Pendidikan Kristen dan Ilmu Biologi
_oOo_
 
Pengantar
 
Kita semua mengakui bahwa saat ini masyarakat kita berkembang dengan semangat moderen yang meninggikan individualisme dan sangat mengilahkan pemenangan diri atas kompetisi. Akan tetapi seberapa besar kita menyadari bahwa keadaan yang berlangsung di dalam masyarakat kita itu sesungguhnya bukan sekadar masalah struktural (keluarga, sekolah, gereja, institusi pemerintahan dan sebagainya), melainkan sesuatu yang berakar pada suatu cara pandang direksional (directional) akan realita secara keseluruhan?
 
Pendahuluan
 
Menurut filsafat pendidikan moderen, pendidikan harus menjadikan anak didik dapat menyesuaikan diri terhadap alam semesta dan realitas Allah yang dimetaforakan sesuai dengan keterbatasan pemikiran manusia, yaitu Allah yang telah direduksi menjadi pribadi yang terbatas sebagai hasil dari kreasi manusia. Hal tersebut membentuk anak didik sebagai pribadi yang relasinya direduksi kepada hal-hal yang bersifat impersonal. Akibatnya pendidikan moderen mendidik manusia dengan konsep Allah yang dibangun atas dasar konstruksi dan imajinasi manusia yang terbatas dan, tragisnya, sudah tercemar dosa.
Akibatnya segala sesuatu yang dilakukan manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Allah tidak lagi dipahami sebagai dosa. Oleh sebab tidak adanya kesadaran manusia akan relasinya dengan Allah, dosa tidak lagi dipahami sebagai pelanggaran manusia terhadap kehendak dan ketetapan Allah. Etika dan moral yang diajarkan dalam pendidikan moderen tidak lagi didasari oleh prinsip-prinsip yang didasarkan atas firman Tuhan. Itulah realita pendidikan anak-anak kita saat ini.
Dalam artikel ini penulis membahas keprihatinan terhadap masalah struktural di atas dengan menyoroti satu isu di dalam ilmu pengetahuan biologi, yaitu teori evolusi, yang telah diimplementasikan di dalam kurikulum pendidikan, berdasarkan cara pandang direksional yang dipimpin Alkitab. Untuk penulisan artikel ini, sebagai orang awam terhadap dunia pendidikan, penulis menggunakan buku Evolution and the Modern Christian yang ditulis oleh Henry M Moris, presiden dari Institute for Creation Research di San Diego, California. Perhatikan apa yang Henry M. Moris katakan,
 
 
Literature selections in the English courses often seem calculated to promote the mis-named “new morality” which is the logical product of an intellectual commitment to the idea of evolution. / Pilihan-pilihan literatur dalam kursus-kursus bahasa Inggris tampak cenderung mempromosikan “moralitas baru” sebagai suatu produk yang logis dari komitmen intelektual terhadap gagasan tentang evolusi. (Henry M. Moris, “Evolution and the Modern Christian,” Phillipsburg: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1967)
 
 
Keprihatinan Akan Situasi Moderen
 
Seberapa banyak dari antara kita, para orangtua, guru, ilmuwan serta intelektualitas Kristen yang menyadari bahwa sesungguhnya semangat moderen yang ada saat ini cenderung telah bersifat evolusionistik? Semangat individualistik dan kompetisi yang terjadi di dalam dimensi struktural kita ini sesungguhnya merupakan sumbangsih teori evolusi yang ada di dalam pendidikan dan telah sedemikian rupa dikembangkan dalam segala aspek kehidupan. Sejak dini anak-anak kita telah dikondisikan untuk berkompetisi. Program-program pendidikan telah menjadi alat untuk membentuk seorang anak untuk lebih unggul dari anak lainnya. Kita semua lupa bahwa tujuan pendidikan adalah pencerdasan masyarakat sesuai dengan maksud Tuhan di dalam penciptaan.
 
Keprihatinan Akan Teori Evolusi
 
Dalam bukunya tersebut Henry M. Moris mengungkapkan keprihatinannya akan suatu manifesto (deklarasi publik) yang diedarkan oleh seorang pakar genetika terkemuka dunia H. J. Muller yang ditandatangani oleh 177 ahli biologi Amerika yang menyatakan bahwa,
 
 
… the organic evolution of all living things, man included, from primitive life forms and even ultimately from non living materials, is a fact of science as well established as the fact that the earth is round! / … evolusi organik dari semua makhluk hidup, termasuk manusia, dari bentuk-bentuk kehidupan purba dan bahkan materi yang bukan makhluk hidup, merupakan suatu fakta ilmiah yang dibangun sepasti fakta bahwa bumi itu bulat! (Henry M. Moris, “Evolution and the Modern Christian,” Phillipsburg: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1967, p.12)
 
 
Betapa menyedihkannya melihat kenyataan bahwa ilmuwan, peneliti, guru dan sekolah Kristen pun sering tidak menyadari hal ini. Dalam bukunya tersebut Henry M. Moris menyebutkan sepuluh bukti, yang oleh para ahli genetika tersebut, telah dijadikan dasar akan keilmiahan teori evolusi, sesuatu yang harus dikritisi oleh para ilmuwan dan peneliti Kristen. Bukti-bukti yang sesungguhnya harus diuji berdasarkan kerangka pikiran alkitabiah (biblical framework) tersebut adalah:
 
  1. Bukti dari Klasifikasi
    Fakta bahwa dimungkinkannya penggolongan tumbuh-tumbuhan dan binatang dalam kategori spesies, gen, keluarga, urutan dan lain-lain, dipahami sebagai relasi genetika di antara keduanya.
     
  2. Bukti dari Komparasi Anatomi
    Kesamaan dalam struktur tulang, seperti misalnya antara kera dengan manusia, atau kuda dengan gajah, merupakan asumsi dari adanya proses evolusi.
     
  3. Bukti dari Embriologi
    Kesamaan embrio dari sejumlah jenis binatang yang berbeda dan pertumbuhan yang “dianggap” evolusioner dari embrio menjadi suatu binatang tertentu hingga mencapai bentuknya yang sekarang ini dipahami sebagai kebenaran akan adanya proses evolusi.
     
  4. Bukti dari Biokimia
    Fakta bahwa semua organisme yang hidup ini tersusun dari sejumlah substansi dasar kimiawi tertentu (seperti amino acid, protein dan sebagainya) dipandang sebagai hal yang menjelaskan bahwa semua organisme hidup itu mempunyai satu nenek moyang yang sama.
     
  5. Bukti dari Fisiologi
    Kesamaan-kesamaan tertentu dalam segi fisiologi, terutama dalam kesamaan darah, dan karakteristik tingkah laku dipandang sebagai bukti-bukti akan adanya hubungan darah yang bersifat genetis.
     
  6. Bukti dari Penyebaran Secara Geografis
    Tendensi dari beberapa jenis tumbuhan dan binatang tertentu yang berbeda karakternya menurut lokasi geografis di alam mana mereka hidup, dan khususnya dengan anggapan akan terjadinya karakteristik yang berbeda pada saat tumbuhan dan binatang tersebut diisolasi dari populasi mereka di daerah yang lain, telah dipandang sebagai dasar adanya proses evolusi.
     
  7. Bukti dari Organ Yang Tersisa
    Struktur-struktur dan organ-organ tertentu (misalnya appendix pada tubuh manusia) yang dipandang tidak berguna, diyakini sebagai “sisa-sisa” dari karakter yang dahulu berguna dan berfungsi pada tahap evolusi sebelumnya.
     
  8. Bukti Empiris Pengembangbiakan
    Banyaknya pengembangbiakan baru atas tumbuh-tumbuhan dan binatang dengan cara hibrida dan cara lainnya mengindikasikan adanya potensi evolusi dalam organisme kehidupan, yang merupakan hasil proses seleksi alam sepanjang usia bumi.
     
  9. Bukti dari Mutasi
    Bukti observasi atas sejumlah varitas maupun spesies yang seluruhnya baru, yang muncul secara tiba-tiba dalam organisme tertentu (atau “populasi” organisme), diterima sebagai bukti visual terbaik saat ini akan adanya proses evolusi. Karakteristik baru ini umumnya disebut “mutasi” dan dikatakan bahwa, apabila pada saat ini varitas maupun spesies tersebut dapat melewati proses seleksi alam mereka akan dapat berkontribusi pada proses evolusi tahap selanjutnya.
     
  10. Bukti dari Paleontologi
    Catatan fosil mengenai makhluk-makhluk hidup sebagaimana tersimpan pada batu-batu sedimen jaman batu pada kerak bumi diterima sebagai dokumentasi atas kenyataan historis mengenai adanya proses evolusi organik.
 
Kelemahan Ilmiah Teori Evolusi
 
Atas sepuluh bukti kebenaran teori evolusi tersebut, Henry M. Moris memaparkan sejumlah kelemahan ilmiah teori tersebut yang harus disadari oleh para ilmuwan, peneliti dan pendidik Kristen.
 
  1. Kelemahan Klasifikasi
     
    Lima bukti pertama akan teori evolusi tersebut didasarkan atas kesamaan-kesamaan yang tampak dari luar antara berbagai macam tumbuhan dan binatang. Kesamaan-kesamaan tersebut diklaim oleh para ilmuwan tersebut sebagai adanya proses evolusi genetika yang sesungguhnya telah mengabaikan keunikan-keunikan yang telah Tuhan lekatkan pada setiap jenis makhluk hidup dan ciptaan lainnya. Moris mengatakan bahwa oleh pengujian lebih rinci atas bukti-bukti yang ada semakin terbukti bahwa banyak hipotesa (hypotheses: pra-anggapan atau penjelasan yang diusulkan berdasarkan bukti yang terbatas untuk penyelidikan tahap selanjutnya) di dalam teori evolusi mengandung sejumlah kontradiksi. Ia menyebutnya sebagai “hypotheses within hypotheses”. Tidak terhitung banyaknya “lompatan iman” dalam teori evolusi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Doktrin penciptaan dengan jelas mengatakan bahwa Allah menciptakan tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia menurut jenisnya masing-masing berdasarkan kerelaan dan kehendak-Nya.
     
  2. Kelemahan Komparasi Anatomi dan Fisiologi
     
    Dengan dasar penciptaan jelas bahwa antara berbagai makhluk hidup termasuk fungsi-fungsi fisiologisnya ada kesamaan-kesamaan tampak luar tertentu dan kesamaan-kesamaan tersebut akan lebih kuat terjadi pada makhluk-makhluk yang hidup di dalam lingkungan alam yang sama. Akan tetapi hal itu tidak berarti bahwa di antara makhluk-makhluk tersebut telah terjadi proses evolusi yang panjang. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, sehingga manusia memiliki kesegambaran dan keserupaan dengan Allah. Demikian pula tumbuh-tumbuhan dan binatang yang diciptakan unik dan berbeda dari manusia.
     
  3. Kelemahan dari Bukti Lainnya
     
    Moris mengatakan, “The decision between two hypotheses, then, becomes mainly a moral and spiritual decision instead of a scientific decision.” Maksudnya, saat seorang ilmuwan Kristen diperhadapkan kepada dua hipotesa, ia harus memutuskannya lebih berdasarkan pertimbangan moral dan rohani ketimbang pertimbangan ilmiahnya. Ilmu pengetahuan sekali pun harus mengakui keterbatasannya. Untuk itu hendaknya para ilmuwan, peneliti dan guru Kristen mengkaji ulang kebenaran bukti-bukti teori evolusi agar ilmu biologi dapat sungguh-sungguh dipergunakan untuk memuliakan Tuhan.
     
Panggilan Pendidik Kristen
 
Bruce C. Wearne, seorang yang mengembangkan pemikiran-pemikiran Herman Dooyeweerd menyatakan pentingnya para ilmuwan, peneliti, penyelenggara pendidikan serta guru-guru Kristen menyadari panggilannya. Perhatikan apa yang dikatakannya,
 
 
If Christian teachers are not SELF-CRITICALLY analyzing contemporary educational theory, Christian and non-Christian, then they are being UNCRITICAL of traditions which have shaped their own thinking. / Apabila guru-guru Kristen tidak menganalisa SECARA KRITIS teori pendidikan kontemporer, baik itu teori Kristen dan non-Kristen, maka mereka dipastikan TIDAK KRITIS akan tradisi-tradisi yang sesungguhnya telah membentuk pemikiran mereka itu. (Bruce C. Wearne: Artikel "Break Out and Unfold: Calvin and Dooyeweerd (Part 2)")
 
 
Lebih lanjut ia mengatakan,
 
 
There is a battle here which derives from the Christian school's LACK OF POWER in our current situation. And this lack of power is not just a political matter in terms of state-aid, or the like, it is a profound spiritual issue because it raises the question of whether the Christian school is capable, in the current climate, of challenging the non-Christian educational traditions. / Sesungguhnya ada suatu pertempuran yang sedang berlangsung akibat KURANGNYA DAYA sekolah Kristen menghadapi situasi kita saat ini. Dan “kurangnya daya” ini tidak semata-mata merupakan masalah politis dalam arti dukungan negara, atau semacamnya, melainkan merupakan masalah rohani yang mendasar oleh sebab hal itu (“kurangnya daya” sekolah Kristen tersebut) menimbulkan pertanyaan apakah sekolah Kristen mampu atau tidak, dalam iklim seperti ini, menantang tradisi-tradisi pendidikan non Kristen yang ada. (Bruce C. Wearne: Artikel "Break Out and Unfold: Calvin and Dooyeweerd (Part 2)")
 
 
Memikirkan Ulang Evolusi Sebagai Kajian Dalam Ilmu Biologi
 
Oleh karena itu, para imuwan, peneliti, guru dan orang Kristen lainnya dipanggil untuk secara bersama-sama memikirkan ulang teori evolusi sebagai kajian dalam ilmu biologi, salah satu disiplin ilmu yang diperkembangkan untuk dipelajari oleh anak-anak kita. Hal-hal berikut ini diusulkan sebagai pertimbangan:
 
  1. Tidak ada bukti otentik atas kebenaran teori evolusi. Hal ini dapat dijadikan wacana mengenai perlunya teori ini dihapuskan dengan memegang konsep penciptaan dari Allah. Ilmu biologi harus dikembalikan untuk memuliakan Allah pencipta.
     
  2. Penciptaan diterima sebagai natur dan sejarah yang benar. Penciptaan menginspirasikan kemuliaan Allah yang telah menciptakan manusia dengan baik adanya. (Kej. 1:4, 10, 12, 18, 21, 25).
     
  3. Dasar teori evolusi yang mengatakan adanya kelanjutan secara terus-menerus dari satu nenek moyang yang sama menjadi semua bentuk kehidupan sesungguhnya sangat bertentangan dengan konsep Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.
     
  4. Dalam durasi penciptaan enam hari lamanya Tuhan menciptakan bumi dan segala isinya, termasuk manusia. Berbeda dengan durasi yang manusia “ciptakan” sendiri di dalam teori evolusi, yaitu ratusan tahun lamanya.
     
Kesimpulan
 
Persekutuan Studi Reformed merupakan satu wadah di mana kita dapat sama-sama belajar dan bertumbuh di dalam segala hal dengan didasarkan atas pemahaman yang benar akan Tuhan yang empunya hidup kita. Para ilmuwan, peneliti, pendidik, penyelenggara pendidikan dan orang tua Kristen harus tunduk kepada kebenaran firman Tuhan yang memberikan kita jalan kehidupan, yaitu hidup kekal di dalam Tuhan kita, Yesus Kristus. Dengan demikian hidup kita akan terus berbuah dan dapat mencapai tujuan hidup orang percaya, memuliakan Tuhan dan menikmati-Nya seumur hidup kita. Selagi hari masih siang, biarlah kita mau hidup bagi Dia, yang sudah mempercayakan pekerjaan-pekerjaan-Nya kepada kita.
Diambil dari Buletin Seminar Pendidikan Kristen 2008.
[ Deby Adelina ]