Sebungkus Kopi sebagai Kado Natalku
_oOo_
 
 
Lukas 2:6-7
“Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”
 
 
Beberapa hari lalu saya mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan. Ketika baru memasuki pusat perbelanjaan itu, sebuah pohon natal berdiri megah di depan pintu dihiasi dengan pernak pernik natal yang begitu indah. Sungguh, saya baru sadar musim natal ternyata sudah tiba. Di tengah kesadaranku itu, tiba-tiba terlintas di benakku satu kenangan di tahun 2010 ketika saya ditugaskan oleh sebuah denominasi gereja untuk melayani sebagai misionaris di Propinsi Bengkulu, tepatnya di kota Curup, Kabupaten Rejang Lebong.

Pada suatu waktu, saya berkunjung ke salah satu Rumah Sakit Umum di kota Curup untuk mendoakan pasien-pasien yang terbaring sakit di sana. Di sebuah bangsal, mata saya tertuju pada seorang nenek tua berusia sekitar 53 tahun terbaring lemah. Kemudian diketahui nenek itu mengalami komplikasi penyakit typus. Saat itu ia ditemani oleh seorang kakek berusia sekitar 60 tahun yang kemudian diketahui adalah suaminya. Seketika itu juga hati saya merasa iba, lalu saya menghampiri mereka berdua. Setelah sekian lama kami berkenalan dan bercakap-cakap, mereka meminta saya untuk memanggil mereka dengan sebutan Opa dan Oma. Singkat cerita, saya mendoakan mereka dan saya bersyukur ternyata mereka juga adalah anak-anak Tuhan.
Kira-kira tiga hari sejak pertemuan itu, mereka pamit pulang karena kesehatan Oma sudah berangsur pulih. Saat itu mereka meminta saya mengunjungi rumah mereka, mungkin karena mereka berdua adalah sepasang suami istri yang tidak memiliki anak, sehingga mereka akan merasa senang jika ada orang lain yang berkunjung ke rumahnya. Saat ini mereka hanya hidup dari hasil kebun kopi mereka. Mereka menjaga dan merawat kebun itu dengan sepenuh hati.
 
Berbekal petunjuk yang mereka berikan, pada suatu kesempatan saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke kebun mereka. Mereka berdua tinggal di sebuah gubuk berbentuk panggung berdindingkan bambu. Di sana, tidak ada kursi tamu kecuali sebuah tempat tidur yang sangat sederhana beralaskan selembar tikar lusuh.
Mereka begitu gembira atas kunjungan saya itu.
Mereka menyambut saya dengan luar biasa. Semua makanan yang mereka miliki dikeluarkan untuk disajikan di depan saya. Berawal dari pengalaman itu, maka saya selalu mencoba luangkan waktu untuk berkunjung kembali ke gubuk dan kebun mereka. Di sana, selain berbagi pengalaman masing-masing, kami selalu menyelipkan satu waktu saling membagikan (sharing) Firman Tuhan dan berdoa bersama. Mereka berkata selama ini tidak ada hamba Tuhan yang pernah mengunjungi mereka. Mungkin karena jarak tempuh ke gubuk mereka cukup jauh dari pusat kota Curup.
 
Sampai saat ini satu hal yang membuat saya selalu terkenang adalah pada waktu natal 25 Desember 2010. Sehabis ibadah natal di gereja, saya langsung memacu sepeda motor saya menuju ke kebun mereka. Setiba di sana, Opa segera keluar menyambut saya. Oma yang saat itu sedang memetik kopi tak ketinggalan segera datang menyambut juga. Sesisir pisang masak dikeluarkan dari bakul jinjingnya dan disajikan di depan saya. Kemudian Oma masuk ke dalam gubuknya dan tak lama kemudian ia keluar lagi membawakan tiga gelas kopi panas untuk kami bertiga. Sebagaimana biasanya, kalau kami sudah duduk bersama, Opa dan Oma akan banyak berbicara. Mereka selalu membagikan pengalaman hidupnya tentang bagaimana Tuhan selalu memberkati hidup mereka, selain tentunya berbagi Firman Tuhan. Setelah itu, sembari minum kopi, Oma segera menyiapkan makanan, sedangkan Opa bergegas ke luar rumah hendak mengundang para tetangga sekitar untuk makan bersama sekaligus merayakan natal tahun itu.
 
Sebelum doa makan dipanjatkan, tiba-tiba Opa mengambil sebatang lilin bekas pakai kemudian dipotongnya menjadi dua batang, lalu diberikan kepada kami. Dibakarnya lilin-lilin itu lalu diletakkan tepat di tengah-tengah kami. Sambil berkelakar Opa berkata bahwa dua batang lilin itu menggambarkan kami berdua dan Tuhan Yesuslah yang menyatukan kami berdua di dalam kasih-Nya. Oleh sebab itu, kami ingin merayakan hari kelahiran-Nya ini dengan satu komitmen untuk selalu menjadi terang sama seperti dua batang lilin itu. Berharap kiranya damai natal akan selalu menjadi bagian dari hidup kami. Kami semua yang hadir tertawa dengan kelakar Opa. Selepas itu kami berdoa dan makan bersama.
Sehabis makan bersama, saya segera pamit pulang. Sebungkus kopi yang telah disiapkan Oma diberikan kepada saya. Oma berkata: “Ambillah sebungkus kopi ini sebagai kado natalmu,” dan saya pun menerimanya. Dan akhirnya kami pun harus saling berpisah. Namun, perpisahan itu diwarnai dengan senyum hangat dari damai yang terpancar melalui persahabatan kami.
 
Dari cerita ini, pesan natal yang ingin saya bagikan antara lain:
Pertama, natal bukan berbicara tentang di mana tempat kita berada. Yesus Kristus, sang bayi natal itu, harus lahir di kandang domba, dibungkus dengan lampin, dan dibaringkan di dalam palungan karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Dari sini kita melihat tentang kesahajaan hidup kita dalam menyambut kedatangan-Nya.
Kedua, natal bukan pula berbicara tentang kita punya atau tidak punya sesuatu, tetapi berbicara tentang suasana hati. Tentang bagaimana suasana dan kesiapan hati kita menyambut kehadiran sang bayi natal itu di dalam hidup kita, sehingga damai natal itu selalu mewarnai hidup kita. [by Adoni Tnunay, S.Th].