua orang dapat menerimanya. Namun demikian, apa yang Calvin sampaikan ini sepatutnya kita renungkan kembali bahwa pemikiran Calvin akan kerusakan total manusia adalah sesuatu pemikiran yang Alkitabiah yang mana melaluinya Calvin mengajak kepada pembacanya untuk memandang kepada salib Yesus yang merupakan ekspresi akan kasih Allah bagi manusia yang berdosa dan sebagai satu-satunya jalan keselamatan bagi orang berdosa.
 
Diambil dari Buletin Paskah 2010
[ Mulatua Silalahi ]
 
Notes
 
1
Michael Horton, “Theological Guide to Calvin Institutes: Essay and Analysis” (P&R Publishing, 2008). Chapter 7.
 
2
Ibid.
 
3
Ibid.
 
4
Ibid.
 
5
Ibid.
 
6
Ibid.