Menghidupi Realitas Perjanjian,
Mengerjakan Bagian Kita: Belajar dari Kasus Ahas.
_oOo_
 
 
Pengantar.
 
Kita hidup di dalam dunia yang terus menerus mengalami perubahan yang arahnya seolah-olah “ditentukan” sedemikian rupa oleh orang-orang tertentu yang merupakan unggulan yang memenangkan kompetisi dunia modern ini.
Sekalipun demikian kita harus menyadari bahwa para unggulan ini adalah orang-orang yang keunggulannya tetap ada batas-batasnya. Itu sebab, satu-satunya kemungkinan bagi kita untuk dapat menemukan arah hidup yang benar adalah melihat realitas kehidupan ini di dalam terang perjanjian Tuhan. Ada bagian Tuhan tetapi juga ada bagian kita di dalamnya.
Tulisan ini bermaksud membukakan kita bagaimana Alkitab mengajar akan hal itu.
 
Pendahuluan.
 
Yesaya 7:7-9 merupakan penghiburan Tuhan kepada kerajaan Yehuda sehubungan dengan keadaan yang sedang mereka hadapi pada tahun 735/734 sM, yaitu koalisi antara Rezin raja Aram, dengan Pekah bin Remalya raja Israel, yang dikenal dengan nama Syrian-Israelite Coalition atau Syro-Ephraimite Coalition, yang sedang maju untuk memerangi mereka.
Kedua raja yang berkoalisi itu berkata satu sama lain, “Marilah kita maju menyerang Yehuda dan menakut-nakutinya serta merebutnya, kemudian mengangkat anak Tabeel sebagai raja di tengah-tengahnya,” (Yesaya 7:6).
Ahas, raja Yehuda, dan rakyatnya sangat ketakutan akan hal itu. Untuk memberi ketenteraman kepada Ahas, Tuhan melalui Nabi Yesaya menyampaikan penghiburan berupa sejumlah jaminan yang bermaksud membuatnya dan rakyatnya tenteram menjalani realitas perjanjian itu.
 
Penghiburan Tuhan itu diawali dengan menggambarkan kepanasan amarah Rezin dan Pekah sebagai tidak lebih dari dua puntung kayu api yang berasap. Maksudnya, di tangan Tuhan koalisi dua kerajaan itu adalah sedemikian kecil halnya. Mengenai penggambaran itu Calvin mengatakan:
 
 
To put down the excess of terror, the Lord declares that what we imagined to be a burning, and a perpetual burning, is but a slight smoke and of short duration. / Untuk meredakan ketakutan Ahas yang berlebihan oleh ancaman koalisi itu, Tuhan menyatakan (melalui nabi Yesaya) bahwa apa yang ia bayangkan dengan api yang menyala dengan tak henti-hentinya itu, ternyata tidak lain dari sebuah asap kecil saja yang menyala untuk waktu yang sebentar. (John Calvin, “Commentary on the Book of the Prophet Isaiah,” Volume 1, The Calvin Translation Society)
 
 
Di dalam ayat 7 sampai 9 Tuhan menyatakan betapa besarnya pengharapan yang Ia beri kepada Yehuda.
 
Yesaya 7:7
 
“... Tidak akan sampai hal itu, dan tidak akan terjadi, ...”
Di sini Tuhan memberikan kepada Ahas suatu jaminan bahwa segala sesuatu yang ia takutkan oleh adanya koalisi itu tidak akan terjadi. Tuhan menyatakan bahwa Ia setia terhadap perjanjian-Nya dan kesetiaan-Nya itu menjadi jaminan yang seharusnya memberi rasa aman kepada Ahas. Seharusnya Ahas memberi respon dengan penuh atensi. Aram dan Israel tidak akan menduduki Yerusalem. Anak Tabeel, yang tidak berasal dari garis keturunan Daud itu dan oleh Jewish Virtual Library diindikasikan merujuk pada anak Remalya, tidak akan pernah menduduki takhta Yehuda.
 
Yesaya 7:8a
 
“Sebab Damsyik ialah ibukota Aram, dan Rezin ialah kepala Damsyik.”
Bagian ini merupakan jaminan keamanan yang Tuhan berikan atas ibukota Yehuda yaitu Yerusalem dan kelangsungan tahta raja Daud terhadap ancaman raja Aram. Perhatikan apa yang Calvin katakan:
 
 
As if he had said, ‘Those two kings shall have their limits, such as they have them now. They aspire to thy kingdom, but I have set bounds to them which they shall not pass.’ / Seakan-akan Tuhan berkata demikian kepada Yehuda, ‘Kekuasaan kedua raja yang berkoalisi itu (maksudnya: Rezin dan Pekah) tidak akan melampaui batas-batas mereka sekarang. Mereka memang menginginkanmu (maksudnya: raja Yehuda dan ibukotanya) tetapi Aku telah menetapkan batas-batas yang tidak akan pernah mereka lampaui.’ (John Calvin, “Commentary on the Book of the Prophet Isaiah,” Volume 1, The Calvin Translation Society)
 
 
Maksud Calvin dengan bagian ini adalah bahwa ibukota Aram akan tetap berada di Damsyik. Raja Aram tidak akan menduduki Yerusalem dan dengan demikian ibukotanya tidak akan meluas sampai ke ibukota kerajaan Yehuda itu.
 
Yesaya 7:8b
 
“Dalam enam puluh lima tahun Efraim akan pecah, tidak menjadi bangsa lagi.”
Bagian ini merupakan jaminan keamanan yang Tuhan berikan atas Yerusalem, ibukota Yehuda dan kelangsungan takhta raja Daud terhadap ancaman raja Israel. Tidak hanya sampai di situ, Tuhan akan segera menjalankan penghakiman-Nya atas Israel. Perhatikan hal penting berikut ini:
 
 
The Assyrians settled foreign peoples in the territories of the northern kingdom by 670 BC. These newcomers intermarried with the Israelites who remained in the land and thus formed the “Samaritans,” a racially mixed people well known from the Gospels. / Asyur menempatkan orang-orang asing dari berbagai bangsa di dalam wilayah-wilayah bekas kerajaan utara itu pada sekitar tahun 670 sM. Orang-orang pendatang baru ini di kemudian hari kawin campur dengan orang-orang Israel yang tertinggal di tanah itu dan kelak berkembang menjadi “orang-orang Samaria,” suatu ras Israel campuran yang banyak kita kenal dari kitab-kitab Injil. (New International Version, “Spirit of the Reformation Study Bible,” Grand Rapids: The Zondervan Corporation, 2003)
 
 
Perkataan Tuhan di dalam bagian ini mau menyatakan bahwa invasi raja Asyur Sargon II atas Israel, pada tahun 723/722 sM, yang menyebabkan runtuhnya kerajaan utara dan jatuhnya Samaria itu belum merupakan puncak dari murka Tuhan atas musuh dinasti Daud itu. Analisa John N. Oswalt atas bagian ini juga menunjuk pada hal yang sama, yaitu deportasi besar-besaran yang dilakukan oleh raja Asyur jauh setelah kejatuhan Samaria.
 
 
... after Esarhaddon and Ashurbanipal had made final major deportations of the Israelites about 670/669. / ... setelah Esar-Hadon dan Asyurbanipal menuntaskan deportasi besar-besaran atas orang Israel sekitar tahun 670/669 sM. (John N. Oswalt, NICOT: “The Book of Isaiah,” Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1986, p. 201)
 
 
Maksudnya, apabila dihitung dari tahun di mana perkataan Tuhan ini turun kepada Ahas melalui Nabi Yesaya, yaitu pada tahun 735/734 sM, maka tahun 670/669 sM di mana Israel benar-benar habis dan “tidak menjadi bangsa lagi” akibat deportasi besar-besaran yang dilakukan Asyur itu adalah benar-benar enam puluh lima tahun lamanya (2 Raj. 17:24). Sekalipun hal itu masih belum terlihat baginya, Ahas seharusnya belajar untuk menjalani panggilannya berdasarkan janji Tuhan pada saat itu.
 
Yesaya 7:9a
 
“Dan Samaria ialah ibukota Efraim, dan anak Remalya ialah kepala Samaria.”
Sekali lagi, jaminan keamanan atas garis keturunan Daud terhadap ancaman Israel diberikan kepada Yehuda. Calvin mengatakan:
 
 
God had set bounds to the kingdom of Israel for an appointed time, … Let him be satisfied with his boundaries, and not aim at anything beyond them; for such shall be his condition, until he be utterly destroyed, and be no longer reckoned to be a people. / Tuhan telah menetapkan batas-batas bagi kerajaan Israel untuk suatu waktu yang telah ditentukan, Israel (maksudnya: kerajaan utara) telah cukup dengan batas-batasnya, dan tidak akan melampauinya, hingga kelak ia sama sekali binasa, dan tidak lagi diingat orang sebagai suatu bangsa. (John Calvin, “Commentary on the Book of the Prophet Isaiah,” Volume 1, The Calvin Translation Society)
 
 
Wilayah Israel tidak akan pernah meluas sampai ke Yerusalem, pusat pemerintahan Yehuda. Ibukota Efraim akan tetap berada di Samaria dan batas-batasnya tidak akan meluas hingga ke Yehuda. Pekah, anak Remalya, raja Israel, tidak akan pernah menjadi raja atas Yehuda. Takhta kerajaan Yehuda tetap akan ada pada garis keturunan Daud. Kesetiaan Tuhan pada Davidic covenant tidak pernah berubah.
 
Yesaya 7:9b
 
Kekuatan aliansi Aram-Israel ada di dalam kontrol Tuhan, penulis cerita besar (metanarrative) sesungguhnya dan pemelihara yang setia akan perjanjian dengan keturunan Daud. Amarah Rezin dan Pekah tidak akan membahayakan keselamatan Yehuda. Penghiburan itu ditutup dengan peringatan keras Tuhan atas ketidakpercayaan Ahas, “Jika kamu tidak percaya, sungguh, kamu tidak teguh jaya.” Mengenai hal ini Calvin seolah-olah berkata demikian kepada Ahas:
 
 
Wait calmly and without uneasiness of mind for what the Lord has promised, that is, deliverance. If you do not wait for it, what else remains for you than destruction? / Nantikanlah apa yang Tuhan janjikan itu, dengan tenang dan tidak cemas, melainkan di dalam penyerahan. Jika kamu tidak menantikannya, apa lagi yang kelak tersisa padamu selain daripada suatu kehancuran? (John Calvin, “Commentary on the Book of the Prophet Isaiah,” Volume 1, The Calvin Translation Society)
 
 
Ahas menolak tanda keselamatan.
 
Dalam situasi genting inilah Ahas diperingatkan untuk meletakkan pengharapannya hanya kepada Tuhan saja. Untuk menghibur dan meyakinkan Ahas bahwa ia mempunyai pengharapan dan pertolongan Tuhan memerintahkannya untuk meminta suatu tanda penyertaan (Yesaya 7:11). Tetapi perintah itu kemudian ditolaknya, hal yang seakan-akan tampak demikian rohani (Yesaya 7:12).
Ahas memilih jalannya sendiri. Hatinya telah berkecenderungan kepada sesuatu yang lain dari Tuhan. Akhirnya ia menyerahkan diri dan kerajaannya sebagai hamba Tiglat-Pileser III, raja Asyur, serta mengikat perjanjian dengannya (Yesaya 7:13).
 
Tanda penyertaan atas Yehuda diberikan kepada Ahas tetapi ditolaknya:
“Imanuel” menjadi tanda penghakiman.
 
Untuk menghibur Ahas yang diliputi ketakutan itu Tuhan memerintahkan Ahas untuk meminta tanda penyertaan Tuhan baginya. Akan tetapi hati Ahas telah mendua dan ia menolaknya. Oleh karena itu sebagai gantinya sebuah tanda penghakiman disampaikan kepadanya: “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung, dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yesaya 7:14).
Mengenai siapakah sesungguhnya Imanuel yang dimaksud oleh ayat ini, tafsiran tradisional para sarjana Alkitab umumnya adalah sama, yaitu mengarahkan Imanuel ini kepada Kristus, Mesias yang akan datang. Perbedaan di antara mereka adalah mengenai apakah Maher-Syalal Hash-Bas, anak yang lahir bagi Nabi Yesaya, merupakan bayang-bayang progresif akan Mesias yang akan datang itu dan apa maksud Tuhan dengan nama ini.
 
Berikut ini ada setidaknya dua pandangan mengenai relasi antara anak Nabi Yesaya itu dengan Imanuel.
 
  1. Pendapat yang mengatakan bahwa Imanuel ini tergenapi secara inisial atau progresif dengan lahirnya seorang anak bagi Nabi Yesaya, yaitu Maher-Syalal Hash-Bas (Yes. 8:3). Pendapat ini diwakili, salah satunya, oleh Alkitab The New International Version (NIV) Study Bible. Mengenai anak laki-laki bernama Imanuel pada Yesaya pasal 8 ayat 3 ini, ia mengatakan:
     
     
    … it may be another name for Maher-Shal-al-Hash-Baz (8:3). Jesus was the final fulfillment of this prophecy, for he was “God with us,” in the fullest sense. / … mungkin saja Imanuel ini adalah nama lain untuk Maher-Syalal Hash-Bas (8:3). Yesus adalah penggenapan puncak nubuatan ini, karena ia adalah “Allah yang beserta kita,” dalam arti paling penuhnya. (The NIV Study Bible, Zondervan publishing House, Grand Rapids, Michigan, 1985, p. 1027)
     
     
    Maksud Alkitab NIV Study Bible adalah bahwa Maher-Syalal Hash-Bas, anak kandung Nabi Yesaya merupakan penggenapan awal dari Imanuel yang akan datang itu, sehingga pada saat itu bisa saja ia dijuluki Imanuel. Setujukah kita dengan pendapat ini? Untuk itu, mari kita perhatikan terlebih dahulu pendapat kedua berikut ini.
     
  2. Pendapat yang tidak mengatakan secara tegas bahwa Imanuel ini tergenapi secara progresif pada Maher-Syalal Hash-Bas, akan tetapi juga tidak secara tegas menyatakan apakah ia menolak pandangan bahwa Maher-Syalal Hash-Bas bukan merupakan bayang-bayang dari Imanuel yang akan datang.
Oleh karena itu atas dua pandangan mengenai siapakah Imanuel itu penulis mempertimbangkan tiga hal di bawah ini:
 
  1. Yesaya pasal 8 ayat 8 menyatakan bahwa Imanuel yang akan datang kelak itu adalah pemilik tanah (the owner of the land) di atas mana mereka hidup, hal mana dikatakan bahwa Yehuda adalah ”... seantero negerimu, ya Imanuel!” Itu berarti Imanuel yang akan datang ini sama sekali bukan Maher-Syalal Hash-Bas. Ia adalah pemilik tanah yang menjaga tanah miliknya itu sehingga sekalipun Ahas telah mengikat perjanjian dengan raja Asyur sekali-kali Yehuda tidak akan pernah menjadi milik Asyur.
     
    Imanuel ini adalah Allah itu sendiri yang telah diberikan untuk beserta dengan Yehuda, sekalipun pada akhirnya mereka menolaknya.
     
  2. Kata ‘Maher-Syalal Hash-Bas,’ yang berarti ‘bersegera menjadi barang jarahan, bergegas menjadi barang rampasan’ (speeding to the plunder, hurrying to the spoil – demikian diterjemahkan oleh Oswalt), pada sebuah batu tulis besar sebagaimana diperintahkan Tuhan kepada Nabi Yesaya (Yes. 8:1), merupakan peringatan atas Siria dan Israel dan juga Ahas sebagai ganti atas tanda penyertaan Tuhan yang telah ditolaknya.
     
    Anak Nabi Yesaya yang dinamai seturut tanda penghakiman tersebut berfungsi sebagai pengingat bagi dinasti Daud akan penghakiman yang kelak akan mereka tanggung (Yes. 8:3). Setiap kali nama anak itu disebut, Yesaya pasti teringat akan malapetaka yang kelak akan Yehuda alami. Nama anak itu bertujuan untuk mengingatkan Ahas betapa memprihatinkannya nasib Yehuda yang tidak berbagian sama sekali dalam pengharapan penebusan mereka.
     
    Kelak kerajaan Aram dan kerajaan Israel jatuh ke tangan Sargon II pada tahun 723/722 sM dan mengalami puncak kehabisannya pada tahun 670/669 sM di mana Ahas tidak berpengharapan apapun dalam kesemua hal itu; ia telah terlebih dahulu merusak hubungan perjanjian itu dengan memilih Asyur sebagai jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi Yehuda dan Yerusalem. Tidak lebih dari itu. Oleh karena itu, Maher-Syalal Hash-Bas (Yes. 8:3) bukan merupakan bayang-bayang progresif dari Imanuel yang akan datang.
     
  3. Mengenai Yesaya pasal 7 ayat 15 dan 16 yang mengatakan bahwa anak bernama Imanuel itu “... akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik. Sebab sebelum anak itu tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka negeri yang kedua rajanya engkau takuti akan ditinggalkan kosong” penting kita perhatikan hal berikut ini:
     
    Pertama, dadih dan madu adalah kebalikan dari roti dan susu, merupakan makanan yang lazimnya tersisa pada orang Israel saat tanah mereka mengalami pukulan bangsa-bangsa asing pada Perjanjian Lama - anak bernama Imanuel itu akan memakan makanan ini; kedua, anak bernama Imanuel itu pada waktunya kelak akan diajari hukum Taurat; ketiga, pada saat anak bernama Imanuel itu baru mulai belajar hukum Taurat Siria dan Israel telah tiada (tahun 723/722 sM).
     
    Ketiga hal mengenai anak bernama Imanuel ini memang ada pada Kristus dan Maher-Syalal Hash-Bas. Akan tetapi agar kita dapat menafsirkan secara seimbang mari kita perhatikan apa yang dikatakan oleh Oswalt mengenai dua ayat ini:
     
     
    … the best interpretation seems to be that by the time the child has reached an age of official accountability, both of the threatening powers will have ceased to exist. / … penafsiran terbaik akan hal ini adalah bahwa pada saat anak kecil yang dimaksud itu telah mencapai usia dewasa untuk bertanggung jawab, kedua kuasa yang mengancam itu akan telah tiada. (John N. Oswalt, NICOT, “The Book of Isaiah,” Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1986).
     
     
    Oleh karena itu di sini kita melihat bahwa ayat 15 dan 16 menyatakan bahwa Imanuel itu tidak lain adalah Allah sendiri yang kelak akan hadir di tengah-tengah umat-Nya dalam rupa seorang manusia pada saat mereka berada di dalam penderitaan. Jelas bahwa ini menunjuk kepada Kristus. Ingatlah bahwa Kristus sendiri memang datang pada saat umat-Nya ada di dalam cengkeraman dosa dan berbagai-bagai penderitaan (Mat. 1:21).
Jadi jelas bagi kita sekarang bahwa Maher-Syalal Hash-Bas, anak Yesaya itu, menjadi tanda akan penghakiman Tuhan terhadap Israel dan Aram, sedangkan Imanuel adalah Allah yang telah ditolak oleh Ahas dan dengan demikian juga menjadi tanda penghakiman atasnya.
 
Tanda penyertaan atas Yehuda diberikan kepada Yusuf dan Maria:
“Imanuel” dalam kitab Matius.
 
Dalam Matius pasal 1, Imanuel diberikan sebagai tanda penyertaan atas Yusuf dan Maria untuk mengerjakan bagian mereka, yaitu menjadi jalan bagi kelahiran Mesias di dalam proses sejarah dunia ini. Pada saat Yusuf mengetahui bahwa tunangannya, perawan Maria, itu mengandung dan dengan demikian ia bermaksud untuk menceraikannya dengan diam-diam, Imanuel yang dahulu telah ditolak oleh Ahas, kini menjadi tanda penyertaan atas mereka. Bayi dalam kandungan Maria yang kelak harus dinamai Yesus kini disadari oleh Yusuf sebagai Imanuel yang telah sejak lama ditolak raja Ahas itu. “Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah menyertai kita” (Mat. 1:22-23).

Dengan Imanuel, Yusuf diingatkan bahwa yang pada saat itu sedang menyertai dirinya dan Maria dalam menjalani kesesakan dan kesulitan itu tidak lain adalah Tuhan sendiri yang sejak dahulu beserta dengan seluruh umat Tuhan yang tercampak itu, baik kerajaan utara dan kerajaan selatan.
Hal yang sama sebagaimana ditawarkan kepada Ahas berlaku di sini: ada hal yang menjadi bagian Yusuf dan Maria dan ada juga hal yang merupakan bagian Allah.
 
Bagian Allah dan bagian Ahas di dalam realitas perjanjian.
 
Kasih setia dan kemurahan Tuhan atas Yusuf dan Maria adalah demikian besar sebagaimana halnya atas Ahas. Tuhan mau Ahas belajar untuk mengerjakan tugasnya sebagai raja di bawah naungan perjanjian Tuhan dengan nenek moyangnya, hal yang tidak diindahkannya dengan mencari jalan keluarnya sendiri dan dengan demikian menempatkan takhta Daud di dalam bahaya besar.
Bagian Ahas seharusnya adalah mengerjakan bagiannya sebagai raja, yaitu dengan berdiri menghadapi koalisi dua kerajaan itu dan selebihnya adalah bagian Tuhan. Bukankah demikian seharusnya umat perjanjian menghidupi realita?
 
Penutup.
 
Bagian kita di dalam realitas perjanjian adalah tetap setia mengerjakan panggilan unik kita masing-masing. Hal-hal yang ada di luar dari apa yang mungkin kita pikirkan dan antisipasi biarlah menjadi bagian Tuhan.
Dunia boleh terus menerus berubah, akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa kita tidak mungkin mempunyai pegangan yang dapat kita percaya.
 
Persekutuan Studi Reformed merupakan suatu wadah di mana kita sebagai orang percaya boleh hidup menjalani realitas perjanjian Tuhan itu.
(Artikel ini merupakan Revisi atas versi 23 November 2008 yang diterbitkan dalam Buletin Natal Persekutuan Studi Reformed tahun 2009).
[ Jessy Victor ]