Paskah Dalam Kekristenan
_oOo_
 
Paskah merupakan perayaan terpenting dalam tahun liturgi gerejawi Kristen. Bagi umat Kristen, Paskah identik dengan Yesus Kristus, yang oleh Paulus disebut “Anak Domba Paskah.” Umat Kristen percaya bahwa Yesus disalibkan, mati, dikuburkan, dan pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati. Paskah merayakan hari kebangkitan itu.

Dalam Perjanjian Baru khususnya kitab Injil, dikisahkan bagaimana Yesus Kristus harus menjalani penderitaan yang teramat kejam. Ia mati disalibkan di bawah pemerintahan gubernur Yudea, Pontius Pilatus, sekitar tahun 30-33M. Namun, pada hari ketiga Ia bangkit kembali dari kematian. Kubur tempat Ia diletakkan terbuka lebar dan kosong. Kurang lebih 500 orang melihat-Nya hidup kembali dan beberapa orang dari mereka melihat-Nya terangkat naik ke langit hingga hilang tertutup awan.
 
Mayoritas umat Kristen menerima dan meyakini bahwa peristiwa kebangkitan Kristus yang tercatat di Perjanjian Baru merupakan peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi di dalam sejarah. Peristiwa kebangkitan Kristus sama sekali bukan legenda atau mitos yang dikarang oleh manusia. Itu sebab bagi umat Kristen, peristiwa kebangkitan Kristus menjadi titik pusat iman kepercayaan mereka. Walau demikian, kita mengakui bahwa ada segelintir orang Kristen berpandangan liberal yang tidak menerima peristiwa kebangkitan Kristus itu. Bagi mereka, peristiwa kebangkitan Kristus sama sekali tidak pernah ada atau terjadi di dalam sejarah.
 
Kita menolak pandangan liberal tersebut. Kitab suci dengan sangat jelas mencatat bahwa berita kebangkitan Kristus itu sesungguhnya sudah dinubuatkan di Perjanjian Lama jauh sebelum kedatangan-Nya ke dalam dunia. Mazmur 16:10 mencatat, "Sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan." Yesaya 53:10 mencatat, “Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.” Selain itu, di Perjanjian Baru khususnya di kitab Injil Matius dicatat bagaimana semasa hidup-Nya, Yesus telah memberitahukan paling sedikit 5 (lima) perihal kebangkitan-Nya (bdk. Mat. 12:40, Mat. 16:21, Mat. 17:9, Mat. 17:23, Mat. 26:32). Rasul Paulus kembali menegaskan berita ini di dalam surat 1 Korintus 15:3-4, “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.”
 
Ketika para pemuka agama Yahudi mengingat kembali bahwa Yesus pernah berkata sesudah tiga hari Ia akan bangkit, maka mereka berinisiatif meminta Pontius Pilatus, Gubernur Yudea, untuk memberi materai pada kubur Yesus dan menjaganya selama tiga hari, sesuai dengan apa yang dikatakan Yesus. Namun, setelah genap tiga hari, mayat Yesus tidak ada lagi di dalam kubur-Nya.Yesus sungguh-sungguh bangkit dari kematian.
 
Paskah merujuk pada masa di dalam kalender gereja yang disebut masa Paskah, yaitu masa yang dirayakan dulu selama empat puluh hari sejak Minggu Paskah (puncak dari Pekan Suci) hingga hari kenaikan Yesus. Namun, sekarang masa tersebut diperpanjang selama lima puluh hari ke depan, sampai dengan hari Pentakosta, hari ke-50 setelah Paskah di mana di sana terjadi peristiwa turunnya Roh Kudus. Paskah merupakan perayaan tertua di dalam gereja Kristen, penghubung antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Menurut tradisi Sinoptik, Paskah menunjuk pada Perjamuan Kudus yang didasari dari Perjamuan Malam, yaitu perjamuan perpisahan antara Yesus dan murid-murid Yesus. Pada malam sebelum Yesus dihukum mati, Yesus dan murid-murid-Nya mengadakan perjamuan malam. Di situ, Yesus memberikan makna baru bagi Paskah Yahudi. Roti dilambangkan sebagai tubuh Yesus dan anggur sebagai darah Yesus. Keduanya adalah perlambang dari diri Yesus sebagai korban Paskah. Rasul Yohanes dan Pauluslah yang mengaitkan kematian Yesus sebagai penggenapan paskah di Perjanjian Lama, di mana Yesus wafat pada saat domba-domba Paskah Yahudi dikorbankan di kenisah atau Bait Allah.
 
Karena Paskah selalu dirayakan oleh gereja-gereja Kristen dengan menyertakan sakramen perjamuan kudus, maka sakramen tersebut dapat pula disebut sebagai perjamuan Paskah Kristen atau perjamuan kudus Jumat Agung, yang berbeda dari perjamuan Paskah Yahudi. Banyak gereja Kristen saat ini mengadakan sakramen perjamuan kudus lebih dari sekali dalam setahun agar jemaat selalu diingatkan akan peristiwa Paskah. Orang Kristen Yahudi terus merayakan Paskah Yahudi, namun mereka tidak lagi mengorbankan domba Paskah karena Kristus dianggap sebagai korban Paskah yang sejati. Perayaan ini diawali dengan berpuasa hingga Jumat jam 3 sore dan ada yang melanjutkannya hingga pagi Paskah.
 
Gereja mula-mula memperingati peristiwa kebangkitan Yesus dengan perjamuan sederhana dan berdoa. Kemudian dalam perjalanan misinya, Paulus terus mengingatkan jemaat gereja mula-mula akan pentingnya peristiwa kebangkitan Yesus dan perkataan Yesus pada waktu Perjamuan Malam terakhir. Sumber paling awal yang menulis tentang Paskah adalah Melito dari Sardis. Ia menulis homili berjudul Peri Pascha (Tentang Paskah). Orang-orang Kristen pada zaman itu menapak tilas Jalan Salib (Via Dolorosa) yang dilalui oleh Tuhan Yesus. Kematian-Nya diperingati sebagai korban keselamatan dalam tradisi Yahudi. (bahasa Ibrani: Zerah Syelamin).
 
Perayaan Paskah.
 
Banyak gereja yang mulai merayakan Paskah semalam sebelumnya, yaitu dengan kebaktian malam Paskah. Di beberapa negara, Minggu Paskah dirayakan selama dua hari hingga Senin Paskah. Hari-hari dalam sepekan setelah Minggu Paskah disebut dengan Pekan Paskah. Biasanya masing-masing hari diberi akhiran kata Paskah, misalnya “Selasa Paskah,” “Rabu Paskah,” hingga Oktaf Paskah, yaitu hari Minggu setelah Minggu Paskah. 40 hari yang kemudian diperpanjang menjadi 50 hari atau 7 minggu setelah Paskah biasa disebut dengan masa Paskah yang diakhiri dengan hari Pentakosta (hari ke-50).

Pada kekristenan ritus Oriental (Timur), masa persiapan Paskah dikenal dengan nama masa puasa besar dan itu dimulai sejak “senin bersih” selama 40 hari (termasuk hari Minggu). Pekan terakhir dalam masa persiapan itu disebut dengan Pekan Palma yang berakhir dengan hari sabtu Lazarus. Sehari setelah itu adalah minggu Palma, pekan Suci, lalu minggu Paskah. Pada sabtu tengah malam menjelang minggu Paskah, perayaan Paskah resmi dimulai, yang terdiri dari Matins, jam-jam Paskah dan liturgi surgawi Paskah. Dengan demikian, liturgi tersebut dijamin merupakan liturgi pertama minggu Paskah, sesuai gelarnya yang disebut festum festorum, yang artinya perayaan dari semua perayaan. Pekan setelah minggu Paskah disebut dengan pekan Terang. Sedangkan masa setelah minggu Paskah hingga minggu Para Orang Kudus (hari minggu setelah Pentakosta) disebut sebagai Pentakostarion.
 
Di dalam gereja-gereja Kristen ritus Latin, perayaan dimulai pada hari Jumat Agung. Gereja-gereja biasanya menyelenggarakan kebaktian pada hari itu. Kebaktian biasa diliputi dengan perasaan duka karena memperingati sengsara penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib. Gereja-gereja Protestan melanjutkan kebaktian dengan sakramen Perjamuan Paskah untuk memperingati Perjamuan Malam Terakhir Yesus bersama murid-murid-Nya.
 
Di beberapa Gereja Anglikan dan Lutheran, pada hari sabtunya juga diselenggarakan kebaktian Malam Paskah. Dalam kebaktian ini sebuah lilin Paskah dinyalakan untuk melambangkan Kristus yang bangkit, Exultet atau proklamasi Paskah dinyanyikan, serta dibacakannya beberapa bagian Kitab Suci Perjanjian Lama yang menceritakan keluarnya bangsa Israel dari Mesir dan nubuatan tentang Mesias. Puncak dari kebaktian ini ditutup dengan menyanyikan pujian Gloria dan Alleluia, serta dibacakannya Injil tentang kisah kebangkitan Kristus. Kebaktian malam Paskah ini memiliki bermacam-macam variasi. Umat Protestan biasanya menggabungkan kebaktian malam Paskah dengan kebaktian Minggu pagi, yaitu mengikuti kisah di Injil yang menceritakan para wanita yang datang ke kubur Yesus pada pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu.
 
Terdapat beberapa gereja yang menyelenggarakan kebaktian subuh dan biasanya dilangsungkan di luar ruangan, seperti di halaman gereja atau taman di dekat gereja. Namun, banyak pula yang merayakannya setelah matahari terbit. Kebaktian Minggu untuk memperingati kebangkitan Yesus ini dirayakan dengan sikap penuh sukacita, termasuk lagu-lagu yang dinyanyikan pun bernuansa kemenangan. Di beberapa gereja-gereja yang cukup besar ada yang menggunakan instrumen-instrumen tiup, contohnya terompet, untuk melengkapi instrumen-instrumen yang biasa digunakan. Kebanyakan gereja juga mendekorasi ruang ibadah dengan hiasan-hiasan dan bunga-bungaan untuk menyemaraki kebaktian Paskah.
 
Tradisi Paskah Kristen.
 
Di antara simbol-simbol Paskah Kristiani yang populer, anak domba adalah yang paling penting dalam perayaan agung ini. Yesus Kristus dinyatakan sebagai anak Domba Paskah yang mati tersembelih, sebagaimana tertulis dalam 1 Korintus 5:7, “Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.”

Tradisi kuno anak domba Paskah juga mengilhami umat Kristiani untuk menyajikan daging anak domba sebagai hidangan populer pada masa Paskah. Hingga sekarang, daging anak domba disajikan sebagai menu utama Minggu Paskah di berbagai daerah di Eropa Timur. Namun, banyak juga bentuk-bentuk anak domba kecil yang terbuat dari mentega, roti atau pun gula-gula menggantikan sajian daging anak domba dan menjadi hidangan utama jamuan Paskah.
 
Karena telur tidak diperkenankan untuk dimakan selama masa pra-Paskah, maka pada hari Paskah telur kembali disantap bersama-sama. Telur tersebut pada mulanya diberi warna merah untuk melambangkan sukacita Paskah. Tradisi ini tidak hanya ditemukan di gereja-gereja Latin, tetapi juga di gereja-gereja Oriental. Pemberian makna simbolis yang mengaitkan telur dengan kelahiran baru diperkirakan diciptakan lama setelah tradisi ini ada. Tradisi ini diduga berasal dari atau dipengaruhi oleh paganisme. Pada beberapa negara, orang tua-orang tua baptis memberikan telur Paskah kepada anak-anak baptis mereka. Telur yang bewarna biasanya digunakan sebagai mainan anak-anak. Di Amerika Serikat terdapat permainan yang cukup populer yang dikenal dengan sebutan "egg-picking" (mengambil telur). Permainan yang lain misalnya "egg-rolling" (menggelindingkan telur) yang dilakukan anak-anak pada senin Paskah di halaman Gedung Putih,Washington DC.
 
Tradisi Paskah Sekuler.
 
Paskah saat ini telah menjadi salah satu hari raya yang penting secara ekonomi. Hal ini terlihat dari banyaknya penjualan kartu Paskah, telur Paskah yang terbuat dari cokelat, pernak-pernik Paskah, serta makanan-makanan bertemakan Paskah lainnya. Berawal dari Eropa dan Amerika Serikat, tradisi-tradisi Paskah sekuler mulai menyebar ke negara-negara lainnya di dunia, termasuk yang populasi Kristennya sedikit. Hotel-hotel dan pusat-pusat perbelanjaan banyak mengambil tema Paskah yang sama sekali terlepas dari unsur kekristenannya.

Di berbagai daerah di Jerman, kelinci-kelinci Paskah dalam bentuk kue-kue dan gula-gula mulai populer di Jerman Selatan. Sekarang kue-kue dan gula-gula tersebut amat disukai anak-anak di berbagai negara. Di negara-negara Skandinavia, seperti Norwegia, Finlandia, Swedia dan Denmark, banyak orang yang menjalankan tradisi lama dengan bermain ski pada hari Paskah. Selain itu, tradisi mendandani anak-anak kecil dengan kostum untuk meminta permen ke tetangga-tetangga mereka juga muncul. Umat Kristen di Yunani dan Rusia merayakan Paskah dengan olahraga-olahraga populer, disertai dengan alunan musik dan tari-tarian serta aktivitas-aktivitas lainnya. Di Rusia orang-orang boleh berkunjung ke menara lonceng gereja dan membunyikan sendiri loncengnya khusus pada hari itu. Sebuah kesempatan yang jarang dilewatkan oleh penduduk setempat. Bola tangan merupakan salah satu kegiatan Paskah yang dilakukan di Perancis dan Jerman. Bagi mereka, bola melambangkan sebuah matahari. Para uskup, pendeta dan biarawan, setelah melewati masa pra-Paskah yang ketat biasanya bermain bola tangan sepanjang pekan Paskah. Kegiatan ini dinamakan libertas Decembrica karena sebelumnya pada bulan Desember para tuan biasa bermain bola dengan pelayan-pelayan dan gembala-gembala ternak mereka. Permainan bola tangan tersebut kemudian disambung dengan tari-tarian yang bahkan diikuti oleh para uskup dan biarawan. Di Inggris, permainan bola ini juga merupakan olahraga favorit Paskah. Namun, saat ini tradisi-tradisi tersebut telah menghilang. Yang mengejutkan, di Amerika Serikat muncul beberapa kelompok yang mengusulkan penggantian istilah Jumat Agung dan Paskah (Good Friday dan Easter) menjadi liburan musim semi (Spring Holiday). Istilah ini sudah digunakan di beberapa sekolah-sekolah negeri di Amerika Serikat. Tindakan ini dipandang oleh umat Kristen sebagai upaya sekularisasi terhadap perayaan keagamaan.
 
Selanjutnya, bagaimana dengan kita sebagai orang Kristen yang hidup ditengah-tengah era globalisasi yang penuh dengan ajaran dan filsafat yang menyesatkan? Bagaimana kita menyikapinya? Sungguh suatu tantangan yang cukup berat buat kita yang masih tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip Kekristenan yang sejati dan Alkitabiah.
[ David M. Siambaton ]