Injil di dalam Kisah Kelahiran Yesus
_oOo_
 
Kata “Injil” tentunya bukan kosa kata yang asing di telinga kita orang Kristen. Kata ini muncul di dalam Alkitab Perjanjian Baru menggunakan kata ευαγγέλιον/euangelion” di mana dari akar kata inilah muncul istilah penginjilan (evangelism), penginjil, (evangelist) atau injili (evangelical).
Ketika kita ditanya apakah arti Injil? Tentu kebanyakan kita akan dengan mudah menjawab: “Injil adalah kabar baik!” Ya, itu benar karena arti kata Injil adalah kabar baik. Namun pertanyaannya sekarang adalah kabar baik tentang apa? “Kabar baik tentang Yesus Kristus yang mati dan bangkit.” Lalu, mengapa ini dikatakan kabar baik? “Karena dengan kematian dan kebangkitan-Nya, Ia telah menebus dan menyelamatkan kita dan suatu saat Ia akan membawa kita ke sorga.” Inilah pandangan kebanyakan orang Kristen saat ini. Mereka mengaitkan Injil dengan konteks keselamatan pribadi (personal salvation), yaitu tentang bagaimana kita diselamatkan serta masuk ke dalam sorga yang kekal. Persoalannya, apakah ini esensi dari Injil yang Alkitab maksudkan?
 
Salah seorang theolog biblika, Christopher JH.Wright, di dalam bukunya “The Mission of God’s People,” memberikan satu statement yang mengejutkan. Ia menyatakan bahwa pandangan ini (maksudnya Injil dalam konteks keselamatan pribadi), menurutnya, telah mereduksi esensi Injil menjadi sekadar solusi bagi problem dosa pribadi kita dan sekaligus kartu gesek untuk memasuki gerbang sorga. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena seringkali kita terlalu semangat untuk segera memberitakannya, sehingga kita tidak mengambil waktu yang cukup untuk mengeksplorasi secara mendalam konten utuhnya di dalam Alkitab.
 
Satu hal yang perlu kita sadari bahwa Injil pertama-tama bukan dikaitkan dengan konteks kisah kita (our story), tetapi dengan kisah Israel (Israel’ story) sebagai audiens utama sekaligus pembaca pertama (the first reader) dan kisah Allah (God’ story) yang berkarya di tengah umat-Nya itu.
Jika kita ingin memahami konten Injil dengan utuh, kita harus meletakkannya di dalam konteks kisah Israel dan kisah Yesus Kristus yang menggenapkan kisah Israel tersebut. Scot Mc Knight di dalam bukunya The King Jesus Gospel, menegaskan hal ini. Injil, bagi Knight, pertama-tama seharusnya tidak diletakkan dalam kategori rencana keselamatan (pribadi) kita (plan of salvation), melainkan dalam kategori kisah Israel (The story of Israel) dan kisah Yesus Kristus (The story of Jesus). Menurutnya, tanpa kisah itu, tidak ada Injil. Ketika kita mengabaikan kisah itu, Injil akan terdistorsi.
 
Di dalam tulisan ini, saya akan membahas tema ini, bagaimana kita memahami Injil dengan kerangka theologi Biblika dengan meletakkannya di dalam konteks kisah Israel terutama di dalam kisah pembuangan yang tercatat di kitab Yesaya.
Dalam hal ini saya akan mengeksplorasi secara khusus Yesaya 52:7-11 yang mana kosa kata Injil (kabar baik) itu berakar dari sana. Kemudian dilanjutkan dengan mengaitkan konteks Yesaya tersebut dengan konteks kisah Yesus Kristus di dalam kedatangannya yang pertama terutama di dalam kisah kelahiran-Nya di dalam dunia. Dan di bagian akhir akan menjadi konklusi dari tulisan ini dan bagaimana respon kita atasnya.
 
Injil (Kabar Baik)
di dalam Kisah Pembuangan (Eksplorasi Kitab Yesaya 52:7-11).
 
Untuk memahami esensi Injil dengan utuh, kita perlu menelusuri dari mana ide ini muncul. Di dalam kerangka theologi biblika, kosa kata Injil sebenarnya bukan berakar dari Perjanjian Baru, tetapi dari Perjanjian Lama terutama di Kitab Yesaya. Kosa kata ini muncul di kitab Yesaya pasal 40:9; 41:27; 52:7; dan 61:1 dengan menggunakan kata “basar” yang artinya membawa atau mengumumkan kabar baik. Kata ini di dalam Perjanjian Baru kemudian digunakan sebagai akar kata “euangelion” sebagaimana sudah kita ketahui artinya.

Manariknya, ide Injil di dalam kitab Yesaya khususnya pada pasal 40-55 justru muncul di dalam konteks kisah Israel tatkala mereka harus mengalami pahit dan getirnya hidup di dalam realita pembuangan di Babel. Kepahitan dan kegetiran itu terlukis dengan jelas di dalam tangisan dan ratapan mereka di tepi sungai-sungai Babel ketika mengingat dan merindukan Sion (Maz. 137).
Hari demi hari dilalui dengan satu kerinduan dan harapan kapan waktunya mereka kembali ke sana. Mengapa ini bisa terjadi? Ketidaktaatan Israel terhadap perjanjian Tuhanlah yang telah membawa mereka masuk ke dalam masa kegelapan dan kesuraman itu. Pembuangan mengisyaratkan pengharapan mereka seakan telah sirna seiring dengan hilangnya tanah, kota Yerusalem, dan Bait Allah yang merupakan simbol identitas mereka sebagai umat pilihan Allah.
 
Bagi bangsa Israel, realita pembuangan menyadarkan mereka akan satu kenyataan bahwa Allah yang dahulu pernah tinggal dan berdiam di tengah-tengah umat-Nya kini telah pergi meninggalkan mereka. Bait Allah yang dibangun Salomo dengan kemegahan dan simbol dari kehadiran Allah di tengah umat-Nya telah hancur oleh invasi bangsa Babel. Keindahan dan kemegahan Bait Allah itu kini telah hilang lenyap.
Mungkin akan timbul pertanyaan, jika Bait Allah adalah tempat kediaman Allah, mengapa ia bisa dihancurkan? Bukankah Allah pencipta langit dan bumi mampu menjaga bait-Nya dari kehancuran itu? Jawabannya, bukan karena Allah tidak mampu menjaga bait-Nya, melainkan karena Allah telah pergi meninggalkan bait-Nya.
Nabi Yehezkiel di dalam visinya telah menyaksikan kemuliaan TUHAN bergerak menjauh meninggalkan bait-Nya (baca Yeh. 10). Allah tidak lagi berdiam di bait-Nya. Kini Bait Allah hanyalah sebuah bangunan biasa layaknya bangunan lain pada umumnya. Itulah sebabnya mengapa ia bisa dihancurkan.
 
Kehancuran bait Allah yang bermula dari perginya Allah dari bait-Nya sekaligus menjadi tanda bahwa Allah untuk sesaat lamanya juga telah pergi meninggalkan umat-Nya. Allah telah memalingkan wajah-Nya dari umat-Nya.
Walaupun Israel dikatakan umat pilihan Allah, umat kesayangan Allah, tetapi keadilan Allah tetap ditegakkan. Murka Allah tetap nyata terhadap mereka ketika mereka tidak taat dengan melanggar perjanjian Allah. Kita tahu bahwa ini semua merupakan bagian dari didikan dan pembentukan TUHAN terhadap umat-Nya.
Namun, sungguh ini menjadi kisah yang ironis bukan? TUHAN yang dahulu dengan kekuatan tangan-Nya sendiri telah membebaskan umat-Nya dari perbudakan Mesir, kini menjadi TUHAN yang membawa mereka ke dalam pembuangan Babel. Allah yang dahulu tinggal dan berdiam di tengah-tengah umat-Nya, kini menjadi Allah yang “meninggalkan” mereka.
 
Di tengah kesuraman dan kegelapan inilah umat Allah sungguh berharap menantikan datangnya kabar baik. Kabar baik tentang pengharapan akan Allah yang kembali kepada umat-Nya. Kabar baik tentang Allah yang akan membebaskan mereka dari belenggu tawanan Babel dan membawa mereka kembali ke kota Allah, Yerusalem. Mereka terus menanti-nantikan itu. Puji Tuhan, Allah tidak meninggalkan umat-Nya. Di dalam ketidaksetiaan umat-Nya, Allah tetap setia memegang perjanjian-Nya. Ia memberikan pengharapan yang seakan sirna itu kembali datang kepada umat-Nya.
Pengharapan itu muncul kembali ketika Nabi Yesaya mengumandangkan akan datangnya kabar baik dari Allah kepada umat-Nya di dalam pembuangan tentang janji Mesianik. Kabar baik itu tercatat di dalam pasal 52:7-10. Demikian kabarnya:
 
 
YESAYA 52:7-10
Betapa indah kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik (basar/good news), yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: “Allahmu itu Raja!” Dengarlah suara orang-orang yang mengawal engkau: mereka bersama-sama bersorak-sorai. Sebab dengan mata kepala mereka sendiri mereka melihat bagaimana TUHAN kembali ke Sion. Bergembiralah, bersorak-sorailah bersama-sama, hai reruntuhan Yerusalem! Sebab TUHAN telah menghibur umat-Nya, telah menebus Yerusalem. Tuhan telah menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan mata semua bangsa: maka segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah kita.
 
 
Kabar baik itu digambarkan dengan munculnya seorang utusan (tunggal) pembawa kabar baik yang sehabis berperang dengan kegirangan berlari cepat melintasi perbukitan menuju ke Timur, ke arah Yerusalem membawa kabar kemenangan kepada umat yang ada di pembuangan, yaitu berita tentang TUHAN adalah raja, TUHAN akan kembali ke Sion (Yerusalem) dan TUHAN akan menghibur dan menebus Yerusalem.

Inilah sesungguhnya inti atau esensi dari Injil. Dengan demikian, apakah Injil? Injil adalah: Pertama, kabar baik tentang TUHAN, Allah Israel, yang memerintah sebagai Raja. Kedua, kabar baik tentang TUHAN, Allah Israel, yang memerintah itu adalah Allah yang kembali. Kembali ke bait-Nya. Kembali kepada umat-Nya, dan tinggal berdiam bersama-sama dengan umat-Nya. Ketiga, kabar baik tentang TUHAN, Allah Israel, yang membawa penghiburan dan penebusan bagi umat-Nya. Dengan tangan-Nya sendiri TUHAN akan melepaskan umat-Nya keluar dari perbudakan, keluar dari penawanan, keluar dari pembuangan.
 
Namun, kabar baik yang Yesaya gambarkan tentang Allah yang bertindak menggenapi penebusan bagi umat-Nya tidak berhenti pada umat historis-Nya (Israel Perjanjian Lama dalam pembuangan), tetapi akan meluas atau berkekstensi bagi semua bangsa. Kabar baik itu tidak hanya ditujukan bagi bangsa Israel, tetapi bagi semua bangsa/bagi dunia (bdk. Maz. 98:3).
 
Injil (Kabar Baik) di dalam kelahiran Yesus Kristus.
 
Dengan demikian, melalui konteks realita pembuangan inilah kita boleh memahami apa yang menjadi message dari kabar baik yang diserukan oleh para Malaikat surga kepada para gembala di padang di malam kalahiran Yesus Kristus di Betlehem. “Lalu kata Malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar (NIV: good news of great Joy) untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud”” (Luk. 2:10-11). Lalu, bagaimana kita memahami kabar baik yang dibawa Malaikat di dalam kisah kelahiran Yesus Kristus ini dikaitkan dengan kabar baik dalam konteks Yesaya di atas?

Pertama, kita perlu mengerti di dalam pemahaman konsep Israel kuno pada abad pertama, munculnya kabar baik selalu dikaitkan dengan pengumuman mengenai adanya pergantian seorang raja. Itu sebab ketika kabar baik tentang kelahiran Yesus Kristus itu turun, persepsi mereka langsung tertuju pada konsep ini, yaitu akan ada raja baru yang muncul. Bangsa Israel menyadari bahwa inilah waktunya pengharapan Mesianik yang selama ini mereka nantikan itu segera tergenapi. Pengharapan mereka akan Mesias yang bertahta sebagai raja yang akan menghancurkan musuh-musuh Israel, khususnya Romawi di konteks pada waktu itu, akan segera terealisasi. Mesias akan mendirikan kerajaan-Nya di tengah-tengah mereka. Tidak mengherankan ketika Herodes mendengar berita ini, ia sadar kelahiran Yesus Kristus, sang Mesias itu, suatu saat akan mengancam tahtanya. Itulah sebabnya dengan berbagai cara ia berusaha mempertahankan tahtanya. Ia memerintahkan untuk membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya yang berumur dua tahun ke bawah. Namun, rencana Tuhan tidak akan pernah gagal. Di tengah berbagai ancaman pembunuhan itu, Yesus Kristus lahir.
 
Dari kisah ini kita boleh melihat bahwa kedatangan Yesus Kristus melalui kelahiran-Nya adalah benar sebuah kabar baik. Kabar baik tentang apa? Kabar baik tentang proklamasi (announcement) bahwa Yesus Kristus, sang Mesias, Raja yang diurapi (the anointed King) itu telah mendirikan kerajaan-Nya di dalam dunia.
God does in sending the Son is to established Jesus as the Messiah, which means King, and God established in Jesus Christ the Kingdom of God, which means the King is rulling in His kingdom,” tulis Mc Knight.
Kembali Wright mengatakan: “Inkarnasi Allah di dalam Kristus merupakan satu titik inagurasi diresmikannya kehadiran Kerajaan Allah di dalam dunia. Di dalam diri Yesus, pemerintahan Allah memasuki sejarah manusia. Dari sini kita masuk pada konklusi pertama. Apakah Injil? Injil adalah kabar baik tentang Kristus yang memerintah sebagai Raja dan tentang pemerintahan Allah yang hadir di dalam dunia.
 
Kedua, kelahiran Yesus Kristus menyatakan bahwa Allah yang memerintah itu adalah Allah yang kembali kepada umat-Nya. Allah yang kembali tinggal dan berdiam di tengah umat-Nya. Di dalam konteks Yesaya, Allah memang kembali saat Israel yang berada di pembuangan kembali ke Yerusalem atas izin Koresh, raja negeri Persia, yang pada waktu itu berkuasa di Babel (2 Taw. 36:22-23; Ezr. 1:1-4). Tuhan sendiri yang menggerakkan hati Koresh untuk memperbolehkan umat Allah kembali ke Yerusalem untuk mendirikan rumah Tuhan (Yes. 44:28). Kepulangan pertama dari Babel dipimpin oleh Zerubabel dan Yesua pada tahun 538sM, kepulangan kedua dipimpin oleh Ezra pada tahun 458sM, dan kepulangan ketiga dipimpin oleh Nehemia pada tahun 445sM.
 
Sekembalinya dari Babel, umat Allah mendiami lagi kota Yerusalem dan kemudian mendirikan kembali Bait Allah (second temple). Kembalinya TUHAN ke Sion dan ke bait-Nya seiring dengan kembalinya umat Allah dari pembuangan merupakan satu bayang-bayang dari akan kembali-Nya TUHAN dengan cara yang lebih signifikan. Hal itu kemudian tergenapi oleh Yesus Kristus ketika Ia datang ke Yerusalem dan memasuki Bait Allah sehabis hari raya Paskah (Luk. 2:41-52). Dan kejadian ini adalah pertama kalinya Yesus memasuki Bait Allah. Jikalau sebelumnya Nabi Yehezkiel sudah menggambarkan satu drama Allah yang pergi meninggalkan bait-Nya, namun kini drama itu dibalikkan. Allah yang pergi itu kini datang kembali ke bait-Nya di dalam seorang person, yaitu Yesus Kristus. Yesus Kristus yang merupakan manifestasi dari kehadiran Allah di tengah umat-Nya itu kini hadir secara fisik dan tinggal bersama-sama dengan umat-Nya.
Namun, kisah itu harus dimulai dari rencana kekal Allah Bapa yang rela mengirimkan anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, datang ke dunia (Yoh. 3:16). Kelahiran Yesus Kristus di Betlehem menjadi satu titik inkarnasi di mana Allah menjadi manusia. Firman itu kini menjadi daging. Rasul Yohanes menegaskan pernyataan itu dalam Yohanes 1:14: ”Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita (dwelt among us), dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”
 
Inkarnasi Allah di dalam diri Yesus Kristus merupakan simbol dari kehadiran Allah yang nyata di tengah umat-Nya. Dari sini kita masuk pada konklusi kedua. Apakah Injil? Injil adalah kabar baik tentang Allah yang kembali melawat umat-Nya. Allah yang kembali berdiam bersama dengan umat-Nya. Benar apa yang dikatakan Wright: “Injil adalah kabar baik tentang Allah yang telah datang, yang kembali seperti yang dijanjikan-Nya pada awalnya (maksudnya: kedatangan-Nya yang pertama), dan yang akan datang kembali (maksudnya: kedatangan-Nya yang kedua), membawa baik penghakiman bagi mereka yang menolaknya maupun keselamatan bagi mereka yang mendengar panggilan-Nya untuk bertobat dan percaya kepada kabar baik.”
 
Ketiga, konsep penebusan bukanlah sesuatu yang asing bagi umat Allah. Dalam konteks Israel, konsep penebusan berbicara tentang komitmen dari seorang anggota keluarga untuk berdiri dan memperjuangkan anggota keluarga yang lain dalam kondisi kehilangan, bahaya, atau terancam. Komitmen itu dimanifestasikan dalam tindakan yang mutlak dan berdampak, rela membayar harga berapapun yang dibutuhkan untuk kebebasan, kelepasan, atau pemulihan.
Bahasa penebusan pertama kali keluar dari mulut Allah sendiri yang diucapkan ketika Israel terbelenggu dalam perbudakan Mesir.
Demikian Allah berkata: “Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir” (Kel. 6:6).
Tindakan penebusan itu nyata ketika Allah membawa keluar Israel dari perbudakan Mesir (Kel 14:31). Dan Musa merayakan tindakan penebusan atas umat-Nya itu dengan nyanyian bagi Tuhan. “Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kau tebus; dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus (Kel. 15:13).
 
Bahasa penebusan ini juga muncul di dalam konteks umat Allah di pembuangan. Di kitab Yesaya sendiri, istilah Allah menebus umat-Nya muncul berkali-kali (Yes. 41:14; 43:1, 14; 44:22, 24; 48:17, 20). Tindakan penebusan Allah ini juga kembali nyata ketika Allah membawa umat-Nya keluar dari belenggu penawanan Babel. Kisah keluarnya umat Allah dari pembuangan ini menjadi kisah keluaran yang diulang atau keluaran kedua (second exodus).
Bahasa penebusan ini kembali muncul di dalam pengharapan Mesianik yang dinantikan oleh Israel, umat Allah, di abad pertama (zaman Yesus Kristus) ketika mereka terbelenggu di bawah kekuasaan bangsa Romawi. Israel terus berharap menantikan sang Mesias yang dinubuatkan oleh para nabi Perjanjian Lama itu datang dengan kekuatan dan kekuasaan-Nya untuk melepaskan mereka dari belenggu musuh-musuhnya. Pengharapan itu seakan sirna tatkala Mesias yang dinantikan itu tidak datang dalam profil sebagaimana yang mereka harapkan. Mesias tidak datang dengan kekuasaan dan kekuatan militer yang besar guna melepaskan mereka, tawanan Romawi, tetapi Ia datang dalam profil seorang bayi yang lemah, dibungkus dengan lampin, dan dibaringkan dalam palungan, tentu sangat jauh dari kedigdayaan yang mereka kira. Dan bahkan satu hal yang sulit mereka terima adalah Mesias yang mereka nantikan itu ternyata Mesias yang sama sekali tidak berdaya. Mesias yang mati di tangan musuh mereka, bangsa Romawi.
 
Di sini Israel tidak menyadari bahwa pengharapan penebusan yang mereka nantikan itu sudah datang dan tergenapi di dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, sang Mesias itu. Namun, tindakan penebusan yang Allah kerjakan di dalam Yesus Kristus sangat berbeda dengan apa yang mereka pikirkan. Yesus Kristus datang bukan untuk membebaskan mereka dari belengggu Romawi, tetapi Ia datang untuk membebaskan mereka dari belenggu dosa. Matius mencatat, “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Mat. 1:21).
Meski demikian, perlu diingat bahwa jangkauan penebusan yang Yesus Kristus kerjakan tidak terbatas pada lingkup umat historis-Nya (Israel), namun penebusan itu meluas bagi segala bangsa. Dari sini kita masuk pada konklusi ketiga. Apakah Injil? Injil adalah kabar baik tentang Allah yang bertindak menggenapi penebusan bagi umat-Nya (Yahudi dan non Yahudi/segala bangsa).
 
Konklusi dan Respon Kita sebagai Umat Allah atas Berita Injil.
 
Dari pembahasan ini kita boleh melihat bahwa ide Injil yang Alkitab nyatakan begitu jelas. Injil sama sekali bukan tentang kisah kita (our story) tetapi tentang kisah Allah (God’s story). Kisah Allah yang beroperasi menggenapi janji-Nya.
Todd D. Hunter di dalam bukunya Christianity Beyond Belief, mengatakan bahwa, ”Hal pertama yang perlu dicatat adalah Injil bukanlah segalanya tentang kita, melainkan tentang Allah – rencana-Nya, kehendak-Nya dan agenda-Nya bagi ciptaan. Allahlah pemrakarsanya dan Dia melaksanakan rencana-Nya hingga sempurna.” Injil adalah kisah tentang Yesus Kristus, Allah yang memerintah sebagai Raja, Allah yang kembali dan Allah yang menebus umat-Nya.
Kisah Yesus Kristus adalah kisah yang menggenapkan kisah Israel. Demikian Mc Knight berkata: “The story of Jesus brings the Story of Israel to its telos point, to its fulfillment, to its completion, or to its resolution. The word gospel belongs to the Story of Jesus as the resolution of Israel’s Story.”
 
Pertanyaan sekarang adalah, kita sebagai umat Allah yang sudah mendengar Injil (kabar baik) dan bahkan sudah mengalami kuasa Injil itu, apa yang harus menjadi respon kita? Apa yang menjadi misi panggilan kita terhadap Injil di dalam dunia ini?
Pertama, kita perlu menyadari bahwa kabar baik dari Injil yang sudah kita terima bukan hanya milik kita sendiri, tetapi juga milik segala bangsa. Kabar baik yang begitu indah dan mengubahkan itu tidak boleh kita simpan bagi diri kita sendiri, tetapi harus diberitakan kepada orang lain.
Kedua, Injil adalah kabar baik yang harus diproklamasikan kepada orang lain. Inilah yang seharusnya menjadi respon panggilan kita sebagai umat Allah yang hidup di dalam dunia ini.
 
Saya akan menutup tulisan ini dengan mengutip Mazmur 96:1-3:
 
 
“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang daripada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa.”
 
 
Kiranya ini menjadi respon kita kepada Tuhan dalam menyambut Natal.
[ Nikson ]