Masa Seribu Tahun, Kapan dan Bagaimana?
_oOo_
 
 
Pengantar
 
Banyak aliran yang mengajarkan tentang akhir dari sejarah. Dalam hal ini yang dimaksud adalah masa “seribu tahun” yang disebut dengan “milenium.” Sepanjang sejarah manusia selalu berusaha untuk memberikan penafsiran tentang hal ini. Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk memahami konsep milenium tersebut dengan benar, hal mana sangat menentukan bagaimana kita hidup di dalamnya.
 
Empat pandangan utama tentang “millennium”
 
Secara garis besar ada empat pandangan mengenai konsep tentang milenium. Keempat pandangan itu adalah:
 
  1. Premilenialisme
    Anthony Hoekema dalam bukunya Alkitab dan Akhir Zaman membagi pandangan ini ke dalam dua aliran yaitu:
     
    1. Premilienialisme Historis
      Menurut pandangan ini kedatangan Kristus yang kedua kali akan terjadi sebelum berdirinya kerajaan seribu tahun (milenium). Kedatangan Kristus yang kedua kali tersebut akan didahului oleh penginjilan kepada bangsa-bangsa, masa kesusahan, murtad atau pemberontakan hebat dan munculnya satu pribadi anti-Kristus.
       
      Gereja harus melewati seluruh kesusahan akhir ini. Ketika Kristus datang kembali, orang-orang percaya yang telah mati akan dibangkitkan, orang-orang percaya yang masih hidup akan diubahkan dan dimuliakan. Setelah itu kedua kelompok orang percaya ini akan diangkat bersama-sama untuk bertemu dengan Tuhan di awan-awan. Setelah mereka berjumpa dengan Kristus orang-orang percaya ini akan mendampingi Kristus turun ke bumi. Setelah Kristus turun ke bumi, anti-Kristus akan binasa dan pemerintahannya akan diakhiri, sementara itu sejumlah besar orang Yahudi akan bertobat, percaya kepada Kristus sebagai Mesias dan diselamatkan. Pertobatan orang-orang Yahudi ini akan menjadi berkat besar bagi dunia. Setelah itu barulah Kristus menegakkan kerajaan-Nya di bumi selama seribu tahun secara fisik bersama orang-orang percaya yang terdiri dari orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain. Bangsa-bangsa lain yang tidak percaya kepada Kristus akan tunduk di bawah pemerintahan-Nya. Kejahatan sangat dibatasi pada jaman ini (minimum crisis) dan kebenaran akan menguasai seluruh bumi seperti belum pernah terjadi sebelumnya.
       
      Menjelang akhir milenium itu iblis yang selama ini diikat akan dilepas lagi dan kembali menyesatkan bangsa-bangsa. Pada akhir milenium akan terjadi kebangkitan orang-orang fasik dari kematian. Hal ini akan diikuti oleh penghakiman baik bagi orang percaya maupun orang tidak percaya. Mereka yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan akan masuk ke dalam kehidupan kekal, sedangkan yang tidak akan dilempar ke dalam lautan api. Manusia akan masuk ke dalam keadaan akhirnya, yaitu: orang-orang yang tidak percaya akan menjalani penghukuman kekal di dalam neraka, sedangkan orang-orang percaya akan hidup selama-lamanya dalam bumi yang baru yang telah disucikan dari segala kejahatan.
       
    2. Premilienialisme Dispensasionalisme
      Menurut pandangan ini kedatangan Kristus yang kedua kali juga akan terjadi sebelum berdirinya kerajaan seribu tahun (milenium), sebagaimana halnya dipahami oleh Premilenialisme Historis. Perbedaannya adalah dispensasionalisme memahami adanya keterpisahan mutlak antara Israel dengan gereja. Menurut pandangan ini: dalam kedatangan-Nya yang pertama kali Kristus bermaksud untuk menawarkan kerajaan sorga kepada orang-orang Yahudi sejaman-Nya, di mana kerajaan ini akan berupa pemerintahan Israel atas bumi sebagaimana dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Dalam fase ini mereka harus bertobat dari dosa dan beriman kepada Yesus sebagai Mesias. Namun sayang saat itu orang-orang Yahudi menolak kerajaan tersebut sehingga berdirinya kerajaan Kristus saat itu tertunda sampai kedatangan Kristus yang kedua kalinya kelak, sebagai awal dari masa seribu tahun. Oleh karena penolakan yang berakibat penundaan tersebut Kristus menggantinya dengan gereja.
       
      Menurut pandangan ini kedatangan Kristus yang kedua akan terjadi dalam dua tahap. Tahap pertama adalah saat Kristus masih berada di awan-awan dan belum sepenuhnya berada di bumi. Pada tahap ini terjadi pengangkatan (rapture) yang dapat terjadi setiap saat, terjadi kebangkitan bagi orang-orang percaya dari Perjanjian Lama serta orang-orang percaya yang masih hidup baik Yahudi maupun bangsa lain. Mereka akan diubahkan, dimuliakan diangkat ke awan-awan untuk bertemu dengan Tuhan Yesus. Bersama-sama dengan Kristus, seluruh orang orang percaya dalam gereja akan naik ke sorga untuk merayakan perjamuan kawin Anak Domba selama tujuh tahun lamanya. Menurut pandangan ini yang dimaksud dengan “tujuh tahun” di sini adalah penggenapan dari minggu ketujuhpuluh dari nubuat Daniel. Selama gereja berada di sorga, segenap peristiwa di bumi tetap berlangsung, di mana kesusahan besar terjadi bagi orang-orang yang tertinggal dan orang-orang Yahudi, sehingga sisa-sisa Israel akan berbalik kepada Yesus dan mengakui Kristus sebagai Mesias. Sisa dari orang Israel itu mengabarkan Injil dan membawa banyak orang kepada pertobatan. Sementara raja-raja fasik di bumi bersatu dan menyerang umat Allah dalam perang Harmagedon. Tahap kedua adalah pada akhir masa tujuh tahun tersebut Kristus akan turun kembali dalam kemuliaan, beserta dengan gereja-Nya, untuk membinasakan musuh-musuh-Nya dan mengakhiri perang Harmagedon. Semua bangsa Israel dikumpulkan di tanah Palestina, iblis diikat dan dilempar ke jurang maut dan dimeteraikan selama seribu tahun harafiah lamanya. Bangsa-bangsa yang menolak Kristus akan dihakimi sedang yang percaya kepada-Nya akan masuk ke dalam pemerintahan seribu tahun itu dan menikmati semua berkatnya. Setelah dua tahap kedatangan itu maka dimulailah kerajaan seribu tahun yang dipimpin langsung oleh Kristus sendiri, yang duduk di takhta yang berada di Yerusalem dan memerintah atas sebuah kerajaan secara riil. Manusia di masa ini masih berada di dalam kondisi sebagaimana adanya, seperti kawin mengawinkan contohnya.
       
      Setelah genap masa seribu tahun semua orang fasik yang telah mati akan dibangkitkan dan dihakimi di hadapan takhta putih yang mulia. Mereka yang namanya tidak tertulis di dalam kitab kehidupan akan dibuang ke dalam lautan api, sedang mereka yang tertulis di dalamnya, yaitu orang percaya, akan masuk ke dalam kehidupan yang kekal dalam bumi yang baru yaitu Yerusalem sorgawi.
       
  2. Postmilenialisme
    Menurut pandangan ini kedatangan Kristus yang kedua kali akan terjadi setelah masa seribu tahun harafiah di mana pemerintahan Kristus tidak dipahami hadir secara fisik di bumi. Kehadiran kerajaan Allah di bumi dipahami dengan sedang terus diperluasnya pemberitaan Injil dan pekerjaan Roh Kudus di dalam hati manusia sehingga secara perlahan banyak orang akan bertobat dan saat masa seribu tahun itu terwujud prinsip-prinsip iman dan moral Kristen akan muncul sebagai standar yang diterima oleh semua bangsa dan individu. Dosa belum dihapuskan tetapi akan dikurangi seminimal mungkin. Semua peradaban akan menjadi lebih baik dalam segala aspeknya. Setelah itu Kristus akan kembali untuk sepenuhnya mengkristenkan dunia. Pada akhir milenium iblis akan dilepaskan sehingga iblis kelak melakukan perlawanan terhadap gereja dalam waktu yang singkat sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali. Akan tetapi hal ini sama sekali tidak meniadakan pengharapan terhadap zaman keemasan milenium di masa yang akan datang. Setelah kedatangan Kristus yang kedua terjadilah kebangkitan umum di mana semua umat manusia masuk dalam kehidupan yang kekal.
     
  3. Amilenialisme
    Pandangan ini memahami bahwa masa seribu tahun bukan suatu durasi harafiah, melainkan menunjuk kepada suatu masa yang sudah terjadi, sedang berlangsung dan yang terus berlangsung hingga kegenapannya. Masa ini merupakan masa antara kedatangan Kristus yang pertama dengan kedatangan-Nya yang kedua. Kerajaan Allah sebagai pemerintahan Kristus atas orang-orang percaya, oleh pandangan ini, saat ini juga sedang hadir di dalam dunia melalui Firman dan Roh Kudus. Pada saat yang ini juga orang-orang percaya sedang terus menantikan penyempurnaan kerajaan Allah di masa yang akan datang di dalam bumi yang baru. Mereka menyadari meskipun Kristus telah menang atas dosa dan iblis, namun kuasa iblis tetap ada bersama-sama dengan kerajaan Allah hingga akhir zaman. Kita telah menerima berkat-berkat eskatologi pada masa sekarang, tetapi tetap menantikan penggenapan dan kesempurnaannya pada masa yang akan datang saat Kristus datang kedua kalinya. Oleh karena itu seorang amilenialis menantikan digenapinya penyebaran Injil ke seluruh bangsa dan pertobatannya sebelum kedatangan Kristus yang kedua.
     
    Kedatangan Kristus yang kedua kali merupakan suatu peristiwa tunggal. Saat hal itu tergenapi akan terjadi kebangkitan umum bagi orang-orang percaya maupun tidak. Bagi yang percaya yang masih hidup akan diubahkan dan dimuliakan untuk kemudian diangkat dan bertemu dengan Tuhan di awan-awan. Sesudah itu Kristus akan melaksanakan penghakiman terakhir di mana orang-orang yang tidak percaya akan dicampakkan ke dalam penghukuman kekal sedangkan mereka yang percaya akan menikmati segala berkat di dalam langit dan bumi yang baru untuk selama-lamanya.
 
Kritik Anthony A. Hoekema terhadap Premilenialisme dan Postmilenialisme
 
Dalam bukunya Alkitab dan Akhir Zaman (edisi terjemahan dari The Bible and the Future), Anthony A. Hoekema memberikan kritiknya atas tiga pandangan pertama di atas:
 
  1. Keberatan terhadap Premilenialisme Historis
     
    Wahyu 20 yang dipakai oleh Premilenialisme Historis tidak memberikan bukti akan adanya pemerintahan seribu tahun yang akan diikuti kedatangan Kristus yang kedua. I Korintus 15:23–24 tidak memberikan bukti yang jelas bagi pemerintahan di bumi seperti yang dipahami oleh premilenialisme.
     
    Turunnya Kristus bersama-sama dengan orang-orang percaya yang dimuliakan ke bumi di mana dosa dan kematian masih ada merupakan hal yang bertentangan dengan realitas kemuliaan akhir. Menurut Hoekema hal itu merupakan suatu antiklimaks. Mengapa? Karena kedatangan Kristus kedua kali ke bumi itu merupakan suatu jalan kembali ke bumi yang masih ada dosa. Justru kedatangan Kristus yang kedua kali pada akhirnya akan memberikan kehidupan kekal kepada orang percaya..
     
    Pemerintahan seribu tahun di bumi sebagaimana diajarkan oleh premilenialis tidak sejalan dengan ajaran Perjanjian Baru tentang eskatologi. Pemerintahan semacam ini tidak termasuk dalam kategori masa sekarang maupun masa yang akan datang. Masa seribu tahun premilenialisme merupakan masa tidak memiliki korelasi dengan masa sekarang maupun masa yang akan datang, sehingga bagi kita yang hidup sekarang, milenium itu tidak berdampak apa-apa. Jelas hal itu tidak sesuai dengan Firman Tuhan.
     
  2. Keberatan terhadap Premilenialisme Dispensasionalis
     
    Premilenialisme Dispensasionalis mengabaikan hal yang sangat mendasar dalam Alkitab, yaitu kesatuan Alkitab. Karena paham ini membagi sejarah dalam tujuh periode waktu (dispensasi) yang berbeda-beda, di mana setiap periode dipahami memiliki penebusannya masing-masing. Bukankah sebenarnya penebusan Kristus merupakan sesuatu yang menyatukan sejarah keselamatan sebagaimana diwahyukan Alkitab.
     
    Ajaran bahwa Allah memiliki tujuan yang berbeda bagi Israel dan gereja adalah suatu paham yang tidak benar. Dalam Perjanjian Baru, kata yang dipakai untuk umat-Nya adalah gereja dan Israel, sehingga tidak ada pemisahan atau perbedaan dari keduanya. Perjanjian Lama tidak mengajarkan akan berdirinya kerajaan seribu tahun di bumi yang bersifat fisik. Hal ini dipakai oleh paham ini untuk menggambarkan kerajaan seribu tahun yang sebenarnya adalah penggenapan akhir karya penebusan Allah.
     
    Alkitab tidak mengajarkan pemulihan politik bagi Israel melalui masa seribu tahun. Dispensasionalis menggunakan Yesaya 11:11–16 yang menggambarkan tentang nubuatan tentang kemuliaan dari kerajaan yang akan datang, yang akan ditegakkan ketika Anak Daud kelak kembali dalam kemuliaan. Tempat kedatangan kembali ini ditafsirkan oleh dispensasionalis secara harafiah yaitu tanah leluhur pada sesaat sebelum dimulainya milenium. Hal ini seharusnya dipandang secara figuratif.
     
    Konsep premilenialisme dispensasi tentang penundaan kerajaan Israel tidak memiliki dasar dalam Alkitab. Penolakan semua orang Yahudi terhadap kerajaan Allah sangatlah tidak mendasar, karena walaupun banyak yang menolak, tetapi ada juga yang menerima seperti murid-murid Kristus.
     
    Konsep premilenialisme dispensasi tentang gereja sebagai pengganti sementara terhadap tertundanya kerajaan Israel tidak memiliki dasar Alkitab. Dalam Kejadian 12:3, Allah mengatakan bahwa non-Israel akan turut serta ambil bagian menikmati berkat-berkat keselamatan bersama-sama dengan bangsa Israel.
     
  3. Keberatan terhadap Postmileanisme
     
    Nubuat-nubuat Perjanjian Lama yang ditafsirkan oleh para postmileanis sebagai petunjuk akan adanya zaman keemasan di masa yang akan datang merupakan gambaran bagi kondisi akhir orang-orang tebusan Kristus.
     
    Penafsiran postmileanisme tentang masa sengsara dalam Matius pasal 24 dan kemurtadan dalam 2 Tesalonika pasal 2 tidak dapat dibenarkan. Khotbah akhir zaman dalam Matius pasal 24 berbicara tentang peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan keruntuhan Yerusalem maupun akhir zaman di mana penganiayaan atas umat Tuhan terjadi sebagaimana belum pernah terjadi sebelumnya. Yang benar adalah: masa murtad bukan sesuatu yang terjadi hanya pada masa lalu sebagaimana kitab Tesalonika mengajarkan bahwa sebelum kedatangan Kristus yang kedua akan ada kemurtadan terlebih dahulu.
     
    Wahyu 20:1–6 tidak mendukung posisi postmilenialisme karena dalam bagian ini milenium sama sekali tidak menunjuk pada suatu masa keemasan di bumi melainkan diikatnya iblis sehingga orang-orang percaya dapat memerintah bersama-sama dengan Kristus di bumi.
     
    Pengharapan postmilenialisme akan adanya zaman keemasan yang akan terjadi sebelum Kristus kembali merupakan hal yang tidak sejalan dengan perseteruan yang terus berlangsung di dalam sejarah antara Kerajaan Allah dan kuasa jahat.
 
Kerajaan “seribu tahun” menurut Amilenialisme (Wahyu 20:1-6)
 
Menurut William Hendriksen dalam bukunya Lebih Dari Pemenang (edisi terjemahan dari More Than Conqueror) kitab Wahyu terbagi atas tujuh bagian sebagai berikut:
 
  1. Pasal 1–3 menggambarkan Kristus yang telah dibangkitkan dan dimuliakan sedang berjalan di tengah-tengah tujuh kaki dian emas.
  2. Pasal 4–7 merupakan penglihatan tentang tujuh meterai.
  3. Pasal 8–11 melukiskan tentang ketujuh sangkakala penghakiman.
  4. Pasal 12–14 merupakan penglihatan.
  5. Pasal 15–16 menggambarkan ketujuh cawan murka Allah.
  6. Pasal 17–19 melukiskan tentang kejatuhan Babel.
  7. Pasal 20–22 mengisahkan tentang kehancuran naga (iblis).
 
Walaupun ketujuh bagian di atas bersifat paralel satu dengan lainnya, tetapi masing-masing bagian juga menyingkapkan tentang progresifitas tertentu dalam proses eskatologi.
 
Masa seribu tahun dalam Wahyu 20:1–3 harus dipahami sebagai suatu masa yang durasinya bersifat simbolis di mana di dalamnya iblis diikat sebelum pada akhirnya ia akan dilempar ke dalam jurang maut. Jadi angka seribu di sini tidak boleh dipahami secara harafiah. Peristiwa yang terjadi di dalam ayat 1-3 ini merupakan peristiwa yang terjadi di bumi di mana masa seribu tahun dalam bagian ini merdiawali dengan kedatangan Kristus yang pertama hingga kedatangan-Nya yang kedua. Pada masa ini gerak iblis untuk mengarahkan manusia berbuat dosa telah dibatasi oleh adanya pekabaran injil yang dilakukan di muka bumi.
 
Masa seribu tahun dalam Wahyu 20:4–6 harus dipahami juga tentunya sebagai suatu masa dengan durasi simbolis akan tetapi berhubungan dengan apa yang terjadi di sorga di mana Yohanes melihat jiwa-jiwa manusia dipenggal kepalanya. Jadi perikop ini sama sekali tidak berbicara tentang pemerintahan Kristus di bumi melalui kerajaan bangsa Yahudi, sebagaimana dimaksud oleh Premilenialisme, melainkan menggambarkan tentang orang-orang percaya yang telah mati namun hidup dan memerintah bersama-sama dengan Kristus di sorga, di masa antara kematian mereka dan sebelum Kristus datang kedua kalinya. Pada akhirnya, seluruh orang percaya akan masuk ke dalam kehidupan yang kekal dalam langit dan bumi yang baru, di mana dosa dan kelemahan akan dihapuskan. Yerusalem baru merupakan tempat umat Allah kelak akan berdiam.
 
Kerajaan Allah bersifat “already,” yaitu sudah terjadi dan “not yet,” yaitu “sedang dan akan terus disempurnakan.” Dengan demikian sebagai orang-orang percaya sepanjang sejarah dapat dikatakan bahwa sekarang kita telah menikmati kerajaan Allah dalam hidup bersekutu dengan Tuhan dan orang percaya lainnya, dan akan disempurnakan kelak saat kedatangan Kristus kedua kalinya untuk kemudian bersama dengan-Nya memerintah di bumi dan di sorga.
 
Penutup
 
Konsep yang kita pahami tentang eskatologi sangat mempengaruhi kita bagaimana kita memahami seluruh berita Alkitab agar kemudian kita dapat mengerti eskatologi dan menikmati eskatologi itu sendiri. Saat ini di dalam dunia yang telah berdosa ini begitu banyak kesusahan telah terjadi dan dosa telah menjadi gaya hidup manusia. Sayangnya, masih banyak orang tidak menyadari hal itu karena memiliki konsep yang salah. Sudah saatnya kita yang sudah Tuhan anugerahkan firman Tuhan yang berlimpah mau mengerjakan panggilan Tuhan dalam hidup kita dengan sungguh-sungguh. Waktu Tuhan sebentar lagi akan tiba dan setiap kita akan bertemu muka dengan muka dengan-Nya. Oleh karena itu dalam momen Paskah ini, sekali lagi kita diingatkan akan cinta kasih Tuhan kepada kita, umat tebusan-Nya, agar terus mau melayani Kristus yang sudah menebus kita.
 
Diambil dari Buletin Paskah 2009.
 
[ Deby Adelina ]