Kapital & Pengakuan Harkat Diri:
Suatu Akhir Dari Sejarah?
_oOo_
 
 
Pengantar.
 
Apapun yang sedang kita saksikan pada awal abad ke-21 ini, baik secara langsung dengan mata kepala kita sendiri maupun melalui berbagai media yang ada, menyatakan bahwa manusia berusaha mengejar dua hal ini: materi dan pengakuan diri. Tanpa kedua hal itu hidup manusia tetap dipandang tidak lengkap dan dengan memiliki keduanya manusia seolah-olah sudah tidak membutuhkan apa-apa lagi. Saat keduanya telah ada di dalam genggaman tangan, segala suatunya selesai sudah. Materi dan pengakuan diri telah menjadi bagaikan suatu akhir dari hidup manusia; “akhir” dalam arti bahwa setelah mendapatkan keduanya manusia tidak menantikan sesuatu yang baru lagi. Artikel ini mengajak kita memikirkan bagaimana Kekristenan seharusnya menempatkan diri dalam environment dunia saat ini.
 
Hegel: Ide dan Sejarah.
 
Sumbangsih terbesar GWF Hegel (1770-1831) bagi sejarah adalah gagasannya mengenai dialektika bahwa pertentangan yang dinamis antara dua ide akan membawa ide tersebut kepada tingkatan yang lebih tinggi lagi bahkan akan menghasilkan ide yang baru; pertentangan suatu tesis dengan tesis lainnya, yaitu antitesis, akan menghasilkan suatu tesis baru, yaitu sintesis, demikian seterusnya. Metode dialektika Hegel ini memperoleh sukses justru karena diterapkan di dalam sejarah.
Menurut Hegel, ide mewujudkan diri dan hadir dalam bentuk pemerintahan masyarakat manusia dan bentuk pemerintahan masyarakat manusia menemukan wujud tertingginya dalam bentuk negara. Negara, dalam hal ini, dipandang sebagai kehadiran Roh di dalam dunia. Dengan demikian setiap ide yang terejawantah di dalam proses sejarah sesungguhnya bukan merupakan ide baru, melainkan merupakan penyataan Roh akan dirinya setelah sebelumnya melawati berbagai proses dinamis, yaitu pertentangan dengan ide-ide lainnya. Demikian dikatakan Delfgaauw mengenai pandangan Hegel tersebut:
 
 
Negara merupakan perujudan tertinggi idea kesusilaan. Karena idea merupakan idea ilahi, maka negara merupakan “Tuhan yang hadir di dunia;” sedangkan sejarah negara-negara merupakan “perjalanan Tuhan di dunia.” Sebagai Tuhan yang mengejawantah, maka negara adalah sesuatu yang mutlak akali dan hukum-hukum negara adalah mengungkapkan akal budi manusia... (Bernard Delfgaauw, “Sejarah Ringkas Filsafat Barat,” judul asli Beknopte Geschiedenis der Wijsbegeerte, penerjemah Soejono Soemargono, Cetakan I, Tiara Wacana Jogja, 1992, h. 144).
 
 
Hegel berkeyakinan bahwa pada waktu itu, awal abad ke-19, Roh sudah hadir dan mengejawantah di dunia dalam berbagai bidang. Dalam bidang politik kehadiran Roh di dunia telah nyata dalam negara Prusia sesudah revolusi Perancis. Dalam bidang agama hal itu nyata dalam gerakan reformasi agama.

Kristen Protestan. Dalam bidang filsafat hal itu nyata dalam filsafatnya sendiri yang sanggup menjelaskan betapa Roh telah terejawantah di dalam arti sepenuhnya. Hegel dihadapkan pada suatu pertanyaan sehubungan dengan gagasan dialektika idenya: Apakah segala suatu yang ia saksikan itu mengisyaratkan bahwa sejarah manusia sudah berakhir? Jawabannya bersifat dialektis: “ya” dan “tidak.” Maksudnya?
 
  1. Sejarah manusia berakhir: tidak dalam arti bahwa tidak ada lagi hari depan untuk manusia. Besok juga tentu ada peristiwa-peristiwa yang akan terus berlangsung.
     
  2. Sejarah manusia berakhir: harus dipahami dalam arti bahwa ia sudah mencapai penghabisannya, dalam arti tidak akan terjadi lagi sesuatu yang sungguh-sungguh baru.
 
Segala kemungkinan telah dialami Roh dalam perjalanannya menuju kesadaran diri. Mulai kini sejarah hanya dapat mengulangi saja bentuk atau stadium lama.

Prof. Dr. R.Z, Leirissa, Guru Besar Ilmu Sejarah dan Ketua Program Pasca-Sarjana Universitas Indonesia, dalam pengantar buku “Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal” yang diterjemahkan dari buku The End of History and the Last Man yang ditulis oleh Francis Fukuyama mengatakan tiga keistimewaan pemikiran Hegel berikut ini:
 
  1. Hegel berpendapat bahwa sejarah adalah suatu proses yang rasional dan oleh sebab itu universal. Ini berarti bahwa makna sejarah yang dikemukakannya itu tidak saja menyangkut bangsa-bangsa tertentu atau lapisan-lapisan sosial tertentu, tetapi menyangkut setiap orang yang ada, pernah ada dan yang akan ada. Tidak ada pengecualian. Itu sebab filsafat sejarahnya disebut “Sejarah Universal.”
     
  2. Hegel berpandangan bahwa proses sejarah umat manusia secara keseluruhan itu menuju tujuan tertentu atau “terarah.”
     
  3. Hegel berpendapat bahwa proses ke arah tujuan tertentu itu berlangsung secara dialektis. Proses dialektika itu memungkinkan hal-hal yang tidak rasional dari masa-masa tertentu dikoreksi atau dilenyapkan ketika menuju tahapan yang lebih baik.
 
Kojeve tentang akhir sejarah.
 
Tampilnya kapitalisme, sebagai sistem ekonomi yang paling efisien, dan demokrasi, sebagai sistem pemerintahan masyarakat manusia yang mengakomodasi kebebasan individu, sebagai pemenang dalam abad ke-20 oleh Alexander Kojeve, seorang filsul-penafsir terbesar filsafat Hegel abad itu, dipahami sebagai isyarat bahwa pada paruh abad tersebut apa yang Hegel maksudkan dengan sejarah sudah berakhir adalah benar. Itu sebab ia menyatakan bahwa filsuf macam dirinya tidak lagi mempunyai pekerjaan yang berguna dan oleh karena itu ia kemudian menggeser studi filsafatnya hanya ke setiap akhir minggu dan menerjunkan diri menjadi birokrat penuh waktu pada suatu komisi di dalam Masyarakat Ekonomi Eropa hingga kemudian ia wafat pada tahun 1968.
 
Fukuyama dan The End of History.
 
Tindakan Kojeve tersebut mendorong Francis Fukuyama, Guru Besar Bidang Kebijakan Publik pada School of Public Policy, Universitas George Mason, untuk menulis artikel berjudul The End of History dalam jurnal The National Interest pada tahun 1989. Dalam artikelnya tersebut Fukuyama mengemukakan bahwa apa yang Hegel maksudkan dengan sejarah sudah selesai adalah benar. Bagi Fukuyama, dalam perspektif Hegel, akhir dari sejarah harus dipahami sebagai sesuatu yang bukan sekadar berakhirnya segala peristiwa-peristiwa besar dan penting, melainkan berakhirnya Sejarah yang dipahami sebagai sebuah proses tunggal, koheren, evolusioner, dengan memperhitungkan pengalaman seluruh umat manusia (masyarakat manusia) di setiap zaman.
 
 
...saya berpendapat bahwa demokrasi liberal mungkin merupakan “titik akhir evolusi ideologis umat manusia,” dan “bentuk akhir pemerintahan manusia,” sehingga ia bisa disebut sebagai “akhir sejarah.” (Francis Fukuyama, “Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal,” judul asli The End of History and the Last Man, Penguin Book, 1992, penerjemah Mohammad Husein Amrullah, h. 144).

/......this movement constitutes an “end of history,” in the Marxist-Hegelian sense of History as a broad evolution of human societies advancing toward a final goal. As modern technology unfolds, it shapes national economies in a coherent fashion, interlocking them in a vast global economy. The increasing complexity and information intensity of modern life at the same time renders centralized economic planning extremely difficult. The enormous prosperity created by technology-driven capitalism, in turn, serves as an incubator for a liberal regime of universal and equal rights, in which the struggle for recognition of human dignity culminates./
......pergerakan ini mengarah pada suatu “akhir dari sejarah,” dalam pengertian Marxis-Hegelianis akan Sejarah sebagai suatu evolusi yang luas akan masyarakat manusia yang memaju menuju suatu tujuan akhir. Sebagaimana teknologi modern ungkap, ia membentuk ekonomi nasional di dalam suatu cara yang koheren, mengunci mereka satu sama lain dalam suatu ekonomi global yang sangat luas. Kerumitan yang meningkat dan intensitas informasi dari kehidupan modern pada waktu yang sama menjadikan perencanaan terpusat atas ekonomi sangat sulit. Kemakmuran tak terhingga yang diciptakan oleh kapitalisme yang digerakkan teknologi, sebaliknya, menjalankan perannya sebagai pengembangbiak rezim liberal dari nilai-nilai universal dan kesetaraan hak asasi, yang di dalamnya perjuangan untuk mencapai pengakuan akan harkat manusia berpuncak. (Francis Fukuyama, “The Social Virtues and the Creation of Prosperity,” New York: Free Press Paperbacks, 1995, p. 3).
 
 
Menurut Fukuyama, Hegel maupun Marx yakin bahwa evolusi masyarakat manusia tidak akan berakhir terbuka (open-ended), tetapi akan berakhir apabila manusia telah mencapai suatu bentuk masyarakat yang memenuhi dambaannya (longing) yang terdalam. Akhir sejarah, bagi Hegel adalah masyarakat liberal sedangkan bagi Marx adalah masyarakat komunis. Fukuyama menyimpulkan bahwa menangnya kapitalisme dan demokrasi merupakan titik temu dari dua rangkaian yang berkaitan namun berbeda:
 
  1. Kapitalisme (capitalism) sebagai sistem ekonomi yang dipandang paling efisien dan sangat menghargai peranan individu dalam ekonomi, telah menumbangkan komunisme (communism) sebagai sistem ekonomi yang menempatkan kepentingan publik ketimbang individu.
     
  2. Demokrasi (democracy) sebagai hasil proses alamiah perjuangan manusia untuk memperoleh pengakuan (recognition) akan martabat dan kebebasan individu, telah menumbangkan sistem monarkhi (monarchy) sebagai sistem pemerintahan manusia yang hanya mengakui martabat dan memberi kebebasan sekelompok orang yang bekuasa saja.
 
“Manusia terakhir” adalah manusia yang mendambakan untuk memperoleh pengakuan berdasar penilaian diri (self-esteem) dan yang pada akhirnya menemukan apa yang ia dambakan itu di dalam kedua sistem tersebut. Berdasarkan pemikiran Hegel, menurut Fukuryama, kecenderungan untuk merasakan penghargaan diri itu muncul dari bagian jiwa manusia yang disebut thymos. Ia seperti rasa keadilan yang merupakan sifat bawaan manusia. Itu sebab masyarakat yang yang sekalipun statusnya rendah apabila terancam oleh masyarakat yang statusnya lebih tinggi akan merasa marah.
Masyarakat yang ingin menjalani martabat mereka apabila gagal menjalani kehidupan ini sesuai dengan martabat mereka sendiri akan merasa malu. Masyarakat yang menjalani kehidupan sesuai dengan martabat mereka apabila mereka dinilai dengan benar akan merasa bangga. Hasrat untuk memperoleh pengakuan yang disertai dengan rasa marah, malu dan bangga merupakan bagian dari kepribadian manusia yang bersifat kritis terhadap kehidupan politik. Menurut Hegel ketiga hal itulah yang sesungguhnya mengendalikan proses sejarah.
 
Kapitalisme memenuhi kebutuhan manusia akan barang (goods) sedangkan demokrasi memenuhi kebutuhan manusia yang terdalam akan pengakuan martabatnya selaku individu.
Pertemuan kapitalisme dengan demokrasi akan menghasilkan mekanisme paling optimal dan saling menguntungkan dalam hubungan antar manusia. Kapitalisme dan demokrasi merupakan hasil dari masyarakat modern mengorganisasikan dirinya sedemikian rupa. Keduanya memenuhi apa yang didambakan oleh thymos. Oleh karena itu ide yang dimaksud oleh Hegel itu telah mencapai akumulasinya yang tertinggi dan dengan demikian kita, manusia terakhir, telah tiba pada akhir sejarah.
 
Kapitalisme dan demokrasi sebagai akhir sejarah.
 
Dengan tampilnya kapitalisme dan demokrasi sebagai pemenang, perjalanan panjang sejarah manusia yang berkeliling (detour) untuk mengorganisasikan dirinya telah berakhir. Manusia telah menemukan jalan untuk memenuhi kebutuhannya akan materi dan pengakuan individu. Penantian panjang manusia telah selesai dan manusia tidak perlu menantikan datangnya sesuatu yang lebih baru lagi. Inilah titik akhir evolusi pemikiran manusia. The end of history berarti perjalanan manusia paling baik hanya on the way.
 
Alkitab tentang kapitalisme-demokrasi dan panggilan orang Kristen.
 
Jauh sebelum Hegel memunculkan gagasannya tentang “ide” dan Fukuyama menuliskan tesisnya tentang kapitalisme dan demokrasi itu Pengkhotbah berkata: “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” (Pengkhotbah 1:9). Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa perjalanan manusia di dalam dunia yang berdosa memang hanya berputar-putar dan tidak ada terobosan kecuali apabila Kristus datang ke dalam dunia. Alkitab memperingatkan kita bahwa kapitalisme dan demokrasi yang saat ini telah diakui sebagai sistem ekonomi dan sistem pemerintahan masyarakat manusia yang tiada bandingnya itu harus disadari hanya sebagai suatu proses dalam perjalanan panjang sejarah menuju akhir yang sesungguhnya.

Sekalipun kapitalisme tidak menyelesaikan persoalan kesenjangan ekonomi dan ide kebebasan tetap menyisakan adanya anarkisme, setiap kita tentu tidak mau lagi kembali kepada ekonomi komunisme dan pemerintahan monarkisme. Kita tidak hidup berdasarkan thymos, bagian jiwa manusia selain dari hasrat dan akal. Hal itu merupakan teori trikotomi tentang manusia yang Hegel turunkan dari Plato. Oleh karena itu Kekristenan tidak dipanggil untuk mengubah arah sejarah melainkan dengan menempatkan kapital dan keadilan pada tempatnya, sehingga kapital dan kebebasan tidak menjadi ilah yang baru.
 
Penutup.
 
Dalam environment dunia, di mana sekarang ini kapitalisme global dan semangat kebebasan universal bertahta, setiap kita diingatkan bahwa di dalam Kristus selalu tetap ada ruang bagi kita, entah itu besar atau kecil, untuk berbagian dalam berkarya menyatakan kuasa penebusan-Nya. Kita dipanggil untuk mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran, tetapi tidak boleh dengan segala cara apalagi dengan kerakusan yang tidak terbatasi bahkan hingga mengorbankan orang lain. Kita harus bersyukur atas kebebasan dan hak-hak asasi yang kita miliki tetapi tidak boleh anarkis hingga akhirnya merugikan orang lain.
Bagi saya Persekutuan Studi Reformed telah menjadi suatu tempat berteduh di mana di dalamnya saya dapat menikmati damai sejahtera serta kebebasan sebagai orang Kristen. Di situ kita dapat merenungkan apa yang boleh kita kerjakan bagi Tuhan baik secara pribadi maupun secara kolektif. Mari gunakan waktu yang masih Tuhan anugerahkan.
[ Jessy Victor ]