Persekutuan Studi Reformed
dan Theologi Reformed
 
_oOo_
 
Pengantar
 
Persekutuan Studi Reformed (untuk selanjutnya di dalam tulisan ini disingkat dengan “PSR”) didirikan pada tanggal 9 Desember 2006. Ia didirikan tidak berdasarkan atas apa yang kebanyakan orang mengerti tentang persekutuan.
 
Visi yang dilihat dan misi yang dikerjakan dirumuskan dengan kerangka theologi Reformed yang telah nyata konsisten dan teruji di dalam sejarah. Namun karena theologi Reformed itu sendiri pada kenyataannya sangat luas, PSR memusatkan diri hanya kepada sebagian disiplin yang ada di dalamnya.
 
Pendahuluan
 
Perhatikan apa yang dikatakan Geerhardus Vos (1862-1949), seorang teolog Reformed Belanda yang berimigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1881 saat berusia 19 tahun, mengenai pembagian besar studi teologi,
 
 
/...Theology distinguishes four departments, which are named Exegetical Theology, Historical Theology, Systematic Theology and Practical Theology./ ...Teologi dibedakan atas empat bidang yang disebut Teologi Eksegesis, Teologi Historis, Teologi Sistematis dan Teologi Praktis. (Geerhardus Vos, “Biblical Theology: Old and New Testaments,” Edinburgh: The Banner of Truth Trust, 1996, p. 4).
 
 
Untuk itu ada baiknya kita memperhatikan empat departemen di dalam theologi Kristen tersebut, sehubungan dengan misi PSR sejak semula yang adalah,
 
 
Menggali, memelihara dan mengaplikasikan sebanyak mungkin kekayaan yang telah diwariskan theologi Reformed yang telah terwujud dalam berupa-rupa karya literatur dan himne yang telah memperlengkapi orang-orang Kristen dan gereja sepanjang jaman. (Persekutuan Studi Reformed, “Pernyataan Visi dan Misi,” Jakarta: 2006, poin II.3).
 
 
Pembagian besar disiplin theologi oleh Geerhardus Vos
 
1.
Exegetical Theology
 
Menurut Geerhardus Vos, Exegetical Theology dalam arti luas terdiri dari disiplin-disiplin berikut ini:
 
  1. the study of the actual content of Holy Scripture;
     
  2. the inquiry into the origin of the several Biblical writings, including the identity of the writers, the time and occasion of composition, dependence on possible resources, …
     
  3. the putting of the question of how these several writings came to be collected into the unity of a Bible or book; this part of the process bears the technical name of Canonics;
     
  4. the study of the actual self-disclosures of God in the time and space …, and which for a long time continued to run alongside of the inscripturation of revealed material; this last-named procedure is called the study of Biblical Theology.
     
(a) studi mengenai isi aktual Kitab Suci; (b) penyelidikan akan asal usul sejumlah tulisan Alkitab, termasuk identitas para penulis, waktu dan terjadinya komposisi, ketergantungan pada sumber-sumber yang mungkin didapat... (c) pertanyaan mengenai bagaimana tulisan-tulisan tersebut dapat disusun sedemikian rupa menjadi satu Alkitab atau kitab yang utuh; proses ini secara teknis disebut Kanon; (d) studi mengenai penyingkapan atau penyataan diri Tuhan yang bertindak di dalam waktu dan ruang …, dan yang telah sekian lama terus memaju berbarengan dengan penulisan materi yang diwahyukan; yang terakhir disebut ini adalah studi Biblical Theology. (Geerhardus Vos, “Biblical Theology: Old and New Testaments,” Edinburgh: The Banner of Truth Trust, 1996, p. 4-5).
 
2.
Historical Theology
 
Penting bagi kita memperhatikan apa yang dikatakan oleh J. I. Packer tentang disiplin ini,
 
 
/It explores how Christians in the past viewed this or that element in the biblical faith, and how they grasped, affirmed and defended that faith as a whole. What were their questions? Their answers? Their certainties? Their problems? What challenges were they up against, and what influences both conscious and unrecognized, were they under as they did their thinking?/
 
Menelusuri bagaimana orang-orang Kristen di masa lalu memandang berbagai hal berdasar iman yang alkitabiah, dan bagaimana mereka bertindak, menegaskan dan mempertahankan iman tersebut secara keseluruhan. Apa pertanyaan-pertanyaan mereka? Jawaban mereka? Kepastian-kepastian mereka? Masalah-masalah yang mereka hadapi? Terhadap tantangan apakah mereka bangkit saat itu, dan di bawah pengaruh-pengaruh apakah, baik itu disadari maupun tidak diakui, mereka melakukan apa yang mereka pikirkan pada saat itu?
 
(J. I. Packer, “Theology & Bible Reading,” dalam “The Act of Bible Reading,“ Elmer Dyck, Editor, Illinois: Inter Varsity Press, 1996, p. 69).
 
 
3.
Systematic Theology
 
J. I. Packer mengatakan demikian,
 
 
/In idea, at least, systematic theology shapes both the confession of faith that individuals and churches make and the life of faith that they live before the unbelieving world and before the Lord. It formulates the faith in language that is biblically based and contemporary in thrust./
 
Idenya, setidaknya, teologi sistematis membentuk baik pengakuan iman yang dinyatakan oleh individu-individu dan gereja-gereja serta kehidupan iman yang mereka jalani di hadapan dunia yang tidak percaya ini dan di hadapan Tuhan. Ia merumuskan iman di dalam bahasa yang dibangun oleh Alkitab dan dapat dipertanggungjawabkan di setiap jaman.
 
(J. I. Packer, “Theology & Bible Reading,” dalam “The Act of Bible Reading,” Elmer Dyck, Editor, Illinois: Inter Varsity Press, 1996, p. 70).
 
 
4.
Practical Theology
 
Mengenai disiplin studi ini J. I. Packer mengatakan,
 
 
/Its question is, How are we to do God’s work and glorify his name in our particular serving roles and situations, pastoral, evangelistic, ecclesiastical, administrative or whatever? These are all interface disciplines in which biblical truth about God, man, salvation and Christ’s kingdom come together with secular data about the modern world and the people in it./
 
Pertanyaannya adalah, Bagaimana seharusnya kita melakukan pekerjaan Tuhan dan memuliakan namanya melalui peranan khusus serta situasi-situasi tertentu yang kita hadapi, penggembalaan, penginjilan, gerejawi, pekerjaan administratif atau apa pun? Ini semua merupakan disiplin-disiplin yang saling berhubungan yang di dalamnya kebenaran Alkitab tentang Allah, manusia, keselamatan dan kerajaan Kristus diuji oleh data sekuler tentang dunia moderen serta orang-orang di dalamnya.
 
(J. I. Packer, “Theology & Bible Reading,” dalam “The Act of Bible Reading,“ Elmer Dyck, Editor, Illinois: Inter Varsity Press, 1996, p. 71).
 
 
Kurikulum PSR dan Theologi Reformed
 
PSR mengerjakan panggilannya dengan memberikan porsi kurikulum kepada beberapa disiplin studi yang ada di dalam theologi Reformed berikut ini:
 
1.
Untuk Exegetical Theology / Biblical Theology
 
Oleh karena di dalam tradisi Geerhardus Vos tersebut Exegetical Theology itu sendiri ternyata sangat luas, PSR memusatkan diri kepada Biblical Theology, yaitu disiplin yang berurusan dengan proses penyataan diri (self-revelation) Tuhan perjanjian di dalam waktu dan ruang, sebagaimana terkandung di dalam Alkitab. Sebagai disiplin studi yang memusatkan diri kepada proses ‘penyataan’ atau penyingkapan diri Tuhan Biblical Theology mempelajari aktivitas-aktivitas ilahi yang berhubungan dengan umat (people) yang hidup menjalani proses waktu dan sejarah, serta tanah (land) di atas mana mereka hidup. Jadi Biblical Theology merupakan sebuah studi yang dinamis. Ia tidak berhenti pada suatu produk jadi, misalnya bagaimana keadaan kota Yerusalem setelah dihancurkan oleh Babel pada tahun 587 sM, sebagai akibat dari aktivitas ilahi itu.
 
Berikut ini adalah empat fitur utama studi Biblical Theology:
 
  1. Kemajuan historis dari proses wahyu.
     
    Dengan fitur ini kita dapat memahami dinamika proses sejarah yang di dalamnya Tuhan menyatakan tindakan-tindakannya sebagai Tuhan perjanjian.
     
  2. Penjelmaan wahyu secara aktual di dalam sejarah.
     
    Dengan fitur ini kita dapat menyelami bagaimana Tuhan hadir di tengah-tengah umat-Nya dan bertindak secara nyata di dalam sejarah.
     
  3. Sifat organik proses historis yang dapat diamati dalam penyataan itu.
     
    Dengan fitur ini kita dapat menelusuri proses historis pewahyuan itu di dalam keberagaman (multiformity) dinamikanya sebagai jaminan bahwa Alkitab tidak berkontradiksi pada dirinya sendiri. Perhatikan apa yang Vos katakan mengenai hal ini,
     
     
    /The organic progress is from seed-form to the attainment of full growth; yet we do not say that in the qualitative sense the seed is less perfect than the tree./
     
    Kemajuan organik itu berawal dari bentuk benih hingga mencapai betuk pertumbuhan penuhnya; demikian pun kita tidak bermaksud mengatakan bahwa di dalam pengertian kualitatif benih itu kurang sempurna dibanding dengan bentuk pohon.
     
    (Geerhardus Vos, “Biblical Theology: Old and New Testaments,” Edinburgh: The Banner of Truth Trust, 1996, p. 7).
     
     
  4. Adaptabilitas praktis dengan situasi hidup orang-orang percaya.
     
    Fitur ini memudahkan kita untuk memikirkan, merenungkan dan mengintegrasikan apa yang Alkitab nyatakan itu di dalam segala situasi kebudayaan dan kehidupan pada setiap jaman.
Untuk mengembangkan kegunaan atas ke-empat fitur ini, PSR berusaha mengintegrasikan studi atas kitab-kitab yang dipelajarinya dalam seri Biblical Theology dengan segitiga yang membentuk pola relasi antara Allah (aspek theological) dengan sosial (aspek people) dan dengan ekonomi (aspek land). Pengintegrasian studi kitab dengan segitiga relasi tersebut membantu orang Kristen masa kini untuk membangun komitmen tindakan aktual di tengah jauhnya berbagai perbedaan modernitas dan budaya dengan jaman penulisan Alkitab.
 
2.
Untuk Systematic Theology
 
Kesadaran akan pentingnya Theologi Sistematis ini dinyatakan dengan memberikan porsi kurikulum kepada Pengakuan Iman Westminster (The Westminster Confession of Faith), suatu formulasi iman Kristen sebagai hasil persidangan gereja-gereja Protestan Inggris dan Scotland di Westminster Abbey, London selama kurun waktu tahun 1643 hingga tahun 1649. Pengakuan iman ini merupakan formulasi penting orang-orang Reformed dengan semangat Puritanisme Inggris yang di dalamnya proposisi-proposisi theologi Reformed yang dibangun atas dasar perjanjian (covenant) disajikan sedemikian sistematis dengan bahasa yang universal.
 
Porsi kurikulum PSR untuk pengakuan iman ini diaktualisasikan dengan mempelajari buku “Katekismus Singkat Westminster,” bahan studi atas pengakuan iman tersebut. Sekali lagi, porsi kurikulum ini merupakan manifestasi dari salah satu misi PSR di dalam menggali, memelihara dan mengaplikasikan sebanyak mungkin kekayaan theologi Reformed.
 
Kesimpulan
 
PSR menyadari bahwa menempatkan diri sebagai suatu persekutuan yang memelihara theologi Reformed di tengah-tengah pluralitas Indonesia pada umumnya dan Jakarta pada khususnya bukan merupakan hal yang mudah. Banyak kesulitan dan tantangan yang dihadapi. Namun anugerah Tuhan yang nyata di dalam Kristus, firman yang memanifestasikan diri (embodiment) itu, telah menjadi suatu mata air segar yang memberi kehidupan berkelimpahan berkat sorgawi kepadanya.
Diambil dari Buletin Paskah 2008.
[ Jessy Victor ]