Alkitab mengenai
“Tanda” (Sign) dan “Rujukan” (Reference)
_oOo_
 
“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.
Dan inilah tandanya bagimu: “Kamu akan menjumpai seorang bayi
dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”
[ Lukas 2:11-12 ]
 
 
Pendahuluan.
 
Dalam artikel ini penulis mengajak kita untuk memikirkan apa pandangan Alkitab mengenai relasi antara tanda (sign) dengan konsep atau bunyi ke mana suatu tanda merujuk (reference).
Alkitab bukan merupakan buku ilmu bahasa, akan tetapi sebagai orang Kristen kita harus menyadari bahwa Firman Allah merupakan sumber bijaksana yang dapat memberikan arah mengenai bagaimana kita membangun pandangan yang benar akan hal ini.
 
Dunia, kita, dan sistem pertandaannya.
 
Kevin J. Vanhoozer dalam esainya Dunia Dipentaskan Dengan Baik? Teologi, Kebudayaan dan Hermeneutika mengatakan bahwa salah satu pandangan yang membedakan situasi post-modern dengan modern adalah tekstualitas. Saat ini segala sesuatu diperlakukan sebagai teks. Pakaian dan mobil yang kita gunakan pun dipandang sebagai simbol dalam sistem simbol.

Menurut Vanhoozer, studi mengenai sistem simbol atau semiotics dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure di University of Geneva antara tahun 1906-1911 melalui seri pelajaran linguistik yang ia berikan. Menurut Saussure, relasi antara “tanda” (sign) atau “penanda” (signifier; kata atau bunyi “mobil” misalnya) dengan “petanda” (signified, symbol; konsep tentang “mobil” seperti mobilitasnya yang bukan benda “mobil” itu sendiri) diikat oleh suatu sistem pertandaan dan relasinya bersifat sembarang (arbitrary); dengan kata lain bahwa di dalam kebudayaan kita suatu penanda selalu merujuk kepada suatu petanda tertentu yang relasinya itu bersifat sembarang, tetapi disepakati dalam suatu sistem hubungan sosial tertentu, dan relasi itulah yang memungkinkan adanya makna.
 
Dalam terang semiotika yang dikembangkan Saussure ini dapat dikatakan bahwa adalah merupakan suatu kebetulan apabila kata GOD merujuk kepada Yang Maha Tinggi, sedangkan DOG merujuk kepada anjing. Relasi antara GOD sebagai suatu penanda dengan GOD sebagai “obyek atau konsep ke mana kata itu penanda itu merujuk” adalah bersifat sembarang, tetapi kemudian disepakati sedemikian rupa dalam suatu sistem hubungan sosial tertentu seperti komunitas orang Kristen misalnya.
Mobil Ford Escort, misalnya, secara kebetulan melambangkan atau merujuk pada suatu status sosial tertentu, demikian pula Porsche. Parfum, gaya rambut, film, mainan, sepatu, atau apa saja, semua merupakan simbol yang merujuk pada suatu realita tertentu. Benda “mobil,” misalnya, sesungguhnya tidak menentukan kata atau bunyi “mobil” oleh karena sistem pertandaanlah yang mengikat keduanya di dalam relasi yang sembarang.
 
Kita hidup di dalam dunia dengan berbagai sistem tanda. Dalam realita modern, setiap tanda telah dirujukkan kepada suatu realita tertentu. Akan tetapi dalam situasi post-modern ini sistem pertandaan yang diyakini mengikat penanda dan petanda seperti ini dipertanyakan bahkan dibongkar sedemikian rupa hingga pada akhirnya suatu penanda tidak dapat dipastikan lagi kepada petanda apa ia merujuk.
Bayangkan apabila “kata” atau “bunyi” GOD, misalnya, oleh karena ketidak dapat dipastikannya, dapat dirujuk pula kepada “konsep” tentang “DOG.” Betapa anarkisnya moralitas teks seperti ini. Oleh karena itu, mari kita lihat bagaimana berita kelahiran Kristus memberikan kita prinsip-prinsip untuk membangun pandangan yang benar mengenai sistem pertandaan yang di dalamnya ini kita hidup.
 
Lukas 2:11-12.
 
Lukas pasal 2 ayat 11 mencatat turunnya berita kelahiran Kristus kepada para gembala: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud”.
Pada saat Tuhan Yesus lahir kebanyakan orang Yahudi telah sedemikian lamanya berada dalam penantian akan datangnya seorang pemimpin politik yang dapat membawa mereka keluar dari penjajahan Roma. Sebagian lagi menantikan datangnya juruselamat yang akan menyembuhkan mereka dari berbagai penderitaan jasmani, seperti sakit-penyakit dan yang akan membawa mereka keluar dari berbagai penderitaan hidup. Oleh karenanya, adalah mungkin dengan situasi orang Yahudi pada saat itu para gembala juga dapat berpikir bahwa berita kelahiran Mesias ini merupakan awal dari suatu era yang besar dan spektakular secara fisik; dengan kata lain para gembala ini tentu sebelumnya telah mempunyai konsep mengenai apa itu kelahiran, akan tetapi oleh karena berita besar ini disampaikan oleh bala tentara malaikat sorga dan dengan demikian sangat mengesankan sesuatu yang mesianik adalah mungkin apabila dalam benak pikiran mereka tergambar sesuatu yang secara fisik bersifat spektakular dan rajani.

Akan tetapi tanda yang menyertai peristiwa kelahiran bayi Mesias ini sebagaimana diberitahukan kepada mereka di sini seakan-akan tidak relevan.
Lukas pasal 2 ayat 12 mengatakan: “Dan inilah tandanya bagimu: “Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”” Bayi Mesias ini akan didapati berada dalam keadaan dibungkus dengan lampin dan dibaringkan dalam sebuah palungan. Dibungkus dengan lampin, bukan kain lenan, adalah hal sesungguhnya hina dalam kelahiran bayi orang Israel dan dibaringkan dalam sebuah palungan, suatu tempat makan ternak di dalam kandang, sebagaimana mereka saksikan itu sungguh-sungguh jauh dari konsep tentang Mesias yang telah sedemikian lamanya terbentuk di dalam proses sejarah mereka.
O, betapa tanda dan kenyataan bayi Kristus yang Tuhan berikan ini seakan-akan begitu jauh dari spektakularitas rajani yang orang Israel nantikan itu. Penanda dan petanda di sini seakan-akan tidak relevan bukan?
 
Tanda (sign) dan rujukan (reference) dalam Lukas 2:12.
 
Oleh karena itu mengenai kenyataan yang ditemukan oleh para gembala ini, mari kita perhatikan apa yang Calvin katakan:
 
 
The angel meets the prejudice which might naturally hinder the faith of the shepherds; for what a mockery is it, that he, whom God has sent to be the King, and the only Saviour, is seen laying in a manger!

Tampak bahwa berita yang disampaikan malaikat itu menimbulkan rasa penasaran yang secara alamiah bisa saja menghalangi para gembala itu untuk percaya pada beritanya; oleh karena betapa merupakan suatu cemoohan, apabila ia yang telah diutus Allah sebagai Raja, dan satu-satunya Juruselamat itu, dikatakan tampak sedang terbaring di dalam sebuah palungan. (John Calvin, “Commentary on A Harmony of the Evangelists: Matthew, Mark, and Luke,” Volume 1, The Calvin Translation Society)
 
 
Apakah yang orang Yahudi, sebagai bangsa yang terjajah, pada masa itu dapat harapkan dari seorang bayi yang keadaannya dibungkus dengan lampin dan terbaring dalam palungan? Seakan-akan tidak ada, bukan? Mesias telah lahir, tetapi di dalam keadaan yang jauh dari kemuliaan mesianik yang mereka dambakan. Lampin yang digunakan untuk membungkus bayi Yesus itu tidak merujuk pada suatu kemuliaan. Palungan yang digunakan untuk membaringkan bayi Yesus juga tidak merujuk kepada suatu kemewahan dan kedigdayaan.
Apabila demikian halnya, apakah itu juga berarti bahwa tanda yang Tuhan berikan serta kenyataan bayi Yesus ini tidak relevan dengan apa yang Israel seharusnya benar-benar nantikan? Jawabannya: tidak.
 
Apa yang kita pelajari dari hal ini?
 
Keadaan bayi Yesus yang dibungkus dengan lampin ini seharusnya mengembalikan memori mereka mengenai bagaimana pada mulanya Yerusalem, isteri yang tidak setia itu, digambarkan bagai seorang bayi yang sama sekali tidak berharga, sebagaimana dikatakan oleh Yehezkiel pasal 16 ayat 4: “Kelahiranmu begini: Waktu engkau dilahirkan, pusatmu tidak dipotong dan engkau tidak dibasuh dengan air supaya bersih; juga dengan garampun engkau tidak digosok atau dibedungi dengan lampin.”
Dengan demikian relevansi dari tanda yang digunakan dan konsep yang dirujuk oleh Alkitab ini tidak boleh secara begitu saja didasarkan atas sistem pertandaan yang ada. Telah tiba waktunya pengharapan penebusan yang telah lama disampaikan oleh nabi-nabi perjanjian lama itu untuk segera digenapi. Tuhan tidak melupakan Israel, umat-Nya. Inilah pengharapan yang sesungguhnya turun melalui para gembala itu, bahwa bayi Yesus yang didapati oleh para gembala dibungkus dengan lampin dan dibaringkan pada sebuah palungan itu akan segera menebus umat-Nya.
 
Oleh karena itu, relevansi antara penanda dengan petanda ini, pada pokoknya, harus diuji oleh pewahyuan Allah. Berbahagialah para gembala yang menyambut kabar baik ini dengan hati yang penuh sukacita, karena penyataan Tuhan sendirilah yang sesungguhnya membuka pikiran mereka untuk tidak sekadar diikat oleh sistem pertandaan masyarakat dan kebudayaan di dalam mana mereka hidup. Berbahagialah pula setiap kita yang menyambut berita ini di tengah sistem pertandaan dunia modern dengan segala keyakinannya akan kekuatan modal dan teknologi ini.
 
Sikap moral Kristen terhadap “tanda” dan “rujukan”.
 
Sebagai orang Kristen kita tetap mengakui bahwa teks Alkitab juga menggunakan suatu sistem pertandaan yang ada di dalam mana penulis Alkitab dan pembaca pertamanya hidup. Pada satu sisi itu berarti bahwa teks Alkitab tidak begitu saja sekadar setuju dengan semiotika modern.
Sistem pertandaan yang diyakini merujukkan penanda kepada suatu petanda tertentu juga merupakan suatu persepakatan yang dibentuk dalam suatu hubungan sosial tertentu sehingga tetap harus kita cermati dan waspadai. Sistem dan nilai yang berlaku di dalam suatu masyarakat juga dipengaruhi oleh hal seperti rezim kekuasaan dan kepentingan tertentu. Akan tetapi, pada sisi lain hal itu juga tidak berarti bahwa teks Alkitab menolak atau berlawanan dengan sistem pertandaan yang ada, karena hal ini akan sangat memungkinkan terjadinya anarkisme yang fatal terhadap aktivitas interpretasi.
Tugas gereja dan orang Kristen di sini adalah merujukkan kembali suatu “penanda” tertentu, yang ada di dalam kebudayaan kita, kepada “petanda” atau suatu konsep tertentu secara benar berdasarkan atas wahyu Allah. Oleh karena itu kita dapat menerima bahwa teks Alkitab, di dalam sifat inspirasi ilahinya (divine inspiration), juga mempergunakan suatu sistem pertandaan hubungan sosial tertentu sejauh mana Allah, tentunya melalui para penulis Alkitab, berkehendak untuk mengkomunikasikan maksud-maksudnya kepada kita dan yang melaluinya itu pula kita dapat memahami apa yang ia maksudkan.
 
Penutup.
 
Untuk memfungsikan “tanda” (sign) dan mengarahkannya kepada “rujukan” (reference) yang benar tidak cukup apabila gereja dan orang Kristen melakukannya sendiri-sendiri. Dunia yang telah sedemikian dalamnya jatuh ke dalam dosa ini terlalu berat untuk dihadapi sendiri-sendiri. Kita harus mengerjakannya bersama-sama menghidupi dan menjalani sistem pertandaan di dalam kebenaran.
Persekutuan Studi Reformed merupakan salah satu wadah di mana orang Kristen dapat mengerjakan hal itu sebagai satu gerakan. Mari kerjakan bagian kita.
[ Jessy Victor ]