Hukum Pembalasan
_oOo_
 
Tetapi Aku berkata kepadamu: “Janganlah kamu melawan orang
yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar
pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu”.
[ Matius 5:39 ]
 
 
Pengantar.
 
Jika kita simak perkataan Yesus di atas, ini merupakan perkataan yang keras, tidak lazim, serta sulit dimengerti oleh mereka yang pada waktu itu sedang berada di bawah hukum Romawi. Sama halnya jika perkataan itu dilontarkan dalam konteks zaman kita sekarang, kita akan tetap sulit untuk mengertinya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menafsirkan perkataan tersebut dengan tepat. Pertanyaannya sekarang, apakah perkataan tersebut seharusnya ditafsirkan secara literal (hurufiah)? Jika kita menafsirkan secara literal, bukankah lazim adanya ketika orang lain melakukan tindakan negatif kepada kita, misalnya menampar kita, tentu dengan refleks kita akan membalasnya? Jika bukan ditafsirkan secara literal, lalu bagaimana seharusnya kita menafsirkannya?
 
Sistem Hukum Pembalasan di Perjanjian Lama.
 
Sebelum adanya sistem hukum mengenai keadilan khususnya mengenai konsep pembalasan di Israel, ada satu sistem yang berlaku di sana, yaitu apabila ditemukan seorang anggota suku A membunuh anggota suku B, maka suku B wajib membalasnya. Sistem hukum seperti ini akan selalu memunculkan peperangan dan pertumpahan darah yang tak pernah usai, serta menimbulkan penderitaan yang justru jauh melebihi pembunuhan itu sendiri. Di dalam Perjanjian Lama, hukum balas dendam bukanlah hukum yang dapat dilakukan oleh setiap orang. Namun, jika ada yang menghendakinya, mereka akan menuntut pembalasan itu secara hukum. Di Israel, sebagaimana tercatat di Keluaran 21:24 berlaku hukum mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki. Ini merupakan satu terobosan yang besar dengan terbentuknya prinsip pembalasan yang bersifat adil di mana satu mata harus di ganti satu mata, satu nyawa harus diganti satu nyawa, demikian seterusnya. Selain itu, hukum pembalasan ini bukanlah hukum yang dapat dilakukan oleh semua orang tanpa terkecuali. Pelaksanaan hukum ini hanya boleh dilakukan oleh pejabat yang berwenang, dalam hal ini adalah hakim. Hukum ini merupakan petunjuk yang dipergunakan oleh para hakim-hakim Israel untuk memutuskan hukuman kepada seseorang sesuai dengan tingkat kesalahannya. Dengan demikian, maksud dari hukum ini sebenarnya adalah demi tercapainya prinsip keadilan.
 
Penerobosan terhadap Hukum Pembalasan.
 
Hukum pembalasan yang berlaku di Israel ini kemudian diterobos oleh Tuhan Yesus dengan menetapkan hukum yang sama sekali berbeda. Dikatakan, “Jangan kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu.” Salah seorang komentator Perjanjian Baru, Matthew Henry, menafsirkan perkataan ini dengan menyatakan bahwa kita tidak boleh memiliki sikap hati ataupun niat untuk membalas dendam terhadap orang lain yang melakukan kesalahan dan kejahatan kepada kita, tetapi kita diminta untuk mengampuninya. Kita tidak lagi bersikeras untuk menuntut hukuman melebihi apa yang baik bagi kepentingan umum. Hal ini bukan berarti kita sedang mengabaikan prinsip melindungi diri sendiri (self protection), menghindari diri dari kejahatan atau melawan sejauh memang di perlukan demi keamanan diri. Yang dimaksud di sini adalah kita tidak diperkenankan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, menyimpan suatu dendam tertentu dan berniat untuk membalasnya di kemudian hari. Namun, kita dituntut lebih dengan mengampuni mereka yang bersalah kepada kita, sebagaimana yang sudan diperintahkan Tuhan di dalam doa Bapa Kami. “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat. 6:12).

Walau terkadang kita harus mengalami kerugian atau mungkin penderitaan yang diakibatkan oleh kejahatan orang lain, maka kita harus sadar bahwa tindakan menuntut balas dendam sesungguhnya bukanlah menjadi hak kita. Penghukuman harus menjadi hak dan wewenang Tuhan sendiri. Dan Tuhan menyatakan keadilan-Nya itu melalui tangan pemerintah yang berhak menyandang pedang, sebagaimana dinyatakan dalam Roma 13:4, “Karena pemerintah adalah Hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Dengan demikian, alasan oleh karena orang lain sudah memulai terlebih dahulu melakukan kejahatan kepada kita, sama sekali tidak boleh dijadikan justifikasi untuk membalas kejahatan mereka, oleh karena tindakan itu justru akan menambah persoalan yang ada.

Pada waktu kita mengalami penderitaan akibat kejahatan orang lain, yang pertama kita pikirkan seharusnya bukan mencari cara untuk membalasnya. Namun, justru di saat itulah kita boleh memiliki kesempatan untuk menunjukkan identitas kita sebagai orang Kristen yang sungguh-sungguh meneladani Tuhan Yesus di dalam hal kasih dan pengampunan. Tetapi apabila kita tetap membalas kejahatannya, lalu apa bedanya kita dengan orang yang tidak percaya?

Tindakan orang lain yang menampar pipi kita tentu merupakan tindakan yang menyakiti kita dan bahkan menghina kita. Namun, perkataan Tuhan Yesus justru sungguh mengejutkan. Ia berkata, “Siapapun yang menampar pipi kananmu berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Artinya, bersiaplah untuk menerima kejahatan berikutnya dengan sikap hati penuh kesabaran untuk menanggungnya. Kita sama sekali tidak dibenarkan untuk membalasnya.Apabila memang itu diperlukan demi ketenteraman umum, maka kita dapat saja melaporkan dan menyerahkan perkara tersebut ke pejabat yang berwenang agar dilakukan tindakan sesuai dengan norma hukum yang berlaku.

Di dalam The Reformation Study Bible, perkataan Yesus di atas senada dengan apa yang ditulis di dalam Yesaya 50:6, “Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku,dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.” Ayat ini menggambarkan tindakan agung yang didemonstrasikan oleh Tuhan Yesus pada saat Ia mengalami ketidakadilan yang luar biasa, Ia tidak membalasnya. Tuhan Yesus tahu bahwa penderitaannya merupakan bagian dari ketaatan-Nya kepada Allah Bapa. Inilah teladan yang diberikan oleh-Nya.
 
Penutup.
 
Tindakan menampar pipi sama sekali bukan satu tindakan yang berdampak serius bagi fisik mereka yang ditampar. Tindakan ini tak mungkin sampai mengakibatkan terjadinya luka parah, apalagi sampai menghilangkan nyawa seseorang. Oleh karenanya, kita diminta untuk mengampuni dan melupakannya. Walau tidak tertutup kemungkinan suatu saat kita juga mungkin akan mengalami hal-hal yang buruk atau bahkan dihina oleh orang lain, biarlah kita terus mempercayai Allah dan pemeliharaan-Nya untuk melindungi kita. Kita juga harus mengingat nasihat yang tercatum di Amsal 25:22, bahwa ada beberapa perlakuan buruk yang bisa diatasi melalui penyerahan diri, namun perlawanan hanya akan memperburuk keadaan. Kita harus mengingat, pengganti rasa sakit, rasa dihina, rasa malu yang kita terima dengan sabar oleh karena kejahatan yang dilakukan orang lain, ada di tangan Yesus yang akan membalasnya dengan kemuliaan yang kekal. Jika semua itu kita tanggung dengan sabar demi memelihara hati nurani kita dan hati yang ingin meniru teladan Yesus, menurut Matthew Henry, hal itu akan diperhitungkan sebagai penderitaan demi Kristus. Dan adalah sebuah anugerah jika kita boleh berbagian di dalam penderitaan demi Kristus.
[ Ranto Manoto ]