MENDONGENG:
Dapatkah Menjadi Sarana Meneruskan
Nilai-Nilai Kristiani Kepada Generasi Selanjutnya?
_oOo_
 
 
(Disadur dari artikel Pdt. Riani Josaphine yang dimuat di majalah Kasut GKI Pondok Indah, edisi Membina Iman Melayani Tuhan, No.81 tahun XV/Oktober 2011, hal. 30-33)
 
 
Ada tiga anak babi bersaudara bernama Piki, Pokom, dan Poci. Mereka semua anak yang baik. Suatu kali ibu mereka mendadak harus meninggalkan mereka bertiga di rumah, karena nenek mereka sakit. “Hati-hati di rumah ya! Jangan bukakan pintu untuk siapapun sampai Ibu pulang!” seru Ibu kepada Piki, Poko, dan Poci.
Singkat cerita, Piki, Poko dan Poci membuka pintu rumah mereka di malam hari bagi serigala yang mengaku diri sebagai nenek mereka. Mereka takut.... tapi berkat kecerdasan dan kekompakkan ketiga anak babi tersebut, matilah serigala jahat itu dan Piki, Poko, Poci selamat.
Cuplikan dongeng diatas diceritakan oleh Lie (adik mama Pdt. Riani) sewaktu beliau berusia sekitar 4 tahun dan diceritakan secara berulang-ulang, setiap kali sebagai pengantar tidur siang.
Menyenangkan sekali mendengarkan dongeng itu. Daya khayal berkembang, perasaan digugah untuk menjadi peka dan relasi semakin dekat.
Sampai hari ini, jika membayangkan dongeng tersebut, beliau dapat merasakan betapa menakutkannya tidur bersama serigala jahat dan mendengar dengkurannya. Dan betapa menengangkannya membiarkan serigala jahat itu mati di atas keranjang yang diangkat tinggi-tinggi ke atas pohon buah, lalu dijatuhkan secara bersama oleh ketiga babi kecil yang ada di atas pohon di depan rumahnya.
Mengerikan... menegangkan... mengharukan... tetapi melegakan ketiga babi bebas dari serigala jahat.
Pertanyaannya, apakah dongeng seperti itu masih relevan pada zaman ini? Apakah anak-anak kita masih suka mendengarkan dongeng? Atau lebih jauh lagi, apakah dongeng masih dapat menjadi alat yang efektif untuk mencapai sebuah tujuan tumbuh-kembangnya anak-anak kita, apalagi pertumbuhan iman mereka?
 
1.
Dongeng Dapat Dijadikan Sebagai Sarana Imajinasi
 
Dongeng adalah alat dengan mana anak dan orangtua berimajinasi bersama. Yang menarik, apa yang diimajinasikan orangtua, ditularkankan kepada anak melalui gambaran yang diceritakannya secara verbal.
Jika imajinasi yang digambarkan oleh anak adalah imajinasi yang baik dan membangun, kita dapat turut mengapresiasinya. Tetapi jika imajinasi itu tidak baik dan merugikan mental serta moralnya, kita dapat mengarahkan.
Memang melalui teknologi audiovisual, anak-anak dapat juga berimajinasi namun kekuatan dari mendongeng tentu tidak dapat digantikan, sebab melalui audiovisual anak-anak lebih dimanjakan secara visual. Seperti seorang anak yang disuapi, ia langsung melihat secara nyata wujud dari imajinasi yang seharusnya dapat dikembangkan oleh daya khayalnya. Karena tontonan yang mereka lihat bergerak dengan sangat cepat, maka tertinggallah kesempatan bagi anak untuk berhenti sejenak dan memainkan daya khayalnya sendiri atas apa yang didengarnya.
Sebaiknya dengan dongeng, anak dapat membayangkan apa yang tidak digambarkan oleh kita sebagai pencerita. Lalu mereka dapat menambahkan khayalan mereka, bahkan sambil tertawa atau mengekspresikan perasaan mereka. Melalui hal itu, kita juga dapat merasakan emosi yang mereka rasakan, atau sebaliknya.
Betapa menyenangkannya dapat berbagi perasaan dengan anak. Sebuah pengalaman yang sulit ditemukan jika kita terlarut dalam kesibukkan kita dan memiliki waktu yang sangat terbatas bersama anak.
Dengan audiovisual, entah melalui TV, Internet atau permainan-permainan anak lainnya, sesungguhnya anak hanya menerima hasil khayal orang lain saja. Selain ia tidak sempat berkhayal dengan daya khayalnya, ia juga tidak diberi kesempatan untuk memberi komentar atas apa yang dilihatnya.
Tentu anak tidak dapat mem-pause tayangan yang dilihatnya, saat ada pertanyaan atau kejanggalan yang hendak ia komentari. Padahal mengembangkan imajinasi sangat penting bagi tumbuh kembang otak dan kecerdasan anak sejak mereka kanak-kanak, jauh lebih berharga daripada menonton imajinasi orang lain secara cepat.
Lebih jauh lagi, saat mendongeng adalah saat di mana anak dilatih untuk berimajinasi atas hidupnya. Anak-anak yang berlatih untuk berkhayal sejak kecil, akan lebih mudah untuk diajak memikirkan visi ke depan, baik dalam pekerjaan, pelayanan maupun hidup mereka. Sebaliknya, anak-anak yang tidak pernah berlatih untuk berkhayal, akan dengan mudah menjawab, “Tidak tahu!” saat seseorang menanyakan pendapat atau ide-ide kepada mereka.
Pertanyaannya, apakah dongeng adalah satu-satunya cara merangsang imajinasi anak? Tentu saja tidak.
Tetapi Kenedi Nurhan mengatakan: “Anak Indonesia butuh dongeng,” karena, dalam tulisannya, menurut Riris K Sarumpaet (FS UI), “Untuk anak, dongeng menawarkan kesempatan menginterpretasikan dengan mengenali kehidupan di luar pengalaman langsung mereka. Melalui dongeng, anak juga diperkenalkan pola dan motivasi tingkah laku manusia, sehingga mereka dipersiapkan menghadapi dunia yang lebih luas dan besar.”
Sayangnya, ada orangtua yang juga suka menceritakan mengenai dongeng tentang hantu, sehingga ada anak-anak yang begitu kuatnya mengembangkan imajinasi mereka dan akhirnya ketakutan karena cerita itu.
Misalnya saja Kaka, seorang anak berusia 7 tahun. Ia diceritai tentang kisah pernikahan antara Raja Iblis dengan seorang perempuan cantik. Sejak itu, ia sering ketakutan. Berulang kali dia berdoa dan tidak dapat tidur. Tentu bukan imajinasi seperti itu yang diharapkan saat kita mendongeng ke anak-anak kita. Tetapi imajinasi yang memuliakan Tuhan, membangun dan menumbuhkan daya cinta dan cipta.
 
2.
Dongeng Sebagai Sarana Edukasi
 
Dr. Murti Bunanta SS MA, selaku ketua Kelompok Pecinta Bacaan Anak, dalam tulisan Yurnaldi tentang, “Dongeng Rangsang Gemar Membaca dan Intelegensia” mengatakan bahwa dongeng menanamkan nilai-nilai dan etika, bahkan empati dan rasa kesetiakawanan pada sesama.
Metode dongeng yang tampak sangat tidak menggurui, justru dapat dan telah mengajar para orangtua dan anaknya untuk memegang nilai-nilai berharga dan positif dalam hidupnya secara alami dan rela hati tanpa paksaan.
Seorang anak sangat tidak suka mandi. Ia bahkan dapat menunda mandi sampai lewat siang hari bolong. Tanpa dipaksa, suatu kali ia benar-benar dengan senang hati masuk ke kamar mandi dan mandi di pagi hari. Mengapa? Rupanya ibunya bercerita tentang seorang anak bebek yang malas mandi. Katanya, “Dingin, Mama!” tapi suatu kali saat kekeringan tiba, beberapa hari air semakin kering. Saat anak bebek ingin mandi karena banyak tanah yang mengotori tubuhnya dan ia mulai gatal-gatal, Mama bebek berkata, “Maaf Dino, air sungai habis, Kamu tidak dapat mandi lagi!”
Rupanya untuk menegur dan meminta seorang anak untuk melakukan sesuatu yang baik, baik juga kita gunakan secara bercerita atau mendongeng. Sebab melalui cerita yang mereka dengar, anak-anak dapat menangkap alasan berharga di balik sebuah aturan.
Bukan itu saja, menurut Cici Kaloh, seorang psikolog anak melalui tulisan Retno Bintarti dalam “Kembangkan Daya Berpikir Anak dengan Dongeng Menarik,” rupanya inteligensi anak yang kurang didongengi ternyata lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang lebih banyak didongengi oleh orangtua mereka. Sebab semakin banyak ransangan yang diterima seorang anak, semakin banyak analisis yang bisa mereka lakukan.
 
3.
Dongeng Sebagai Sarana Relasi
 
Menurut Gary Ezzo, setiap manusia memiliki jendela hati.
Mendongeng adalah salah satu cara membuka jendela hati anak-anak kita. Menyedihkannya, saat anak-anak menonton TV, relasi mereka lebih “intim” dengan TV dan tayangan kesayangan mereka dari pada kepada orangtua. Padahal TV tidak dapat memenuhi kebutuhan intimacy anak.
Anak-anak dapat merasa sayang pada TV, mainan (games) atau videonya, tetapi mereka tidak dapat mengalami kelekatan seperti kedekatan yang dapat kita berikan kepada anak. Tentu saja seorang yang mendongeng kepada anaknya, tidak duduk di atas kursi sementara anaknya duduk bermain bola di lantai. Diperlukan suasana yang hangat di mana anak-anak semakin dekat secara fisik dengan pendongeng, barulah dongeng diberitakan.
Kehangatan sentuhan, senyum, dan emosi yang menyatu itu tidak akan diperoleh anak melalui nonton TV atau saat memainkan game kesayangannya.
Menurut A. Ariobimo Nusantara, berdasarkan hasil penelitian, orangtua yang suka mendongeng menjelang anak tidur, cenderung lebih akrab dengan anak-anaknya dibandingkan dengan yang tidak melakukan hal ini. Sebab, melalui mendongeng, orangtua dapat mendengar umpan balik yang dialami anak sehingga mereka dapat menangkap ketajaman intuisinya, kedalaman jiwanya dan kepekaannya terhadap sikap sosialnya.
Sebaliknya, orangtua juga dapat memberikan apresiasi yang alami dalam keadaan yang sangat santai dan menyenangkan. Disitulah lima bahasa cinta menyatu, mulai dari kelekatan fisik yang dibutuhkan anak, pelayanan cinta melalui cerita yang dibagikan, apresiasi yang tulus dari orangtua kepada anak, waktu yang berkualitas dengan merasakan perasaan yang sama disaat yang sama, bahkan orangtua sedang memberikan dirinya sebagai hadiah buat anak disaat terbaiknya.
Dr. Seto Mulyadi dalam tulisan Surya Makmur Nasution, “Mendongeng Tak Bisa Diwakili Teknologi,” menekankan bahwa dalam menyampaikan isi cerita, televisi bisa saja menarik perhatian si anak... tapi dalam hal-hal lain, ada yang hilang dan tidak dapat digantikan, yaitu kesempatan berkomunikasi secara langsung dan kesempatan berdialog.
Mari kita tes anak-anak kita, apakah mereka yang keranjingan nonton TV atau bermain melalui media elektronik, dapat lancar berkomunikasi dan berdialog dengan kita? Apakah mereka dapat menceritakan ide dan perasaan mereka dengan hidup kepada kita? Atau mereka menjadi lebih rasional dan kaku dalam dalam sikap dialog mereka?
Tentu kita berharap, anak-anak kita bukan hanya cerdas dalam intelektual, bukan? Kita berharap anak-anak kita memiliki keintiman dengan keluarga terdekat mereka, sahabat-sahabat mereka, termasuk dengan Tuhan.
 
Bagaimana dengan Cerita Alkitab
 
Sesungguhnya saat dunia menawarkan dongeng sebagai sarana yang berharga untuk menumbuhkembangkan kedewasaan, mental dan intelegensi anak-anak kita, kekristenan telah menawarkan hal yang tidak pernah lekang dan sangat berguna bagi proses pendidikan anak kita yaitu melalui cerita Alkitab. Itu sebabnya orang Yahudi diperintahkan untuk menceritakan berulang-ulang tentang kebaikkan Allah di masa lalu dalam sejarah hidup bangsa mereka (Ulangan 6). Sebab sebagai umat Allah mereka sadar, nilai-nilai Ilahi dapat dibagikan kepada anak, dengan cara seperti itu.
Pada zaman ini, cerita Alkitab merupakan kisah yang tidak akan pernah lekang selama berabad-abad yang lalu maupun berabad-abad ke depan, baik dari segi isi maupun nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya.
Menyedihkan sekali jika mendengar ada guru Sekolah Minggu atau orangtua yang kehabisan cerita dan tidak dapat menceritakan cerita Alkitab. Hanya karena mereka kekurangan ide, maka cerita Alkitab yang menakjubkan itu digantikan dengan dongeng. “Habis cerita Alkitab kurang seru!” kata seorang ibu muda.
Pertanyaannya, apakah isi Alkitab yang tidak menarik, atau kita yang belum menemukan hal-hal menarik dari kisah-kisah yang dicatat Alkitab? Sebab saat kita dapat melihat hal-hal berharga dan menakjubkan melalui setiap cerita Alkitab, kita akan segera mengatakan bahwa cerita Alkitab jauh lebih penting dan berharga dari pada hanya mendongeng setiap malam.
Tidak heran, orangtua-orangtua tertentu yang saya jumpai tidak menggunakan buku dongeng menjelang tidur anak mereka, tetapi menggunakan waktu yang sangat berharga itu dengan membacakan Alkitab atau Alkitab Anak atau Saat Teduh Anak (termasuk STAR-Saat Teduh Anak Raja yang dibagikan secara Cuma-Cuma di gereja GKI). Sebab dengan menceritakan isi Alkitab kepada anak, kita sebenarnya juga dapat mengajak anak untuk mengembangkan imajinasinya, kita juga dapat mendidik anak akan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan sejak dini, bahkan membina relasi dengan anak dengan membuat waktu kebersamaan kita menjadi berkualitas.
Contohnya saja, saat kita bercerita tentang Zakeus. Kita dapat mengajak anak berimajinasi : bagaimana cara dia naik ke atas pohon untuk melihat Yesus? Apa yang digunakannya? Dan apa perasaan Zakeus saat ia tidak dapat melihat Yesus? Termasuk, bagaimana pendapat para tetangga yang melihat seorang pemungut cukai naik ke atas pohon? Atau melalui cerita lainnya, kita dapat mengeksplor perasaan anak, seperti: bagaimana rasanya menjadi seorang yang dikucilkan seperti 10 orang kusta di pinggir kota? Atau kerugian seperti apa yang timbul akibat air bah pada zaman Nuh? Bahkan apa yang kira-kira dipikirkan anak-anak orang Israel saat ayah-ayah mereka membalurkan darah domba pada malam sebelum mereka pergi dari perbudakan di Mesir?
Tentu saja, tidak menutup kemungkinan anak-anak bertanya secara kritis kepada kita mengenai kebenaran isi Alkitab tersebut. Dan dengan demikian, berhasillah kita menggunakan waktu bercerita sebagai waktu di mana kita mengedukasi atau menyirami iman anak-anak kita.
Lebih jauh lagi, relasi orangtua yang mencintai Tuhan dapat tertular kepada anak saat ia menyatakan imannya terhadap kasih yang diceritakannya itu. Apalagi, SAYA PERCAYA bahwa saat cerita Alkitab diberitakan kepada anak, di satu sisi ada kuasa Allah yang berkerja mengubah hati, pikiran, dan sikap anak. Seperti batu yang ditetesi oleh air, anak-anak yang memilih sikap hati yang tertutup pada Injil akan luluh melalui Firman yang diberitakan dan kuasa Roh Kudus yang bekerja.
Tetapi juga di lain sisi, saat kita menceritakan isi Alkitab dan kebenarannya, sangat besar kemungkinan Roh Kudus juga mengubah kita untuk tinggal di dalam kebenaran itu dan menerapkannya.
Itu berarti cerita Alkitab juga akan selamanya dapat menjadi Sarana Pertumbuhan Iman bagi Anak dan Orangtua. Sebab, melalui cerita Alkitab, anak-anak kita bukan hanya diajak berkhayal, belajar dan berelasi dengan kita. Melainkan lebih dari itu, anak-anak belajar sebuah kebenaran yang merasuk sampai ke pikiran dan perasaan mereka.
Betapa menakjubkannya mengetahui bahwa apa yang mereka bayangkan sudah terjadi dan akan terjadi. Betapa menakjubkannya, menyaksikkan iman anak-anak kita bertumbuh. Dan betapa menakjubkannya melihat mereka memiliki karunia untuk membedakan manakah dongeng dan mana kebenaran isi Alkitab yang mereka pegang dan percayai. Sehingga betapa ruginya kita, jika kita melewatkan kesempatan emas ini.
Mari Saudara, kesempatan kita sangat terbatas, berlombalah dengan values (nilai-nilai) dari dunia ini. Mari kita melakukannya mulai malam ini!
Selamat Paskah 2012.
[ Setya Asih Pratiwi ]