VISI dan HARAPAN
_oOo_
 
Di tengah dunia yang semakin membingungkan ini, di mana integritas seakan menjadi sesuatu yang sulit ditemukan, bangsa ini dirasakan tidak lagi menjadi sebuah tempat ditegakkannya keadilan.

Dengan kondisi yang memprihatinkan ini, pertanyaan yang layak diajukan adalah apakah komunitas Kristen masih memiliki ketajaman visi dan harapan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya?
Masih beranikah kita membayangkan munculnya politik yang adil dan bermartabat, bukan politik yang menindas kebenaran dan keadilan? Masih bolehkah kita memimpikan terbangunnya ekonomi yang benar-benar adil dan merata serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat, bukan ekonomi yang menyembah ilah-ilah ekonomi?
Masih beranikah kita memimpikan gereja, institusi Kristen, dan para intelektual Kristen memancarkan kebenaran dan keadilan itu yang mana melaluinya setiap orang bisa merasakan keadilan yang sejati ?
Masih beranikah kita memimpikan para orang tua Kristen dengan tekun mendidik anak-anaknya dengan visi kekristenan yang berlandaskan Alkitab, sehingga kelak ketika mereka sudah besar boleh membawa kebenaran dan keadilan Tuhan untuk bangsa ini?

Kita sadar bahwa keberanian untuk membangun mimpi dan harapan kita sama sekali bukan didasarkan pada pragmatism saja, bukan pula semata-mata karena digerakkan oleh keinginan dan kepuasan diri, melainkan oleh karena adanya satu visi yang menyala-nyala demi melihat penggenapan kehendak Allah.
George Barna di dalam bukunya “The Power of Vision” (Ventura, Calif: Regal, 1922, p.33) mengatakan demikian:
 
 
“Para pendeta yang secara aktif berusaha untuk menggenapi visi Allah bagi pelayanan mereka adalah harta tak bernilai bagi gereja. Mereka bukanlah pemimpin yang digerakkan oleh keinginan akan kebesaran diri mereka atau kepuasan diri sendiri, tetapi semata-mata oleh kerinduan yang menyala-nyala untuk melihat penggenapan kehendak Allah. Gereja mereka akan mencapai sesuatu yang unik, berarti, dan istimewa, karena Roh Kudus akan memampukan mereka untuk menangkap suatu gambaran tentang masa depan dan untuk merencanakan serangkaian tindakan untuk mencapai tujuan tersebut.”
 
 
Setiap orang Kristen yang berani berjuang untuk menggenapi visi yang Allah berikan kepadanya akan menjadi satu warisan bagi gereja di masa mendatang. Namun, akan timbul bahaya tatkala orang Kristen terus menerus diperhadapkan pada permasalahan keadilan yang tidak merata, absoluditas kebenaran Allah yang didegradasi menjadi kebenaran relatif, maka yang terjadi adalah gereja maupun komunitas Kristen akan mengalami satu “titik kejenuhan” yang akhirnya akan membawa kepada krisis identitas yang membahayakan. Alhasil, gereja dan komunitas Kristen tidak lagi memiliki ketajaman visi dan harapan karena semuanya habis tergerus oleh realitas dunia berdosa ini.

Di tengah realita inilah, oleh karena anugerah Tuhan, Persekutuan Studi Reformed (PSR) hadir. Kehadiran PSR sebagai komunitas Kristen tentunya tak lepas dari visi dan harapan kami sebagai orang Kristen yang merindukan serta menantikan penggenapan janji Tuhan yang sudah dan akan terus digenapi hingga kepenuhannya kelak nanti.
Hal ini sesuai dengan visi PSR, yaitu: Tuhan yang telah secara progresif menggenapkan perjanjian-Nya di dalam Kristus saat ini sedang bekerja dan kelak akan memanifestasikan kerajaan-Nya secara sempurna di dalam perspektif sebuah kota yang di dalam kota itu kelak Ia dan umat-Nya akan berdiam.
Sebuah visi yang agung bukan? Namun, pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana kami dapat terus bertahan di dalam menghidupi visi tersebut dengan tetap memiliki mimpi dan harapan kerajaan Allah boleh ditegakkan di dunia ini?
 
Kisah Para Rasul 2:17-18
 
Ketika Yesus Kristus naik ke sorga, para rasul seakan kehilangan ketajaman visi dan harapannya. Namun, di tengah realita itu mereka masih tetap menanti penggenapan janji datangnya Roh Kudus yang menandakan kisah sejarah penebusan belum selesai.

Kenaikan Yesus Kristus bukanlah akhir dari kisah itu. Rasul Petrus mengerti hal ini ketika di dalam khotbahnya di hari Pentakosta, dengan suara nyaring ia memberitakan penggenapan janji Tuhan yang dinubuatkan melalui perantaraan Nabi Yoel di kitab Yoel 2:28-32, yaitu janji turunnya Roh Kudus.
Penggenapan janji Tuhan, inilah yang menjadi kekuatan besar yang membangkitkan kembali ketajaman visi dan harapan para Rasul untuk terus melanjutkan pekerjaan Tuhan di dalam memberitakan Injil Kerajaan Allah hingga ke ujung bumi. Tanpa melihat penggenapan ini, rasanya sulit melihat para rasul memiliki keberanian besar untuk memimpikan visi Allah tergenapi yang akan mendorong mereka keluar dari Yerusalem, pergi memberitakan Injil ke tanah Yudea, Samaria, dan bahkan ke ujung-ujung bumi. Ketajaman visi dan harapan untuk melihat Injil diberitakan dan disebarluaskan justru muncul seiring dengan munculnya kisah ini.

Gereja Tuhan, komunitas Kristen, maupun kita secara personal perlu terus memikirkan dan merenungkan penggenapan nubuatan akan janji Tuhan di dalam Alkitab ini serta mengaitkannya dengan konteks hidup kita. Tanpa itu, kita akan mengalami kesulitan untuk memiliki kedalaman pemahaman atas kisah Alkitab terutama tentang sejarah penebusan yang Allah kerjakan.
Kabar baik dari Injil telah mengubah sejarah manusia menjadi sesuatu yang baru, diterima sebagai karunia Allah yang merubah realitas kita dari kisah (story) dunia yang lama yang telah terkontaminasi oleh kisah pengharapan-pengharapan palsu, dari dunia modernisme maupun post-modernisme, menjadi kisah besar Allah (God’s metanarrative ) masuk ke dalam sejarah penebusan Allah bagi dunia ini.
 
Kembali lagi, ketika kita membaca dan merenungkan penggenapan janji Tuhan melalui perantaraan para nabi dan rasul, kita tetap memerlukan visi yang jelas yang akan menghidupi segala tingkah dan perilaku hidup kita. Sebuah visi yang memberanikan kita untuk menerima kehidupan ini sebagai karunia Tuhan di mana seharusnya kita wajib mensyukurinya dan terlebih wajib bertanggung jawab atasnya.
Adapun yang dimaksudkan dari visi di sini adalah sebuah visi kehidupan di mana tidak ada lagi pemisahan ataupun pengkotak-kotakkan yang didasarkan pada gender, status sosial, jabatan, atau dasar lainnya karena Roh Allah dicurahkan ke atas semua kelompok termasuk di dalamnya wanita maupun budak sekalipun. Dan ketika kelompok ini bertekun di dalam persekutuan dan pengajaran rasul-rasul serta berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa, maka dalam komunitas inilah mereka dapat bermimpi sesuatu yang baru.
 
Pentakosta mengingatkan kita akan suatu realitas atau era yang baru di mana sejarah penebusan terus bergerak maju. Walaupun kisah dunia modern lambat laun telah beralih ke dunia post-modern, tetapi sebuah impian baru dari maksud penebusan Allah masih tetap dapat dibayangkan.
Meski demikian, perlu diingat, impian baru itu tanpa disertai dengan visi yang jelas akan sangat berbahaya. Terlebih ketika visi itu tidak berakar dari firman Tuhan yang dinyatakan oeh para nabi dan rasul, maka segala sesuatunya akan berjalan tanpa arah. Oleh sebab itulah, setiap orang Kristen seharusnya memiliki tugas dan panggilan untuk berbagian di dalam sejarah penebusan ini.
Sebagai contoh di dalam bidang politik dan ekonomi. Orang Kristen harus mau berjuang menegakkan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan di dalam kedua bidang ini. Demikian halnya di dalam konteks gereja, keluarga, maupun masyarakat, tugas dan panggilan kita tetap sama, yaitu bagaimana kita mampu memancarkan terang kemuliaan Tuhan sebagaimana yang diperintahkan Tuhan sebagai bagian dari kisah kita yang terkoneksi dengan kisah Alkitab. Untuk memahami koneksi itu, tentunya kita harus memiliki keseriusan dan kegairahan untuk mempelajari teks Alkitab yang membentuk seluruh kisah Alkitab. Sebuah teks Alkitab yang menceritakan seluruh pekerjaan Tuhan di dalam sejarah penebusan dan seluruh janji yang sudah Tuhan nyatakan maupun yang akan tergenapi kemudian.
 
Dalam kaitannya dengan persekutuan kami, Persekutuan Studi Reformed (PSR), apakah yang membuat persekutuan ini dapat tetap terus bertahan dan berdiri teguh di tengah segala kesulitan-kesulitan yang ada di depan kami? Satu hal yang kami percayai bahwa apa yang persekutuan ini lakukan terkoneksi dengan rencana kekal Tuhan yang tertuang di dalam kisah Alkitab.
Seluruh penggenapan janji Tuhan yang dinyatakan Alkitab sungguh memberikan pengharapan yang pasti untuk kami terus memiliki visi yang kuat di dalam melayani Tuhan dan membangun segala impian-impian kami. Pada akhirnya, harapan kami pekerjaan Tuhan ini boleh menjadi warisan setidaknya bagi anak-anak kami nanti dan secara luas bagi gereja Tuhan.
 
Penutup
 
Visi yang jelas dan harapan yang pasti memberikan keberanian kepada kita sebagai bagian dari komunitas Kristen maupun gereja Tuhan untuk mengerjakan misi Tuhan, yaitu dengan memberitakan atau memproklamasikan Injil sampai ke ujung dunia. Ini sesuai dengan misi pertama PSR ketika didirikan, yaitu memberitakan Injil di dalam kerangka theologi Reformed.
Ke depannya PSR akan tetap terus berjuang untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan sebagai bagian kami menggapai visi dan impian-impian kami. Untuk menggapainya tentu bukan semata-mata karena usaha kami, tetapi tentunya karena kemurahan Tuhan. Itu sebabnya, kami perlu terus bersandar penuh pada kekuatan dan pertolongan Tuhan. Tanpa Tuhan yang memimpin dan memelihara perjalanan persekutuan ini, kami percaya persekutuan ini tidak akan mungkin bisa bertahan hingga saat ini.
Mengutip perkataan pemazmur berikut: “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya” (Maz. 46:1-3). Sungguh ayat-ayat ini memberikan penghiburan bagi kami.

Kami sadar persekutuan ini sangat terbatas dan bahkan bisa dikatakan terlalu kecil untuk menghadapi dunia yang semakin kompleks ini, TETAPI KAMI JUGA SADAR BAHWA TUHAN JUGA BISA MEMAKAI SESUATU YANG KECIL INI UNTUK MENGERJAKAN PEKERJAAN-NYA YANG BESAR SELAMA KAMI TETAP TAAT PADA PANGGILAN-NYA.
 
Peristiwa natal menjadi perenungan bagi kita betapa kelahiran Kristus menjadi bagian dari kisah sejarah penebusan yang sudah Tuhan mulai. Namun, kita juga harus melihat bahwa kedatangan Kristus yang pertama melalui kelahiran-Nya itu bukanlah akhir kisah-Nya. Ini justru merupakan titik awal dari kisah itu sambil menantikan akhir dari kisah itu di dalam kedatangan Kristus yang kedua. Di situlah visi dan harapan kita tergenapi dengan sempurna. Puji Tuhan.
[ Mulatua Silalahi ]